Naksir Kakaknya Temen

1510 Words
Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak remaja yang masih bergantung pada kedua orang tuanya? Tentu saja semua bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh seorang remaja yang masih bergantung perihal ekonomi kepada orang tuanya. Akhir-akhir ini Rangga memiliki ide untuk bekerja, mencari kesibukan lain setelah sekolah. Ini juga bisa dibilang disebabkan oleh rasa cintanya pada Dinda yang terasa tak mungkin, makanya ia ingin mengalihkan perasaannya itu pada sesuatu yang bisa melipur laranya. Hal yang Rangga lakukan adalah searching di google tentang berbagai jenis pekerjaan yang bisa ia lakukan tanpa melibatkan barang elektronik. Tentu saja kebanyakan pekerjaan part time seperti kerja di cafe, restoran, kuli panggul, jualan dan lain-lain. Ia jadi ingat kalau ayahnya juga memiliki usaha kuliner sebagai cabang usahanya, tapii ia merasa itu tidak menantang karena bekerja dengan ayahnya sendiri. Selain karena ayahnya pasti melarang, para karyawan pasti mengistimewakannya. Ia bisa saja menyembunyikan identitasnya tapi itu tidak akan mudah, paling hanya bertahan beberapa bulan. Masalahnya ayah dan ibunya sudah biasa membiarkan media meliput dirinya dan kakaknya, sehingga banyak orang yang akan tau. Ia jadi galau sendiri dibuatnya, ia sungguh ingin mandiri, setidaknya untuk dirinya sendiri. Rangga sibuk melihat lowongan kerja di i********:, f*******:, bahkan aplikasi pencari pekerjaan yang setiap hari menawarkan berbagai pekerjaan di sana. Namun, kebanyakan untuk full time, yang part time ujung-ujungnya berkenaan dengan gedget dan komputer. Kris yang iseng melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Rangga, kemudian mengintip dan terkejut dengan apa yang dicari Rangga. "Buset, Bokap lo gak bangkrut kan?" Rangga sontak menoleh dan melihat wajah konyol Kris yang shock, sambil memegangi es krim batang yang sudah digigit sedikit, sepertinya baru dibuka. Tanpa pikir panjang, seperti biasanya Rangga merebut makanan milik temannya sembarangan. "Es krim gue, woy!" Kris kembali merebut es krimnya yang sudah digigit banyak oleh Rangga, "Sialan gue baru makan dikit!" Tentu saja Rangga puas dengan wajah Kris yang kesal itu, wajah putihnya jadi memerah padam. hingga tak lama datanglah Candra, Wisnu, Bagas dan Ares yang membawa sekantong es krim harga Rp 5.000, rasa coklat bercampur vanila. "Nih bocil dua gue liiatin dari jauh rebutan es krim, malu-maluin," ujar Candra menyerahkan sekantong plastik es krim itu pada Rangga. Rangga langsung menerimanya dengan senang hati, lalu mengambil satu dan mengupasnya, tak perduli komentar Candra yang mengatainya dan Kris sebagai bocil. Ia sadar diri kok, juga Candra hanya bercanda berkata begitu. "Iya nih, apalagi nih satu tajir tapi kek orang susah bawaannya," ujar Bagas melihat Rangga yang sedang makan es krim sambil melihat ke arah ponselnya. "Setuju gue mah ...." ujar Kris heran juga. Mereka duduk di tribun lapangan basket dan membicarakan banyak hal setelah dari kantin untuk makan siang tadi. Namun, selama itu Rangga malah sibuk memainkan poselnya dan membuat teman-temannya curiga. "Lo kenapa mantengin HP mulu sih Ga?" tanya Ares tak tahan. Bagas langsung merebut ponsel Rangga dan melihat apa isinya, tapi Kris juga berkata kalau itu lowogan pekerjaan. "Gue kira lo lagi jatuh cinta beneran," ujar Candra mengingat perkataan Dinda kemarin siang. "Kagak