(BAB 39)

2702 Words
"Kakak setuju? Kakak melepaskan tangan Lian lagi sekarang? Kakak yakin? Apa Kakak gak akan menyesal?" Lian terlihat sangat tak terima dengan keputusan gue, gue tahu, keputusan gue sekarang memang bukan jawaban yang Ian harapkan tapi gue juga tetap dengan keputusan gue sendiiri, gue gak bisa mempertaruhkan kebahagian keluarga gue lagi sekarang, cukup gue yang menderita, Bunda gue gak perlu ngerasain itu lagi, cukup sekali keluarga gue kecewa dengan pilihan gue dan gue gak mau ada yang namanya mereka harus ngerasa kecewa untuk kedua kalinya, gue udah bosen memberikan alasan kaya gini dan gue juga udah gak berharap Lian akan mengerti keadaan gue. Apa gue akan menyesal? Mungkin gue akan menyesal suatu saat nanti tapi gue sangat yakin dengan pilihan gue sekarang, gue percaya jodoh dan gue percaya takdir, sesulit apapun jalannya pasti akan ada caranya kalau memang Ian itu jodoh gue tapi kalau memang bukan Ian orangnya, seberapa keraspun gue berusaha, Ian tetap akan pergi dengan cara tersendirinya, orang-orang pasti bakalan mikir gue sangat egois dan sok baik, menolak Ian dengan alasan membahagiakan keluarga, ya gue memang bukan perempuan baik tapi gue juga bukan perempuan seburuk itu, gue mempertimbangkan mana yang leb8h besar dan kecil resikonya bukan asal pilih cuma karena mengedepankan keegoisan gue. Kalau memang gue beneran egois, gue bisa aja milih mempertahankan dan memperjuangkan Lian kapanpun dan bagaimanapun caranya tapi gue gak bisa, kalau gue egois, gue bisa aja mengabaikan perasaan keluarga gue tapi tetap gue gak mampu, mengabaikan keluarga adalah satu-satunya hal yang gak bisa gue lakuin, itu gak mungkin dan gue gak akan pernah ngelakuin hal itu, hidup gue udah cukup berantakan, hidup gue udah cukup kacau tapi itu semua bukan alasan gue juga harus menyakiti hati keluarga yang sudah membesarkan gue dengan susah payah sampai sebesar ini, apa gue akan melakukan hal segila itu cuma karena seorang laki-laki. "Ian! Kamu laki-laki, Kakak perempuan, sekarang, saat ini, yang terpenting untuk Kakak adalah restu keluarga, hidup Kakak gak akan bahagia kalau restu keluarga Kakak gak ada, Kakak berusaha membujuk mereka tapi mereka tetap gak setuju dan Kakak gak bisa memaksa apalagi sampai memberontak, Kakak masih tanggung jawab keluarga Kakak sekarang." Jelas gue tersenyum perih memperhatikan Lian, gue ini perempuan, gue masih tanggungjawab keluarga gue, selama gue belum menikah, gue gak bisa membantah keinginan mereka, gue pernah melakukan itu sekali, melawan dan mengabaikan pendapat mereka sewaku memilih Mas Galang dulu dan lihat apa hasilnya? Gue ditinggal pergi gitu aja, bukannya itu seperti peringatan kecil untuk gue? Gue gak akan berhasil kalau tanpa ada dukungan keluarga gue didalamnya, dalam hal apapun yang sedang gue kerjaan. Sebegitu pentingnya restu dan arti keluarga untuk gue sekarang jadi, Lian boleh kesal, marah bahkan membenci gue sekarang, gue berhak mendapatkan itu, gue yang udah menyakiti menyakiti hatinya, gue yang udah mengecewakan perasaannya, gue yang udah melakukan berbagai hal yang membuat sakit hatinya, gue mengakui semua itu makanya sekarang gue memilih mengiyakan pertanyaan Lian yang ingin gue memilih antara mempertahankan atau melepaskan, gue melepaskan Lian karena menurut gue, kalau Lian terus bareng gue, Lian akan menderita, Lian akan teriksa dan Lian akan sangat kesusahan kedepannya, gue gak mau itu terjadi. Sikap plin-plan gue aja udah seakan boomerang untuk diri gue sendiri, belum lagi sikap kekanak-kanakan gue yang selalu aja muncul, sifat pengecut gue juga menambah lengkap jajaran keburukan gue lainnya, itu baru pekara sikap dan kelauan gue, belum sikap dan prilaku keluarga gue dalam memperlakukan Lian, cara mereka memperlakukan Ian setelah mereka tahu perasaan gue ke Lian kaya apa aja udah sangat berbeda, apa gue bisa melihat Lian diperlakukan semena-mena oleh keluarga gue hanya karena Lian ingin memperjuangkan perasaannya? Gue gak akan membuat Ian melakukan hal bodoh itu, gue gak akan membuat Ian membuang waktunya untuk itu. Bareng gue gak akan memberikan Lian kenyamanan dalam bentuk apapun, Lian akan selalu kesusahan, bukannya dalam suatu hubungan yang terpenting itu adalah kita merasa nyaman? Kalau rasa nyaman dan aman aja Lian gak bisa dapetin dari gue, lantas apa yang mau Ian perjuangkan lagi? Apa yang harus Ian tunggu lagi, menunggu dan mempertahankan perasaannya ke gue sekarang akan terasa seperti cuma membuang-buang waktu berharganya, gue udah gak yakin dari awal kalau penilaian keluarga gue bisa berubah terhadap Lian makanya gue mau Lian mundur kaya gini, jangan menyakiti dirinya lebih lama lagi cuma untuk menunggu kepastian dari gue, itu gak adil untuk Lian. Gue udah mutusin untuk berdamai dengan hati, gue udah mutusin untuk berdamai dengan keadaan, sifat gue yang seakan terus memperburuk keadaan, sikap negatif gue yang selalu memikirkan segala sesuatunya menjadi buruk, gue akan berurusan dengan masalah diri gue sendiri dulu, gue mengiyakan pertanyaan Lian karena gue mau Lian fokus dengan kuliahnya lebih dulu, pendidikan Lian jauh lebih penting dan gue gak mau itu terganggu cuma karena Lian terlalu sibuk memperjuangkan gue nantinya, saat ini adalah hal terbaik yang bisa gue pikirkan untuk masa depan Lian, masa depan gue juga. Seperti yang gue bilang tadi, gue memilih mengiyakan bukan tanpa pertimbangan apapun, gue mengiyakan itu artinya gue sudah memikirkan semuanya dalam waktu singkat yang Ian berikan barusan, Lian cukup fokus dengan kuliahnya dan mengenai restu atau berjuangan, gue akan mencoba meyakinkan keluarga gue sekali lagi dengan cara gue sendiri, gak dengan cara menyakiti siapapun, gak dengan cara membiarkan fokus Lian dalam belajar terganggu, Lian itu mahasiswa semester akhir, ini saat paling penting untuk Lian, gue yang akan mencoba meyakinkan keluarga gue, kalau gue gagal, gue gak akan menyakiti Lian sekali lagi tapi andai kata gue berhasil meyakinkan mereka dan saat itu Lian masih sendiri, gue yang akan mengejar Lian nantinya. Ini adalah kata takdir dan jodoh yang gue maksud, gue berserah dengan takdir, gue berdamai dengan hati gue, gue berdamai dengan keadaan gue yang mungkin belum berpihak disisi gue untuk saat ini, gak perlu takut untuk apapun, selama niat gue baik walaupun orang lain menilai salah, itu gak menghilangkan kenyataan kalau gue berusaha melakukan yang terbaik, gue lebih dewasa dari Lian, udah seharusnya gue yang berpikir jauh lebih keras, bukan membiarkan Lian melakukan semuanta sendirian, mengejar atau bahkan mempertahankan gue, Lian udah cukup membuktikan ketulusannya dan gue juga udah bisa memastikan perasaan gue sebenarnya kaya apa, gue yang akan mencari solusinya sekarang tanpa harus Lian tahu. Tapi gimana setelah berjuang dan keluarga gue udah setuju tapi malah Lian yang udah punya seseorang yang lain di hatinya? Itu artinya bukan Lian orang yang gue cari selama ini, bukan Lian yang ditakdirkan untuk gue, bukan Lian yang menjadi jodoh gue, sesimple itu pemikiran gue sekarang, gue gak mau mempersulit hidup gue sendiri dengan terus berpikiran negatif, banyak hal yang akan berubah selama gue berpikiran positif, memikirkan kemungkinan terburuk terkadang memang perlu tapi terlalu terpaku dengan kemungkinan terburuk itu juga gak baik, itu adalah salah satu kesalahan terburuk gue selama ini, harusnya gue bisa lebih cerdas dalam bersikap, bukan terlalu terbawa perasaan sampai gak bisa menilai segala sesuatunya dengan lebih baik. "Kakak gak takut kalau Lian menemui perempuan lain? Kakak rela melihat Ian bareng perempuan lain nantinya?" Pertanyaan Ian yang membuat gue kembali tersenyum miris, gue mungkin gak akan siap sampai kapanpun tapi gue harus rela kalau memang saat itu tiba, siap gak siap bukan itu yang menjadi tolak ukur, kesiapan itu bukan ditunggu tapi dipupuk, selama gue ikhlas menerima takdir gue, akan ada penyelesaian terbaik untuk gue nantinya, gue cuma perlu yakin hal itu, sesuatu yang memang ditakdirkan untuk gue, gak akan salah alamat dan menjadi milik orang lain. "Kalau kamu menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari Kakak, yang bisa membahagiakan kamu jauh lebih baik dari Kakak, kamu berhak untuk itu semua, jangan merasa bersalah tapi terus melangkah maju, doa terbaik Kakak selalu untuk kamu." Gue akan selalu mendo'akan yang terbaik, berharap segala sesuatunya berjalan baik untuk Lian, berharap Lian bisa jauh lebih berbahagia nantinya, gue akan selalu mendo'akan itu jadi jangan merasa bersalah kalau memang nanti Lian menemukan seseorang yang jauh lebih gue dalam segala hal, Lian berhak mendapatkan yang terbaik. "Baik! Kalau memang itu keputusan Kakak, Ian terima, maaf kalau selama ini Ian menyulitkan, Ian menyusahkan, Ian terlalu memaksakan keinginan Ian sendiri, maaf untuk semuanya." Belum mendengarkan jawaban gue untuk ucapannya barusan, Ian langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan gue gitu aja, melihat sikap Ian, bohong kalau gue gak merasakan apapun tapi gue juga gak bisa mengeluh, gue tahu alasan Ian bersikap kaya gitu, gue tahu apa yang Ian rasain sampai terlihat sangat kecewa bahkan terpukul kaya gitu, kenyataan kalau gue menyakiti hati Lian itu gak akan berubah tapi gue melakukan itu karena gue yakin kalau itu akan menjadi yang terbaik untuk Lian nanti. Membiarkan Lian pergi, gue ikut bangkit dari duduk gue dan masuk ke mobil gue balik dengan langkah yang sedikit bergetar, kaki gue bahkan hampir gak sanggung menopak tubuh gue sendiri, beruntungnya gue bisa sampai di mobil dan milih menghubungi Kak Fikri untuk dateng nyamperin gue, tangan gue bahkan udah gak bisa gue ajak kompromi lagi, apa gue beneran akan tumbang sekarang? Gue mengusap wajah gue pelan dan menyandarkan tubuh gue lelah, gue gak tahu mengurus masalah hati bahkan bisa terasa semelelahkan ini, yakin kalau mobil gue kunci, gue memejamkan mata pelan sambilan menunggu Kak Fikri dateng. Hampir dua puluh menitan gue nunggu Kak Firki dateng, gue membuka mata gue perlahan karena ketukan Kak Fikri yang gak sabaran dikaca mobil sebelah gue duduk sekarang, melihat kedatangan Kak Fikri, gue membuka kunci mobil dan kembali memejamkan mata gue lelah setelah Kak Fikri masuk, kali ini gue ngerasa bener-bener lelah, gue bahkan udah gak tahu Kak Fikri nanya apa sambilan meletakkan tangannya di kening gue, yang masih bisa gue dengar hanya gumaman Kak Fikri yang terdengar sangat panik sampai semuanya menggelap dan gue udah gak tahu apapun lagi. . . . "Bunda." Lirih gue begitu membuka mata dan mendapati Bunda, Mas Ali, Kak Fikri sama Tante Ratih memperhatikan gue dengan tatapan khawatir mereka, mendengar panggilan gue, Bunda bangkit dari duduknnya dan mengusap wajah gue dengan tatapan berkaca-kacanya, gue memaksakan senyuman gue untuk Bunda gue sekarang, kalau gue keliatan lemah, Bunda pasti bakalan makin khawatir dan gue gak mau itu, ngeliat Bunda sama Mas Ali ada disini aja gue udah kaget, belum lagi mendapati gue bangun di ruangan yang serba putih kaya gini udah terjawab jelas diotak gue dimana gue sekarang, apa gue beneran tumbang sewaktu dijemput Kak Firki? Separah itukah keadaan gue? "Kamu kenapa bisa sakit kaya gini Dek? Kamu ngebuat Bunda sama Mas kamu khawatir tahu gak?" Tanya Bunda nepuk pelan bahu gue dengan tatapan yang pura-pura dibuat kesal, gue tersenyum kecil memperhatikan Bunda gue sekarang, gue gak papa, mungkin gue cuma kecapean, gue banyak beban makanya bisa timbang kaya gini, istirahat cukup juga bakalan mendingan, Bunda gue gak harus sekhawatir itu. "Makanya, beban itu jangan ditanggung sendiri tapi dibagi-bagi biar gak kewalahan, tumbang beginikan?" Ucap Mas Ali juga malah tertawa memperhatikan keadaan gue sekarang, lah ini lagi satu, Adiknya sakit bukannya khawatir tapi malah di ketawain, gak ada khawatir sama iba-ibanya sama sekali tahu gak, berasa kaya anak tiri gue kalau udah kaya gini, punya Mas kok kaya dapet yang bobrok banget otaknya, bisa tuker tambah gak? Gue mau yang modelan lain. "Maaf ya Mbak, mungkin aku kurang baik ngejagain Syia makanya bisa__" "Tante kenapa minta maaf? Syia sakit karena salah Syia sendiri, gak perlu nyalahin diri kaya gitu Tan, ini bukan salah siapa-siapa juga, kalau ada yang harus disalahin ya diri Syia sendiri orangnya, gak pinter jaga kesehatan makanya bisa berkahir tumbang kaya gini." Potong gue cepat, lagian kenapa Tante Ratih harus minta maaf, ini sama sekali bukan salah Tante Ratih, gue harusnya berterimakasih karena Kak Fikri ada, Kak Fikri ngejagain gue dengan cukup baik jadi harusnya gue berterima kasih bukannya ngebiarin Tante Ratih nyalahin dirinya sendiri kaya gini. "Syia bener Rat, Mbak juga sama sekali gak nyalahin kamu, Syia memang susah diurus, harusnya Mbak yang beterimakasih karena kamu mau nemenin Syia tinggal dirumah lama, untung ada Fikri juga jadi Mbak bisa jauh lebih tenang nitipin Syia." Lanjut Bunda mengusap lengan Tante Ratih, gak ada yang harus diperpanjang apalagi saling menyalahkan, gue sama keluarga yang harusnya banyak berterimaksih sekaligus bersyukur, gue beruntung karena punya keluarga sebaik mereka, Tante Ratih yang ngerawat gue layaknya putrinya sendiri, Kak Fikri juga ngejaga gue layaknya adik sendiri, ini tu bonus jadi harus disyukuri. "Syia minta maaf sekaligus ngucapin terimakasih untuk semuanya, tengkyu tengkyu." Ucap gue serius tapi malah dihadiahi sentilan di kening gue sama Mas Ali, yang lain juga malah ikut tertawa puas memperhatikan gue, ini beneran gue yang sakit kan ya? Tapi kenapa kesannya kaya gue yang lagi dibuli berjamaah sekarang? Apa ada yang salah dari otaknya keluarga gue? Gue lagi serius ini ngomongnya tapi malah di ketawain sama mereka semua, gak membantu punya perasaan sama sekali memang. "Kamu gak cocok ngomong kaya gitu, kamu gak bikin ulah aja udah cukup membantu dan kita semua bakalan ngucapin terimakasih Dek." Mas Ali sama gue memang gak bakalan bisa akur kalau ketemu, kalau gak gue yang ngatain ya Mas Ali yang bakalan mulai duluan dan cari masalah, gue udah serius banget mau mengungkapkan rasa terimakasih gue ke mereka semua yang ada disini tapi malah di respon dengan tawa dan senyum gak jelas mereka semua, ya gak papa karena setidaknya gue tahu kalau mereka cuma becanda, tetap aja becandaannya bikin gue kesal sama naik darah dadakan kaya gini. "Karena Adek udah sadar, yaudah Bunda pulang sebentar ngambilin perlengkapannya, kamu anterin Bunda sebentar Mas." Ucap Bunda ngajak Mas Ali pulang untuk ngambilin perlengkapan gue tapi gue langsung natap Mas Ali penuh maksud, kalau Bunda pulang, apa gak bisa Mas Ali tinggal? Bagaimanapun gue lebih leluasa sama mereka, kasian juga Kak Fikri udah gue giring kemana-mana dari tadi, gue nyusahin Kak Fikri udah banyak banget, dari semalam malah, Kak Fikri juga butuh istirahat, masa iya kudu ngejagain gue juga disini? Mana tega gue kalau begitu? Kalau ditinggal sama Kak Fikri doang juga gak enak, Tante Ratih pasti ikut tinggal nemnin gue. "Biar Fikri aja Mas." Tawar Kak Fikri mengedipkan matanya ke arah gue, wah ternyata otak gue sama Kak Fikri masih sefrekuensi, kirain karena kelamaan gak ketemu otaknya Kak Fikri udah gak jalan, atau gak berubah jadi lamban sedikit makanya pas sering ketemu sebulan ini bawaannya Kak Fikri ngomel sama beda pendapat terus sama gue tapi ternyata, Kak Fikri masih bisa diandalkan, otaknya masih sejalan sama gue, masih bisa diajak kompromi kedepannya, berita bagus, lagian gue juga gak tahu bakalan tinggal di rumah lama kita berapa lama jadi kemungkinan gue makin sering ketemu Kak Fikri itu lebih besar, ini sebenernya berita bagus apa berita buruk? "Yaudah kalau gitu Bunda pulang sama Fikri, kamu jagain Adik kamu bener-bener Mas, jangan kamu tinggal duduk di kantin sambilan ngopi lama." Wanti-wanti Bunda seolah udah hafal sama kelakuan Mas Ali, kebiasaan Mas Ali itu adalah kalau disuruh jaga dirumah sakit, keliatan di dalamnya ruangan sebentar tapi ngilangnya lama, nongolnya sesekali, mau siapapun yang sakit, mau itu istri atau anaknya, Bunda atau bahkan gue sekalipun, kalau modelan Mas Ali yang disuruh jaga sama aja bohong itu mah, gak ada jaminan bakalan beneran ditemenin 1x24 jam mah, semua keluarga udah hafal sama kelakuannya yang satu ini makanya kudu diwanti-wanti dulu. "Iya udah sana! Makanya Bunda jangan lama, kamu kesini gimana Ri? Mau bawa mobil Mas aja?" Tanya Mas Ali ke Kak Fikri, bukannya Kak Fikri kemari harusnya pake mobil gue? Kan sebelum pingsan seingat gue masih di mobil, harusnya mobilnya sama Kak Fikri sekarang. "Fikri bawa mobil Syia, Mas! Fikri pake yang ini aja." Dan bener, mendapatkan anggukan persetujuan gue sama Mas Ali, Bunda, Tante Ratih sama Fikri pulang tapi nanti Fikri sama Bunda langsung balik juga, kasian juga gue sama Kak Fikri, ujung-ujungnya gak bisa istirahat lama, cuma Tante Ratih yang kudu masak dulu makanya gue rasa gak usah balik juga gak papa, ngapain juga rame-ramekan? Kalau Bunda sama Kak Fikri balik, yang tinggal di kamar palingan cuma Bunda doang, Mas Ali sama Fikri pasti nangkring di kantir tar, setelah Bunda sama yang lain pulang, ruangan langsung berasa sepi, cuma Mas Ali yang udah natap gue dengan tatapan menusuk, sekarang Mas Ali mau apa coba? Ngintrogasi gue? "Mas kenapa ngeliatin Syia sebegitunya banget? Kaya orang mau nagih hutang tahu gak? Gak enak diliat." Tanya gue dengan tatapan gak santai. "Kamu berakhir kaya gini kenapa? Gimana bisa? Apa masih karena masalah Lian?" Tanya Mas Ali balik dan membalas tatapan gue dengan tatapan yang gak kalah menusuknya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD