Besok adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester. Ghea cukup senang, mengingat ia yang akan kembali bertemu dengan kedua sahabatnya dan mungkin dengan itu ia bisa sedikit melupakan lukanya.
Tidak, tidak sampai melupakan. Setidaknya ia akan terhibur dengan kedua sahabatnya itu.
Mengenai kepergian orang tuanya, sampai saat ini Ghea belum bercerita, lebih tepatnya ia tidak mau membagi luka dan kemungkinan, jikalau banyak orang yang tahu tentang ini, mereka semua akan menganggapnya lemah dan lemah.
Meskipun itu benar yang Ghea rasakan, setidaknya kata lemah itu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak untuk kedua sahabatnya, ataupun orang lain.
Perihal keluarga baru, Ghea sendiri masih merasa bingung. Ingin pergi dan hidup sendiri, namun Aruna selalu melarang dengan kedua orang tua yang menjadi alasannya.
Sampai sekarang Ghea masih berproses, mencoba menerima semuanya, menerima semua ketiba-tibaan ini. Meskipun kadang kala jika hatinya kembali teringat, maka pertahanannya akan kembali hancur.
"Ma, Pa, besok Ghea udah sekolah. Doain, ya, biar Ghea bisa berubah."
Ghea tersenyum, kemudian menghela napasnya pelan. "Kalian yang tenang di sana, Ghea mau pamit. Kalo sendirian, pasti Ghea akan singgah sampai matahari tenggelam, tapi sekarang Ghea nggak sendiri, Pa, Ma."
Setelahnya, Ghea beranjak dan langsung berjalan menuju mobil yang tengah menunggunya.
Sedikit tidak tahu diri, Ghea menghabiskan waktu di makam kedua orang tuanya selama satu jam lebih, sedangkan yang menunggunya di sana entah apa kabarnya.
Iya, Ghea tidak sendiri. Ia diantar oleh Vero sebagai permintaan dari Aruna. Sebenarnya Ghea mampu sendiri, namun wanita itu tetap bersikeras agar ia mau pergi bersama anak sulungnya itu.
Ghea membuka pintu mobil, kemudian segera mendudukkan tubuhnya. "Sorry, lama."
Tidak ada jawaban, Vero hanya mengangguk kemudian langsung menjalankan mobilnya.
Jadi seperti ini, ini yang dikatakan Aruna kalau anaknya itu sangat irit bicara, dingin dan sulit untuk disentuh.
Sudah dua minggu Ghea satu rumah dengan Vero, namun percakapan mereka berdua tidak lebih dari kata; oh, iya, oke, dan terserah. Selalu seperti itu.
Ghea sendiri tidak mempermasalahkannya. Toh ia juga tidak ada urusan lebih dengan manusia kaku itu.
Tidak mau terus berdiam, Ghea mencoba untuk bersuara. "L-lo ...."
Why? Kenapa Ghea jadi gugup seperti itu?
Mereka sudah sering bertemu meski jarang bertegur sapa. Tidak, ini tidak lebih dari rasa canggung antara orang baru.
Kadang Ghea bingung sendiri, apakah ia harus benar-benar menganggap Vero sebagai kakak?
Lelucon macam apa ini?
"Lo cerita soal gue ke temen-temen lo?" tanya Ghea akhirnya.
Melihat Vero menggelengkan kepalanya, Ghea menghela napas lega. "Syukur, deh. Gue minta tolong, kalo lo cerita ke temen lo, usahain temen lo jangan cerita ke temen gue."
Vero mengangguk pelan, membuat Ghea bisa berpikir tenang. "Thanks."
Sekali lagi, Vero Anggara itu tipikal cowok yang tidak gampang bersuara. Selagi memungkinkan, selagi tidak mendesaknya untuk bersuara, maka ia akan menjawabnya dengan gerakan tubuh saja.
Sebelas dua belas dengan Arka, namun yang ini lebih ke diam galaknya, sedangkan Arka lebih ke cuek perhatiannya.
?-All Is Fake-?
Ghea baru saja menghabiskan makan malamnya. Makan malam yang sudah menjadi rutinitas, namun Ghea tetap canggung rasanya.
Besok sekolah, dan ia harus tidur awal hari ini.
"Ma, Pa, Ghea ke atas."
Aneh tapi nyata. Lucu tapi menyedihkan. Bingung dengan keadaan, sakit karena kenyataan. Itulah perasaan Ghea setiap kali menyebutkan kata 'Ma' dan 'Pa' kepada Aruna dan suaminya.
Sebutan itu tidak ingin ia berikan kepada orang lain selain kedua orang tuanya. Namun, Aruna selalu mewanti-wanti dirinya agar tidak menyebut mereka dengan sebutan Om dan Tante.
Aruna yang juga sudah selesai, menatap Ghea yang sudah beranjak dari duduknya. "Besok kamu sekolah juga, kan?"
Ghea mengangguk.
"Duduk dulu," ucap Farhan.
Ghea menurut, ia kembali duduk di kursinya.
Farhan menatap Ghea sembari tersenyum samar. "Besok, mau ikut Vero atau mau bawa mobil sendiri?"
Farhan mengerti. Tidak mudah bagi Ghea untuk menyesuaikan dirinya di keluarga ini. Terbukti dengan obrolan di antara mereka yang masih terkesan canggung, apalagi melihat Ghea dengan Vero.
"Tapi Ghea, menurut Mama kamu bareng sama Vero aja, ya. Lebih aman," sahut Aruna.
"Biarin dia milih sendiri, Ma."
Ghea merasa bingung sendiri. Tidak mau ikut bareng dengan Vero, namun ia tidak tahu akan berangkat dengan siapa nantinya.
Maksud Farhan memberikan dua pilihan itu apa? Apakah jika ia tidak mau pilihan pertama, laki-laki itu akan memberikan fasilitasnya?
Meskipun iya, Ghea tidak mau menerimanya. Bukannya apa, di sini ia sudah cukup merepotkan, jadi, wajib dipertimbangkan.
Sempat berpikir untuk meminta Risa agar menjemputnya, namun Ghea tertampar kenyataan kalau ia belum menceritakan semuanya.
Lagipula, jika Risa menjemputnya, cewek itu akan mengetahui semuanya.
"Bagaimana, Ghea?"
Ghea tersadar dari lamunannya. "Hah, em... Ghea ngikut aja, Pa."
"Jangan gitu. Papa kasih kamu pilihan karena Papa nggak mau maksa kamu atas kehendak Papa atau Mama. Jujur, kamu pilih yang mana?"
Rendah dengan tingkat ketegasan yang tinggi. Ghea selalu dibuat bungkam dengan cara bicara Farhan.
"Udah, bareng Vero aja, ya?" ucap Aruna yang mengerti akan ekspresi Ghea.
Dengan penuh keterpaksaan, Ghea mengangguk singkat. "I-iya, Ma."
Demi apa pun, Ghea tidak pernah berpikir akan hidup dalam keluarga seperti ini. Dimana keadaan tidak mengizinkannya untuk menolak, sedangkan jiwa dan pikirannya ingin bergerak bebas.
Ghea tidak suka aturan, namun akan menjadi manusia paling tidak tahu diri jika ia memberontak, sedangkan kebaikan keluarga ini sudah tidak usah diragukan lagi banyaknya.
"Kalau gitu, Ghea permisi ke atas, ya."
Ghea beranjak dan langsung berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan tiga orang yang kini tengah beradu pandang satu sama lain.
"Jangan terlalu tegas seperti itu, lah, Pa. Ini perempuan, lho, bukan laki-laki," ucap Aruna.
"Siapa yang bilang kalau Ghea laki-laki?"
"Ya, setidaknya aturan Papa sama Ghea jangan disamain sama aturan Papa ke Vero. Kasian, dia masih perlu menyesuaikan di keluarga ini."
Farhan menghela napas pelan. "Iya, iya."
Aruna beralih menatap Vero yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Kamu juga jangan terlalu kaku gitu, kasian, kalo Ghea nganggapnya beda, gimana?"
Vero mengernyit heran. "Beda gimana?"
"Ya, takutnya dia mikir kalo kamu nggak nganggap keberadaan dia."
"Harus nganggap kayak gimana?"
Aruna melirik Farhan sekilas. "Ya ... anggap dia sebagai adik kamu, lah. Sayangi, lindungi, jaga dia seperti kamu jagain milik kamu sendiri. Kasian, dia butuh seseorang."
Vero berdecak pelan. "Nanti dia nganggap yang lebih, Ma."
"Ya, nggak apa-apa, dong. Emang kenapa?"
"Sudahlah, Vero, ikuti apa kata Mama. Benar, kasian dia," timpal Farhan.
Vero mengangguk seadanya, terpaksa dengan keadaan dan kenyataan yang entah akan segila apalagi nantinya.
Sedangkan di atas sana, Ghea mendengar obrolan ketiga keluarga itu.
Matanya memejam bersamaan dengan air matanya tang terurai.
Sesungguhnya, ia benci dikasihani seperti ini.
Rasanya benar-benar menyakitkan.
-------
Banyaknya orang yang berlalu lalang membuat Ghea menunda niatnya untuk turun. Ia masih duduk di samping kemudi, menunggu suasana sedikit lenggang agar tidak ada yang menyadari dirinya turun dari mobil Vero.
Bukannya apa, ia tidak malu, namun sedikit malas jika nantinya ada gosip-gosip tidak jelas yang sampai ke telinganya.
Ghea tidak suka apa pun yang membuatnya ribet, apalagi mengenai persoalan seorang pacar.
Ia tahu, sadar juga jikalau di masa SMA ini kerasnya sudah jangan diragukan.
Banyak pacar kita disebut cabe-cabean, setia kita di sebut bucin kebangetan. Pacaran terus dibilang tidak ada teman, tidak ada pacar dibilang ada kelainan.
Serba salah.
Namun, Ghea tidak pernah menghiraukannya.
"Gak mau turun?"
Ghea melirik Vero yang terlihat heran melihatnya. "Bentaran."
"Ngapain?"
"Nunggu sepi."
Ghea tidak mendengar jawaban, ia hanya mendengar cowok di sampingnya menghela napas pelan.
Demi apa pun, secuek-cueknya Ghea tidak terlalu cuek seperti Vero Anggara.
Keiritan cowok itu dalam bicara membuat Ghea kerap merasa canggung, dan bingung akan berbicara seperti apa. Padahal, ia sendiri sama seperti Vero jika tengah berhadapan dengan yang lain.
Setelah merasa aman, Ghea membuka pintu mobil kemudian turun dengan segera. Tidak ada kata pamit ataupun terimakasih, setelah menutup kembali pintunya, Vero langsung menjalankan mobilnya kembali.
"Semoga nggak ada yang liat," ucap Ghea.
Setelahnya, cewek itu mulai melangkah, memasuki gerbang kemudian segera menuju kelasnya.
Ia tidak sabar untuk bertemu Risa dan Irene, lama tidak bertemu juga banyaknya masalah yang ia tanggung membuat rasa kangennya bertambah kepada kedua sahabatnya itu.
"Anjir, Ghea!"
Ghea menoleh ke belakang. Ia mengernyit melihat seorang cewek yang tengah berlari ke arahnya.
"Ngapain lo? Heran liat gue? Dua minggu nggak ketemu jadi lupa lo sama sahabat sendiri?"
Ghea kenal dengan suaranya, tetapi tidak dengan gaya penampilannya. "Coba buka kacamatanya?"
Gadis di hadapannya menurut, ia menggeleng ketika melihat ternyata itu adalah Irene, sahabatnya.
Bukannya lupa diri karena melupakan sahabatnya, Ghea hanya tidak menyangka dengan penampilan gadis itu.
Rambut curly yang terdapat warna ungu di ujungnya, kacamata hitam beraksen merah di sampingnya, jangan lupakan sahabat anehnya itu juga mengenakan seragam yang tak layak juga sepatu yang tingginya mungkin hampir sepuluh centimeter.
"Lo gila?" tanya Ghea.
Irene mengernyit mendengarnya. "Lo lupa? Atau gimana? Gue gila emang dari dulu, kali."
"Sinting! Lo mau sekolah atau ngelonte?"
Irene berdecak, ia merangkul pundak Ghea kemudian berjalan beriringan menuju kelasnya. "Helow! Lo gak tau, ya, kalo ini fashion!"
"Fashion lo salah tempat."
"Selagi ada, gapapa kali dipamerin ke sekolah."
"Pulang dari luar lo makin gila, ya, Ren."
Irene menghela napas seraya memutar bola matanya. "Makin hari lo makin judes ya, Ghe."
"Bodo amat." Ghea terkekeh ketika Irene memberengut kesal.
Ini yang ia rindukan. Sedari dulu, ia tidak pernah ada teman cerita selain Irene dan Risa. Tidak pernah ada yang tahu keluh kesahnya selain kedua gadis itu.
Bahkan, mereka lebih tahu dirinya dari pada kedua orang tuanya.
"Berduaan terus, gue nggak diajak?"
Irene dan Ghea berbalik ketika mendengar suara dari belakang. Keduanya tersenyum kemudian langsung menghampiri Risa yang tengah tersenyum juga.
"Gila, kangen gue sama lo, Ris!" ujar Irene sembari memeluk Risa.
Risa membalas pelukan Irene. "Sama. Lo lupa diri, sih, gak balik-balik."
"Udah lupa diri, sifat gilanya juga nambah," sambung Ghea.
Risa mengangguk sembari menatap Ghea. "Iya, bukannya makin kurang malah makin nambah."
Lagi-lagi Irene berdecak mendengar ucapan kedua sahabatnya yang sedari dulu tidak pernah berhenti menyebutnya gila. Padahal, apa yang salah?
Gila di hadapan sahabat itu menandakan kalau kita sudah benar-benar nyaman bersahabat dengan mereka.
"Lama gak ketemu, makin cantik aja lo, ya, Ris. Insinyur gue jadinya," ucap Irene.
"Tuh, kan, sikap sama ucapannya makin ngelantur," sinis Ghea.
Risa menggeleng pelan kemudian merangkul bahu kedua sahabatnya. "Ribut jangan di sini, malu sama geng lain."
Ketiganya mulai melangkah beriringan. Bertatap muka dengan siswa lain, namun tidak sampai bertegur sapa. Berbisik-bisik ketika ada siswa yang menurut mereka aneh dan berakhir sedikit menertawakannya.
"Btw, Ris, lo ke sini bareng siapa? Sama manusia cuek itu?" tanya Irene.
"Mana ada, gue minta jemput malah disuruh bawa mobil sendiri."
"Ciri-ciri pacar yang nggak sayang sama pacarnya, ya, gitu."
Risa menghela napas. "Arka emang gitu, gak sayang gue mungkin. Tapi, ya, mau gimana? Otak ingin pergi tapi perasaan masih ingin tetap singgah."
"Alay," cibir Ghea.
"Bucin tingkat akut!" sambung Irene.
Risa sedikit terkekeh mendengar cibiran kedua sahabatnya. "Udah pernah belum ngerasain pacaran sama manusia kaku plus cuek tingkat dewa? Kalo belum, rasain deh, rasanya ... ah, nyelekit!"
"Liat Ghe, bukan cuma gue yang Gila, Risa juga udah gila."
Ghea berdecak pelan. "Kalian berdua emang gila!"
"Kalo kita gila, kok, lo mau temenan sama orang gila?"
"Terpaksa."
"Bilang aja kalo lo juga udah gila."
Risa terkekeh kemudian melepaskan rangkulannya. "Selain gila, Irene udah ngikut jejak lo, Ghe. Galak."
"Gue nggak ngerasa ngajarin."
Risa memperhatikan penampilan Ghea dari atas sampai bawah. Ada yang beda, ia melihat ada sesuatu yang berubah.
"Ghe, gue liat, kok, lo kurusan? Diet?"
Ghea menelan ludah, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak, ini belum saatnya untuk ia bercerita. Keadaan memang sudah tepat, tetapi hatinya yang belum mampu.
Masalah lain mungkin ia akan cerita, tetapi tidak dengan masalah yang sekarang.
"Ng-ng-iya, gue diet."
Irene memicingkan matanya, menelusuri mata dan gerak-gerik Ghea yang terlihat aneh menurutnya. "Sejak kapan lo suka diet?"
Ghea salah bicara, ia makin kelimpungan di tempatnya. "Y-ya ... itu, mulai sekarang gue diet."
"Kenapa?" tanya Risa. "Tubuh lo udah ideal, loh."
Ghea sendiri tidak pernah sadar kalau postur tubuhnya sedikit berkurang. Kurus, dan mungkin terlihat tidak terawat.
Terlarut dalam kesedihan membuatnya terpuruk sampai lupa makan, bahkan berpikir tidak peduli dengan tubuhnya sendiri.
To be continue...