lah, gue kan udah bilang, seriusan gue lagi cari kerja." Bagas mengembalikan ponsel mahal Rangga, tapi informasi itu justru membuat teman-temannya tertawa, bahkan Wisnu yang pendiam. Mereka tentu tak percaya dan menganggap kalau kelakuan Rangga itu sangat tidak Rangga-able. Bagaimana tidak, kalakuan ala bocah Rangga, kenapa bisa mengantarkannya pada keinginan untuk bekerja. "Ini gak bisa dibiarin, lo butuh rukiah kayaknya Ga" ujar Candra tak habis pikir. "Yok, tetangga gue Ustaz yang tukang rukiah, jangan kelamaan nanti lo pulang bareng gue," ujar Bagas. "Sialan, lo pada! Gue serius mau kerja buat ngisi waktu luang," kilah Rangga dengan senyumnya. Rangga memang tidak mudah tersinggung, seperti yang lainnya, tetapi Rangga lebih santai dan kalau mau dibuat kontes tahan marah, Rangga akan menjadi juaranya. Akhirnya kelima temannya mendesak agar Rangga memberitahu mereka tentang masalahnya, kenapa ia harus cari kerja dan harus mengisi waktu luangnya dengan bekerja, kan bisa saja Rangga melakukan les, atau ikut organisasi agar terlihat sibuk. Ia juga dituduh bangkrut oleh Bagas, tuduhannya sama dengan tuduhan Kris yangb elum terjawab tadi. Tapi Rangga membantahnya, kemudian Ares membenarkan karena ayahnya adalah rekan bisnis ayah Rangga sehingga tau bahwa kekayaan ayah Rangga tak memiliki kendala apapun. Rasa penasaran mereka tak bisa dipuaskan ketika Rangga tak memberikan jawaban logis, sebab Rangga tak biasanya seperti itu. Candra juga menghubungakan sikap aneh Rangga akhir-akhir ini yang terasa berbeda. Ia kira Rangga memiliki masalah. Didesak sedemikian rupa membuat Rangga tak bisa bertahan dan akhirnya jujur kalau ia sedang jatuh cinta. "Ya lo tembaklah, ngapain malah uring-uringan galau gini?" tanya Bagas gemas. "Masalahnya gue gak mungkin sama dia, Cok," ujar Rangga lesu. "Kasian, ganteng-ganteng susah dapet pacar," ujar Ares setengah mengejek. "Ekspektasi lo ketinggian kali, Ga," ujar Kris. "Gak juga, bukan itu masalahnya, masalahnya adalah dia kakaknya temen gue!" "Hah?!" "Temen lo sape, yang punya Kakak perempuan gue sama Candra," ujar Ares. "Yah, kecuali kalo lo homo, mungkin bisa Kakak gue sama Kakaknya Wisnu," timpal Bagas. "Bukan, bukan dari kalian, tapi adalah temen SMP gue. Gue suka sama kakaknya, tapi ...." "Apa masalahnya, lo bisa kan perjuangin dia," ujar Kris menggebu. "I know, tapi kasusnya gak sesederhana ini, dia temen dekeeet banget sama dia, takutnya jadi renggang gegara Kakaknya sama bocah prik kayak gue." "Percaya sih," timpal Ares. "Tapi gue yakin kok kalo lo bisa naklukin hati si Kakaknnya itu, Adiknya secara perlahan bakal restuin lo. Tapi kan yang ngejalanin itu lo sama Kakaknya dia, ngapain lo galaunya ke Adeknya ...." ujar Wisnu. "Bener tuh, gue juga heran, lo sukanya sama Adeknya apa Kakaknya sih, yang bener yang mana?" tanya Bagas gemas. "Yah, ke Kakaknya lah, tapi gue takut aja gitu," ujar Rangga cemas. "Ya elah, Ga, lo pengecut juga soal cewek yah, gayanya aja kek buaya darat," ujar Ares kemudian disambut tawa oleh yang lain. "Setuju sih gue, Res. Makanya yah, gue gak mau galau berkepanjangan dan lebih baik mengisi waktu luang dengan bekerja daripada galau terus." "Ya kalau itu positif sih malah bagus, Ga, presetan dengan pengalihan cinta lo," ujar Wisnu yang selalu bijak. "Iya, gue juga dukung lo," ujar Candra. Sedari tadi Candra agak curiga dengan sikap Rangga ini, tentu ia tak percaya dengan penuturan Rangga tentang kakak teman SMP-nya itu. Biasanya orang yang bercerita tentang temannya, bisa dicurigai sebagai orang yang ada di sana tapi mungkin Rangga belum siap bercerita, tapi entahlah Candra juga tak ingin mendesak dan kembali membebani perasaan Rangga lagi. "Oh iya, nanti ulang tahunnya Andi, lo pada dateng yah ...." ujar Candra. "Tidak bisa ...." ujar Bagas menggantung, membuat yang lainnya terkejut. "Menolak, hehe." "Dasar, Bagasetan!" umpat Candra. Tentu saja, siapa yang akan menolak untuk makan di rumah Candra yang selalu menyajikan makanan enak dan gratis. Semua teman Candra kecuali Bagas adalah orang kaya, tapi semenjak mereka bergaul bersama, mereka jadi sangat merakyat bahkan terkadang seperti orang susah dan mencintai hal yang berbau gratisan. Meski begitu, jika mereka mengeluarkan uang, tak tanggung-tanggung, itu akan bernilai besar dan tak ada beban seperti tak ikhlas atau bagaimana, mereka dengan senang hati membantu dan menggratisi teman-temannya jika ada hari spesial. __*__ Sore hari yang melelahkan bagi Dinda, tetapi itu tidak masalah karena ini adalah hari milad untuk adik bungsunya, Andi. Ia sudah berusaha 14 tahun sekarang, meski begitu ia sudah akan lulus SMP dan sedang akan melakukan ujian dua bulan lagi. Ia memasak untuk membuat nasi kuning dan syukuran bersama anak-anak panti asuhan yang juga tempat dimana ayah dan ibunya mendonasikan sebagian harta yang mereka miliki. Ia sangat bangga pada kedua orang tuanga yang sangat bermurah hati dan suka membagikan kebahagiaan dengan orang-orang di sekitarnya. Dulu mereka memang bukan orang yang berada, bukan pula orang yang merupakan keturanan bangsawan, apalagi keluarga terhormat. Kedua ayah dan ibu Dinda adalah anak yang lahir dari keluarga petani, hingga mereka berdua sukses tak lain juga karena usahanya sendiri. Tak jarang biasanya orang yang tak kaya dari lahir menjadi sombong karena mungkin ia kaget dengan keberhasilannya sendiri, tetapi tak jarang juga yang kaya dari lahir sombongnya minta ampun. Tapi semuanya bisa dikembalikan kepada diri masing-masing yang menjalaninya, bukan orang lain yang menghakimi. Dinda belajar banyak dari pribadi orang yang sangat legowo dan pekerja keras, kini ia juga bisa menjalankan roda bisnis orang tuanya dengan baik dan independen tanpa menzolimi para karyawan yang sudah loyal dari lama. Ia juga belajar kerendahan hati orang tuanya, tetapi tidak rendah diri. Kata ayahnya, semiskin apapun mereka, harga diri tetap dijunjung tinggi tetapi bukan berarti angkuh, hanya jangan mau dikendalikan oleh uang atau menjadi b***k orang lain. Mungkin mental itulah yang menjadikan orang tua Dinda menjadi orang sukses sebelum mereka meninggal. Tak lama setelah makanan siap, datanglah teman-teman Candra yang sangat antusias menyambut acara itu. Mereka seperti biasa heboh dan menambah ramai suasana, tak mau kalah dengan anak panti. 'Dasar ABG!' batin Dinda. Tapi Dinda tak heran dengan itu, ia sudah biasa dan merasa maklum. "Ada yang bisa dibantu, Kak?" tanya Rangga yang datang ke dapur saat teman-temannya bahkan Candra sedang ada di ruang tamu bersama Andi dan teman-temannya. "Enggak," ujar Dinda. "Noh, udah beres semua, bantu do'a aja nanti yah," lanjutnya tersenyum manis. Senyum itu membuat Rangga jadi terpesona, "Bagaimana bisa ada orang secantik ini?" gumamnya tanpa sadar. "Hah?!" tanya Dinda kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD