Pencarian Mira

1251 Words
Di kantor, aku sedang mengerjakan laporan kasus kematian Danya, tadinya aku dan Ario hendak menanyakannya di mana keberadaan putranya, Dion. Namun Danya malah pergi untuk selamanya dengan cara yang tragis, aku sama sekali tidak habis pikir dan penasaran kenapa dia melakukan bunuh diri? Sangat disayangkan kasus kematian Danya ditutup karena korban dinyatakan bunuh diri. Aku merasa merasakan bahwa ada sesuatu di balik semua ini, karena masih penasaran, aku langsung pergi ke ruangan Bagas sambil membawa laporan hasil penyelidikanku.            “Bagaimana kemarin?” tanyaku setelah duduk di kursi, Bagas hanya menghela nafas, dirinya kelihatan seperti sedang kebingungan harus memulai dari mana.            “Kemarin aku dan timku mengintrogasi Ario tentang tuduhan manipulasi hasil otopsi kematian Toto Maris namun dia terbukti tidak bersalah setelah timku menyelidikinya.” Jawab Bagas lesu.            “Ario sudah cerita padaku kemarin masalah itu, lalu bagaimana dengan bukti yang katanya di manipulasi itu?”            “Masih dalam penyelidikan,”            “Jadi Toto Maris itu adalah korban pembunuhan? Bukan bunuh diri?”            “Kemungkinan, karena kami masih menyelidiki,”            “Lalu apa Danya juga kemungkinan dibunuh? Bukan bunuh diri?”            “Danya terbukti bunuh diri, bukan kasus pembunuhan.”            “Kenapa kasus Toto Maris tidak dianggap bunuh diri saja, agar kasusnya segera ditutup?”            “Apa benar kamu polisi? Kenapa kamu malah berkata seperti itu?”            “Entahlah, kasus ini semakin rumit,”            “Pergilah, selesaikan kasus Maya secepatnya, waktumu semakin sedikit!” Aku hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi lalu pergi meninggalkan ruangan Bagas.            “Bagaimana? Apa kata Pak Bagas? