"Rasa suka antara perempuan dan laki-laki pada umumnya, suka antar pasangan, bukan antara seorang Kakak untuk Adiknya, Kakak ngertikan maksud Lian?" Ulang Lian semakin menjelaskan maksud ucapannya barusan, gue menatap Lian kaget dengan ucapannya, gue pikir Lian gak akan sadar sama sekali, Lian gak akan kepikiran sama sekali kalau gue punya maksud lain untuk pesan chat gue kemarin, gue gak nyangka kalau Lian akan nebak maksud pesan chat gue sesuai dengan tujuan utama gue sebenernya, gue pikir Ian gak akan pernah punya pikiran kaya gitu, lagian siapa yang bakalann punya pikiran aneh kaya gitu? Orang kalau nebak juga mikir-mikir, gak mungkin ngasal sampai separah itu.
"Kenapa kamu busa nebak kaya gitu? Memang kamu gak ngerasa aneh dengan tebakan kamu sendiri? Hubungan kita apa mungkin bisa berubah seperti tebakan kamu sekarang?" Tanya gue balik, entah kenapa gue juga ngerasa kalau harus nanya kaya gini, gue mau tahu seperti apa pendapat Ian kalau hal kaya gini menjadi kenyataan, gue mau tahu Lian akan berpikir seperti apa dan reaksinya bakalan gimana? Gue beneran mau tahu, Lian akan mengatasi masalah kaya gini seperti apa? Apa Ian bisa memberikan solusi yang jauh lebih baik dan pemikiran gue selama ini? Apa Ian bisa bertindak lebih baik dari gue?
"Kakak nanya pendapat Ian kalau tebakan Ian barusan menjadi kenyataan itu gimana? Gimana kalau Kakak beneran suka sama Ian? Rasa suka sebagai seorang perempuan ke seorang laki-laki?" Ulang Lian seolah ingin memastikan maksud pertanyaan gue barusan, gue mengangguk pelan dan mendadak Ian menepikan mobilnya memberikan jawaban untuk pertanyaan gue barusan, gue diam menatap Lian dengan perasaan ragu sekaligus khawatir, gue khawatir kalau jawaban Lian sekarang malah akan semakin menyakiti perasaan gue sendiri, sama seperti menabur garam di atas luka, gue takut kalau jawaban Lian gak akan sesuai dengan keinginan gue.
"Kalau Kakak beberan suka sama Lian, itu artinya Kakak berhasil move on dari Mas Galang dengan sangat baik, Ian jelas akan sangat bahagia kalau Kakak bisa melupakan Mas Galang, Kakak gak harus merasa tersakiti lagi, Kakak udah bisa melangkah maju, bukannya itu kabar baik?" Dan ini adalah jawaban Lian, gak ada yang salah dengan jawaban Ian karena itu memang kabar baik, kalau gue bisa suka sama orang lain itu artinya gue beneran udah bisa move on dari masa lalu gue dan itu harusnya memang menjadi kabar baik, gak ada yang salah dengan pemikiran Ian tapi bukan ini yang gue mau tahu, yang ingin gue tanyakan adalah, hubungan gue sama Ian akan seperti apa kalau tebakan Ian menjadi kenyataan? Itu pertanyaannya.
"Itu memang bener tapi apa yang bakalan terjadi dengan kita berdua? Hubungan kita berdua akan gimana?" Tanya gue melirik Lian gak yakin, gue memaksakan senyuman gue dan mengalihkan perhatian kearah lain sesekali, gue sangat ingin tahu jawaban Ian tapi gue gak mau Ian tahu kalau gue memang sangat seantusias itu, gue ingin Ian memberikan jawabannya tanpa ada perasaan gak enak sama gue sama sekali, akan bagaimana hubungan gue sama Ian kalau sampai Ian tahu gue beneran suka sama dia? Suka antara seorang laki-laki dan perempuan pada umumnya.
"Kita akan gimana? Apa kita mungkin bersama? Bukannya Kakak itu dosen Ian? Bukannya Ian mahasiswa Kakak sendiri? Itu yang Kakak ingetin sama Lian kemarinkan? Setelah ucapan Kakak kemarin, semalam Ian juga mikirin semuanya lagi, masalah umur, status atau apapun, yang membuat semuanya menjadi gak mungkin cuma satu alasan, apa Kakak tahu itu apa? Itu karena kita terlalu mendengarkan orang lain." Ian bahkan menyunggingkan senyumannya di depan gue sekarang, Ian memberikan jawaban dengan sudut pandang yang selalu mudah, Ian hanya memikirkan sesuatu dari sudut pandangnya yang gak terlalu peduli dengan pendapat orang lain, hal yang bagus memang tapi kita juga hidup dalam lingkungan masyarakat, penilaian orang lain itu penting.
"Tapi bukannya pendapat orang lain itu juga penting, kita gak mungkin hidup dengan lingkungan yang tidak bersahabat? Itu gak nyaman." Lanjut gue, tempat tinggal itu harusnya nyaman, orang-orang gak akan memberikan penilaian buruk mereka atas diri kita, kalau hidup bermasyarakat tapi kita tahu kalau orang tersebut membicarakan hal buruk tentang kita di belakang, apa itu akan menjadi nyaman? Jawabannya jelas enggak, hidup seperti itu gak akan nyaman sama sekali, gak akan ada ketenangannya makanya menurut gue penilaian orang lain itu penting, pendangan seseorang untuk kita itu sama pentingnya.
"Memang! Tapi yang menjalani itu kita, pendapat orang lain gak akan memberikan pengaruh apapun, masalah umur bahkan status kita yang berbeda, itu bukan kesalahan jadi kita harus mendengarkan orang lain kenapa? Bahagia kita mereka gak anggap gak penting, susahnya kita apalagi, umur hanya masalah waktu dan status hanya pandangan seseorang, bukannya yang terpenting adalah saling menyayangi? Kita yang akan menjadi jadi cuma pendapat kita berdua yang penting." Lian terlihat sangat yakin dengan jawabannya sekarang, tanpa sadar gue menyunggingkan senyuman gue bahkan sedikit takjub dengan pemikiran Ian sekarang, ada kalanya sikap gak peduli Ian dengan pendapat orang lain itu berguna, hidup menjadi jauh lebih sederhana ketika kita tidak mendengarkan pendapat orang lain.
"Sesederhana itu pemikiran kamu?" Tanya gue ke Ian tapi seperti mengingatkan diri gue sendiri juga, pemikiran Ian memang sangat sederhana dan itu bagus, gak ada untungnya memikirkan pendapat orang lain tapi masalahnya sekarang, Mas Ali ataupun Bunda bukan orang lain, mereka keluarga gue, gue hidup dan tinggal seatap dengan mereka jadi gue gak mungkin mengabaikan pendapat mereka sekarang, apapun yang gue lakuin sampai sekarang pasti gue memikirkan pendapat dan pandangan mereka lebih dulu, mereka gak setuju sama Mas Galang aja hidup gue udah cukup kesusahan waktu itu, apa gue akan hidup dengan mengabaikan pendapat mereka lagi?
"Memang hidup harus dibikin susah kalau bisa mudah?" Tanya Ian balik, gue memang menggeleng pelan untuk pertantaan Lian, hidup memang gak harus dipersulit kalau memang bisa mudah tapi masalahnya adalah, gak ada caranya gue bisa mempermudah urusan gue sekarang, kenyataannya memang udah sulit, gue terlanjur mencintai laki-laki yang duduk disamping gue sekarang, gue terlanjur menjatuhkan hati gue untuk orang yang tidak tepat lagi, apa ada cara untuk gue mempermudah situasi? Gak ada, gue akam tetap kesulitan karena melupakan juga bukan pekara mudah, merelakan perasaan gue ke Lian itu sulit, ini adalah kenyataan yang harus gue terima sekarang.
"Itu kan cuma seandainya Ian, kenapa kamu jadi serius banget? Udah jalan lagi sekarang, tar telat ke kampusnya." Ucap gue mencoba mengalihkan pembicaraan, gak ada yang harus di perpanjang lagi, gue udah tahu jawaban Lian dan gimana reaksinya tapi ya tetap percuma karena kenyataannya Ian gak punya perasaan yang sama seperti apa yang gue rasain sekarang, Ian gak cinta juga sama gue makanya gak ada yang harus di perpanjang, harapan gak selalu harus berubah menjadi kenyataan, gue selalu mengingatkan diri gue sendiri tentang hal ini, gak semuanya akan berakhir sesuai harapan, kita bisa berusaha tapi takdir gak ada yang tahu.
"Itu memang seandainya tapi kalau itu menjadi kenyataan, Ian gak akan menyerah hanya karena masalah umur atau status kita berdua, Kakak juga harus tahu itu." Ucap Ian sebelum kembali melajukan mobilnya, memperhatikan Ian yang mulai kembali fokus mengemudi, gue malah terus memperhatikan Ian dengan pemikiran gue sendiri, gue bahkan gak sadar kalau dari tadi gue belum melepaskan tatapan gue daru Lian, kalau boleh jujur gue merasa sangat lega dengan jawaban terakhir Lian karena itu berarti andai Lian membalas perasaan gue, Ian akan bersedia untuk memperjuangkan tapi kenyataan kembali menyadarkan gue satu hal, Ian gak punya perasaan yang sama seperti gue sekarang.
Selama perjalanan, gue sama Lian masih saling menatap sesekali tapi kita berdua hanya sepakat untuk saling memperlihatkan senyuman satu sama lain, gak ada yang memulai pembicaraan lagi, walaupun kita saling melempar senyuman tapi suasana canggung itu masih tetap terasa, tatapan aneh gue sama Lian membuat banyak hal yang masih ingin gue tanyakan tapi gue gak bisa, gue gak ingin tahu apapun lagi kalau cuma memberikan harapan palsu untuk diri gue sendiri lagi, jawaban Ian tadi udah cukup membuat gue merasa lega jadi jangan menanyakan banyak hal lagi kalau cuma akan semakin membuat gue sulit mengendalikan perasaan gue sendiri, itu sulit untuk gue.
"Makasih ya Kak untuk tumpangannya, tar kalau boleh pulangnya juga nebeng lagi." Gue hampir aja menjitak kepala Ian kalau ni anak gak keburu kabur setelah ucapannya barusan, enak banget kalau ngomong, udah nebeng pas berangkat dan sekarang malah mau nebeng pas pulang juga, apaan coba tu anak? Sengaja banget bikin gue makin susah move on.
Sampai di parkiran kampus, gue sama Lian misah, Lian ke kelasnya sedangkan gue berjalan ke arah ruangan staf, bahkan langkah gue sama Ian sekarang semakin memperjelas hubungan kita berdua, Lian adalah mahasiswa gue jadi kalau Lian normal, dia gak akan beralih menyukai gue disaat dia tahu tempatnya, gue tersenyum miris memperhatikan punggung Lian yang semakin jauh sekarang, akankah suatu saat gue memiliki seseorang yang benar-benar akan mencintai gue segenap hatinya? Akankah ada yang rela berjuangan untuk gue dengan segenap kemampuannya? Akankah ada?
"Loh Syia, katanya cuti sakit?" Tanya Mas Haznik, Mas Haznik itu staf di prodi ini juga dan kebetulannya lagi, Mas Haznik itu temennya Mas Galang, walaupun hubungan gue sama Mas Galang udah berkahir tapi bukan berarti gue harus menjauhi semua temen-temennya jugakan? Terlebih selama ini Mas Haznik selalu baik sama gue jadi gue gak punya alasan untuk mengabaikan Mas Haznik juga, gue gak berhak melakukan itu cuma karena Mas Haznik temen mantannya gue, gue gak sekekanakan itu, gue masih busa memilah siatuasi gue saat ini.
"Iya nih Mas tapi karena udah jauh lebih mendingan makanya Syia masuk hari ini, suntuk juga kelamaan diem dirumah gak ada kegiatan." Balas gue tersenyum kecil, gue ngambil posisi di tempat gue dan mulai fokus dengan kerjaan gue sendiri.
.
.
.
Selesai ngajar, gue milih langsung pulang ke rumah, awalnya gue sempat punya niatan untuk nanya Lian udah selesai apa belum, kasian juga kalau tu anak pulang pake bus tapi gue urungkan, kalau semakin sering gue bareng-bareng Ian, proses move on gue akan semakin sulit, gue gak mungkin milih kemungkinan bodoh kaya gitu, gue sedang berusaha untuk gak mengecewakan siapapun, selagi masih bisa gue usahakan sendiri lebih baik gue nahan diri untuk gak nyari tambahan masalah baru, walaupun perlahan tapi setidaknya proses move on gue harus berhasil, gue bisa melupakan Mas Galang jadi gak nutup kemungkinan kalau gue juga bisa ngelupain Lian nantinya.
"Kamu bilang kamu mau move on tapi kenapa tadi malah berangkat sama Lian? Kamu seriuskan Dek dengan ucapan kamu? Kapan kamu lupa kalau kamu sibuk ngeladenin Lian terus? Itu gak akan berhasil." Ucap Mas Ali yang kebetulan pulang bareng gue, gue ketemu Mas Ali di depan pintu rumah kaya gini udah beneran apes tahu gak? Harusnya gue bisa lebih cepat jadi gak harus ngeladenin ocehannya Mas Ali sekarang, bukannya tadi pagi gue ngomong udah cukup jelas? Kenapa sekarang masih di bahas juga? Susah banget ngasih gue kesempatan untuk ngurus masalah gue sendiri? Apa Mas Ali gak bisa percaya sedikitpun? Apa Mas Ali gak bisa berhenti nanya masalah ini di depan gue? Bukannya Lian tapi malah Mas Ali yang bikin gue gagal move on, asik ditanyain orangnya terus.
"Ucapan itu doa Mas, Syia udah bilang kalau Syia urus sendiri masalah perasaan Syiakan? Kenapa Mas susah banget ngertinya? Selama Lian gak punya perasaan yang sama kaya Syia harusnya itu udah cukup untuk Mas, gak perlu terus mendesak Syia kaya gini, percuma Mas, bukannya bisa lupa tapi Syia malah makin inget, apa itu yang Mas mau?" Tanya gue balik, gue males banget udah ngomong hal yang sama tapi kayanya Mas Ali gak bakalan puas kalau belum ribut dulu sama gue, tenaganya masih banyak kayanya untuk ngajakin gue berdebat dulu, mau gue ngomong kalau mereka gak perlu khawatir ratusan kalipun itu tetap bakalan percuma, gak akan nyangkut juga di ingatan mereka.
"Kamu ngejawab sekarang kalau Mas kasih tahu ya Dek! Apa kamu mau membiarkan Ian selalu bergantung sama kamu? Apa kamu mau nunggu Ian ngerasain hal yang sama seperti kamu baru kamu berencana narik diri menjauh?" Pertanyaan Mas Ali yang membuat gue tertawa miris sekarang, apa ini yang selalu dipikirin Mas Ali? Apa Mas Ali berpikir gue akan sepicik itu untuk memamfaatkan situasi, sekarang aja keadaannya udah cukup buruk jadi gue gak mungkin nambah buruk lagi keadaan yang udah adakan? Gue belum segila itu.
"Mas beneran tega sama Syia? Apa Mas pikir Syia sepicik itu, kalau memang itu tujuan Syia, udah lama Syia bikin Lian membalas perasaan Syia sekarang, gak harus nunggu apapun, Syia akan berusaha untuk membuat Lian sadar dengan perasaan Syia sekarang juga." Bentak gue cukup keras.
"Perasaan apa Kak?" Tanya Lian yang sekarang ada ditengah-tengah gue sama Mas Ali.