Seiring berjalannya waktu, tahu kan segala sesuatu itu ada batasnya? Bahkan pasti ada kadaluarsanya. Begitu pula ketekunanku itu. Itu semua karena balasan yang kudapatkan dari dia. Entah kenapa aku merasa dia menghindariku.
Dia seperti sengaja tak muncul untuk sarapan, bahkan hingga aku berangkat bekerja. Mas Bara juga tidak pernah pulang di bawah jam 9 malam, bahkan kadang dia tak pulang.
Penasaran dia bermalam dimana? Tentu. Aku akhirnya tahu kemana pria itu pergi untuk melewatkan malam jika tidak pulang, tapi aku memutuskan untuk diam. Dan dari kenyataan itu lah yang akhirnya menghentikan usahaku untuk berupaya untuk menjadi seorang istri yang sesungguhnya, berubah menjadi teman serumah Mas Bara saja.
"Na," panggil seseorang diikuti ketukan dari luar pintu kamar.
Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilku demikian. Jika orang kampung, Rumah Titip, partner kerja, kenalan atau bahkan mertuaku memanggil 'Sabri', hanya Mas Bara saja yang memanggilku 'Na'.
Aku membukakan pintu dan menemukan wajah pria itu.
"Akhir pekan ini, bisa temani aku menghadiri acara rekan?" tanyanya.
"Mas WA-kan saja tempat dan jamnya."
Mas Bara mengangguk setuju.
Inilah salah satu hal yang ingin kutertawakan juga. Dulu, susah-susah aku membuat sarapan atau menantinya, tidaklah membuatku menjadi istri yang sempurna baginya. Bagi pria ini, istri yang sempurna adalah yang bisa jadi temannya menghadiri acara penting. Sesederhana itu.
Aku melihat satu tangan pria itu memegang box jam tangan, pasti pembantu yang tadi memberikannya. Di satu tangan lainnya dia memegang goodie bag yang di ulurkan padaku.
"Buat kamu," ujarnya dengan suara baritonnya.
Aku menerima kado itu kemudian tersenyum berterima kasih. Ketika Mas bara sudah berlalu, aku membuka kotak itu. Kemudian membawanya ke ruangan tempatku menyimpan perhiasan lainnya. Kalung berlian itu berjejer dengan perhiasan lainnya. Aku heran kenapa orang kaya hobi sekali membeli perhiasan, padahal leher cuma satu apa harus di pasangi perhiasan yang berbeda terus? Tapi aku tetap menerimanya. Ini jelas tentu saja hadiah ulang tahun pernikahan kami......
***
BARA
Aku melihat ke Rolex Daytona di pergelangan tanganku entah untuk keberapa kalinya. Gerakan itu kemudian diikuti dongakan mengecek arah pintu masuk. Kemana dia? Aku yakin sudah mengirimkan alamat dan jam dimana Sabrina harus muncul dan menemaniku sekarang, tapi kenapa belum kelihatan? Sebenarnya aku tak terlalu suka melibatkan Sabrina dipertemuan bisnis seperti ini. Aku tahu bagaimana gatalnya mulut para rekan dan media menguliti soal kehidupan pribadi kami dan aku tahu Sabrina tak nyaman menghadapinya. Hanya saja image bahwa rumah tangga kami baik-baik saja harus ditampilkan dengan sesekali muncul seperti ini.
Setelah kulirik jam sekali lagi, akhirnya Sabrina muncul. Wanita itu berpenampilan anggun dalam balutan gamis hitam yang sangat terkesan elegan dan make up yang membuatnya semakin terlihat bersinar. Senyum yang diikuti lesung pipi dari kedua sisi itu ekstrak sempurna yang sempurna dalam balutan hijabnya. Tatapan kami bertemu kemudian Sabrina menghampiriku.
"Makin cantik saja kamu, Sabrina." Puji Bu Bambang, istri penyelenggara acara malam ini yang berdiri di dekatku.
Sabrina tersenyum, "Terimakasih, Bu."
Sulit menyembunyikan kecantikan wanita itu memang. Aku lelaki normal dan mengakui kalau Sabrina memang mempesona. Tanpa di suruh, sama seperti biasanya dia menemaniku ke acara seperti ini, dia akan menempeli aku untuk menyapa rekan-rekan kami. Menyapa dan berbasa-basi mengenai usaha masing-masing memang harus dilakukan disini.
"Bara," sapa seseorang yang membuatku dan beberapa orang disekitar menoleh.
"Selama ulang tahun, Pak," ucapku sembari memeluk Pak Bambang yang barusan menyapaku.
Pak Bambang adalah salah satu pengusaha sukses dan teman lama orangtuaku. Kalau saja tak terhalang kesibukan mengurus usaha di Padang, Papa dan Mama pasti juga menghadiri acara malam ini. Tak hanya aku, Sabrina dan orang disitu mengucapkan selamat ulang tahun ke enam puluh tujuh tahun untuk pria sepuh itu.
"Bara, boleh aku ajak Sabrina berkeliling menemaniku? Sudah lama aku tak bertemu kekasih hatiku yang cantik ini," ujar Pak Bambang yang diikuti tawa istrinya dan Sabrina.
Aku menatap Bu Bambang yang terlihat santai kemudian kepada Sabrina yang nampak tak keberatan. Selanjutnya Pak Bambang membawa Sabrina berkeliling menikmati semua jamuan yang tersedia disana, sambil sesekali berinteraksi dengan tamu yang lainnya.
Pak Bambang memang sedari dulu mengagumi banyak wanita cantik, makanya sering menggoda mereka seperti itu. Tapi tak ada itikad buruk, kepada Sabrina godaan itu hanya seperti candaan orangtua kepada anaknya. Baik aku maupun Sabrina pun sudah paham, jadi kami bisa santai saja menerima perhatian seperti itu. Toh, Pak Bambang kalau berani macam-macam bisa kulumpuhkan dengan cepat, dia sudah berada di usia yang tak bisa melawan kalau disakiti olehku yang berolahraga rutin boxing dan muay thai.
"Aku bahkan sudah tidak bisa cemburu melihat kelakuannya. Dia selalu mengatakan mengagumi Sabrina," ujar Bu Bambang padaku.
"Sabrina menganggapnya seperti Papa, Bu."
"Tentu saja. Kamu memang beruntung memiliki Sabrina. Dia perhatian dan juga cantik," puji Bu Bambang lagi.
Ya, kecantikan Sabrina sekarang memang jauh berbeda dari dulu saat pertama kali kami bertemu. Meskipun cukup manis dengan lesung pipi yang dalam, Sabrina memang tak terlihat begitu memikirkan penampilannya dulu. Perubahan Sabrina terjadi karena campur tangan adikku Salsabila. Dia membawa Sabrina merawat diri ke salon secara rutin dan mengajarkan Sabrina mengenai fashion. Tidak sia-sia, Sabrina yang sekarang memang berkilau dan membuat orang lain memujiku beruntung memilikinya.
"Kamu nggak ada rencana buat punya anak sama Sabrina memang, Bara? Belum ada penerus lagi di keluargamu," tepukan ringan di lenganku membuyarkan lamunanku sesaat tadi.
"Aku yakin, orangtuamu juga berharap kamu segera beranak pinak. Empat tahun menikah masa tidak ada tanda-tandanya punya anak. Mumpung kalian masih muda, bikinlah beberapa anak," sambung Bu Bambang.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi topik itu. Bagaimana bisa hamil jika tidak pernah mengusahakan punya? Selama empat tahun bersama, kegiatan tidur bersama memang sering kami lakukan. Hanya saja, kebanyakan tidak ada hubungannya dengan kegiatan yang bisa menghasilkan anak. Sebenarnya pernah. Hanya sekali terjadi, dan hingga saat ini aku mengutuk kejadian itu.
"Mungkin Salsabila bisa mendahului, Bu."
Aku memilih menyambar nama adikku untuk menghindari topik pembicaraan ini.
"Aku ragu kalau Salsabila akan menikah. Dia masih suka dengan hidupnya sendiri. Adikmu itu bukan tipe yang betah dan telaten seperti Sabrina."
Wajar saja Bu Bambang berpikiran seperti itu, pemikiran itupun sama bagi sebagian orang. Salsabila seumuran dengan Sabrina, tapi dia masih suka bekerja, menghadiri fashion show dan menghadiri banyak pesta menyenangkan. Tak ada tanda-tanda dia ingin melepaskan masa lajangnya.
"Sebentar lagi juga akan menikah, Bu. Ibu tahukan umur tiga puluh itu umur maksimal saya dan Salsabila bebas?"
Aku menyinggung soal batas usia bebas yang di berikan orangtua kami untuk kami melajang.
"Tentu. Dzikri pasti akan menjodohkan Salsabila segera. Oh ya, bagaimana kalau dengan anakku saja?"
Aku terkekeh namun dalam hati tak setuju. Tama, anak keluarga Bambang, terlalu berbahaya. Playboy yang belum tobat.
"Ah, tapi susah juga punya menantu seperti Salsabila. Aku pasti kewalahan mendidiknya." Aku terkekeh mendengar timpalan Bu Bambang barusan. Ku rasa memang ide buruk menjodohkan dua orang itu.