Tengah malam seperti ini Ghea sudah dibuat kesal dengan ponselnya yang tidak mau berhenti bersuara. Ini sudah larut, belum mau pagi juga, tetapi entah siapa yang tidak tahu diri mengganggu waktu tidurnya.
Berkali-kali menolak tanpa melihat siapa si penelpon, akhirnya dengan rasa penuh malas tangannya bergerak dan segera mengangkat telponnya.
"Hallo?"
Ghea membuka mata seketika. Itu suara Aruna, ada apa menelponnya malam-malam seperti ini?
Lihat, setelah ia mengaktifkan kembali ponselnya, telpon dari Aruna tidak pernah absen walau satu hari pun. Wanita itu selalu menelponnya, entah untuk menanyakan kabar atau dengan kepentingan lainnya.
Terkadang, hal itu membuat Ghea merasa bosan.
"Iya, Ma?"
"Ghea, dari tadi kamu ditelpon menolak terus, kamu lagi apa? Nggak kenapa-napa, kan, Sayang?"
Ghea menelan ludah juga merasa bersalah kepada wanita itu. Di mana Aruna mengkhawatirkan keadaannya sedangkan dirinya malah sengaja menolak telpon karena tidak mau diganggu.
Sebenarnya kalau saja ia melihat siapa si penelpon, panggilan pertama sudah langsung ia jawab. Mungkin.
"Ghea?"
"I-iya, Ma. Ghea nggak kenapa-napa, kok. Mama kenapa? Tumben telpon larut gini?"
Aruna terdengar menghela napas. "Ghea, coba kamu ke kamar Vero."
Ghea mengernyit heran. Setelah mewanti-wanti habis-habisan agar ia tidak masuk ke kamar cowok itu juga Vero yang harus melakukan sebaliknya, sekarang Aruna malah menyuruh Ghea melakukannya. Ada apa?
"Kenapa, Ma?"
"Dari siang Vero nggak angkat telepon Mama, Mama takut dia kenapa-napa. Biasanya kalo pergi selalu hubungin Mama, tapi sekarang nggak ada kabarnya sama sekali. Kamu pastiin, ya?"
Suara Aruna terdengar cemas di ujung sana. Yang mana hal itu membuat Ghea mau tidak mau menuruti meskipun sebenarnya ia ogah-ogahan.
Tidak peduli apa pun kata mereka, yang terpenting, inilah Ghea. Dengan segala sikap tidak tahu dirinya dan tindakan yang selalu membuat orang-orang tidak percaya.
Ia memang sudah bersikap seolah menerima pernikahan itu, namun hatinya masih belum bisa. Bersikap baik di hadapan Farhan dan Aruna hanyalah sandiwara semata.
"Oke, Ma. Nanti Ghea telpon lagi."
Setelah sambungan terputus, Ghea beranjak turun dari kasurnya kemudian dengan gontai berjalan keluar.
Tidak adakah pilihan dalam hidupnya? Ghea rasa, sedari dulu hidupnya penuh dengan tekanan dan pilihan yang tak sesuai keinginannya.
Hidupnya yang sekarang mungkin memang banyak orang yang ingin berada di posisinya. Namun Ghea lebih ke merasa ini tiada arti sama sekali jika ingin bebas pun rasanya sulit.
Sampai di depan pintu kamar Vero, Ghea menghela napas dengan segala keraguan di benaknya. Haruskah ia masuk? Bagaimana kalau cowok itu memarahinya? Bagaimana kalau ... ah, sudahlah. Dari pada berasumsi, lebih baik Ghea mengetuk pintu terlebih dahulu. Jika tidak ada balasan, maka ia akan langsung masuk.
Dua kali ketukan tidak ada respon. Terpaksa, mau tidak mau ia harus masuk dan memastikan kalau kekhawatiran Aruna itu tidak benar.
Hal pertama yang Ghea rasakan ketika memasuki ruangan bercahaya remang itu merasa tidak percaya, juga rasa heran di benaknya.
Kamar dengan ke estetikanya. Meskipun tidak terlalu jelas, Ghea bisa melihat kalau warna dari kamar ini tidak lebih dari hitam, putih, dan abu-abu. Beberapa pigura menghiasi dinding, dan ... yang paling membuat Ghea berpikir keras adalah keberadaan kanvas dan alat melukis lain di salah satu sudut kamar.
Ini tidak bisa dipercaya sama sekali. Vero dengan tampang pas-pasan juga sikapnya yang kerap membuat orang emosi, ternyata memiliki kesenangan dalam hal melukis?
Demi apa pun, Ghea tidak percaya sedikit pun.
Puas melihat-lihat, Ghea bergerak menghampiri sosok yang tengah tertidur dengan lelapnya. Tidak ada yang aneh, ia melihat Vero baik-baik saja.
"Ngapain?"
Ghea hampir berteriak mendengar suara itu. Namun masih terkendali meski detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ghea menatap Vero dengan mata yang memicing. "Lo sakit?"
Dengan mata yang terpejam Vero menjawab, "nggak."
Menghela napas. Syukurlah, setidaknya Ghea tidak akan direpotkan karena harus mengurus cowok itu. "Oh."
Setelahnya cewek dengan celana selutut juga kaus hitam oversize itu berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Vero yang kini tengah menatap kepergiannya.
Melihat Ghea keluar begitu saja membuat Vero menghela napas, juga berusaha menelan ludah dalam tenggorokkannya yang kelewat sakit.
Awalnya baik-baik saja, namun ketika pulang sekolah Vero merasa ada yang beda dari tubuhnya. Terasa lemas, dengan suhu yang melebihi suhu normal seperti biasanya.
Vero tidak pernah telat makan, tidak beraktivitas yang terlalu melelahkan juga, namun entah kenapa ia bisa jadi sakit seperti ini.
Panggilan dari mamanya sengaja tak ia jawab dengan alasan tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir. Biarlah, sakit seperti ini hanya perlu istirahat yang cukup, besok juga sudah kembali seperti biasa. Biarkan kedua orang tuanya fokus dengan pekerjaannya yang tidak pernah ada habisnya itu.
Vero ... sudah biasa seperti ini.
Di mana ia selalu sendirian, padahal fisik dan batinnya sangat membutuhkan kasih sayang.
-------------
Sore hari setelah pulang sekolah, Ghea dan kedua sahabatnya memutuskan untuk pergi senang-senang sebentar. Mengunjungi pusat perbelanjaan yang sering mereka datangi seperti biasanya.
Awalnya Ghea hendak menolak, namun kedua sahabatnya tidak akan pernah menerima penolakan itu. Lagi pula, senang-senang tidak ada salahnya setelah berminggu-minggu Ghea merasa terluka akibat masalah hidupnya.
"Btw, Ris, lo masih ngambek sama Arka?" tanya Irene.
Ketiga gadis yang sudah mengganti pakaiannya secara dadakan itu kini tengah menikmati makanannya masing-masing. Setelah puas berkeliling, mereka memang memutuskan untuk mengisi perutnya.
Risa dengan menu yang selalu ada olahan ayamnya, Irene dengan sushi favoritnya, dan Ghea dengan seafood kesukaannya.
Risa yang mendengar pertanyaan itu, menghela napasnya pelan. "Tau, deh. Arka cuma minta maaf doang."
Irene mengernyit heran. "Maksudnya dia nggak jelasin apa-apa gitu?"
"Nggak. Bahkan dia nggak ngebujuk gue," balas Risa.
"Sabar aja, Ris. Paling nanti Arka ke rumah lo, dia, kan, orangnya susah ditebak."
"Maybe," balas Risa dengan wajah lesu.
Ghea yang tidak tertarik akan perbincangan itu memilih untuk diam saja. Selain itu, ia juga merasa sedikit tidak semangat hari ini.
Risa dengan segala masalah dalam hubungannya. Arka cuek, itu sudah biasa. Arka diam saja, itu juga sudah jangan ditanya. Masalah yang sedang hangat-hangatnya sekarang adalah mengenai Laura--seseorang yang membenci Risa--ternyata merupakan mantan kekasih dari Arka.
Risa yang memang semulanya tidak tahu, ditambah lagi gadis itu hanya tahu dari kedua sahabatnya, merasa marah, dan kecewa kepada Arka yang notabene-nya diam saja selama ini. Tanpa memberitahunya.
Bahkan, ketika Risa sudah tahu pun, cowok itu hanya minta maaf tanpa penjelasan.
Definisi cowok yang tidak tahu diri. Ketika PDKT pepet-pepetan, giliran sudah dapat malah disia-siakan. Padahal, kalau dipikir-pikir apa yang kurang dari seorang Larisa? Cantik dan body yang mendukung harusnya sudah cukup untuk membuat Arka merasa bersyukur memilikinya.
Itulah sebabnya Ghea memutuskan untuk tidak tertarik dengan pacar-pacaran. Selain belum ada yang cocok, ia juga tidak mau ribet akan masalahnya.
Belum lagi dengan masalah patah hati, perselingkuhan, kekecewaan, salah paham, dan masih banyak lagi.
Memikirkanya saja Ghea sudah malas, apalagi melakukannya.
Jika kalian pikir kalau Ghea tidak tertarik dengan lawan jenis, itu tidak benar sama sekali. Gadis itu masih tertarik, namun tidak untuk sekarang. Pernah jatuh cinta ketika masih duduk di kelas sepuluh, tetapi itu tidak berlangsung lama karena cowok yang membuatnya tertarik saat itu, pindah sekolah.
Sejak saat itu Ghea belum lagi merasakan tertarik dengan seseorang. Mungkin tudak akan pernah lagi, mengingat ia yang sudah memiliki seorang suami.
Memang tidak didasari dengan cinta, namun, apa harus ada perceraian di lain waktunya?
Ghea berharap tidak akan ada. Tetapi jika harus dengan Vero, ia tidak mau juga.
Membingungkan.
"Tumben Ghea diem-diem ae," ucap Irene.
Risa mengangguk mengiyakan. "Tau, tuh. Kalo ada masalah cerita kali."
Cerita? Ghea masih menghindari kata yang terdiri dari enam huruf itu. Meskipun ia sudah mulai menerima semuanya, memang, masalah lalu masih ada di pikiran sampai sekarang.
Berdamai tanpa melupakan.
"Gue lagi gak mood aja," jawab Ghea kembali berbohong.
"Serius?" tanya Risa memastikan.
Melihat Ghea mengangguk, Risa menghela napasnya pelan. "Ya, udah, yuk pulang! Kita, kan, mau happy-happy bareng."
Irene dan Risa beranjak dari duduknya, sedangkan Ghea masih diam di tempat. Melihat Ghea yang tidak bergerak, Irene berdecak pelan. "Ngapain diem aja? Ayok!"
Ghea masih diam sembari menimbang-nimbang ucapannya. Tidak, kali ini ia tidak bisa ikut dengan mereka. Ada sesuatu yang membuat Ghea tidak bisa meninggalkan rumah.
"Ghe? Ayok!"
Ghea menggeleng pelan. "Gue gak ikut, ya?"
Alih-alih mendengar ucapan Ghea, Risa langsung menarik lengan gadis itu dan langsung membawanya keluar.
Ghea yang merasa tidak ada celah untuk menolak, menghela napasnya pasrah. Terpaksa ia meninggalkan Vero yang tengah sakit di rumah, dan lebih memilih ikut bersama kedua sahabatnya.
Sebenarnya Ghea tidak peduli akan keadaan cowok itu sekalipun itu suaminya sendiri, hanya saja, pesan-pesan dari Aruna cukup membuatnya merasa tidak enak hati.
"Sorry, gue tinggalin lo sendirian di rumah," ucap Ghea dalam hatinya.
Semalam, ia memang meninggalkan Vero begitu saja tanpa memastikan keadaan tubuhnya, namun ketika pagi sudah menyapa, ia dibuat kaget dengan suhu tubuh Vero yang kelewat tinggi, juga wajah cowok itu yang terlihat pucat.
Ya, meski tidak tahu diri, pagi tadi Ghea kembali menghampiri Vero di kamarnya, padahal, tanpa perintah dari Aruna.
Untuk apa Ghea melakukan hal itu?