CHAPTER 18

3002 Words
Pukul empat sore, Abi dan Iqbal sudah selesai dengan segala proses kontrak kerja yang harus mereka tanda tangani. Sebelum keluar dari ruangan itu, Abi meminta ijin pada Iqbal, karena ingin menghubungi istrinya kembali. Menanyakan kedua wanita cantik itu akan mengajak anak-anak mereka pergi kemana, pria itu juga merindukan kedua istri dan kedua anaknya. Sehingga ia ingin melakukan panggilan video, dengan senang hati Iqbal mempersilahkan Abi tetap berada di ruangan itu, karena tak ingin mengganggu, Iqbal memutuskan untuk keluar lebih dulu. Cukup lama Abi melakukan panggilan video bersama keluarganya yang ada di Jakarta, terutama kedua anaknya yang sangat antusias meminta untuk dibawakan oleh-oleh. Seperti biasanya juga, kedua istri Abi tak pernah meminta dibawakan apapun. Keduanya hanya mengatakan, oleh-oleh terbaik untuk mereka adalah kembalinya sang suami dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Tentu hal itu membuat Abi merasa bangga dan selalu bersyukur, karena kedua wanitanya tak pernah merepotkan dan tak pernah menuntut lebih darinya. Bahkan, Melya dan Sisil selalu bersyukur atas apapun yang mereka terima dari suaminya, sekalipun hanya dibawakan makanan ringan khas dari kota yang baru saja Abi kunjungi. Saat Abi ingin mengakhiri panggilan videonya dengan Sisil, karena wanita itu yang terakhir berbincang dengannya. Sedangkan Melya sudah lebih dulu pamit untuk membersihkan diri, begitu juga dengan Azzam dan Neina. Tiba-tiba, dilayar ponsel Abi muncul pemberitahuan, yang menandakan masuk sebuah pesan. Terpampang nama Priska disana, mengatakan jika dirinya akan segera berpamitan pada Iqbal menuju mall yang sudah menjadi tempat mereka berjanjian untuk bertemu. Abi dengan cepat mengakhiri panggilannya dengan Sisil, bahkan terkesan sangat terburu-buru, tak seperti biasanya yang selalu santai dan lembut. Namun Sisil memahami kondisi suaminya, mungkin saja Abi merasa tak enak jika terlalu lama sibuk dengan ponselnya, sedangkan pria itu sedang di rumah rekan kerja yang sekaligus sahabat lamanya itu. “Assalamualaikum, Pris. Kamu dimana?” ucap Abi saat panggilan teleponnya dengan cepat sekali dijawab oleh Priska. “Waalaikumsalam, Mas Abi. Priska masih di kamar, sebentar lagi mau turun buat minta ijin ke A’Iqbal,” jawab Priska, gadis itu sedang merapikan tatanan rambutnya, serta memoles wajahnya dengan riasan sederhana. “Ya udah, kamu turun aja. Nanti kalau Iqbal mau anter kamu, saya yang bilang supaya kamu bareng saya aja. Sekalian saya sejalan mau pulang. Gimana?” “Serius?” tanya Priska seakan tak yakin dengan ucapan pria dewasa yang mampu memporak porandakan hati dan debaran jantungnya. “Iya, cantik. Saya tunggu di ruang tamu ya, tadi Iqbal aja saya ngobrol di ruang tamu. Jangan cantik-cantik dandannya, nanti banyak yang lirik.” “Ih, Mas Abi bisa aja. Ya udah, Priska siap-siap dulu, ya.” “Iya. Oh ya, pakaiannya jangan terlalu minim, saya kurang nyaman.” “Oke, Mas Abi.” Panggilan telepon mereka berakhir, Abi segera keluar dari ruangan itu, dan Priska melanjutkan kegiatannya untuk bersiap akan pergi dengan pria yang ia kagumi itu. Pria dewasa yang menurutnya, sudah berhasil mencuri hatinya. Debaran jantungnya selalu tak menentu, jangankan saat bertemu, seperti yang baru terjadi saja, mendengar suara pria itu yang selalu menenangkan dan menyenangkan, membuat hati Priska berbunga-bunga. Mengikuti apa yang Abi ucapkan, Priska tak memakai pakaian yang minim dan terbuka. Gadis itu mengenakan celana jeans panjang berwarna navy, dipadukan dengan kaos turtleneck berlengan panjang warna dusty pink. Selesai merias wajahnya, gadis itu mengenakan sepatu berwarna senada dengan kaos yang ia pakai. Priska bergegas keluar kamar, lalu menuruni tangga dengan perasaan bahagia. Ia akan menghabiskan malam ini bersama pria yang ia cintai, dan menurutnya, Abi juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. “A’Iqbal, Priska mau ke mall ya. Pengen nonton bioskop, ada film baru udah mulai tayang. Boleh kan?” ucap Priska, saat ia sudah berdiri dihadapan kakaknya yang sedang duduk bersampingan dengan Abi. Seperti biasa, gadis itu selalu mencuri pandang kearah Abi, namun Abi terlihat lebih bisa mengendalikan dirinya. Pria itu lebih santai dan terkesan cuek, walaupun dalam hatinya tersenyum senang, melihat penampilan Priska sore hari ini, yang menurut pandangannya nampak sangat cantik dan sederhana. “Sama siapa kamu nonton?” tanya Iqbal, karena pria itu mengetahui, jika adiknya belum memiliki banyak teman. “Sendiri aja lah, lagian mau sama siapa juga, aku gak ada teman dekat.” “Ya udah, tapi ke mall nya A’Iqbal antar ya. Terus nanti pulangnya A’Iqbal kamu naik taksi, soalnya mau ada temannya Kak Fika main kesini, gak enak kalau di tinggal,” “Oke, makasih ya A’.” “Bal, Priska biar bareng saya aja. Saya juga sekalian mau pulang, mumpung masih sore, pengennya bisa langsung ke Jakarta. Kangen anak-anak nih, biar besok bisa quality time sama keluarga,” ucap Abi, saat Iqbal ingin mengatakan sesuatu padanya. Mungkin pria itu, ingin mengatakan jika dirinya harus mengantarkan adiknya ke mall. “Yahh... Jangan gitu ah, saya yang gak enak. Masa jadi ngerepotin kamu, mana kamu mau pulang ke Jakarta. Gak usah lah, biar saya antar Priska aja,” Iqbal menolak penawaran Abi dengan sangat hati-hati. Pria itu tak ingin membuat sahabatnya merasa tersinggung. “Saya yang nawarin loh, berarti gak ngerepotin. Lagian satu arah kok, saya juga mau balik dulu ke hotel, ambil barang-barang disana, baru pulang ke Jakarta,” “Kamu gimana, Pris? Gak apa-apa ke mall bareng Abi?” Iqbal bertanya pada adiknya, karena pria itu khawatir adiknya tak mau, karena merasa tidak nyaman. Apalagi, Priska dan Abi baru saja berkenalan tadi malam. “Gak apa-apa sih, kalau emang gak ngerepotin Mas Abi. Tapi, kalau sekiranya ngerepotin, biar Priska diantar Mas Iqbal aja,” jawab Priska. “Saya udah bilang, kalau ini saya yang kasih penawaran. Jadi gak akan ngerepotin, ya udah yuk berangkat sekarang aja. Takutnya semakin sore, nanti saya balik ke Jakarta, malah kejebak macet.” “Ya udah, hati-hati ya, Bi. Saya titip Priska, makasih udah mau anterin Priska ke mall,” ujar Iqbal mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus. “Iya sama-sama. Saya pamit pulang ya, salam buat istri dan anakmu.” “Iya, Bi. Sekali lagi, makasih banyak loh.” “Priska pergi dulu ya, A’,” pamit Priska pada Iqbal. “Iya, kamu hati-hati. Nanti kabarin pulang jam berapa, kalau bisa jangan larut malam.” “Iya A’, mudah-mudahan dapet tiket bioskopnya yang masih sore, biar bisa pulang cepat.” Abi dan Priska keluar dari rumah itu bersama-sama, keduanya masuk kedalam mobil milik Abi, dan siap meninggalkan rumah Iqbal, dan akan pergi berdua menuju suatu tempat. Abi memperlakukan Priska bak putri raja, untuk memasangkan sabuk pengaman saja, Abi tak membiarkan gadis itu melakukannya sendiri. Semua perlakuan Abi pada Priska, membuat gadis itu merasa semakin spesial. Hatinya melambung tinggi, karena merasa pria itu memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Sejak detik itu juga, Priska bertekad dalam hati, akan berusaha untuk bisa memiliki Abi seutuhnya. Ia juga akan berusaha keras, untuk menyingkirkan dua wanita yang sudah lebih dulu ada dalam kehidupan pria itu. Priska yakin, jika kecantikan yang ia miliki, dan usianya yang masih sangat muda, bisa memenangkan hati Abi dan mengalahkan posisi istri-istri dari pria itu. “Pris, kamu mau jalan-jalan kemana?” tanya Abi dengan nada yang sangat lembut, pria itu menoleh sesaat pada gadis yang duduk disampingnya, namun selanjutnya kembali fokus pada jalanan yang ada dihadapannya. “Terserah Mas Abi aja mau kemana, lagian Priska kan baru disini, belum tau tempat-tempat bagus yang bisa kita kunjungi,” jawab gadis itu, dan kini ia sudah merubah posisi duduknya menjadi menyamping, agar bisa dengan bebas menatap pria dewasa yang sedang menyetir, membelah jalanan kota Bandung yang cukup ramai sore hari ini. “Kita cari makan dulu gimana? Kamu laper gak?” “Gak terlalu laper sih, tapi kalau Mas Abi mau makan, Priska temenin.” “Ya jangan cuma temenin, tapi kamu juga harus makan!” “Iya, Mas Abi. Maksudnya Priska juga temenin sambil makan bareng. Oh iya, Priska mau tanya sesuatu sama Mas Abi, boleh gak?” “Boleh dong, kamu mau tanya apa? Tanya aja, kalau bisa saya jawab, pasti saya kasih jawaban terbaik. Ada apa?” “Hmm...” Tak mengucapkan apa yang ingin ditanyakan, gadis itu lebih memilih bergumam. Lalu kembali merubah posisi duduk seperti sebelumnya, menatap kedepan dimana ia bisa melihat jalanan yang cukup pada oleh banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat. Karena sikapnya itu, membuat Abi mengernyitkan keningnya merasa bingung. Pria itu merasa takut ada yang salah dengan dirinya. Tetapi, kenapa Priska tak jadi mengajukan sebuah pertanyaan, padahal apapun pertanyaannya, Abi akan selalu menjawabnya. Selama itu pertanyaan yang masih bisa diterima dengan akal sehatnya. Priska sibuk merangkai kalimat untuk menuturkan pertanyaan yang berputar dalam pikirannya, sedangkan Abi memilih diam, saat melihat Priska yang sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Bukan tak ingin bertanya, kenapa gadis itu tak kunjung mengucapkan apa yang ingin ditanyakan. Namun, Abi memilih untuk memberikan ruang lebih dulu, agar Priska tak merasa terdesak oleh situasi. Abi sangat memahami jika Priska adalah gadis yang masih sangat muda. Untuk bertanya sesuatu pada orang lain, pasti memiliki rasa takut ada kesalahan dalam kalimatnya. “Mas Abi...” panggil Priska memecahkan keheningan yang beberapa menit tercipta antara dirinya dan Abi. “Hmm... Kenapa? Jadi, kamu mau tanya apa?” tanya Abi lembut, menatap sebentar pada gadis yang juga sedang menatapnya. “Itu, Mas. Duh gimana ya nanyanya, Priska takut Mas Abi tersinggung,” ujar gadis itu, tergambar jelas jika Priska ragu untuk mengutarakan apa yang ingin ditanyakan. “Gak usah takut, kamu tanya aja apapun yang mau kamu tanyakan. Kalau memang itu pertanyaan yang sensitif, nanti saya jelaskan kenapa saya gak bisa jawab pertanyaan itu. Memangnya mau tanya apa sih?” Abi selalu mengucapkan kalimatnya dengan nada yang sangat lembut, membuat Priska semakin merasa nyaman berada disamping pria itu. “Hmm... Priska mau tanya, kenapa waktu tadi, Priska ke ruang kerja A’Iqbal buat antar makanan, Mas Abi membuang muka dan gak mau lihat Priska?” lirih gadis itu, terpancar jelas ada kesedihan, mengingat bagaiman sikap Abi yang seketika acuh akan kehadirannya. “Ohh... itu... Kamu mau saya jawab jujur apa enggak?” “Ya jujur lah, emangnya Mas Abi mau bohongin Priska, ya?” ketus gadis itu, membuat Abi terkekeh melihat betapa menggemaskannya Priska saat merajuk. “Saya juga gak ada niat buat gak jujur sama kamu, jangan merajuk gitu ah. Dengerin baik-baik ya, saya harap kamu bisa ngerti. Kamu cantik, masih muda, tapi saya memang gak pernah nyaman, lihat seorang gadis atau wanita dewasa sekalipun memakai pakaian yang cenderung terbuka. Saya bukan munafik, saya jujur mengagumi kamu karena kecantikan kamu, begitu juga dengan kedua istri saya, mereka semua cantik. Tapi, untuk ditempat umum, saya gak bisa untuk melihat pakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh,” Abi menjawab dengan sedikit hati-hati, karena takut Priska merasa sakit hati. “Tapi kan tadi di rumah, Mas. Bukan ditempat umum,” ujar Priska masih dengan nada kesal. “Saya gak mau merendahkan kamu, tapi ini hanya pendapat saya untuk semua perempuan. Kita belum memiliki keterkaitan satu sama lain, gak ada status yang jelas antara kita. Tapi kamu berani memakai pakaian seperti itu didepan saya, gak menutup kemungkinan kamu bisa berpakaian seperti itu didepan pria lain.” Deg... Hati Priska bagai dihantam tajamnya pisau, ucapan Abi sangat menyakitkan hati dan perasaannya. Bahkan gadis itu merasa, pria disampingnya itu sudah menjatuhkan harga dirinya. Pria yang selalu berucap dengan nada bicara yang lembut, ternyata menjadi pria yang juga menyakiti hatinya begitu dalam. Abi sangat mengetahui jika Priska tersinggung dengan apa yang baru saja ia ucapkan, namun begitulah Abi, akan selalu berkata jujur walaupun harus sedikit menyakitkan. Secantik apapun parasnya, jika memang salah ya akan tetap salah dimatanya. Abi selalu kritis mengenai penampilan seorang wanita, apalagi wanita itu sedang dekat dengannya. Bahkan pria itu akan cenderung banyak mengatur dan mengajukan protes mengenai penampilan pakaian wanitanya. Jika memang Priska adalah gadis yang menyukai dirinya, dan cinta yang tadi malam gadis itu ucapkan benar adanya. Maka Priska harus bisa menerima dengan semua aturan yang Abi berikan nantinya. “Kamu marah?” tanya Abi, karena melihat Priska hanya terdiam menatap lurus kedepan. “Buat apa marah, lagian kan kita memang gak punya status apa-apa. Priska aja yang terlalu murahan, berani bilang cinta sama Mas Abi. Priska juga yang memang gak punya harga diri, berani pakai pakaian kayak tadi didepan Mas Abi. Dibanding sama kedua istrinya Mas Abi, memang Priska gak ada apa-apanya. Mereka wanita-wanita sholeha yang karirnya sukses, Priska cuma mahasiswi yang masih menggantungkan hidup sama orangtua dan A’Iqbal,” ucap Priska diiringi air mata yang mengalir begitu saja dari kedua matanya. Tak menjawab apapun, Abi lebih memilih untuk diam. Pria itu tetap fokus pada jalanan yang sudah lebih lancar, ia akan mencari tempat makan sesuai dengan apa yang dikatakan sebelumnya. Ia juga akan mengajak Priska bicara nanti, karena disaat dalam perjalanan seperti sekarang, bagi Abi waktunya kurang tepat untuk berbicara lebih jauh lagi. Apalagi saat ini Priska sudah mulai menangis, ia tak akan bisa menenangkan gadis itu dalam kondisi seperti sekarang. *** Abi membawa kendaraannya masuk ke sebuah rumah makan yang ada di pinggiran kota Bandung, bukan restoran mewah, tetapi baginya sudah cukup untuk bisa mengisi perutnya yang saat ini memang merasa lapar. Setelah memarkirkan mobilnya, Abi langsung membuka sabuk pengaman dirinya dan juga milik Priska. Pria itu meminta Priska mengubah posisi duduk gadis itu, agar berhadapan dengannya. Abi memang ingin mengajak gadis itu berbicara lebih dulu, sebelum mereka masuk ke rumah makan tersebut. “Kamu masih mau dengerin saya?” tanya Abi, seraya mengangkat dagu gadis yang ada dihadapannya, dan tatapan mereka saling bertemu. Ada sedikit perasaan bersalah dalam hati Abi, melihat mata Priska yang sembab, dan kedua pipinya basah oleh air mata. Tetapi, memang ini yang harus ia lakukan, jika gadis itu memang ingin terus dekat dengannya. “Mas Abi mau bilang apa lagi? Mau ngatain Priska apa lagi?” lirih gadis itu dan semakin terisak dalam tangis, perkataan Abi sebelumnya sudah membuat hatinya sangat terluka. “Dengerin saya dulu makanya, mau gak?” tanya Abi sekali lagi, ia tak akan mengatakan apapun jika memang Priska tak ingin mendengarkan. Dan detik itu juga, Abi akan mengakhiri segalanya, karena bagi pria itu sudah tak ada kesempatan untuk mereka saling mengenal satu sama lain, jika Priska tak bisa mengerti apa yang menjadi keinginannya. “Iya, mau.” Jawab Priska singkat. “Saya gak bilang kalau kita gak punya status apa-apa, tapi saya bilang kita belum punya keterkaitan satu sama lain. Kan gak menutup kemungkinan, kalau akhirnya kita bisa saling terkait satu sama lain. Masalah status, bukankah kita sedang menjalani pendekatan, seperti yang saya ucapkan tadi malam, waktu kamu menyatakan perasaanmu, dan mengungkapkan segalanya pada saya.” Abi mengingatkan Priska, jika dirinya pernah mengatakan jika mereka bisa menjalani pendekatan lebih dulu, untuk saling mengenal satu sama lain. “Lalu, apa ada kalimat saya yang mengatakan kalau kamu murahan? Apalagi hanya karena kamu mengungkapkan isi hatimu yang menurutmu itu perasaan cinta,” sambung Abi lagi, dan Priska hanya menggelengkan kepalanya. “Saya sudah banyak cerita mengenai kehidupan rumah tangga saya, bagaimana kedua istri saya. Saya gak bilang kalau kamu gak punya harga diri, murahan, dan apapun itu menurut penilaianmu. Saya hanya menjelaskan apa yang menjadi prinsip hidup saya. Harusnya kamu mengerti, karena saya sudah bilang untuk kita menjalani pendekatan, berarti saya mau, kita bisa lebih dekat. Dengan begitu, saya mau yang terbaik buat kamu. Saya mau, kamu bisa menjaga harga dirimu sendiri, salah satunya dengan selalu menutup tubuhmu, sekalipun itu didepan saya. Saya akan selalu melindungi apa yang sudah menjadi milik saya, bagaimanapun caranya, saya gak pernah mau, jika milik saya diganggu atau diusik oleh orang lain. Kamu sudah menyatakan bagaimana perasaanmu, bukankah itu tandanya, kamu membuka peluang untuk saya bisa memiliki kamu? Apa salah, saya ingin melindungi apa yang akan menjadi milik saya?” ucap Abi menjelaskan segalanya pada Priska, membuat gadis itu hanya terdiam tanpa kata. Ia memikirkan semua kalimat yang Abi ucapkan, dan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Priska berpikir jika memang yang salah adalah dirinya, ia yang salah mengerti apa yang Abi maksudkan. Pria itu hanya ingin melindunginya, pria itu juga yang mau jika dirinya menjadi gadis yang jauh lebih baik lagi. Salah satunya dengan cara melindungi apa yang memang bukan untuk di pertontonkan pada siapapun. Mungkin memang karakter Abi yang selalu mengucapkan semua pendapatnya secara terang-terangan, membuat Priska belum bisa mengerti jika itu adalah hal yang baik. “Maafin Priska ya, Mas.” Ucap gadis itu seraya menundukan kepalanya, Priska sudah tak mampu lagi menatap Abi. Karena merasa malu sudah salah paham atas niat baik pria yang ada dihadapannya. “Kenapa minta maaf? Kamu gak salah apa-apa, saya mengerti kalau kamu belum bisa menerima sifat saya yang selalu mengatakan semua pendapat saya secara terang-terangan. Tapi, kamu harus percaya, semua yang saya katakan untuk kebaikan kamu.” “Iya, Mas. Priska ngerti kok, makasih ya, Mas Abi udah baik sama Priska. Mas Abi juga udah kasih Priska kesempatan buat bisa dekat sama Mas Abi,” “Sama-sama, kita jalanin semua dengan sebaik-baiknya ya. Saya mau, apapun yang saya katakan dan itu untuk kebaikan kamu. Kamu bisa menerimanya dengan baik juga,” “Iya, Priska pasti dengerin semua apa yang Mas Abi bilang.” “Ya udah, sekarang kita turun yuk. Katanya mau temenin saya makan,” ajak Abi dengan senyum yang tak pernah luntur menghiasi wajah tampannya. “Iya, Mas.” Akhirnya mereka turun dari mobil itu, sebelumnya Priska merapikan riasan wajahnya lebih dulu. Karena air matanya sudah berhasil membuat penampilannya menjadi sedikit berantakan. Dengan sabar Abi menunggu gadis itu turun dari mobil. Priska tak menyangka, jika Abi akan menautkan jemari mereka berdua saat melangkah masuk ke area rumah makan itu. Tak sedetikpun Abi melepaskan genggaman tangannya, Priska merasa dirinya sudah masuk kedalam kehidupan Abi, dan menjadi bagian yang spesial dalam kehidupan pria tersebut. “Genggaman tanganmu, hidupmu, cinta, perhatian dan kasih sayangmu, suatu hari nanti hanya akan menjadi milikku. Seperti dirimu yang tak mau milikmu diganggu orang lain, begitu juga dengan diriku, yang tak mau membagi segalanya tentang dirimu pada wanita lain. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya, dan aku tak akan membaginya dengan wanita manapun, termasuk kedua istrimu.” Monolog Priska dalam hati, saat ia baru saja duduk berhadapan dengan Abi, dan sedang menunggu makanan yang mereka pesan akan datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD