"Ya gitu, Bonyok kayak udah ada firasat bakal meninggal dalam waktu dekat itu makanya dia khawatir sama Kakak gue. Mereka pingin Kakak gue nikah sama orang baik-baik, yang mereka udah kenal. Kakak gue dasarnya penurut dan dia gak bisa nolak, terlebih itu permintaan terakhir Bonyok. Dia pasti merasa terbebani ...."
Rangga ikut merasa tak rela, ia tertarik dengan Dinda saat pertama kali mengamatinya. Namun, ia juga tak tau harus bagaimana jika itu berkaitan dengan kekuarga yang tidak ada hubungannya dengannya.
Pupus sudah harapannya untuk bersama Dinda, padahal ia sudah sangat menyukai gadis yang lebih tua darinya itu dengan sungguh-sungguh. Ia langsung menawarkan ide untuk menggagalkan semha itu lewat jalur hukum untuk mengubah wasiat terdebut, tetapi Candra menjelaskan kalau ini bukan tentang bukti hitam di atas putih, tetapi tetang kepatuhan kakaknya pada kedua orang tuanya, juga perasaan bersalahnya yang tak akan pernah bisa diubah oleh apapun.
Memang tidak ada harapan bagi Rangga untuk memiliki Dinda, ia tak bisa menggapai Dinda yang begitu jauh untuknya. Bukan karena Dinda yang dari kalangan biasa, tapi ia yang merasa kecil dan tak layak untuk Dinda.
•••
Suara azan berkumandang, itu merupakan suara azan subuh yang biasanya tak didengar oleh Rangga. Sebab, pemuda itu akan tidur sampai jam setengah enam dan langsung bersiap sekolah. Bahkan ia bisa bangun jam setengah tujuh sehingga berakhir masuk ke area sekolah dengan melompat dinding pagar, lalu berakhir di ruang BK dengan hukuman yang menunggu.
Namun, pagi ini ia tidak kesiangan bahkan bangun di waktu yang tepat. Ia tak bisa tidur semalaman gara-gara overthingking memikirkan berita perjodohan Dinda. Jika ada kesempatan untuknya melakukan hal, ia akan berusaha membuat pernikahan itu tak perah terjadi, tapi ia tak ingin begitu seban ia menghargai Candra sebagai sahabatnya.
Memang mencintai kakak dari sahabat bukan sebuah hal yang salah, toh mereka tak ada ikatan darah. Hal yang membuat semua jadi aneh adalah fakta bahwa ia tak cukup layak untuk Dinda yang luar biasa itu. Ia galau sendiri memikirkan semuanya.
Jujur, ia memang tak mudah mencintai seorang perempuan, Mia saja yang sudah dijuluki Dewi Kecantikan tidak bisa menaklukan hatinya. Ini mirip seperti lagu Virgoun yang berjudul Bukti.
Selama 17 tahun hidupnya, tiada yang bisa meruntuhkan ego dan membuatnya luluh selama ini. Namun, lihatlah Dinda yang hanya dalam sehari mampu membuatnya jatuh cinta. Di luar sana banyak perempuan yang berusaha membuat hatinya takluk, tetapi tiada yang mampu untuk membuatnya takluk.
Lalu suatu siang, ketika ia masuk ke dapur rumah Candra ia melihat seorang gadis dengan diamnya ia bisa menaklukan hatinya. Meski awalnya ia hanya merasa bersalah atas panggilan 'Ibu' yang ia layangkan pada gadis itu, nyatanya ia malah masuk ke dalam pesonanya yang lembut itu.
Dinda hanya diam, tersenyum seadanya, lalu memaafkannya dengan kata-kata santai. Tapi justru itu yang membuatnya benar-benar takluk, ia jatuh cinta pada Dinda dengan segala kesederhanaannya.
Entahlah, ia benar-benar luluh di sana. Ia jatuh cinta pada kebaikan hatinya, kelembutan perangainya dan kesederhanaannya.
Kemudian, ia kembali tersadar bahwa gadis itu akan segera dimiliki orang lain. Hatinya tentu tidak rela dan ingin melakukan sesuatu untuk membuat itu batal, tapi apa yang harus ia lakukan sementara ia takut jika Candra tersakiti atas sikapnya nanti.
____
Di kampus setelah selesai kuliah, Dinda merenung sambil minum es teh. Ia biasanya tidak seperti ini, ia biasanya selesai kuliah langsung pulang. Tetapi kali ini ia benar-benar tidak bisa fokus dengan apa yang harus ia lakukan.
Masih memikirkan tentang perjodohan yang direncanakan oleh orang tuanya itu. Ia bingung sekali, apa yang harus ia lakukan?
Ia memang tidak berpikir untuk pacaran dulu baru nikah, tetapi ia hanya tidak tahu Apakah pria yang dijodohkan dengannya memang menerimanya atau tidak.
Kalau ia bisa menerima dengan positif, lalu pria itu ternyata tidak setuju dengan perjodohan itu, yang paling dirugikan adalah dia, pihak perempuan.
Sejauh yang ia tahu, pernikahan mau dasarnya cinta atau tidak, kalau sama-sama Ridho pasti jalannya akan ringan. Tetapi kalau tidak Ridho, meskipun mereka saling cinta tetapi salah satunya tidak ingin menikah hasilnya akan menjadi sebuah hal yang negatif, karena perjalanan pernikahan itu akan pincang atau berat sebelah, tidak seimbang.
Hal seperti itu akan memicu perceraian atau pertengkaran setiap hari. Padahal ia berharap bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sangat indah dan ketika mereka ada di dalamnya akan ada banyak hikmah. Kebaikan itulah yang akan mewarnai kehidupan mereka.
Ia tidak tahu apakah tindakannya adalah benar, untuk menerimanya tetapi yang ia pikirkan sekarang hanyalah amanah dari kedua orang tuanya. Jika pernikahan itu adalah apa yang orang tuanya inginkan ia bisa apa, selain menerimanya.
Tak lama, datanglah seorang gadis berhijab gaul.
"Eh lu kenapa diem-diem bae?" tanya Karina.
"Eh Rin, Vita di mana?"
Karin menunjuk arah stand somay dan di sana terdapat Vita yang sedang memesan makanan.
"By the way, lu kenapa kok kayak ada masalah gitu? Cerita dong," ujar Karin.
"Ya gitu deh, jadi aku ceritanya nanti kalau udah ada Vita, ya."
"Nah, itu Vita."
Setelah Vita duduk bersama mereka, Dinda kemudian menceritakan asal mula kegundahannya.
"Sebenarnya, sebelum Bapak sama Ibu meninggal, mereka nitip pesan sama kuasa hukumnya Bapak--Pak Bayu. Di situ juga, Bapak sama ibu buat video, yang seolah-olah mereka udah tahu bahwa mereka bakal meninggal dalam waktu dekat, gitu ...."
Karin dan Vita langsung merasa sedih, apalagi mendengar suara Dinda yang bergetar.
"Mereka bilang, kalau mereka udah siapin pria untuk aku nikahi."
"Terus?"
"Ya, gitu ... jadi permintaan terakhir mereka adalah pernikahan yang sudah mereka siapkan. Aku nggak tahu harus gimana. Sebenarnya, aku juga pengen nolak dan kata kuasa hukum Bapak, dia bilang bahwa aku nggak papa nolak, tapi aku merasa bersalah banget kalau itu terjadi. Aku juga pengen mewujudkan permintaan terakhir mereka, ya walaupun mereka mungkin nggak apa-apa kalau aku nolak juga, tapi hatiku nggak tenang. Aku nggak tahu apakah cowok itu mau dijodohin sama aku."
Karim kemudian memegang tangan Dinda dan mengusapnya untuk memberikan kekuatan. Vita juga ikut menggenggam tangan kedua sahabatnya itu.
"Sabar ya, Din. Aku juga turut berduka atas kematian kedua orang tuamu, tapi untuk pernikahan itu aku kira kamu bisa nolak deh ... kalau kamu nggak bisa menerima itu. Aku pikir mungkin ada baiknya perjodohan itu, tapi kan kalau kamu nggak happy buat apa diterusin?" ujar Vita.
"Nggak sesederhana itu kasusnya, Vit," ujar Karin.
"Ya tapi kan Dinda nggak bahagia dengan hal itu, makanya apa salahnya sih nolak?"
"Memang nggak salah sih, tapi itu berat juga karena permintaan terakhir Bokap Nyokapnya Dinda," ujar Karin.
Dinda mengangguk setuju, "Aku mikirnya di situ, aku nggak mau ngecewain kedua orang tua aku sejauh ini. Aku udah bikin mereka kecewa dengan aku yang nggak bisa diandelin, aku yang selalu ngerepotin mereka dan aku yang belum bisa ngelakuin banyak hal untuk mereka, karena kami tinggal terpisah. Tapi ... aku nggak tahu harus gimana."
Dinda benar-benat bingung sekarang, ia galau dengan semu kemungkinan yang terjadi ke depannya.
"Ya udah, mending kamu.salat tahajud dan minta petunjuk sama Allah. Semoga Allah kasih kamu jalan yang terbaik buat kamu. Agar kamu bisa memilih, apakah kamu mau menerima dia atau enggak. Sebab, sebaik apapun keputusan kita sebagai manusia, kalau itu buat kita berat, Allah pasti kasih jalan terbaik agar semua itu jadi ringan," ujar Karin.
Dinda hanya mengangguk kemudian memeluk kedua sahabatnya dari samping.
"Terima kasih, aku sampai gak ingat kalau aku harusnya ke Allah dulu baru mikirin ini sendiri."
"Nah gitu dong, lu harus tetap semangat, tetap positif thinking!" ujar Vita.
Dinda tersenyum simpul, ia lega memiliki sahabat sebaik mereka. Meski hanya empat bulan, mereka bisa memiliki ikatan yang sekuat itu di saat ia rapuh dan membutuhkan teman.