Candra Mulai Curiga

1400 Words
Rangga memasuki rumah Candra bersama Wisnu, mereka kebetulan datang di waktu yang sama. Meski Wisnu dan Kris bukan muslim, mereka tetap diundang untuk ikut bersama menjalani syukuran. Terlihat ruang tamu sudah didekor sedemikin rupa, anak-anak panti berjumlah 20-an juga sudah siap untuk acara syukuran itu. Rangga dan Wisnu langsung disambut oleh Candra dan menggiring mereka untuk duduk di salah satu sudut tempat genk mereka berkumpul. "Udah telat nih kita?" tanya Rangga sambil mengambil posisi duduk. Wisnu juga duduk di sampingnya, sementara di sampingnya lagi ada Ares dan Bagas yang sibuk meriview makanan ringan di depannya. Kris? Ia tak perduli sekitr, ia sedang memakan makanan favoritnya, tempe mendoan dan lontong plastik, tak lupa cabai hijauh yang membuat maknannya menjadi semakin nikmat. Kris jatuh cinta pada mendoan saat Candra membawakanmendoan ke sekolahan saat MOS dulu. Itu juga yang menghubungkan genk mereka menjadi genk yang awet hingga di penghujung kelas 11 itu. "Gak telat, masih lima menit lagi," ujar Wisnu melihat jam tangan mahalnya. "Paling juga molor setengah jam," gumam Rangga. "Perkiraan gue sih, iya. Nunggu apa sih, Can?" tanya Wisnu pada Candra. "Nunggu Pak Ustaz, keknya lagi ke sini deh. Dia tuh salah satu orang Indonesia yang disiplin," ujarnya. "Haha, bisa aja lo, Can. Nyindir gue?" tanya Rangga setelah menggigit tahu isinya. Candra dan Wisnu tertawa kecil, si tukang telat memang Rangga orangnya. Selalu saja telat hampir di semua hal. Jadi, kalau Rangga tidak telat, pasti ada yang terjadi pada bocah prik itu. Namun, ejekan lain tak bisa masuk di telinga Rangga saat matanya menangkap sosok Dinda yang memakai gamis brokat berwarna salem dengan hijab pasmina shawl warna senada dengan gamisnya, juga kaos kaki warna kulit. Make up yang natural membuatnya tampak lebih cantik dari biasanya. Penampilan sederhana nan indah Dinda membuat Rangga mengabaikan tahu isi dan cabai hijau di tangan kanan dan kirinya. Ia bahkan mengbaikan panggilan Candra dan Wisnu yang mengatakan kalau isi dari tahu yang ada di tangan Rangga jatuh ke piring agar-agar yang ada di dekatnya. Wisnu buru-buru mengamankan agar-agar itu dan menyenggol baju Rangga yang sedari tadu bengong. "Liatin apa sih, woy! Tahu lo mengotori ager-ager bego," geram Wisnu. Rangga baru sadar, kemudian nyengir, "Maaf Bro, gak sadar haha!" Tapi di samping Wisnu, Candra menyadari sesuatu tentang arah pandang Rangga yang mengarah pada kakak tercintanya. Dinda sedang bermain dengan beberapa anak panti, bermain tebak-tebakan dengan asyik. Lalu Dinda dan Bu Atik--salah satu pembantu di kedai milik keluarga Dinda, mereka menyambut kedatangan Ustaz Aziz dan istrinya Ustazah Mawar yang baru datang. Seperti kata Candra, mereka datang tepat waktu bahkan tak lebih dan tak kurang semenit pun. "Wih, keren, tepat banget waktunya ...." ujar Bagas. "Iya, makanya dah mau mulai, berhenti dulu makannya," tegur Wisnu. Terpaksa Bagas, Ares dan Kris berhenti makan, berbeda dengan Rangga yang baru selesai makan tahu isi yang isinya sudah masuk ke piring agar-agar tadi. Dinda terlihat pergi ke dapur dengan buru-buru, sepertinya ia lupaa kan sesuatu. Hal itu membuat Rangga yang memperhatikannya khawatir dan menyusul Dinda ke dapur. ••• "Hah?!" Rangga terlihat sudah tertangkap basah, ia kemudian pergi kabur dari sana tanpa kata-katakata terakhir. Melihat itu Dinda hanya geleng-geleng Ya salah dengar dan anaknya itu memang aneh. Daripada memikirkan itu, Dinda kembali fokus kepada acara syukuran ulang tahun Andi. Ia membawa kue yang siap menjadi pelengkap acara. Kue tersebut cukup besar tiga tingkat, dengan didominasi coklat hitam dan coklat putih. Di atssnya terdapat hiasan coklat hitam dan putih dengan angka 14, tanpa lilin. Ustaz sekomplek mereka juga sudah siap untuk memimpin doa. Para tamu undangan juga sudah siap untuk melaksanakan acara tersebut dan ikut mendoakan untuk syukuran ulang tahun Andi di sana. Ada banyak makanan yang akan disantap ketika sudah selesai, tentu mereka menikmati makanan-makanan itu dengan sangat antusias. Produk kuliner dari keluarga Dinda memang sudah sangat terkenal di seluruh Jakarta, bahkan di seluruh Indonesia karena sudah memiliki beberapa cabang, makanya kadang Dinda juga keluar kota untuk mengecek kelancaran usaha di daerah lain. Setelah itu mereka melakukan acara makan-makan. Mereka saling mengobrol setelahnya, begitu juga dengan teman-teman Candra dan Andi. Namun, anak-anak panti akan segera pulang karena mereka harus tidur lebih awal agar besok tidak telat ke sekolah. Bu Yuyun, pengelola panti asuhan Welas Asih pun berpamitan dengan Dinda sebagai tuan rumah. "Mohon maaf, yah Nak Dinda. Kami harus pulang dulu, soalnya anak-anak panti besok sekolah, jadi harus tidur lebih awal." "Iya Bu Yuyun, gak papa, eh sebentar ini ada sedikit rezeki untuk Ibu Yuyun dan beberapa pengurus panti, semoga bermanfaat nggih." Bu Yuyun menerima aplop berisi mungkin uang sejuta untuk pengurus panti, terlepas dari amplop untuk anak-anak panti. "Ya Allah, terima kasih Nak Dinda, alhamdulillah. Semoga rezekinya lnacar dan Nak Dinda sekeluarga sehat selalu." "Aamiin, Bu. Terima kasih do'anya, do'a yang sama untuk Ibu, serta pengurus panti, juga aank-anak pnati, semoga kalin sehat selalu dan diberi kemudahan dalam setiap urusan." "Aamiin. Ya udah, saya pamit dulu yah Nak, assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam, hati-hati." Bu Yuyun mengangguk kemudian pergi dari sana, di depannya ada anak-anak panti yang menggunakan pakaian putih seragam sambil membawa beberapa makanan ringan di tangan-tangan kecil mereka. Setiap gerak-gerik Dinda diperhatikan oleh Rangga, dari mulai senyumnya, jalannya, tatapannya dan suaranya. Setiap yang ada pada Dinda adalah keindahan yang tak pernah bisa ia abaikan. Sikap Rangga tentu diperhatikan oleh Candra yang mulai peka sedari awal Rangga masuk sampai berakhirnya acara, ia masih menatap kakaknya penuh damba. Saat Dinda berbalik, ia melihat teman-teman Candra yang masih asyik makan dan ngobrol, Andi juga sudah ke kamar untuk istirahat. "Kalian makan banyak tapi gak gemuk-gemuk, ya, ckckckck." Semua teman Candra menoleh dan melohat Dinda yang tersenyum sambil merapihkan sisa makanan bersama para pembantu. "Kan kita rajin olahraga, Kak, hehe ...." jawab Bagas. "Hellooooo, boong banget. Wong lemak lo udah bertumpuk-tumpuk tuh," ujar Kris tak terima pada si bocah gendut itu. Di antara genk itu, Bagas memang paling gendut, makanya dijuluki Perut Bakso, karena ayahnya tukang bakso. "Oh iya, so Bagas ... Bapaknya jualan bakso ya?" tanya Dinda. "Begitulah Kak, kapan-kapan mampir dah, nanti dikasih gratis," ujar Bagas. "Kita juga mau mampir dong biar gratis," celetuk Rangga. "Diem lo, Ga!" geram Bagas. "Hehe, kapan-kapan deh ya. Di mana tempatnya?" tanya Dinda duduk di salah satu sofa single yang agak jauh dengan mereka. Rangga tak bisa berhenti terpesona dengan Dinda, sudahlah indah, ramah, nyenengin, ngangenin pokoknya Dinda segalanya. Senyumnya manis lagi, bisa diabetes Rangga ini. "Di pasar xxxx Kak, namanya Bakso Mang Gendut.". "Hihi, brand-nya keren tuh. Aku juga tiap hari ke pasar, tapi gak tau ada Bakso Mang Gendut." "Berarti Kakak mainnya kurang jauh, pokoknya kalau Kak Dinda masuk lewat pintu masuk selatan, pasti langsung nemu begitu masuk, pokoknya dari luar udah keliatan." "Okelah, makasih petunjuknya yah. Biar besok aku ajak Candra dan Andi sekalian," ujar Dinda. "Aku gak diajak Kak?" tanya Rangga. Dinda terkekeh, "Kalo mau ikut, ayok," ujarnya santai. "Eih, buaya darat genitnya mulai kambuh," ujar Ares. "Tau nih, maap yah Kak, bocah prik memang gitu. Gak bisa gak prik walopun cuma sedetik," ujar Kris. Dinda mengangguk sambil tertawa kecil, "Iya, iya. Ya udah aku mau lanjut beres-beres," ujarnya lalu berdiri dan meninggalkan para pemuda itu. Rangga masih menatap Dinda sampai Dinda hilang di balik tembok dapur, tapi buru-buru Candra menggetok kepalanya dengan gulungan plastik buah. Ia tak terima jika Rangga naksir kakaknya, meski Rangga gantneg dan tajir, ia tak yakin Rangga bisa jadi imam untuk Dinda. Para pemuda itu menggunakan baju koko beragam dan celana jeans hitam atau celana kain hitam sesuai acara, tetapi aura keren mereka tetap menguar. Wisnu dan Kris juga menggunakan baju koko, mereka disarankan untuk punya semenjak mereka bergaul dengan Candra dan sering mengadakan acara syukuran. Tentu keduanya tidak ingin diperhatikan orang jika menggunakan pakaian berbeda, akhirnya mereka menuruti apa yang disarankan Candra. Benar saja, baju koko memang berguna di tengah kehidupan mayoritas muslim. Akan tetapi itu bukan paksaan, toh Kris dan Wisnu menikmatinya. Pakaian tak menghilangkan jati diri mereka, kan? ••• Pada akhirnya tamu pun surut, teman-teman Andi juga pulang bergantian, juga teman Candra termasuk Rangga. Namun, Candra menahan Rangga yang akan pulang, ia ingin memastikan smeua pikirannya terhadap Rangga yang menyukai Dinda. "Gue mau balikin sesuatu ke elo, Ga." Rangga mengeryit heran, seingatkmnya ia tidak ada meminjamkan barang ke Candra, tetapi melihat tatapan penasaran temannya yang lain, ia akhirnya berpura-pura lupa. "Oh bola bekel?" Tentu saja itu semua membuat teman-temannya heran, tapi Candra buru-buru meralat. "Bola basket, dodol, emang gue bocil!" Rangga hanya tertawa kecil, lalu mengikuti Candra yang menuju lantai dua setelah teman-temannya pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD