"Ghea, kalau kamu tidur sendirian di rumah ini, berani?"
Ghea yang tengah menikmati makan malamnya, sedikit mendongak menatap Aruna. "Kenapa, Ma?"
Aruna tersenyum tipis, menatap suaminya kemudian bergantian menatap Vero. Terakhir, ia kembali menatap Ghea. "Mama sama Papa harus ke luar kota, Sayang, jadi kamu tidur sendiri gak apa-apa? Atau, kamu ajak temen-temen kamu nginap juga boleh."
Ghea merasa bingung. Kalau hanya berdua, berarti masih ada Vero, kan? Kenapa ia harus tidur sendiri?
Ghea melirik Vero sekilas. "Vero ikut juga?"
"Nggak, dia, kan, sekolah."
"Terus?"
Farhan sudah selesai dengan makanannya, ia beralih menatap Ghea. "Jadi gini Ghea, meskipun kamu sudah sah menjadi anak kami, tetap saja kamu dan Vero itu berlawanan. Kamu pasti ngerti apa maksud Papa, jadi, Vero yang sementara di rumah temennya, dan kamu tidur di rumah ini. Kalau takut, gak apa-apa ajak temen kamu."
Ghea mengerti sekarang. Yang dimaksud Farhan dan Aruna adalah takut terjadi sesuatu antara dirinya dan Vero.
Tapi ... kenapa mereka berpikir seperti itu? Ia dan Vero sangat asing, dan meskipun sudah sangat dekat atau bahkan pacaran sekalipun, ia tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak.
Kalau seperti ini ia yang merasa tidak enak. Ini rumah Vero, harusnya cowok itu yang tetap di sini dan ia yang menginap di rumah temannya.
"Em ... kalau gitu biar Ghea aja yang nginep di rumah temen, Pa. Vero tetap di sini."
"Lho, kenapa Ghea?"
Ghea terdiam sebentar sebelum akhirnya mendapat ide untuk memberi alasan. "Gak apa, Ma. Sekalian Ghea mau ngerjain tugas?"
Berdosa, kah?
Untuk Ghea yang lalu, berbohong seperti ini sudahlah biasa. Bahkan ia berani melawan jika kehendak dan keinginannya ditentang. Namun, sekarang lain lagi, ini masih dibilang orang asing yang tidak bisa Ghea tentang begitu saja. Apalagi mengingat kebaikan keluarga ini.
Ghea cukup sadar diri.
"Baru masuk masa udah ada tugas?"
"I-iya, Ma. Gapapa, Ghea nanti nginep di rumah Risa atau Irene."
"Dia temen kamu?"
"Sahabat udah dari lama."
Aruna terdiam, merasa yakin dan tidak yakin. Ia masih ingat betul ucapan mama papanya Ghea sebelum pergi waktu itu.
"Kamu yakin?" tanya Farhan.
Ghea mengangguk. "Yak-"
"Dia bohong, Ma. Tadi semua kelas di sekolah belum melakukan aktivitas belajar, masih evaluasi semester satu. Jadi, biar Vero yang nginep di rumah Arka atau Dion."
Seketika Ghea menatap Vero. Sial, ternyata Vero tahu. Kalau sudah begini, Ghea harus apa?
"Bener, Ghea?" tanya Farhan.
Mau tidak mau Ghea mengangguk membenarkan. "I-iya, tapi gapapa Ghea aja yang nginep di rumah temen."
"Nggak, gue aja yang nginep," sahut Vero.
Ghea menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan usul Vero. "Nggak, ini rumah lo, jadi biar gue yang nginep."
"Lho, Ghea, ini juga rumah kamu, Sayang," timpal Aruna. "Kamu aja yang di sini, ya?"
"Nggak, Ma. Gapapa."
Farhan menghela napas, ia beranjak kemudian menatap Ghea dan Vero secara bergantian. "Kalau begitu, kalian berdua tetap tidur di sini. Tapi dengan catatan, kalian janji tidak akan ada apa-apa, dan Vero harus mengetahui apa yang dilakukan oleh Ghea."
Ghea tidak pernah diproteck seperti ini sebelumnya, dulu ia memang menginginkan hal seperti ini. Namun, kenapa sekarang ia malah merasa aneh?
-----
Di tengah teriknya matahari seperti ini, Ghea tidak berhenti berdecak juga membodohkan seseorang yang tengah melakukan hal konyol di tengah lapangan sana.
Larisa Dea Mahesa, cewek populer dengan kebucinannya.
Kadang Ghea merasa heran, apa yang menarik dari seorang Arka sehingga membuat Risa tergila-gila seperti itu? Rela mempermalukan dirinya sendiri bahkan, sering merendah hanya untuk mendapat perhatian dari cowok seperti Arka.
Padahal, seharusnya jika seseorang sudah sayang, tidak perlu mengemis pun perhatiannya sudah kita dapat.
Namun, Risa tidak pernah berpikir seperti itu.
"Lo, tuh, gak ada kasian-kasiannya, ya, sama gue? Panas tau!"
Bersamaan dengan Ghea dan Irene yang mulai menghampiri Risa, suara itu terdengar. Terlihat Risa yang tengah mencak-mencak dengan wajah kemerahan, dan Arka yang terlihat malas dan ... tidak peduli, mungkin.
"Gue gak nyuruh lo diem di situ."
Itu balasan dari Arka, yang mana membuat Irene menggeleng tak habis pikir.
Ini seorang Risa yang siapa pun tahu cantiknya seperti apa yang meskipun hanya memiliki otak setengah. Banyak yang mengincar gadis itu, namun, apa yang dilakukan Arka terhadap Risa benar-benar di luar kepala.
"Panas, Ris, balik ke kelas, yuk?" ucap Ghea pelan. Sengaja, meskipun tidak terima melihat Risa diperlakukan seperti itu, namun tidak mungkin juga jika ia harus marah-marah tidak jelas.
"Iya, Ris, ada yang nanyain, cowok dari kelas sebelah. Katanya, sih, dia mau nembak lo gitu." Kini Irene yang berucap, sengaja dengan nada yang menyindir juga lirikan mata yang tajam ia berikan kepada Arka yang masih tetap dengan posisinya.
"Beuh, Ar, hati-hati, ada yang gaet baru tau, lu," ucap teman Arka yang bernama Dion.
Arka yang mendengar itu hanya menghela napas, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Risa dan kedua sahabatnya, serta kedua teman Arka yang menatapnya tak percaya.
Arka Gian Jackson memang luar biasa.
"Doi, mah, gitu! Gue mau cari yang lain aja, deh!" seru Risa lantang, sengaja supaya Arka yang sudah menjauh bisa mendengar suaranya.
Arka hanya menoleh sekilas, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Hal itu membuat Risa menarik napas dalam kemudian mengembuskannya dengan kasar bersamaan ia yang berjalan ke tepi lapangan.
"Hati gue apa kabar, ya? Dulu gue nggak gini-gini amat, perasaan," ucap Risa yang jengah.
Irene yang melihat itu hanya menggeleng heran. Kali ini, ia sependapat dengan Ghea yang menyebutkan kalau Risa memang bucin kebangetan. "Heran gue, Ris. Lo b**o banget, ya, cowok kek gitu masih aja dikejar."
"Udahlah, Ris, mending udahan aja, terus cari yang lain yang lebih dari dia," sambung Ghea.
Risa mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di tepi lapangan. Mengusap wajah kasar, memejamkan mata dan memikirkan kata-kata temannya yang memang benar semua.
"Gue bingung."
Ghea ikut duduk dan menatap Risa heran. "Bingung gimana? Tinggal bilang mau udahan aja, beres, kan?"
Risa berdecak pelan. "Kalo gitu, Laura makin songong, dong, sama gue?"
"Lah, apa urusannya?" tanya Irene.
"Gue tau selama ini dia cari masalah terus sama gue, karena dia suka sama Arka."
"Ya, terus apa hubungannya?"
"Ya, pasti dia mikir kalo gue kalah. Ya, kan?"
Ghea semakin dibuat bingung dengan ucapan Risa. "Emang lo ada taruhan sama dia? Enggak, kan? Udahlah, ikutin apa kata gue."
Risa menunduk kemudian memegang kepalanya. "Aahhhh! Pusing gue! Kata orang, semuanya akan indah pada waktunya, tapi kenapa gue nggak? Dari dulu Arka gini terus perasaan. Jadinya gue ngerasa kayak pacaran tanpa pacaran tau, nggak?"
"Lo emang udah sinting, ya, Ris, nggak ngerti lagi gue," kata Irene.
Ghea menghela napas pelan. "Udah, pulang sekolah gue anter lo ketemu sama Arka, putusin dia saat itu juga."
Risa terdiam sebentar, kemudian kepalanya menggeleng pelan. "Gak! Gue mau terus berusaha!"
"Dasar gila!"
"Dahlah, otak lo udah gak berfungsi dengan baik, Ris."
Risa menutup kuping, memasabodohkan ucapan kedua sahabatnya. Mendengar suara bel yang baru saja bersuara, Risa beranjak dari duduknya. "Udah masuk aja, padahal gue belum mau belajar."
Irene ikut beranjak. "Bilang aja gak mau belajar."
Risa kembali menghela napas. "Ghe, ke rumah, lo, yuk?"
Mampus.
-------
Dengan pakaian yang sudah rapih, Ghea keluar dari kamarnya. Bersidekap d**a, memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Mengajak Risa dan Irene untuk menginap di sini bukanlah hal yang baik, kedua sahabatnya itu bisa mengetahui semuanya. Apalagi dengan keadaan sekarang yang hanya menyisakan ia dan Vero di rumah ini.
Apa tanggapan mereka nanti?
Ghea tidak habis pikir untuk itu.
Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau ia yang harus menginap di rumah Irene. Ya, itu keputusan yang tepat.
Langkah pertama yang harus Ghea lakukan adalah menemui Vero di kamarnya, dan meminta izin untuk menginap sekaligus minta izin untuk meminjam mobilnya.
Sebenarnya Ghea bisa saja pergi tanpa pamit dan tidak harus membawa mobil namun, ia sudah berjanji akan menjemput Risa di rumahnya.
Ghea mulai melangkah menuju pintu kamar Vero yang tidak jauh dari pintu kamarnya. Dengan perasaan yang gelisah juga pikiran tidak tenang gadis yang kini mengenakan jeans hitam dengan hoodie oversize berwarna maroon itu berusaha untuk tenang.
Ia selalu bisa melewati semuanya, kenapa harus takut dengan hal sepele seperti ini?
"Sial, kenapa gue jadi kayak gini, sih?" gumamnya. Lama terdiam akhirnya Ghea memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Dua kali ketukan, kenop pintu sudah berputar yang menandakan kalau pintu itu akan segera dibuka.
"Apa?"
"Gue mau pergi," ucap Ghea cepat.
"Ke mana?"
"Ke rumah Risa."
"Oh."
Ghea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana? Bagaimana caranya ia minta izin untuk meminjam mobilnya?
"Biar gue anter."
Ghea menggeleng cepat. "Gak usah, gue bisa sendiri."
Vero yang berdiri tepat di hadapan Ghea, menatap gadis itu dengan alis yang terangkat. "Ke sananya pake apa?"
Ghea menghela napas. "Y-ya, mangkanya itu gue mau pinjem mobil sama lo. Boleh?"
Vero terdiam, wajah dinginnya tetap menatap Ghea yang terlihat gusar di hadapannya. Sebenarnya ia bisa saja mengijinkan Ghea tanpa syarat, namun mengingat ucapan papanya semalam, ia harus berpikir seribu kali untuk itu.
"Kalau gitu, kalian berdua tetap tidur di sini. Tapi dengan catatan kalian janji tidak akan ada apa-apa dan Vero harus tahu apa yang dilakukan Ghea."
Kekonyolan yang tiada batas, Vero tidak pernah hidup serepot ini sebelumnya.
"Gak, gue tetep anter."
Ghea menatap Vero heran, hanya meminjamkan mobil, apa susahnya?
"Gue mau nginep."
"Ikut."
Lihat, betapa sulitnya Ghea hanya karena hal sepele seperti ini. Ini rumit, sangat rumit. Kalau saja keadaan hidupnya kembali seperti dulu, ia tidak harus meminta izin untuk pergi, apalagi sampai mengemis meminta pinjaman mobil seperti ini.
Ghea benci keadaan ini.
Ghea benci dimana ia harus serba terpaksa seperti ini.
Kenapa?
Kenapa seakan hidupnya terasa sulit? Sangat sulit.
"Lo kenapa, sih? Tinggal kasih kunci mobil doang ribet amat perasaan."
Vero terkekeh sinis, kemudian kembali menatap Ghea dengan tatapan tajam, dan sulit diartikan. "Lo lupa? Papa udah bebanin gue dengan harus tau semua apa yang lo lakuin, tau setiap keadaan lo kapan pun dan dimana pun berada. Gue harus bilang apa kalo lo keluar bawa mobil, malem-malem sendirian, dan sampai kenapa-napa?"
To be continue...