“Apa yang bisa kalian janjikan padaku?” tanya Melya dengan suara bergetar. Hatinya hancur, dunianya seakan runtuh, langit cerah terasa mendung baginya, saat mendengar penuturan Abi yang meminta ijin untuk menikah lagi, dan Sisil yang secara terang-terangan meminta restu padanya, agar bisa menjadi istri kedua suaminya. Dua bulan lalu, suaminya selalu mengatakan, jika pria itu tak akan pernah menduakan cintanya. Namun, hari ini ucapan itu seakan terlupakan dan melebur begitu saja bersama dengan tergerusnya waktu. Anak laki-lakinya masih balita, anak perempuannya baru saja menginjak usia tujuh bulan. Apa yang bisa Melya lakukan, selain menerima takdir hidup ini, demi buah hatinya, agar tetap memiliki keluarga yang utuh. Saat ini, Melya merasa Tuhan sedang tidak berbaik hati padanya, kebahag

