Saling menerima

1534 Words
Semenjak persoalan berbohong dan tidak tahu diri itu, sekarang Ghea merasa tidak enak hatu jika bertemu Vero. Seperti merasa bersalah, namun tidak tahu letak kesalahannya di mana. Pikiran Ghea memang serumit itu. Mulai sekarang gadis itu jadi bertekad untuk berubah, setidaknya tidak terlalu over seperti kemarin-kemarin. Lebih menghormati Aruna, contohnya. Kebaikan wanita itu cukup membuatnya sadar tentang apa yang tidak seharusnya ia lakukan. "Eh btw, gimana kelanjutan kasus Metta?" tanya Irene. Risa yang tengah duduk bersandar di tembok kelasnya, menghela napas pelan. "Si Frozen gak mau tanggung jawab." Spontan Irene menggebrak meja sembari menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa, Metta sudah susah akan kehamilan dan kondisi hidupnya, tetapi si b******n Fauzan malah tidak mau bertanggung jawab. Tidak sadar perbuatan sendiri. Harusnya, jika akhirnya tidak mau bertanggung jawab, ketua dari geng Zayeoune itu tidak perlu menjadikan Metta sebagai alatnya. Cowok murahan. "Gila, ya, Fauzan ganteng doang, berani nikmatin gak berani bertanggung jawab," ucap Irene emosi. "Emang gila, tuh, orang," sahut Ghea. Tidak peduli sekalipun, masalah ini tetap menyentuh sisi positif Ghea. Risa mengangguk pelan. "Tapi kita jangan nyerah gitu aja, harus tetep bantuin Metta." "Harus!" ucap Irene mantap. "Bagaimanapun, ketua geng itu harus tanggung jawab." Ghea sadar, di era sekarang, kasus seperti Metta memang bukan untuk yang pertama kalinya. Melihat pergaulan yang sudah melesat jauh---termasuk ia dan sahabatnya juga---hal seperti itu seakan sudah menjadi kata 'biasa'. Padahal, tidak seperti itu. Kesannya, kata 'mahal' bagi perempuan tidak ada arti bagi mereka para lelaki yang tidak tahu diri. Demi apa pun, senakal apa pun Ghea dan sahabatnya, sejauh mana pun mereka pergi, semalam apa pun mereka pulang, hal 'menjijikan' itu mereka pastikan tidak akan pernah terjadi dalam hidup mereka. Kecuali sudah dalam waktu dan tempat yang tepat, tentunya. "Ghe, kapan-kapan ke rumah, lo, yuk? Orang tua lo masih sibuk?" tanya Risa. Dari sekian banyaknya topik pembicaraan, topik ini yang paling Ghea hindari pembahasannya. Dari alasan, cara menghindar, juga bagaimana menjelaskannya kepada mereka membuat pikiran Ghea kadang menjadi gila. Pusing harus bagaimana. Sudah seperti ini, gadis itu jadi merasa bertahan lelah, berterus terang merasa gundah. Benar-benar tidak tahu harus bagaimana. "Iya, Ghe. Bosen di rumah gue terus, kali-kali ke rumah lo, yuk?" sambung Irene. Ghea menarik napas agar bisa menghadapi obrolan ini setenang mungkin. Bukannya apa, terlihat gugup hanya akan membuat mereka curiga kepadanya. "Gak bisa, hari ini orang tua gue ada di rumah." Risa yang mendengar itu terlihat berbinar. Bukan tanpa alasan, pasalnya, semenjak kenal dengan Ghea, ia sangat jarang bertemu kedua orang tua gadis itu. Sesekali mereka bertemu, itu pun ketika ada acara kenaikan kelas saja. "Ya, bagus, dong! Gue mau deket sama orang tua lo, kalian berdua, kan, udah deket sama mama gue," ucap Risa antusias. Irene menghela napas. Ya, dari mereka, yang selalu stay di rumah memang hanya Lusi--mamanya Risa. Papa dari gadis itu sibuk di Jerman, kedua orang tua Irene sibuk di luar juga. Sedangkan kedua orang tua Ghea memang sering tidak di rumah karena sibuk ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. Kadang Irene merasa iri, namun apa yang harus diirikan? Masing-masing dari mereka sama-sama memiliki orang tua yang jauh, sibuk dengan pekerjaan sampai lupa bagaimana rasanya merindukan saking rindunya. "Apa kabar sama kedua orang tua gue?" tanya Irene dengan raut wajah yang penuh kesal. Ghea berdecak pelan. "Bokap nyokap gue juga ada tamu nanti malem, jadi, tetep gak bisa." Lagi? Ghea terlalu jauh berbohong sehingga sekarang, gadis yang sering disebut sosok antagonis itu tidak tahu bagaimana caranya untuk jujur. Terkadang Ghea berpikir ketika ia tengah merenung sendiri di kamarnya. Ketika Risa dan Irene tahu kebenarannya, apa tanggapan mereka nanti? Menertawakan? Mengasihani Ghea? Atau ... marah karena tidak diberitahu sedari dulu? Yang paling Ghea takutkan dari respons mereka adalah pertanyaan yang kedua. Kedua sahabatnya itu tidak mungkin menertawakan, tetapi sudah pasti merasa kasihan. Terlebih lagi rasa marah sudah pasti hadir ketika mereka mengetahuinya nanti. "Ah, gak asik. Tapi btw, mobil lo baru?" tanya Irene setelah sedikit kecewa dengan ucapan Ghea yang tadi. "Iya, tuh. Orang tua lo baik banget, sampai ngasih keluaran terbaru gitu," sambung Risa. Tidak bisa dihindari, ucapan Risa barusan berhasil menoreh sedikit luka di hati Ghea. Bukan, bukan karena ucapannya yang menyakitkan, namun karena kenyataan yang sesungguhnya bukan seperti itu. Orang tua kandung Ghea memang baik, bahkan sangat baik sampai tidak pernah mempermasalahkan apa yang Ghea lakukan. Tetapi sikap baik itu kalah dengan rasa sakit yang Ghea rasakan. Sedangkan orang tua angkatnya yang sekarang, mereka memang memfasilitiasi semua kebutuhan Ghea, tetapi tidak dengan kasih sayangnya. Bagi Ghea, mereka semua sama saja. ------- Terlalu sering sendiri membuat Vero sudah merasa terbiasa dengan kesepian dan kemandirian. Sejak SMP, ia sudah sering ditinggal oleh kedua orang tuanya. Di rumah, dan hanya sendirian. Sebenarnya, Farhan maupun Aruna sudah menyarankan agar mencari asisten rumah tangga, setidaknya untuk menjaga rumah sekaligus mengurus Vero ketika mereka sedang tidak di rumah. Namun, Vero menolak keras dengan alasan ia takut kejadian dulu terulang lagi. Kejadian yang membuatnya menjadi seperti ini. Terlalu diam, dan selalu mengikut aturan kedua orang tuanya. Terlebih lagi, Farhan dan Aruna tidak suka berontak dan pertentangan. Hal itu selalu membuat Vero tidak baik dalam keadaan baik-baik saja. Parahnya, ia tidak pernah bercerita keadaannya kepada siapa pun. Bahkan, dirinya sendiri pun suka menentang akan adanya hal itu dalam hidupnya sendiri. "Lagi ngapain?" Vero yang tengah menyiapkan makanan untuknya, menoleh ketika mendengar suara. Ternyata Ghea yang baru saja pulang dengan seragam yang masih melekat dalam tubuhnya. Padahal, ini sudah pukul tujuh malam. "Keliatannya lagi apa?" balas Vero dengan nada datar. Ghea menghela napas. Alih-alih pergi ke kamar, gadis itu malah berjalan menghampiri Vero dan melihat apa yang tengah cowok itu lakukan. Ternyata, menyiapkan semangkuk mie instan. "Kemarin, kenapa lo bohong?" tanya Ghea, menanyakan perihal kebohongannya kemarin. Sebenarnya, Ghea akan tetap jujur kalau malam itu ia pergi bersenang-senang dengan sahabatnya dan meninggalkan Vero di rumah dalam keadaan sakit. Tetapi Vero sudah terlanjur berbohong kepada Aruna, yang mana hal itu mau tidak mau mengharuskan Ghea untuk melanjutkannya. Vero mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, kemudian mulai melahap makanannya. "Soal apa?" tanyanya di sela-sela makan. "Soal kerja kelompok," jawab Ghea dengan suara pelan, seakan ragu dengan perbincangan ini. "Gue cuma berusaha lindungin lo." Ghea terkejut, tentu saja. Ucapan Vero barusan membuatnya sedikit merasa curiga sekaligus penasaran. "What?" "Jangan geer, lo hanya belum tau mereka kalo marah kayak gimana." Vero menjawab tenang, dengan tangan yang mengaduk mie instannya. "Emang gimana?" Ghea masih penasaran dengan keluarga ini, jadi, ia tidak akan berhenti mengulik informasinya. "Nanti ada saatnya lo tau." "Gue maunya sekarang." Vero berhenti mengunyah, matanya melirik Ghea yang kini tengah berdiri bersebrangan dengannya. "Cari tau sendiri." "Kasih gue clue setidaknya sedikit aja," bujuk Ghea. Vero menghela napas. "Apa yang ada di rumah ini, harus berjalan sesuai keinginan mereka." Tidak mengerti, Ghea mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?" Vero tidak melanjutkan makannya. Cowok bersetelan casual itu berdiri, dengan mata yang lurus menatap Ghea. "Mari saling menerima satu sama lain." Ghea semakin bingung, ia berjalan mendekati Vero dengan segudang pertanyaan di kepalanya. Apa maksud cowok itu? Kenapa ucapannya terdengar aneh di telinga Ghea? Saling menerima itu maksudnya apa? Ghea menggeleng pelan. "Gue bener-bener gak ngerti sama ucapan lo." "Mari saling menerima, dan jalani hidup sesuai jalan masing-masing." Vero menghela napas. "Lo dengan kehidupan lo, gue dengan kehidupan gue. Gue gak akan larang apa pun yang mau lo lakuin selagi itu masih dalam batas wajar, begitupun sebaliknya, lo gak berhak larang." Vero bergerak mengambil segelas air, setelah meminumnya, ia meletakan gelas itu dan kembali menatap Ghea. "Mari saling melindungi apa pun kesalahan kita dari mama papa, dan saling membantu semisal salah satu dari kita saling butuh." Demi apa pun, Ghea tidak mengerti jalan pikiran Vero saat ini. Bingung dengan maksud semuanya. Gadis itu kembali menggeleng pelan. "Demi, gue gak paham." "Yang harus kita lakuin cuma hidup sesuai kenyataan, tapi mungkin sesekali harus berdrama." "So?" ucap Ghea. Vero menarik sudut bibirnya. "Gue yakin lo ngerti apa, kenapa, dan gimananya." Tidak memberi penjelasan lebih, Vero berlalu meninggalkan Ghea sembari membawa mangkuk yang berisi makanannya. Terlihat tidak merasa bersalah setelah membuat Ghea kepo setengah mati di tempatnya. Apa-apaan? Ucapan Vero sama sekali tidak mengandung penjelasan yang Ghea inginkan, yang ada hanyalah ucapan yang dapat menarik unsur rasa penasaran. Saling menerima maksudnya apa? Ghea belum paham akan hal itu. Apalagi dengan ucapan yang katanya, apa pun yang ada di rumah ini, harus berjalan sesuai keinginan Farhan dan Aruna. Sejauh ia tinggal di rumah ini, peraturan dari Farhan memang terlalu ketat, apalagi dengan persoalan pernikahan itu yang sama sekali tak terbantahkan. Tetapi, maksud ucapan Vero apa? Ghea menghela napas kemudian berjalan untuk menuju kamarnya. Biarlah, mungkin ia akan mengetahui apa pun yang ada di rumah ini, seiring dengan berjalannya waktu. Selesai menapaki anak tangga, Ghea berpapasan kembali dengan Vero yang hendak turun ke bawah. "Ucapan lo bikin gue pusing," ucap Ghea dengan nada sinis. "Jangan dipikirin," balas Vero. Keduanya masih sama-sama diam, saling menatap dengan tatapan-tatapan yang sulit dijelaskan. Ghea dengan tatapan kesalnya, sedangkan Vero dengan tatapan datarnya. "Tolong jelasin, gue penasaran," ucap Ghea lagi. Vero menghela napasnya pelan. "Nanti juga tau sendiri." "Lo gila, ya, Ver. Kalo gue bisa tau dari lo sekarang, ngapain harus nunggu nanti?" Ghea semakin kesal di tempatnya. "Gue takut lo terkejut kalau lo tau sekarang." Setelah mengatakan itu, Vero berlalu meninggalkan Ghea tanpa rasa bersalah sedikitpun. bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD