Pernikahan

1554 Words
Welcome di dunia tipu-tipu, di mana pelaku bersikap seolah menjadi korban, dan korban malah menjadi ternistakan. Di mana mata berusaha menahan bersamaan dengan bibir yang terangkat secara terpaksa sedangkan pikiran sedang kacau dan hati dalam keadaan hancur sehancur-hancurnya. Inilah hidup. Sendiri kita sepi, diam kita membisu. Berusaha berdamai dengan keadaan namun semuanya tampak mengecewakan. Vero benar-benar pusing sekarang. Ia tidak tahu harus seperti apa dan akan menjadi bagaimana selanjutnya. Satu sisi ia tidak bisa menolak dan tidak tega juga jika melihat mamanya menangis dan memohon di hadapannya. Namun satu sisi lagi ia juga tidak mau masa depannya buntu sampai di sini saja. Ini hidupnya, ia juga mempunyai mimpi yang sudah ditata rapi. Berkeinginan juga untuk memiliki pasangan yang sesuai dengan pilihan hatinya. Bukan atas dasar paksaan seperti sekarang. Vero: Mama sakit, lo harus pulang dan terima semuanya. Kalo nggak, maaf, dua sahabat lo akan terlibat dalam hal ini. Pesan yang cukup panjang. Mengandung kata-kata yang Vero pun tidak tahu kenapa ia bisa menulis itu dalam pesannya. Mamanya sakit akibat memikirkan Ghea yang hilang tanpa kabar semalaman. Dan hal itu membuat Vero terpaksa untuk melakukan itu dan ... menerima semuanya. Biarkan, ia akan melihat sejauh apa takdir akan mempermainkan hidupnya. Terkadang, Vero berpikir seperti itu seolah lupa kalau ia memiliki Tuhan dalam hidupnya. Dan di sinilah cowok itu berada, duduk dengan perasaan campur aduk dalam situasi yang biasa namun terasa sangat menegangkan. Duduk tepat di samping Ghea yang tidak menunjukan gairah hidupnya sama sekali, berjabat tangan dengan penghulu dan sebentar lagi ia akan resmi menjadi seorang suami di usianya yang sekarang. Kata 'sah' dari para saksi dan kedua orang tuanya sontak membuat Vero menunduk bersamaan dengan air matanya yang jatuh. Selemah ini, kah? Vero akan baik-baik saja jika ia menerima dan mencoba tidak peduli dengan semuanya. Pernikahan ini hanya sebatas status, tidak sampai jauh seperti orang-orang. Namun rasanya tetap berbeda. Vero yang dulu dan sekarang, sudah berbeda. Mungkin hidupnya akan lebih terasa rumit mulai dari sekarang. Yang ia pikirkan, bagaimana tanggapan Arka dan Dion nanti? Apa mereka akan mengerti, atau bahkan menertawakannya? Masalah di sekolah, Vero sudah tidak ada urusan karena ia yakin kedua orang tuanya pasti sudah mengurus itu dan menyembunyikannya rapat-rapat dari para guru. Kata maaf dari Farhan dan Aruna seolah tidak ada artinya bagi hati Vero yang memang sudah patah sedari dulu. Vero tidak pernah menuntut apa-apa dari kedua orang tuanya. Bahkan setelah kejadian yang membuat hidupnya berubah derastis seperti sekarang. Tetapi mereka selalu menuntut Vero untuk mengikuti aturan dan keinginannya. Bahkan, tidak peduli jika Vero tidak tertarik dengan hal itu. Broken home tidak melulu disebabkan oleh perceraian orang tua, sikap dan perilaku mereka terhadap anaknya juga bisa jadi alasan utama. -All Is Fake- Satu minggu setelah acara sakral itu Ghea tidak pernah keluar kamar, yang mana hal itu membuat Vero sedikit merasa cemas akan keadaannya. Setiap pagi ketika ia turun ke dapur, bungkusan makanan selalu berserakan di meja. Ya, ia paham, mungkin Ghea masih belum bisa menerima ini semua padahal dirinya sendiri pun sama. Sore hari setelah ijab kabul, kedua orang tuanya sudah langsung berangkat untuk mengurusi bisnis yang sedari dulu sampai sekarang tidak ada hentinya itu. Mereka gila kerja, dan Vero selalu muak dalam diam dan berlagak seolah menerima. Yang paling menyakitkan adalah Farhan yang melarang keras akan hobinya, dan sekarang laki-laki itu juga telah mempermasalahkan masa depannya. Sekarang ia sudah menjadi seorang suami, meskipun belum seutuhnya. Kenyataan itu terkadang membuat Vero merasa gila akan dirinya sendiri. Satu minggu ini ia hidup seperti biasa meskipun setiap pagi ia harus membuang-buang waktu untuk mengetuk pintu kamar Ghea yang mungkin tidak akan pernah terbuka. Gadis itu terlalu berlebihan sampai menyiksa hidup sendiri bahkan membiarkan sekolahnya. Pagi ini, Vero sudah siap dengan seragamnya. Seperti biasa, sebelum berangkat ia akan mengetuk pintu kamar Ghea dan semoga saja gadis itu cepat sadar akan kehidupannya yang sudah menunggu. Satu kali, tidak ada jawaban. Vero menghela napas kemudian perlahan melangkah untuk menuruni tangga. Biarkan, itu urusannya. Masa bodoh gadis itu akan sekolah atau tidak yang terpenting Vero sudah melakukan semua perintah kedua orang tuanya. Di pertengahan tangga, Vero berbalik ketika mendengar suara pintu terbuka. Ia menatap lekat Ghea yang berdiri sembari menatapnya. Wajah yang lusuh benar-benar menunjukan kehancuran gadis itu. "Sekolah?" tanya Vero. Ini jauh bukanlah seorang Vero yang tidak pernah peduli dengan apa pun. Namun, jika membiarkan gadis itu begitu saja, ia juga merasa tidak tega. Apalagi statusnya dengan gadis itu yang kini tidak lagi sama. Melihat Ghea mengangguk, Vero juga ikut mengangguk kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Sebelum keluar pintu utama, Vero melangkah menuju dapur. Ia mengambil sesuatu di atas meja, lalu kembali berjalan menghampiri Ghea. "Buat makan, gue tau lo laper." Setelah memberikan satu kotak bekal kepada Ghea, Vero berjalan mendahului gadis itu. Sedangkan Ghea yang masih tak ada semangat sedikitpun, menatap kepergian Vero dengan tatapan tak suka, kemudian tak selang waktu lama ia berjalan keluar. Jujur, Ghea masih membenci Vero karena cowok itu sudah menuruti permintaan kedua orang tuanya. Mengorbankan masa depannya yang masih panjang, begitupun dengan masa depan Ghea yang sudah rusak bahkan ketika gadis itu belum sempat merangkai angan untuk masa depannya. Farhan dan Aruna memang sudah keterlaluan, namun Ghea tidak bisa menolaknya dengan alasan takut kalau Vero menyeret kedua sahabatnya dalam hal ini. Ya, Ghea memang bodoh. Si bodoh yang selalu memendam masalahnya sendiri hanya karena tidak mau dianggap lemah oleh orang sekitarnya. -All Is Fake- Lucu bukan? Dunia menuntut Ghea untuk berdamai dengan keadaan, sedangkan keadaan membunuhnya secara perlahan. Otaknya dibanting, hatinya ditikam, tapi tetap haha hihi di depan orang-orang. Sungguh luar biasa kehidupan ini, banyak hal yang tidak terduga datang secara tiba-tiba. Menoreh luka yang amat dalam sampai Ghea sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Setelah merenung satu minggu lamanya, Ghea sadar akan dirinya yang memang perlu memikirkan hidup mulai dari sekarang. Masa bodoh dengan lukanya, yang harus ia lakukan adalah hidup seperti biasa dengan sandiwara yang mungkin akan terjadi di mana-mana. Di sekolah, di rumah, di depan keramaian, ia harus menampilkan senyum manis yang bertentangan keras dengan suasana hatinya. "Ya, ampun, Ghea! Lo ke mana aja satu minggu ini?" Ghea menarik sudut bibirnya merespons ucapan Irene barusan. "Gue liburan bareng keluarga." Mari tertawa bersama, menertawakan Ghea yang masih bisa sesantai itu berbohong demi menyembunyikan lukanya. "Tapi Risa bilang lo ke rumah dia satu minggu yang lalu, dalam keadaan nangis pula. Ada apa?" tanya Irene lagi. Ghea terdiam, kemudian melangkah menuju tempat duduknya. "Waktu itu gue bertengkar hebat sama bokap nyokap gue, tapi sekarang udah enggak." Irene ikut duduk di samping Ghea. Menatap gadis itu dengan tatapan heran seraya menggeleng pelan. "Gila, ya, setelah bilang pengen mati malah ngilang satu minggu. Gue kira lo mati beneran, tapi syukurlah lo nggak kenapa-napa." Lihat, begitu banyak kebohongan yang ia berikan kepada temannya. Ghea tidak tahu ini akan sampai kapan yang pasti, selama apa pun itu ia harus tetap terlihat baik-baik saja. "Ya, ampun, Ghea! Akhirnya lo masuk juga! Setelah kabur dari rumah gue, lo ke mana aja? Gue pikir lo mati beneran." Ghea memutar bola matanya ketika melihat Risa yang baru saja datang dengan suara histeris seperti itu. "Gak Irene, nggak elo, sama aja kayaknya ngarepin gue mati." ucap Ghea seraya terkekeh pelan. Risa berdecak kemudian menoyor kepala Ghea pelan. "Gila, ya, Ghe. Ya, iyalah gue ngira lo mati, lo lupa kalo lo bilang pengen mati ke gue sebelum lo pergi?" "Tau, tuh, meresahkan!" cibir Irene. "Jangan nyerah sama masalah hidup, Ghe, gue aja dari jaman dulu sampe sekarang, masih bertahan sama kelakuan Arka yang nggak ada majunya sama gue." Risa berucap sembari ikut duduk di depan meja Ghea. Lagi, Ghea memutar bola matanya malas mendengar ucapan teman-temannya. "Udahlah, bosen gue lo ngomongin Arka terus. Btw, pulang sekolah nongkrong, yuk! Suntuk gue." Ghea sengaja mengusulkan hal itu. Selain meminimalisir kecurigaan sahabat-sahabatnya, ia juga memang butuh hiburan dalam hidupnya agar tidak sampai gila karena terus memikirkan masalah hidup yang tidak ada usainya. Irene yang merasa heran beralih menatap Risa kemudian kembali menatap Ghea. "Sakit lo?" Ghea mengernyit heran. "Kenapa emang?" "Ya, tumben aja ngajak nongkrong duluan," balas Irene. Ghea mendengus. Perkataan Irene memang benar karena sedari dulu ia jarang mengusulkan nongkrong duluan kepada sahabatnya. Selalu mereka yang lebih dulu. "Ghea, lo dipanggil sama cowok ganteng!" Ujaran itu spontan membuat Ghea, Risa dan Irene menoleh secara bersamaan. "Siapa?" tanya Irene yang lebih penasaran dari pada Ghea. "Vero," ucap Laila---gadis yang baru saja memanggil Ghea. Ghea yang mendengar itu seketika tubuhnya menegang. Ada apa? Kenapa Vero menghampiri kelasnya? Bagaimana kalau Risa dan Irene curiga, atau bahkan mereka mengetahuinya? Risa menatap Ghea dengan mata yang memicing curiga. "Vero temennya Arka?" tanya Risa. "Ngapain dia?" Irene ikut bertanya. Ghea semakin tidak tenang saja rasanya ketika melihat Vero yang baru saja memasuki kelasnya. Oh, hey! Ayolah, Ghea sedang pusing dan tidak mau tambah pusing dengan kecurigaan sahabatnya nanti. Tidak bisa, kah, keperluannya ditunda dulu? Tidak bisa, kah, lewat pesan saja? Kalau sudah seperti ini, Ghea harus gimana? "Ghe?" itu suara Vero, namun Ghea masih belum meresponsnya. "Ghe, dipanggil, tuh," ujar Irene. "Lo ada perlu apa sama Ghea?" tanyanya kepada Vero. "Arka-nya mana? Kok, nggak ngikut?" Sudah tertebak kalau itu suara dari Risa. Siapa lagi yang akan membahas Arka selain gadis itu? "Ghe, ada hal yang harus dibicarain." Vero kembali bersuara, membuat Ghea mau tidak mau beranjak dari duduknya. Daripada dua sahabatnya semakin curiga, lebih baik Ghea turuti saja. Apa yang mau dibicarakan oleh Vero? To be continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD