"Ada apa?" tanya Ghea. Pada akhirnya, mau tidak mau gadis itu menuruti Vero untuk berbicara sebentar dari pada dua sahabatnya akan semakin curiga.
Sekarang keduanya tengah berada di taman belakang sekolah yang kebetulan tidak ada orang di sana.
"HP-nya ke mana?"
Ghea yang merasa heran akan pertanyaan itu mengernyitkan dahinya. "Kenapa emang?"
Vero menghela napas, ia berjalan menuju kursi kayu yang ada di sana. Setelah duduk, cowok itu kembali berbicara bersamaan dengan Ghea yang ikut berjalan ke arahnya. "Kenapa nggak bisa dihubungin?"
"Ketinggalan di rumah." Ghea menjawab sembari mendudukkan bokongnya di kursi yang sama dengan Vero.
"Sengaja?"
Mendengar itu, Ghea terdiam sebentar. Ya, perkataan Vero memang benar, ia sengaja meninggalkan ponselnya di kamar. Bahkan, tidak membukannya sejak enam hari yang lalu.
Perihal pernikahan belum bisa ia terima dengan lapang, apalagi dengan Farhan dan Aruna yang terkihat tidak memiliki rasa bersalah sama sekali. Ghea tidak mau kedua orang tua itu terus menghubunginya, ditambah lagi dengan kedua sahabatnya yang sudah pasti akan melakukan hal yang sama.
Ghea sadar, hal yang ia lakukan sekarang tidak akan pernah bisa merubah kenyataan. Pernikahan itu sudah terlaksana, dan ia sudah menjadi seorang istri sekarang. Namun, apa salah jika ia merasa marah? Harusnya Farhan dan Aruna bisa paham akan hal itu.
"Iya, sengaja. Kenapa?"
Vero menghela napas pelan. "Hal yang lo lakuin nggak akan merubah kenyataan. Tolong sadar diri, hal yang lo lakuin sekarang bisa bikin banyak orang khawatir."
Tepat sekali. Ghea juga sempat berpikiran seperti itu, namun egonya masih tidak bisa ia tahan walau sedikitpun.
"Terus gue harus gimana?" tanya Ghea.
Vero beranjak, kemudian menatap Ghea yang masih duduk di tempatnya. "Lo sendiri yang tau harus kayak gimana. Biarpun nggak terima, seenggaknya jangan ngelakuin hal yang nggak akan pernah ada gunanya."
Setelah mengucapkan itu, Vero berlalu begitu saja. Meninggalkan Ghea yang bergeming di tempatnya.
Memang salah, Ghea juga paham akan hal itu. Namun sekali lagi, apa itu salah?
Ghea hanya menuruti apa kata hatinya.
*******
Sore hari ketika merasa lapar, Ghea keluar kamar dan segera menuju dapur untuk melihat apa yang bisa ia makan di sana. Namun tidak ada, membuka kulkas pun isinya hanya bahan-bahan mentah saja.
Tidak ada orang selain Ghea dan Vero. Kalau dua manusia itu tidak memasak atau membeli makanan, maka tidak akan ada. Secara, Aruna dan suaminya masih sibuk di luar sana.
Ghea sadar, menyakiti diri sendiri itu tidak akan pernah memperbaiki semuanya. Bahkan ketika mati sekalipun, itu tidak akan ada gunanya. Yang ada mungkin rasa bersalah dan merasa begitu bodohnya karena melakukan hal konyol seperti itu.
Masuk sekolah dan bertemu teman-temannya membuat perasaan gadis itu perlahan mulai membaik, dan belajar untuk menerima, bukan menentang.
Masalah pernikahannya dengan Vero, meskipun itu merugikan dirinya, tetapi tidak apa-apa. Asalkan ia masih bisa bebas dan cowok itu tidak menuntut apa-apa.
Satu yang Ghea syukuri atas pernikahan ini, Aruna dan Farhan tidak mengijinkan mereka satu kamar. Bagus. Lagipula, Ghea tidak berharap sedikitpun.
"Oke, masih untung gue bisa masak."
Dengan mantap Ghea mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Memilih-milih sekiranya makanan apa yang akan ia buat dan mengira-ngira porsi hasil masakannya.
Ghea tidak baik, juga tidak sejahat itu untuk memikirkan dirinya sendiri. Ia masih ingat Vero. Meskipun perkataan dan kelakuannya sering membuatnya merasa sakit, ia tidak tega juga jika harus membiarkan cowok itu kelaparan.
Sepertinya ... Ghea memang sudah banyak berubah.
Tidak, lebih tepatnya Ghea lebih banyak berpikir untuk merubah dirinya sendiri. Belajar untuk menerima, walau hati masih belum ikhlas sepenuhnya.
Ghea juga sadar diri, selain di sini, ia tidak akan menemukan kehidupan yang layak karena tidak memiliki keluarga lagi.
Alhasil, ia harus menerima semuanya dan fokus dengan hidupnya sendiri. Menjalani semuanya, sampai ia menemukan titik di mana ia tidak bisa lagi untuk bertahan.
-All is Fake-
"Btw, Ver, gimana rasanya punya istri?"
Vero menatap Dion tajam setajam-tajamnya. Alih-alih tutup mulut, cowok dengan tingkah luar biasanya itu sering membahas persoalannya dengan Ghea.
Sebenarnya tidak apa, kedua sahabat Vero sudah tahu semuanya. Namun, Vero seperti tidak nyaman jika terus membahasnya. Bagaimanapun, pernikahan itu jauh dari pernikahan yang ia bayangkan kelak.
"Tuli lo? Gue nanya," ucap Dion tak mau diam.
Vero berdecak kasar. "Bisa, gak, sih, gak usah bahas itu? Bahas yang lain."
Dion yang sama sekali tidak merasa bersalah, memutar bola matanya malas. "Ah, elah, timbang jawab doang apa susahnya?"
"Gue pulang."
Menatap Vero tak percaya, Dion benar-benar dibuat tidak habis pikir dengan tingkah Vero yang amat sensitif akhir-akhir ini. "Ngambekan lo."
Melihat dua temannya bercek-cok seperti itu, si pemilik rumah alias Arka Gian Jackson lebih memfokuskan mata ke depan dengan tangan yang tidak tinggal diam.
Masalah seperti ini sudah sering terjadi sehingga membuat Arka sudah biasa akan hal itu.
"Beralih dari pasutri, sekarang kita tanya doi yang tingkahnya bukan kayak doi." Dion menepuk bahu Arka. "Ar, gimana rasanya punya pacar kek Risa?"
"Biasa aja."
"Daebak! Doi banyak yang ngincer termasuk gue, lo malah ngerasa biasa aja. Belok, lu?"
Arka melirik Dion sinis. "Ambil kalo lo mau."
"Serius?"
"Lawan gue dulu."
"Bacotan lo gak bisa ditebak ya, Ar. Heran gue." Dion mendengkus pelan. "Tapi gue saranin, ya, Ar. Lo jangan terlalu cuek, lah, sama Risa."
"Kenapa emang?"
"Ya, lo gak takut dia dicuri orang?"
"Nggak."
"Lo udah gila, Ar."
"Ngapain? Risa gak akan lirik yang lain selain gue."
Berdiri seketika sembari bertepuk tangan. Dion geleng-geleng ditempatnya. "Luar biasa. Cowok yang gengsinya tujuh turunan, cueknya melebihi bebek, ternyata kalo di depan temannya bersikap narsis kek gini."
Demi apa pun, Vero merasa jengah. Ia berdiri kemudian meraih jaketnya yang tergeletak di kursi. Bukan, bukannya ia tidak bersyukur mempunyai teman yang sedikit gila seperti Dion, juga sedikit susah ditebak seperti Arka. Yang ia rasakan saat ini adalah bingung harus bagaimana.
Perasaan yang tidak menentu seperti membuatnya gelisah tanpa alasan.
Ada apa?
"Gue pulang."
Dion maupun Arka sama-sama menatap Vero yang sudah membuka pintu kamar Arka. "Masih ngambek lo?" tanya Dion.
Vero yang masih berdiri di ambang pintu, menghela napas kemudian menggeleng pelan. "Biasa aja. Gue emang mau pulang."
"Bilang aja kangen istri."
"Gue habisin lo sekarang juga."
Dion terkikik di tempatnya. Memang, persahabatan tanpa orang seperti dirinya tidak akan berarti. Tetapi kedua sahabatnya selalu menganggap sikap itu merupakan sikap kegilaan dirinya. "Ampun, Bang Jago."
Vero memutar bola matanya malas. "Ar, gue pulang."
Arka mengangguk singkat. "Iya, sukses, Ver."
-All Is Fake-
Dengan kerutan di dahi Ghea menatap Vero yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Sudah terhitung lima menit cowok itu berdiri di tempat namun, sampai sekarang masih belum bersuara juga.
"Ada apa?" tanya Ghea pada akhirnya.
Vero tidak mengerti ini. Cowok yang masih mengenakan seragam sekolah itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ada yang nyariin, di bawah."
"Siapa?"
"Gue gak tau, ke bawah aja."
"Cewek atau cowok?"
Vero membalas tatapan Ghea yang terlihat gelisah di tempatnya. "Cowok."
Meskipun heran, Ghea langsung berlari menuruni tangga untuk menghampiri orang itu. Yang dimaksud Vero siapa? Sedari dulu ia tidak pernah memiliki teman cowok atau bahkan mantan pacar sekalipun.
Apa mungkin ... salah satu keluarganya?
Namun Ghea pikir itu sangat tidak mungkin.
Ghea tersenyum kikuk ketika melihat laki-laki paruh baya yang tengah duduk di sofa sembari menatap ke arahnya.
"Ghea, ya?"
Spontan Ghea menganggukkan kepalanya.
Laki-laki itu tersenyum kemudian mengeluarkan berkas di dalam tasnya. "Perkenalkan, saya Deri temannya Farhan. Maksud kedatangan saya ke sini, saya mau menyampaikan titipan Farhan beberapa hari lalu. Ini kunci berikut berkas-berkasnya."
Ghea tidak paham. Ia mengernyit mendengar ucapan laki-laki itu barusan. "Maksudnya giman, ya?"
"Ini kunci mobil dari Farhan, mobilnya sudah di depan."
Dilain posisi Vero masih memperhatikan Ghea dengan laki-laki itu di bawah sana. Sedikit berpikir mengenai Ghea dan kedatangannya ke rumah ini.
Sejak kedatangan gadis itu, Vero selalu berpikir keras mengenai apa yang terjadi. Ketika kedua orang tuanya mengatakan kalau Ghea adalah anak dari temannya yang kecelakaan, Vero merasa sedikit tidak percaya.
Bagaimanapun, tidak mungkin jika Ghea tidak ada keluarga lain selain kedua orang tuanya.
Selain itu, alasan pernikahan mereka juga tidak bisa dipikir oleh logika. tidak mungkin jika hanya beralasan untuk menghindari omongan orang lain.
Vero penasaran, namun tidak tahu harus mencari tahu tentang apa.
Ingin menentang dan hidup bebas, tetapi itu tidak akan pernah mungkin.
Selain sikap keras kepala papanya, keadaan mamanya juga menjadi alasan kenapa selama ini Vero begitu menjadi anak yang penurut.
Vero menghela napas memikirkan itu semua. Melihat Ghea sudah beranjak dan mungkin akan kembali ke kamarnya, ia juga ikut bergerak, berjalan menuruni tangga yang tujuannya entah kemana.
"Lo tau ini?"
Tepat di pertengahan anak tangga, Vero dan Ghea berpapasan. Vero mengangguki ucapan Ghea barusan karena ia memang sudah tahu sebelumnya.
"Kenapa lo gak bilang?"
"Gue udah nyuruh lo turun ke bawah, itu udah cukup."
Meskipun masih merasa bingung, Ghea tetap mengangguk kemudian kembali menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
"Thanks makanannya."
Ucapan Vero sempat membuat Ghea berhenti sejenak, kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar.
Hari ini ia akan menikmati waktunya sendiri karena tidak ada rencana keluar bersama sahabatnya. Mengenai Vero yang mencarinya ke kelas tadi, Ghea sudah menjelaskan kepada Risa dan Irene.
Bukan keinginannya, namun lagi-lagi Ghea harus berbohong mengenai kehidupannya. Tidak mungkin jika ia mengatakan kalau ia anak angkat orang tuanya Vero, dan Vero sudah sah menjadi suaminya. Tidak, itu bukan pilihan yang tepat.
Alhasil Ghea menjelaskan bahwa Vero merupakan sepupu dari ayahnya.
Gila, bukan?
Ghea sudah tidak habis pikir lagi akan sampai ke mana kebohongan ini.
To be continue.....