pelarian

1164 Words
Setelah acara tidur bersama kala itu membuat Ghea merasa malu sendiri ketika bertatap langsung dengan Vero. Sungguh menggilakan. Seorang Ghea Nafatia sudah tidur satu kasur dengan lawan jenis meski sepanjang malam yang mereka lakukan hanyalah tidur. Tidak ada kegiatan lain. Memalukan, bukan? Untung saja saat itu Ghea langsung keluar menuju kamarnya, tidak sampai menunggu Vero membuka mata dan melihat tingkahnya yang serba salah. "Ghea, kamu udah ada pilihan mau masuk universitas mana?" Ghea yang masih menikmati sarapannya, mendongak ketika mendengar ucapan Aruna barusan. Karena Ghea memang belum memikirkan persoalan kuliah nanti, gadis itu menjawab dengan gelengan kepala saja. "Mau barengan temen kamu?" "Nggak tau, Ma. Kenapa?" Ghea kembali bertanya. Bukannya apa, ia hanya merasa akan ada sesuatu yang membuatnya muak kembali. Aruna menarik sudut bibirnya, sedikit menoleh kepada Farhan, kemudian kembali menatap Ghea. "Kalau gitu, Mama sama Papa ada pilihan buat kamu." "Pilihan?" tanya Ghea bingung. Farhan meletakan alat makannya di meja, menatap Ghea dengan tatapan seperti biasanya. Terlalu serius, sampai Ghea sendiri bingung harus membalas tatapannya seperti apa. "Kami ada tiga pilihan buat kamu. Terserah, antara hukum, kedokteran, atau manajemen." Ghea tersedak. Gadis itu segera meraih segelas air putih yang baru saja disodorkan oleh Vero yang duduk tepat di sampingnya. Setelah meminumnya, Ghea menatap Farhan seolah menentang ucapannya. "Tapi Ghea nggak ada minat sedikitpun di bidang itu." "Minatnya di bidang apa?" Ghea terdiam. Merenung memikirkan hal apa yang ia sukai selama ini. Sibuk memikirkan problematika kehidupannya, membuat Ghea lupa akan masa depannya sendiri. Percayalah, tidak ada keinginan lebih bagi Ghea di masa depan kelak selain kebebasan. Namun agaknya gadis itu tidak akan mendapatkannya, sebab, dua orang yang ada di hadapannya itu tipikal orang tua yang dominan dengan kehidupan anak-anaknya. Meskipun Ghea hanya anak angkat, dan ia memiliki hak penuh atas hidupnya, namun sudah bisa dilihat, bukan? Bagaimana perlakuan Farhan dan segala peraturan-peraturannya. "Ghea belum tau." "Lho, kamu seharusnya sudah memikirkannya dari sekarang, Ghea." Farhan berdeham pelan. "Berhubung Vero sudah mengambil manajemen, bagaimana kalau kamu ambil hukum? Atau mau kedokteran?" "Kenapa Vero nggak ambil seni?" "Sama seperti kamu, tidak ada pilihan seni di pilihan yang Papa berikan." Ghea menarik sudut bibirnya. Rumah rasa penjara itu memang benar adanya, ia tidak habis pikir lagi dengan Vero yang selalu mengikuti kemauan orang tuanya sedari dulu. Padahal, cowok itu juga memiliki keinginan dan hidup dalam kehidupannya sendiri. Ghea memang menginginkan perhatian lebih dari orang tuanya dulu, namun tidak penuh aturan seperti Farhan dan Aruna. Apalagi bersikap egois akan keinginannya sendiri. Itu memuakan. "Pilihan orang tua nggak selalu sesuai dengan keinginan anaknya. Vero memiliki minat dalam bidang seni, kenapa diharuskan masuk manajemen? Melakukan sesuatu yang bahkan kita sendiri nggak menyukainya, itu nggak enak. Ghea yakin Papa maupun Mama pernah mengalami hal yang sama dulu." Cukup berani Ghea mengatakannya. Tidak apa, biarkan Aruna dan Farhan akan menganggapnya seperti apa, yang terpenting Ghea sudah menyuarakan hal yang selalu ingin ia sampaikan, namun terhalang oleh kenyataan. Melihat respons Aruna dan Farhan yang menatapnya tak biasa, Ghea terkekeh pelan. Sudah cukup ia menahannya, sudah cukup kemarin ketika Ghea harus melakukan ini-itu meskipun ia tidak menyukainya. Sudah cukup tertekan. Sudahi sandiwaranya. Sikap Farhan jika dibiarkan akan semakin menjadi-jadi sampai nantinya lupa akan perasaan anaknya sendiri. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Ghea?" tanya Aruna. "Ghea cuma ingin menyuarakan pendapat Ghea sebagai anak, meskipun hanya anak angkat." "Kalau gitu harusnya kamu sadar--" "Cukup, Pa." Vero memotong ucapan Farhan. "Ghea bener, pilihan orang tua nggak selalu sesuai dengan keinginan anaknya. Seperti Papa, seperti kalian. Tapi tenang aja, Vero tetep ngorbanin mimpi demi ngikutin keinginan Papa." Vero beranjak, meninggalkan meja makan dalam suasana menegangkan. Melihat itu, Ghea berniat untuk ikut beranjak, namun perkataan Farhan menghentikan pergerakannya. "Kamu harus paham, Ghea, jangan sampai air s**u dibalas air tuba." -------- "Ma, kenapa Ghea harus hidup?" "Pa, kenapa dunia serumit ini?" "Ma, Ghea selalu kuat, di saat keadaan terasa menyiksa." "Pa, kenapa orang-orang di sekitar tampak mengecewakan? Apa karena Ghea yang terlalu berandai-andai?" "Ma, Pa, kapan kalian jemput Ghea? Lebih baik Ghea ikut kalian daripada harus hidup sendirian di dunia yang kejam ini." Pertanyaan-pertanyaan bodoh Ghea lontarkan ketika gadis itu mengunjungi makam kedua orang tuanya. Menumpahkan segala keluh kesah, sampai tidak pernah berhenti memikirkan kapan waktunya ia akan menyusul mereka. Ghea memang selalu sok kuat, padahal hidupnya seakan hancur berantakan. Ghea juga terlalu bodoh, hingga ketika ada masalah, keinginannya selalu menyusul kedua orang tuanya. Masa bodoh dengan wajah palsunya, jauh dari yang orang-orang tahu, ada mental yang terluka di balik itu. Masa bodoh dengan orang-orang di sekitarnya, yang pasti Ghea selalu merasa sendirian dan kesepian. Terkadang, Ghea merasa benci dengan dirinya sendiri. Tanpa ada alasan yang jelas, dan tindakan yang pasti. Kata orang, jika ingin cepat selesai, masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Apalagi melarikan diri. Namun itu tidak berlaku bagi seorang Ghea Nafatia. Nyatanya, gadis itu selalu melarikan diri, kapan pun dan di mana pun. Ketika hatinya sudah merasa tenang, ia akan kembali dengan sendirinya. Bukan karena ingin menyelesaikan masalah itu, tetapi mencoba untuk melupakannya. "Aduh, Ghe, kenapa lo ikut-ikutan?" Ghea tidak menghiraukan ucapan Irene, yang ia lakukan hanyalah minum, mengisi gelas, kemudian kembali meminumnya. Sampai Ghea tidak sadar kalau tubuhnya mulai tidak seimbang. "Udah cukup Risa aja, kalo lo ikut-ikutan, gue mau ngapain?" Irene sudah tidak karuan di tempatnya. Ghea terkekeh sinis. "Bener kata Risa, kita harus seneng-seneng. Ayok ikut." Ghea berjalan beriringan dengan Risa yang kondisinya sudah sama dengan dirinya. Menerobos banyaknya orang, mengumpat ketika ada orang yang tidak sengaja menabraknya. Kalau Risa frustrasi karena Arka yang menghilang tanpa kabar, Ghea frustrasi karena masalah yang tak kunjung usai. Satu-satunya jalan agar tidak depresi adalah melarikan diri, dan Ghea memilih alkohol untuk membantu melupakannya. Sungguh, jangan sesekali mencontoh kelakuan buruknya. Tidak baik. "Gue nggak ngerti lagi sama Arka, bisa-bisanya cowok aneh kayak dia, nelantarin cewek kayak gue yang nyaris nggak ada kurangnya." Risa meracau sembari meleok-leokan tubuhnya. "Kurang lo banyak, tolong sadar diri," jawab Ghea. Cewek itu juga tengah melakukan hal yang sama dengan Risa. Sebenarnya, meski dulu sering ke tempat bising ini, Ghea tidak pernah sampai mabuk berat apalagi sampai ke tempat yang dipenuhi orang-orang berjingkrak seperti ini. Namun sekali lagi, Ghea butuh pelarian. Dan ia tengah berusaha keluar dari zona nyamannya sendiri. "Kurang gue apa? Gue cantik, seksi, tinggi, penyayang, kurang apalagi coba?" Ghea terkekeh sinis. "Lo bodoh kalo lo belum tau." Risa berhenti menggerakkan tubuhnya. Gadis yang memakai pakaian kelewat seksi itu menggelengkan kepalanya cepat. "Ish, ish, ish, harusnya itu bisa ditoleran karena gue bodoh juga karena Arka." "Dasar bucin lu!" teriak Ghea. "Bucin teriak bucin, gue tau, lo juga ada hubungan, kan, sama temennya Arka? Ngaku lo, gue udah sering nyiduk lo berangkat sekolah bareng sama dia." Ghea terdiam sebentar. Menarik salah satu sudut bibirnya. Jika biasanya ia akan merasa tegang, namun sekarang biasa saja. Masa bodoh, tahu atau tidaknya Ghea tidak peduli. Yang terpenting, malam ini ia harus happy, tenang, dan lupa dengan semua yang membuatnya bisa seperti ini. Kembali melanjutkan aktivitasnya, Ghea terperanjat ketika tiba-tiba ada yang mencekal lengannya. Menoleh karena penasaran, Ghea dibuat tegang dengan siapa yang datang. "Cukup, saatnya pulang." Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD