Aku sedang menilik bunga-bunga di atas nakas samping ruangan berbalik dan tersenyum pada asistenku itu.
"Terimakasih. Kita meeting hari ini jam berapa?"
Lebih mudah menanyakan jadwal pekerjaan yang mengantri ketimbang menjawab ucapan selamat itu. Aku berjalan ke balik meja kerjaku dan mulai menyalakan laptop. Cintya menyebutkan beberapa meeting yang perlu kuhadiri selaku direktur di perusahaan industri hijab ini. Aku menduduki posisi itu semenjak tiga tahun yang lalu setelah satu tahun sebelumnya menjadi manajer di perusahaan Dayliaal.
Di awal pernikahanku, aku sebenarnya masih bekerja di perusahaan properti kecil. Sebenarnya aku menikmati pekerjaan disana, setidaknya karena aku mendapatkan pekerjaan itu dengan usahaku sendiri.
Memasukkan ijazah, mengantri interview, dan serangkaian pencarian nafkah pada umumnya. Namun semenjak menikahi seorang Dzikri Bara Majid, menjadi orang biasa-biasa saja adalah pantangan.
Mertuaku menyuruh resign dan berpindah bekerja disalah satu anak perusahaan mereka. Mungkin mereka merasa malu karena pemilik kerjaan properti bekerja di sebuah perusahaan kecil yang hanya memiliki satu showroom. Dengan berat hati, akhirnya aku menurut juga.
Namun alih-alih menerima posisi di perusahaan properti, aku meminta di tempatkan di anak perusahaan saja. Kupikir aku bisa sedikit tentang karena jauh dari perusahaan mertua, tapi tidak. Kehadiranku di anak perusahaan sempat di sorot habis-habisan karena di tempatkan langsung menjadi manajer.
Tentu saja awalnya aku menolak, ya aku sadar diri aku ini siapa tiba-tiba jadi manajer. Terlalu mencolok. Tapi mau bagaimana lagi, dari pada aku di taruh di kantor pusat. Setelah menunjukkan performa baik selama satu tahun menjadi manajer Dayliaal, akhirnya aku menempati posisi direktur.
Meeting itu berjalan dengan baik. Laporan neraca keuangan perusahaan ini sehat dan kini kami sedang mempersiapkan line brand baru. Semenjak aku duduk di posisiku, aku sudah pernah mengalami dua kali kegagalan rencana. Untung saja kerugiannya masih bisa di tutup dengan pendapatan lainnnya. Kali ini line brand yang baru tidak boleh gagal. Meskipun aku tahu, aku gagal pun tak akan ada yang berani menegurku.
"Ibu nggak mau booking dinner romantis sama Bapak?" tanya Cintya saat kami sudah kembali ke ruangan.
"Tidak usah, Cin. Saya mau di rumah saja, lagipula Mas Bara juga lebih suka di rumah."
Perayaan anniversary seperti bayangan Cintya dan masyarakat umum, tidak lah pernah terjadi dalam hubungan pernikahan kami. Hari jadi itu sama seperti hari-hari biasa lainnya. Pergi ke kantor, pulang ke rumah, dan tenggelam dalam dunia masing-masing. Apa yang mereka pikirkan soal kami? Lovey-Dovey? Ckk. Jauh!! Kalau di tanya sejak kapan hal itu berlangsung? Jawabannya adalah semenjak tiga hari pertama saat kami pindah ke rumah Mas Bara. Semenjak pertama kali kami menginjak ke rumah yang di desain sendiri oleh Mas Bara, semenjak itu pula lah Mas Bara seakan membentang jarak tak kasat mata di antara kami.
"Ini kamar saya, dan di sana adalah kamar kamu!"
Itu perkataan Mas Bara ketika kutanyakan perihal koper yang tak terlihat olehku di kamarnya dulu, sangat jauh sekali beda intonasi suaranya saat sebelum kami pindah ke rumah miliknya itu. Dua hari sebelum kami pindah, laki-laki yang berstatus suamiku itu masih bisa berkata lembut dan penuh senyum padaku atau pun pada anggota keluarga Rumah Titip lainnya, sayang beribu sayang semua sudah berubah semenjak kuketahui alasan kenapa dia bersikap kasar padaku. Meski Mas Bara tak pernahkah bermain tangan denganku, tapi perkataan dan sikap acuhnya lebih menyiksa seluruh sanubariku. Sakit fisik ada obatnya, sakit hati seorang istri sebab suaminya apakah masih bisa diobati dengan cara pergi ke dokter? Entahlah, tapi selama empat tahun pernikahanku ini, sakit hatiku masih belum bisa terobati.
Aku menyadari bahwa pisah kamar artinya lebih dari sekedar tidur di ruangan berbeda, ini tembok batasan sebuah hubungan dimana kami tak boleh mengusik. Aku tahu pernikahan kami tidak biasa, tapi siapa sangka kalau akan terjadi sejauh ini?
Kami hanya hidup bersama dengan urusan masing-masing. Sementara aku menangani perusahaan Hijab, Mas Bara menangani perusahaan properti milik keluarganya. Iya, perusahaan induk yang kubicarakan tadi. Dia menjadi direktur disana. Tak hanya itu, dia juga membawahi beberapa anak perusahaan yang lainnya.
"Halo?" sapaku pada seseorang yang menelponku ketika berjalan menuju lobby kantor.
"Selamat ulang tahun pernikahan, sayang!!" ujar Mama, orang tua dari Mas Bara.
"Terimakasih, Ma," jawabku seraya menaiki mobil yang dikemudikan oleh asistenku, Bimo.
Kedua mertuaku memang sangat menyayangiku. Dan rasa sayang itu, tidak timbul mendadak, mereka menyayangiku semenjak pertemuan di panti asuhan ketika aku berusia tujuh tahun. Semenjak dari itu hingga hari ini rasa sayang mereka tidak pernah berubah.
"Papa dan Mama kirim hadiah ke rumah. Semoga kamu dan Bara suka, ya," ujar Mama di penghujung percakapan setelah kami membahas satu dua hal lainnya.
Hadiah yang dikirimkan mertuaku adalah sepasang jam tangan. Hadiah itu di letakkan di meja ruangan tengah dengan di bungkus sangat manis.
"Bapak sudah pulang?" tanyaku kepada pembantu yang barusan melintas.
"Belum, Bu."
Aku tahu kemana Mas Bara pergi, Padang. Mas Bara memang pengusaha properti, tapi memiliki kecintaan terhadap dunia sinematografi. Itulah mengapa dia membeli saham di perusahaan yang bergerak di Industri penayangan film. Saat ini dia di undang kesana untuk menghadiri perayaan salah satu bioskop yang baru di buka.
Seharusnya dinas itu sebentar, tapi kali ini lebih lama. Mas Bara tak pernah memberi tahuku apa dia akan pulang cepat atau lama, aku pun tak pernah menanyakannya lagi. Hanya saja aku hafal berapa lama dinas semacam itu berlangsung. Saat aku akan kembali ke kamar, aku mendengar deru suara mobil. Sudah pasti itu mobil Mas Bara, suamiku.
"Tolong kasih ke Bapak. Ini dari Mama," ujarku sembari menyerahkan box arloji bagian Mas Bara ke pembantu ku.
Kami memang sekarang sudah biasa tidak bertegur sapa bahkan jarang bertemu. Aku melamun mengingat hari-hari awal menikah dengan Mas Bara. Saat itu, kepolosan gadis usia dua puluh dua tahun di uji. Aku masih berusaha memaklumkan kemauan laki-laki yang berusia delapan tahun lebih tua dariku itu untuk tidur terpisah.
Mungkin orang kaya biasa melakukannya untuk memberikan privasi, pikirku dulu. Sementara itu aku masih mencoba menjadi figur istri yang baik baginya.
Seperti bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan sebisanya, menunggu saat makan bersama, dan pulang mendahului suamiku. Konyol. Bahkan sekarang aku ingin menertawakan diriku yang dulu, sebab terlalu naif akan sebuah harapan.
Aku mungkin bukanlah seorang wanita yang sangat bisa di katakan wanita solehah. Tapi walaupun begitu, aku tetap mencoba menghormati keputusan suamiku, jujur terkadang dulu aku hanya ingin sekali saja mencoba sholat di imamkan oleh suamiku sendiri. Tapi kurasa hal itu sangat sulit untukku raih. Mengingat bentangan jarak tak kasat mata ini makin meninggi, tak kuasa rasanya aku bisa menembus dinding kokoh itu.