Kejadian satu malam

1291 Words
Belum merasa puas bersenang-senang, Ghea diharuskan untuk pulang saat ini juga karena Irene yang bawelnya kelewatan. Terus merengek, mengucapkan berbagai ancaman meski tak ampuh, sampai gadis itu nekat menelpon seseorang untuk membantunya membawa Ghea dan Risa yang sudah tidak terkendali. Saat ini mobil milik Risa yang dikemudikan oleh Alga---cowok yang ditelpon Irene---dalam keadaan hening. Risa sudah terkapar di kursi belakang setelah sempat memuntahkan isi perutnya tadi. Sedangkan Ghea masih dalam keadaan sadar, meski sedari tadi matanya tertutup rapat. "Gila, ya, kalian berdua nyusahin tau, nggak?!" ujar Irene yang duduk di samping Alga. "Harusnya lo biarin kita berdua di sana, dan lo pergi sama ketua osis itu," sahut Ghea dengan suara lesu. "Kalo gue nggak punya otak, udah gue lakuin sejak lo pada minum habis-habisan." "Kalo gitu yaudah, jangan bacot," balas Ghea tak mau kalah. Selang beberapa menit, mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Ghea. Tidak, lebih tepatnya rumah Farhan dan Aruna. Demi apa pun, saat ini Ghea berharap rumah itu tidak berpenghuni agar tidak ada yang tahu mengenai keadaannya yang sekarang. Namun, meski kenyataannya Farhan dan Aruna masih ada di rumah, dan melihat keadaannya, Ghea sudah memikirkan matang-matang untuk menerima konsekuensinya. Ghea memang nekat. Pulang dengan keadaan seperti sekarang. Ditambah lagi ia yang memberitahu Irene alamat rumah ini meskipun ia yakin kalau gadis cerewet itu tidak tahu kalau sebenarnya ini rumah milik Vero. Biarkan saja, yang terpenting Ghea sekarang bisa pulang. Masalah-masalah selanjutnya akan ia urus nanti. Ghea membuka pintu mobil, kemudian dengan tubuh yang masih tidak seimbang gadis itu keluar. "Gue pulang, makasih." "Tunggu-tunggu, lo masih sempoyongan gitu yakin bisa masuk sendiri?" tanya Irene khawatir. "Yakin, lo gak percaya sama gue?" Setelahnya Ghea berbalik, berusaha membuka pintu gerbang namun nahasnya ia tidak punya cukup tenaga. Sial. Ghea mendengus di tempatnya. "Lo terlalu keras kepala, ya, Ghe!" Irene berpikir sebentar. Kalau ia yang mengantar Ghea, akan sangat bahaya jika meninggalkan Risa dan Alga berdua di dalam mobil ini, mengingat cowok yang ia minta bantuannya itu sangat terobsesi dengan Risa. Pilihan satu-satunya, Alga yang membantu Ghea masuk ke dalam rumah sana. Lagi pula ia yakin, kedua orang tua Ghea pasti sedang tidak ada di rumah. "Al, lo bantuin Ghea masuk, ya? Gue jagain Risa di dini," ucap Irene kepada Alga. Mau tidak mau Alga keluar dari mobil kemudian membantu Ghea untuk membuka pintu gerbangnya. Tidak sampai di situ, cowok yang menjabat sebagai ketua osis di sekolah itu juga membantu Ghea memasuki rumah dengan cara memapahnya. Memang merepotkan. "Udah, sampe sini aja. Thanks," ucap Ghea ketika keduanya sudah berada di depan pintu. "Yakin?" tanya Alga memastikan. "Iya, udah, sana pergi." Setelah melihat Alga pergi, Ghea menghela napasnya pelan. Memegangi kepalanya yang kian terasa pusing. Baru saja gadis itu akan membuka pintu, namun pintu sudah terbuka yang langsung memperlihatkan Vero tepat di hadapannya. Sial. Ghea merasa tegang seketika. "Dari mana?" tanya Vero. Singkat, dengan nada yang kelewat dingin. "Jalan," jawab Ghea pelan. "Selarut ini? Dalam keadaan mabuk sama cowok lain?" Ghea terdiam. Memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Vero yang ia yakini sudah melihatnya ketika bersama Alga tadi. "Jawab Ghea." "Alga cuma nganterin gue pulang, jangan berlebihan." Setelah mengatakan itu, Ghea berusaha masuk, melewati Vero yang masih diam di tempatnya. "Segampang itu, ya?" Ghea berbalik, kembali menatap Vero dengan tatapan lesunya. "Apa, sih, Ver? Gue pusing banget, mau tidur." "Lo nggak nganggep perasaan gue?" Mendengar itu, Ghea terkekeh pelan. Kemudian kembali menghampiri Vero. "Gue nganggep perasaan lo, mangkanya gue lebih lupain semuanya daripada harus ngamuk di depan orang tua lo." "Ghe?" "Ver!!! Lo sadar nggak, sih, kalo orang tua lo itu keterlaluan? Mana mereka? Nggak ada? Ngurus kerjaan lagi?" Kepala Ghea semakin terasa pusing sampai gadis itu tidak bisa mengontrol ucapannya. "Kalo ada gue mau bilang sama mereka, buang aja gue ke tempat semula daripada harus tertekan kayak gini." "Ghea?" "Jangankan gue yang cuma anak pungut, eh, nggak, sekarang udah jadi menantu pungut, lo aja yang anak kandung mereka sendiri tertekan kayak gitu. Hayo ngaku, lo nggak bahagia, kan?" Vero menggeleng heran kala ucapan Ghea melebar ke mana-mana. Ia paham kalau gadis itu tengah dalam pengaruh alkohol namun bukan masalah orang tua yang ingin ia bahas, tetapi masalah Ghea yang pulang bersama Alga. "Kenapa jadi melebar ke sana?" "Karena orang tua lo yang bikin gue kayak gini!" Suara Ghea meninggi, membuat Vero terkejut di tempatnya. "Maaf kalo lo tertekan gara-gara mereka, tapi please, bukan masalah ini yang ingin gue bahas sekarang." Vero masih dengan nada rendah, meski hatinya sudah sedikit kesal. Siapa yang tidak kesal melihat orang yang sekarang telah berhasil mengisi hati kita, pulang dengan lelaki lain? Diam sejenak, sampai akhirnya Ghea kembali tertawa di tempatnya. Berjalan lebih mendekat, gadis yang memakai baju cukup terbuka itu mengulurkan tangannya untuk menggapai bahu Vero. "Gue udah bilang, ketua osis itu cuma nganterin doang, nggak lebih. Itu pun atas permintaan dari Irene. Lo percaya, kan?" Berbeda dengan tadi, kini suara Ghea memelan. Bahkan terkesan lebih halus. "Kenapa? Lo cemburu? Nggak usah cemburu, karena secuilpun gue nggak akan pernah tertarik sama cowok lain." Vero terdiam, merasa bingung sekaligus penasaran dengan ucapan Ghea. "Tau nggak kenapa gue nggak pernah tertarik?" Ghea menempelkan jari telunjuknya tepat di d**a Vero. "Itu karena lo! Dan lo tau? Bisa-bisanya gue jatuh cinta sama cowok aneh kayak Vero Anggara." Lagi, Ghea terkekeh pelan, seolah tengah menertawakan dirinya sendiri. "Lucu, ya? Gue, nikah dan jatuh cinta sama kakak angkat sendiri. Hmmm, lo mau dipanggil Om atau Papa sama baby kita nanti?" Benar-benar sudah tidak terkendali. Seorang Ghea Nafatia akan merasa malu tujuh turunan jika sadar sudah berbicara seperti tadi, tepat di hadapan Vero. "Ghe?" tanya Vero. Ia merasa tidak percaya dengan ucapan-ucapan yang Ghea lontarkan barusan. Bukannya apa, ia lebih dari tahu sikap dan tingkah Ghea seperti apa jika tengah berhadapan dengan dirinya, tetapi sekarang? "Kenapa? Masih belum percaya? Perlu pembuktian? Sini gue buktiin." Ghea bergerak, memberi kecupan singkat di pipi kanan Vero. "Ghe?" "Apa? Masih kurang, hm?" Ghea menarik sudut bibirnya. Berjinjit untuk mensejajarkan wajahnya dengan Vero, kemudian tanpa permisi gadis itu kembali memberi kecupan singkat namun sudah bukan di pipi lagi, melainkan di tempat yang lebih menarik daripada itu. Vero benar-benar dibuat diam dengan kelakuan Ghea. Gadis itu jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan Ghea yang dalam keadaan sadar. Memang benar, alkohol itu amat berbahaya bagi manusia yang tak pandai mengontrol dirinya. Gadis semacam Ghea saja bisa menjadi bar-bar seperti ini ketika dalam pengaruhnya. Vero bergerak memegang bahu Ghea, menatap mata gadis itu yang terlihat sayu dengan sudut bibir yang masih terangkat sempurna. Ya, Ghea masih tersenyum. Entah apa maksudnya. "Ghe, cukup. Gue percaya meski lo ngucapin itu dalam keadaan nggak sadar. Sekarang lo istirahat, gue anter ke kamar." Ucapan Vero tidak digubris sama sekali oleh Ghea. Gadis itu menyingkirkan lengan Vero yang berada di bahunya, kemudian ia yang beralih mengalungkan lengannya di leher cowok itu. "Gue nggak mau tidur sebelum lo percaya sama gue." "Gue udah percaya," ucap Vero pelan, berusaha menahan napas di tengah detak jantungnya yang semakin berdebar. "Nggak!" Ghea menggeleng keras. "Vero belum percaya, dan Ghea yakin itu!" Tolong ingatkan Ghea ketika sudah sadar nanti, kalau gadis itu pernah bertindak mengerikan seperti ini. Lagi dan lagi, Ghea kembali mendekatkan wajahnya guna melakukan hal yang sama seperti tadi, namun kini Vero menghindari pergerakannya. "Kenapa? Lo takut?" Demi apa pun, lebih baik Vero berhadapan dengan Ghea yang asli daripada harus dengan Ghea yang seperti ini. Gadis yang selalu diam dengan ekspresi sinisnya itu terlalu mengerikan, sampai Vero harus sekuat tenaga untuk menahannya. "Jangan takut, kita udah berhak. Lagian Vero butuh pembuktian, kan?" "Gue nggak butuh itu, Ghe." "Tapi Ghea perlu buktiin Ver!" Vero menjatuhkan bahunya. Pertahanannya mulai runtuh. Ia menatap mata Ghea lekat, di jarak seperti ini, Vero merasakan deru napas Ghea yang terasa hangat di tubuhnya. "Oke, lo yang mulai, dan gue nggak ada pilihan lain." Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD