Dekat di Jarak, Jauh di Hati

1036 Words
Pagi ini, Rangga terlihat sangat lesu. Ia bahkan tidak ingat kalau hari ini ulangan matematika, untung saja otaknya bisa berpikir meskipun ia sedang galau. Setelah selesai, kemudiania bersama gengnya ke kantin. Barulah teman-teman mulai bertanya tentang keanehan Rangga pagi itu. "Ga, lu dari tadi pagi kenapa kek orang kesurupan?" tanya Ares. "Iya, diajak ngobrol diem aja, diajak contekan diam juga, jangan-jangan lo bukan Rangga!" ujar Kris heboh sendiri. Rangga baru sadar akan sikapnya kali ini, tak seperti biasa. "Emang gue kenapa?" "Lo gak pernah keliatan segalau ini, Bro. What happen?" tanya Bagas Tapi Rangga hanya menggeleng dan nyengir, kembali ke mode prik bin tengilnya. Ia menyerobot es teh milik Candra dan menghabiskan setengah. "Anjir, gue belum minum!" "Hehe santai, Bro." Baru kali ini Rangga tidak bisa menutupi kegalauannya, ia juga terlihat sangat pesimis menjalani harinya. Melihat keadaan Rangga yang seperti itu Candra jadi kasihan dan ia mengajak Rangga untuk ke rumahnya, karena biasanya Rangga paling suka ke rumahnya daripada diajak jalan-jalan ke tempat lain. Memang aneh bocah perik satu ini, bagaimana lagi prik memang aneh kan? Tentu saja Rangga tidak menolak dan meskipun ia tidak ingin menemui Dinda ia tetap mau diajak ke sana. Tempat yang paling galau paling nyaman untuknya, apalagi di saat kondisinya yang sedang galau. Saat sampai di rumah Candra, Rangga melihat Dinda yang sedang menyiapkan makan siang untuk keluarganya. Rangga melirik jam tangannya, sekarang sudah jam 12.00 lebih 15 menit. Sepertinya memang Dinda sudah teratur menyiapkan makan siang jam segitu. Tentu saja seperti biasa, Rangga ikut makan siang dan ketika itu pula ia menatap Dinda yang seperti biasa tampak anggun dan hati-hati dalam setiap gerakannya. Sialnya dalam keadaan apapun, Dinda selalu yang membuatnya merasa bahwa ia adalah pemandangan paling indah yang pernah Rangga lihat di dunia ini. Merasa ada yang menatapnya, Dinda langsung menoleh ke arah pemuda tampan yang sedang menatapnya sangat dalam. "Kamu kenapa, Ga, ada masalah?" tanya Dinda. Rangga segera menggeleng, ia baru sadar kalau ia terlalu menatap Dinda sangat dalam. Candra juga melihat ke arah Rangga yang terlihat gugup, ia merasa heran dengan sikap Rangga akhir-akhir ini, ia seperti orang yang berbeda. "Kenapa sih gak lu, kayaknya akhir-akhir ini kayak orang yang beda?" "Kalau gak salah, ini masalah cewek ya?" tebak Dinda tersenyum lucu. Candra langsung menggeleng, "Nggak mungkin Mbak, nggak mungkin cowok kayak dia mau terlibat masalah cewek," ujanya yakin. "Emang kamu udah tahu jawabannya? Dia kelihatan kayak orang lagi galauin cewek tau gak sih?" ujar Dinda analitis. Candra jadi setuju dengan itu, sebab ia lihat Rangga tidak pernah segalau ini. Seberat-beratnya kehidupannya yang tidak pernah diperhatikan orang tua, ia tidak pernah menunjukan segala hal ini dan bisa jadi ini kasus cewek, karena ia memang belum pernah terlibat dengan cewek. Candra langsung mendelik, "Cewek mana nih, di sekolah kita, apa sekolah lain?" desaknya. Rangga langsung menggeleng, "Apaan sih lu, gaklah, kayak gak tau gue aja kan gue sama lo dan geng kita terus." Candra membenarkan, iya benar, Rangga memang selalu bersama geng mereka bahkan ia jarang menggunkan ponselnya. Kalau Rangga slalu bersama gengnya, setidaknya cewek itu teman online, tapi Rangga saja malas memegang ponsel menjadikannya orang yang sangat kudet. Bahkan pernah ia didekati artis dan dia tidak tau siapa cewek itu. Rangga malu sendiri, ia tak mau terlihat konyol di hadapan Dinda tentu saja. "Dih, nggak mau ngaku loh ...." Rangga diam saja sesekali melirik Dinda yang hanya geleng-geleng melihat dua remaja itu berdebat terus. "Udah mendingan kalian habisin makan, abis itu salat zuhur, terus nanti cobain masakan aku. Aku punya sampel makanan baru untuk dijual. Kalian mau nggak nyobain sebagai reviewers?" "Mau dong." ujar Candra. "Oke Kak, tenang aja masalah makan serahkan pada kami," ujar Rangga. Kini ia tidak ingin terlihat aneh lagi, daripada ia ditanyain macam-macam. Tapi meskipun ia orang yang pandai menyembunyikan emosi, tapi ia tidak pandai menyimpan beban perasaannya sendiri. Bisa jadi jika Candra mendesak, ia akan membicarakannya kepada Candra Apalagi Candra yang paling dekat dengan Dinda. Setelah selesai makan, mereka salat berjamaah dan setelah salat berjamaah mereka kemudian mencoba makanan baru Dinda yang katanya ingin di review. Itu semacam agar-agar yang teksturnya seperti puding, tetapi di sana Dinda menggunakan pewarna asli dari buah naga dan semangka, jadi agak unik memang. Ketika Rangga dan Chandra memakan agarcagar itu, mereka langsung memberikan reaksi sangat bagus. "Kayaknya Kak Dinda nggak perlu review-review-an deh, semua masakan Kak Dinda itu udah enak jadi nggak usah pake di-review segala," ujar Rangga dengan yakin. "Halah kamu terlalu memuji, Rangga. Kamu pasti udah sering kan ngerasain banyak makanan enak, apalagi makanan-makanan mewah," ujar Dinda. "Iya nih, lebay," ujar Candra. "Ya ampun, gue serius nggak pernah loh makan puding rasa semangka dan buah naga gini." "Ini bukan puding, ini agar-agar." "Masa sih agar-agar kayak gini? Ini udah rasa puding, seriusan ini bahannya agar-agar?" Dinda mengangguk sambil tertawa kecil, Rangga bisa saja menaikan mood seseorang. "Wah luar biasa Kak Dinda, masak agar-agar jadi puding," puji Rangga membuat Dinda senang. Remaja itu memang sudah sering membuatnya malu, tapi sikap lucunya kadang menghiburnya. Jujur saat ini dia juga sedang galau tentang pernikahannya, kemarin saat fitting baju pengantin calon suaminya malah tidak datang. Katanya sibuk, lalu ketika ia membuat janji untuk bertemu dengan keluarganya, katanya calon suaminya ada di luar negeri. Ia jadi berasa dibohongi, sekarang ia seperti tengah ditipu. Kalau pria itu mau menikah dengannya, harusnya sebisa mungkin ia meluangkan waktu untuknya, tidak seperti sekarang yang banyak alasan jika diajak bertemu. Ia sungguh ragu, apa benar pria itu mau menikah dengannya? Padahal kata orang kalau pria itu menginginkan kita, ia tak akan membuat kita ragu. Jika benar pria itu menginginkan kita, ia akan mengusahakan yang terbaik agar kita yakin atas dia. Namun tentu saja ia tidak ingin memperlihatkan kegalauannya di depan anak remaja yang masih memiliki pikiran sederhana. Meskipun Rangga bukan adik kandungnya, ia sudah menyayanginya seperti ia menyayangi Candra. Ia juga tahu kisah hidup Rangga yang kesepian anak laki-laki yang butuh perhatian dan mungkin ia sudah menemukan krbaikannya di keluarga mereka. Jadi ia secara terbuka membiarkan Rangga di sana. Setidaknya ia tak ingin ada seorang anak yang kehilangan jati dirinya dan membiarkannya bersedih sendirian. Ia tau rasanya jauh dari orang tua, meski konteksnya berbada. Kalau Dinda jauh karena jarak tapi dekat di hati, berbeda dengan Rangga yang dekat di jarak tapi jauh di hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD