(BAB 16)

1700 Words
"Lian gak mau Kakak ngubah perasaan Kakak sekarang." Ulang Lian dengan tatapan yang sangat berkaca-kaca, gue yang semula menatap Lian aneh beralih menatap Lian dengan tatapan ikut berkaca-kaca juga, tapi apa alasannya tatapan kami berdua sampai ingin menangis gue sendiri gak tahu, yang pasti, gue gak bisa nahan isak tangis gue begitu mendapati tatapan Lian semakin berkaca-kaca seakan berusaha keras menahan isak tangisnya, apa yang salah dari kita berdua? Apa pengakuan gue merupakan sebuah pemberitahuan yang harus diapresiasi sampai harus menahan isak tangis sampai kaya gini? Apa pengakuan gue bisa membuat seorang Lian terlihat sangat bahagia seperti ini? Walaupun mata Lian berkaca-kaca tapi bukannya tatapan Lian sekarang adalah tatapan seseorang yang sedang bahagia? Tapi kenapa? "Kamu mau Kakak bertahan dengan perasaan Kakak sekarang? Bertahan dengan cinta sepihak Kakak ke kamu selama ini? Apa kamu mau Kakak menderita lebih parah dari ini Ian? Apa Kakak terlihat baik dimata kamu?" Tanya gue mengusap cepat air mata gue sekarang, maksud Lian meminta gue bertahan dengan perasaan sepihak gue sekarang itu apa sebenernya? Ian mau ngeliat seberapa parah lagi gue bisa terluka karena punya perasaan seperti ini untuk laki-laki yang sudah menganggap gue layaknya Kakak kandungnya sendiri? Apa keadaan gue terlihat baik-baik saja sekarang? Apa keadaan gue gak terlihat terluka sama sekali? Apa gue terlihat sangat nyaman dengan perasaan gue sekarang? Dengan keadaan gue sekarang? Kenapa Ian selalu membuat gue bingung dengan ucapannya? Bukannya dia yang bilang kalau dia cuma menganggap gue sebagai seorang Kakak ketika kita berdua membahas masalah pesan chat gue kemarin? Lian bahkan masih bisa mengandaikan banyak hal kemarin, tebakannya bahkan bisa membuat gue bahagia sesaat tapi kembali menderita untuk beberapa saat setelahnya, seberat itu memang perasaan yang harus gue tanggung tapi apa? Sekarang Lian mau gue mempertahankan perasaan gue untuk dia? Perasaan sepihak gue? Apa Lian pikir itu mudah? Apa Lian gak mempertimbangkan apapun sama sekali sekarang? Apa itu gak salah? Jangan membuat gue berharap hal aneh dan gak mungkin bakalan kejadian. "Apa perasaan Kakak sekarang membuat Kakak sangat menderita? Apa perasaan Kakak untuk Ian membuat Ian terlihat sangat kesusahan? Apa itu yang membuat Kakak gak pernah ngomong apapun sama Ian selama ini?" Tanya Ian yang membuat gue kembali kehabisan kata? Benerkan apa kata gue? Setiap pertanyaan yang terlintas dalam otak Ian selalu aja sukses membuat gue mengkaku di tempat, apa setiap ucapan gue akan diartikan begini sama Ian? Apa ucapan gue gak bisa membuat Ian mengerti keadaan gue dengan apa yang sedang gue rasain? Apa Ian gak bisa mengerti sedikit keadaan gue? Bukan perasaan gue ke Lian yang membuat gue merasa terbebani tapi penolakan yang akan gue terima dari semua orang yang membuat gue gak bisa membayangkan apapun, apa Lian belum mengerti juga? "Ian! Bukannya perasaan Kakak ke kamu yang Kakak permasalahkan sekarang, bukan perasaan Kakak ke kamu yang menjadi beban Kakak sekarang tapi kenyataan kalau kamu menolak perasaan Kakak, kenyataan kalau akan banyak orang yang menentang perasaan Kakak sekaranglah yang membuat Kakak lelah." Ini alasan gue, belum cukup dengan gue harus menghadapi tenggapan dan omongan orang-orang di luar sana, ucapan Ian yang membingungkan gue juga nambah beban gue, Ian berbicara seolah gue punya kesempatan tapi setelahnya balik mengucapkan kata yang membuat gue pikir kalau hubungan kita berdua memang gak akan mungkin. Gue udah dengan jelas mengutarakan perasaan gue, gue suka sama Lian bahkan gue cinta sama Lian tapi apa balasan Lian? Lian hanya mengatakan sesuatu yang gak bisa ngerti, Lian bilang kalau dia hanya menganggap gue sebagai seorang Kakak tapi setelah tahu perasaan gue kaya apa dia malah minta gue untuk bertahan dengan perasaan gue sekarang? Bukannya itu sangat membingungkan? Kalau memang selama ini Ian menganggap gue layaknya seorang saudara terus maksud dia minta gue untuk bertahan dengan perasaan gue sekarang itu apa? Apa Lian akan terus bersikap seperti ini? Lagian gue juga mengharapkan apa? Kalaupun Ian membalas perasaan gue, kalaupun itu kejadian, gue sama Ian tetap gak akan bisa bareng-bareng, kenapa? Karena ada keluarga yang akan menolak hubungan kita berdua, gue memang gak tahu apa dan bagaimana reaksi keluarga Ian tapi gue udah sangat tahu pasti reaksi keluarga gue, apa yang harus gue harapkan lagi, mau perasaan gue sama Lian berbeda atau bahkan sama sekalipun, gue sama Ian gak akan punya kesempatan untuk bahagia bersama, gue sama Lian harus tetap menjalani hidup kiat berdua masing-masing, gue sama Lian gak harus memikirkan banyak cara untuk meneruskan perasaan kita berdua, gak akan ada jalannya. "Yang bilang kalau Lian menolak perasaan Kakak siapa?" Tanya Lian terlihat sangat prustasi memperhatikan gue sekarang, Lian bahkan mengusap wajahnya kasar dan kembali menatap gue dengan tatapan kesalnya, Ian bahkan mengabaikan tatapan beberapa orang disini yang mungkin mulai menganggap kita berdua aneh, panggilan Kakak Adik tapi pembahasan yang sedang gue sama Ian bahas sekarang adalah masalah perasaan, bukannya itu sangat aneh? Banyak hal yang gak bisa gue jelasin sekarang, belum lagi dengan ucapan Lian barusan? Maksudnya apa? Bukannya Lian menolak gue karena hanya menganggap gue sebagai seorang saudara perempuannya? "Bukannya kamu cuma menganggap Kakak sebagai seorang saudara perempuan? Terus kalau bukan nolak perasaan Kakak terus kamu mau Kakak mikir apa?" Tanya gue balik tapi gue berusaha keras menjaga nada bicara gue, gue gak mau semakin banyak narik perhatian orang lain, membahas masalah perasaan kaya gini aja udah cukup aneh jadi jangan nambah aneh dengan ikut ribut-ribut di tempat makan kaya gini, kalau memang mau ribut yaudah cari tempat lain atau kalau perlu pulang sekalian, gue selesai dengan pemberitahuan gue, gue udah gak mau memperpanjang apapun kalau cuma untuk berakhir ribut sama Ian sekarang, gue gak mau. "Kapan Ian bilang kalau Ian nolak perasaan Kakak? Bukannya itu cuma kesimpulan yang Kakak ambil sendiri? Kakak bahkan gak nanya baik-baik sebenernya gimana perasaan Lian ke Kakak juga? Alasan kenapa Lian ngomong kalau Lian cuma menganggap Kakak sebagai Kakak kandung Lian karena Kakak juga melakukan hal yang sama? Kakak lupa sewaktu Ian dateng ngejengukin Kakak pagi-pagi buta karena Kakak sakit? Kakak yang ngomong kalau Kakak cuma menganggap Lian seorang Adik, Lian cuma anak tetangga depan yang kebetulan merangkap status menjadi salah satu mahasiswa Kakak juga, apa Ian salah?" Tanya Ian telrihat jauh menjaga nada bicaranya, Ian bahkan menghembuskan nafas dalam sembari memperhatikan gue lekat, menatap gue dengan tatapan yang gak lepas sama sekali, Lian melakukannya setelah ngomong kaya barusan beneran membuat gue menatap Lian dengan cara yang berbeda sekarang. "Kenapa Kakak diem? Lian nanya Kakak, apa yang Lian omongin barusan salah? Lian bahkan udah nanya maksud chat Kakak kemarin itu apa sebenernya tapi Kakak balik ngulang mengingatkan Lian dengan status Kakak Adik kita berduakan? Padahal Ian udah dengan jelas ngomong kalau seandianya perasaan kita sama, Lian akan berjuang apapun caranya untuk kita bisa bersama, apa Kakak gak percaya dengan ucapan Lian? Apa Kakak pikir Lian gak bisa serius kalau membicarakan masa depan?" Gue menggeleng untuk pertanyaan Lian barusan, karena gue tahu kalau Lian akan memperjuangkan gue seandianya perasaan kita berdua itu samalah yang membuat gue jauh lebih was-was, apa yang harus gue jelasin sama keluarga gue nanti kalau Lian beneran serius ingin memperjuangkan gue nantinya? Bukannya ribut-ribut itu adalah hal pasti? "Gak ada yang perlu di perjuangkan untuk hubungan kita berdua Ian, kamu gak perlu memperjuangkan apapun, Kakak sama sekali gak berpikir kalau hubungan kita akan berhasil, dari pada kita berdua buang-buang waktu untuk hal yang udah pasti gak akan berjalan sesuai harapan kita berdua, lebih baik belajar mengurus perasaan sendiri masing-masing dari sekarang, sebelum semuanya semakin rumit nantinya." Ucap gue yakin, gue gak mau ngambil resiko apapun, bukannya gue pernah ngomong kalau gue mungkin gak akan sanggup menghadapi omongan orang-orang nantinya? Gue gak akan bisa menyakiti perasaan keluarga gue dengan menolak mendengarkan keinginan mereka, makanya gue ngomong kalau gue sama Lian itu gak akan mungkin. "Kenapa Kakak pikir hubungan kita gak akan berhasil? Bukannya Ian juga udah pernah bilang kalau Ian gak akan peduli dengan ucapan omongan orang-orang di luar sana, orang lain gak perlu mengerti dengan perasaan kita berdua, penolakan orang lain gak akan memberikan pengaruh apapun untuk hubungan kita berdua, bukannya yang terpenting itu perasaan kita berdua? Cukup itu." Gak cukup dengan itu bagi gue, banyak hal yang masih belum Lian ngerti, alasan kenapa Mas Ali sama Bunda bersikap kaya kemarin apa Lian gak mau tahu sama sekali? Apa Lian melupakan ekspresi mereka? "Kamu nanya kenapa Mas Ali sama Bunda bersikap aneh sama kamu belakangan inikan? Apa kamu belum ngerti juga? Mereka berubah sikap karena mereka tahu perasaan Kakak untuk kamu sekarang kaya apa Ian? Karena mereka tahu kalau Kakak mencintai kamu makanya mereka beriskap dingin, bukannya cuma dengan kamu tapi mereka juga bersikap dingin dengan Kakak, apa kamu pikir Kakak bisa mengabaikan omongan dan sikap mereka menanggapi hubungan kita berdua? Gak akan Ian, kenapa? Karena mereka keluarga Kakak dan keluarga itu bukan orang lain." Ucap gue berharap Ian akan mengerti keadaan gue sekarang, gue harap Ian akan lebih realistis dalam menghadapi kenyataan yang terkadang gak akan berjalan sesuai harapan kita berdua. "Kalau itu yang Kakak takutkan, Ian bisa meyakinkan keluarga Kakak untuk setuju dengan hubungan kita berdua Kak, Ian akan berusaha sebaik mungkin jadi Kakak gak perlu khawatir untuk apapun." Balas Ian mencoba menyakinkan gue kalau semuanya bakalan baik-baik aja asalkan Ian mau berusaha, tapi Ian salah, semuanya memang sedang gak baik-baik aja sekarang, hubungan gue sama Ian gak akan berjalan segampang itu, kalau Bunda sama Mas Ali bisa dibujuk untuk setuju dengan hubungan kita berdua, mungkin udah lama gue berhasil meyakinkan mereka tentang perasaan gue, gue gak harus bingung mencari jalan lain untuk membuat keadaannya kembali baik-baik aja, itu gak gampang, gue yang anaknya gak mau didengerin apalagi Ian yang cuma anak tetangga. "Kita berdua gak akan mungkin Ian, kamu gak perlu berusaha keras, gak akan ada gunanya." Gue tersenyum perih mengucapkan kata-kata barusan, semuanya beneran gak akan mudah, ada banyak hal yang harus gue sama Ian lalui kalau kita berdua tetap memaksakan perasaan kita berdua sekarang, dan udah jelas kalau gue gak akan siap untuk berdebat dengan keluarga gue, pengecut memang ya tapi inilah gue, gue gak seberani Ian yang seakan gak takut untuk menghadapi kenyataan, menghadapi kenyataan yang terkadang gak akan selalu sesuai dengan harapan kita berdua nanti. "Itu menurut Kakak, sekarang ini juga menyangkut perasaan Lian, setelah tahu Kakak mempunya perasaan yang sama seperti apa yang Lian rasain selama ini, apa Kakak pikir Lian akan menyerah semudah itu? Gak akan Kak."   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD