Pembohong

1525 Words
Bodoh jika Ghea tidak menyadari keadaan Vero sekarang. Ya, meskipun dengan cahaya remang, ia bisa melihat raut wajah cowok itu yang tak biasa, juga keringat-keringat yang ada dahinya. Ghea tidak peduli sedikitpun jika saja ini bukanlah titipan dari Aruna. Meskipun mengaku bahwa dirinya tidak tahu diri, setidaknya ia mau berkecil hati untuk mengurus Vero pagi ini. Memang merepotkan. Setelah keluar dari kamar Vero, Ghea memutuskan untuk pergi ke dapur. Menyiapkan apa saja yang ia perlukan untuk mengurus orang sakit. Kompresan dan obat penurun panas, misalnya. Ghea sendiri tidak tahu suhu tubuh cowok itu karena ia memang tidak memastikannya tadi. Salahkan Vero yang terlanjur menyadari keberadaannya, padahal ia belum bertindak apa pun. Setelah kembali, Ghea melihat Vero yang sudah tertidur dengan posisi yang berbeda dari sebelumnya. Terlentang, dengan tangan yang menutupi wajahnya. Menghela napas juga menyiapkan mental agar tidak emosi, Ghea berjalan mendekati cowok itu kemudian mulai melakukan tindakan. Mulai dari menyingkirkan tangannya yang menutupi wajah, posisi selimut yang kurang menutup juga sempat ia benarkan posisinya. "Ngerepotin banget, sih," gumam Ghea dengan tangan yang mulai menempatkan kompresan di dahi Vero. "Kalo gak karena mama lo, gue gak mau repot-repot begini." Lagi, sepertinya satu kali dumelan tidak cukup bagi Ghea. "Harusnya jangan lo lakuin." Ghea mendongak seketika. Matanya mendapati Vero dengan mata yang terbuka. Bukannya merasa takut atau malu sekalipun, cewek seperti Ghea malah semakin emosi melihatnya. "Lo ngerepotin!" desisnya. Vero yang memang dalam keadaan lemah, hanya menghela napas pelan. Jujur, ia juga tidak mau seperti ini. Di mana tubuh yang mulanya selalu kuat, namun entah kenapa akhir-akhir ini sering terasa lemas dan berakhir demam seperti sekarang. Sakit bukanlah kemauannya, tetapi disebut merepotkan ia tidak ada celah untuk mengelak. "Lagian, lo kenapa, sih, disuruh nikah nerima aja? Kalo kayak gini, gue yakin kedepannya gue yang repot terus," ucap Ghea sinis. Vero melirik Ghea sekilas. "Lo gak akan ngerti." "Ya, iyalah. Mana ngerti, kan, gue emang gak tau." Vero tidak menjawab, hal itu membuat Ghea semakin kesal. "Jangan-jangan, lo yang minta nikah sama gue?" "Gila." "Lo yang gila," balas Ghea tak mau kalah. Kalau saja waktu masih sempat, mungkin perdebatan itu tidak akan ada habisnya. Waktu tetap berjalan, dan Ghea harus berangkat ke sekolah secepatnya. Terlihat seperti berdebat hebat, namun percayalah, suara mereka terlalu kecil untuk standar perdebatan. "Lo banyak ngomong," ucap Vero setelah beberapa saat terdiam. Ghea sadar akan hal itu. Memang, ia sendiri merasa heran dengan dirinya yang mau saja membuang-buang tenaga untuk berbicara seperti ini. Harusnya Ghea diam. Tidak usah bicara. Mau bagaimanapun ia menentang dan mencaritahu, semuanya sudah terjadi. Dan kembali ke rencana awal, yang harus Ghea lakukan hanyalah jalani, nikmati, dan mencoba tidak peduli. Apa pun. Melihat Ghea diam saja, Vero mengubah posisinya menjadi duduk bersandar. "Lo gak akan ngerti, dan lo gak perlu tau." Panggilan dari Risa membuat Ghea sadar dari bayang-bayang ketika ia berada di kamar Vero tadi. Gadis itu menghela napas, kemudian beranjak menghampiri kedua sahabatnya yang tengah duduk di balkon kamar Irene. "Jangan ngelamun, Ghe, nanti juga ngalamin," ucap Risa. "Lo mikirin apa, sih? Gue udah bilang, kalo ada masalah, ya, cerita." Irene mengangguk setuju. "Iya, Ghe. Percaya, deh, mendem masalah sendirian itu sulit. Mending berbagi, siapa tau ada solusi. Ya, kan?" Ghea tersenyum samar kemudian ikut duduk bersama mereka. Menikmati angin malam dengan beberapa minuman dan makanan yang ada. Memendam masalah sendirian memang sulit, bahkan sangat sulit. Namun sampai detik ini Ghea belum memiliki keberanian untuk menceritakan semuanya. Sedari dulu, Ghea memang selalu seperti ini. Memendam semua masalahnya sampai lupa begitu saja. Tidak pernah bercerita kepada siapapun kecuali dengan dirinya sendiri. Padahal, ia memiliki dua orang sahabat yang mungkin selalu siap dengan keluh kesahnya. Malam ini, Ghea akan bersenang-senang dengan sahabatnya, menikmati waktu bersama sampai pagi, sampai kembali ke sekolah. Tanpa memikirkan apa yang ia lamunkan tadi. Lagi-lagi, Ghea sadar diri kalau dirinya memang tidak tahu diri. Biarlah, ia yakin kalau tubuh Vero kini sudah jauh lebih baik setelah ia obati tadi. Lagi pula, cowok itu pasti sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Jadi, tidak ada salahnya untuk Ghea bersenang-senang, bukan? ------- Ghea sudah menduga ini sebelumnya. Di mana ketika ia memutuskan untuk tidur bersama kedua sahabatnya, acara bangun kesiangan selalu saja terjadi. Meski tidak terlalu tertarik, nyatanya Ghea ikut nimbrung dengan percakapan Risa dan Irene semalam. Percakapan yang tidak ada ujungnya, percakapan yang membahas segala hal yang berkaitan dengan mereka, atau bahkan membicarakan orang yang mereka kenal. Jika sudah berkumpul, para gadis memang selalu begitu. Di jam seperti ini, masuk melewati jalur depan itu bukan pilihan yang tepat karena akan ada banyak pasang mata yang memperhatikan kedatangan mereka. Tidak mau kena hukuman, alhasil ketiga gadis itu memilih melewati jalur belakang. Melawan rasa takut ketika melewati lorong antara toilet dan gudang yang sudah tak terpakai. Bukan tanpa alasan mereka merasa takut, pasalnya telinga mereka selalu mendengar desas-desus tak enak mengenai kedua tempat itu. Konyol, memang. Sampai di ujung lorong, mereka menarik napas, bersiap untuk melewati lorong itu. Di zaman ini, percaya dengan hal seperti itu memang konyol, tetapi pada kenyataannya, manusia tidak pandai mengendalikan rasa takut. Setelah menyiapkan diri, mereka berjalan pelan menyusuri lorong itu dengan saling bergandengan. Irene dengan keringat dingin juga wajah pucatnya, Ghea yang berusaha bersikap biasa saja, sedangkan Risa terlihat tidak memiliki rasa takut sama sekali. "Tolong ...." Ketiganya kompak berhenti berjalan dengan tubuh yang mulai menegang seketika. Suara perempuan minta tolong dengan nada yang sangat purau. "Tuh, kan, harusnya kita jangan lewat sini," Irene berbisik dengan jari yang meremas baju Ghea. "Suara apa, tuh?" tanya Risa. Ghea menggeleng sebagai jawaban. Bukannya tidak pemberani, namun suara yang ia dengar tadi memang terdengar menakutkan. "Cek, yuk!" ujar Risa, masih dengan suara yang sangat pelan. Sementara Irene yang menolak keras, Ghea merasa penasaran dan langsung mengiyakan ucapan Risa. "Jangan cari masalah, mending kita lari ke kelas. Ayok!" ucap Irene lagi. "Kita cek ke sana." Risa berjalan meninggalkan Ghea dan Irene. "Harus berani, Ren," ucap Ghea, setelahnya ia berjalan mengikuti Risa dari belakang. Bersahabat dengan dua orang yang sama-sana keras kepala membuat Irene harus mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi. Mau tidak mau, meski keringat dingin sudah bercucuran, akhirnya ia menyusul Risa dan Ghea yang sudah mulai membuka pintu gudang itu. -------- Masih pukul dua belas siang, Ghea sudah pulang ke rumah. Menenteng tas yang hari ini belum sempat ia buka. Iya, Ghea tidak masuk hari ini, lebih tepatnya ia dan kedua sahabatnya terpaksa tidak masuk kelas karena ada hal yang tak terduga tadi. Sial karena kesiangan mengharuskan mereka mencari cara lain agar bisa masuk sekolah. Meskipun banyak desas-desus, mereka juga terpaksa melewati gudang sekolah yang katanya ada hantunya. Namun, tidak tersangka, di gudang itu mereka malah menemukan sosok gadis yang amat memprihatinkan. Metta, namanya. Seorang siswi anak IPA 2 itu ditemukan dalam keadaan menangis, juga penampilan yang sangat jauh dari kata baik-baik saja. Memiliki sahabat seperti Risa yang notabene-nya selalu penasaran dan iba terhadap seseorang, Ghea terpaksa menuruti keinginannya untuk menolong Metta. Mengantarkannya pulang. Mencoba bertanya apa alasan Metta menangis semalaman di gudang itu. Dan ternyata, Ghea maupun kedua sahabatnya dikejutkan akan jawaban dari Metta. Benar-benar sulit dipercaya, namun itulah kenyataannya. Ghea tidak pernah tahu menahu kalau di sekolahnya, ada seorang cowok yang setega itu kepada cewek seperti Metta. Setelah pulang dari rumah Metta, sebenarnya Risa dan Irene mengajaknya untuk kembali merefresh pikiran, namun Ghea memilih menolak dengan alasan ia tidak enak badan. Padahal, alasan yang sesungguhnya bukanlah seperti itu. Semalaman ia tidak bisa tidur karena merasa bersalah telah meninggalkan Vero, ditambah lagi, cowok itu yang hari ini kembali tidak masuk kelas seperti kemarin. Hal pertama ketika membuka pintu, Ghea dikejutkan dengan keberadaan Aruna yang tengah berkutat di dapur. Kapan wanita itu pulang? Kenapa ia tidak mengetahuinya? "Mama? Kapan pulang?" Aruna yang tengah membereskan meja makan, menoleh menatap Ghea dengan tatapan heran. "Lho, kok, kamu udah pulang? Ini masih siang, loh." Ghea menelan ludah. Bagaimana? Bagaimana kalau wanita itu tahu kelakuannya kemarin, semalam dan sekarang? Apa yang harus Ghea katakan? "Semalam Mama memutuskan untuk pulang, meskipun papa masih sibuk di sana. Habisnya, Mama khawatir sama Vero." Tubuh Ghea semakin menegang saja kala mendengar itu. Tidak, harusnya Ghea tidak perlu takut seperti ini. Yang harus ia lakukan hanyalah mencari alasan yang tepat. "Kamu kok, udah pulang?" "Ghea nggak enak badan, Ma." Aruna terlihat khawatir. Wanita yang saat ini mengenakan daster rumahan itu menghampiri Ghea kemudian menempelkan punggung tangannya di kening gadis itu. "Badan kamu panas, mau ke dokter?" Haruskah Ghea merasa bersalah akan tingkah lakunya? Ia tidak habis pikir dengan kebaikan Aruna. "Nggak usah, Ma. Ghea mau istirahat aja." "Pasti kemarin kamu kecapean, apalagi semalam kamu harus nginep segala di rumah temen buat ngerjain tugas." Ghea mengernyit heran. Dari mana Aruna mendapatkan informasi yang sama sekali tidak benar itu? Jelas, ia memang menginap di rumah temannya, tapi tidak untuk mengerjakan tugas. Melainkan untuk bersenang-senang. Aruna yang mengerti akan raut wajah Ghea, tersenyum sembari mengusap rambut Ghea dengan tangannya. "Vero yang kasih tahu Mama. Sekarang kamu istirahat, ya? Mama siapin makanan sama obat buat kamu." Lihat, bahkan Vero mencoba membuatnya terlihat baik di depan Aruna. Padahal, ia pergi tanpa pamit, menginap pun ia tidak memberitahu cowok itu. Sudahlah, Ghea semakin merasa bersalah. Ia juga tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Sudah tidak tahu diri, sekarang menjadi pembohong pula. bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD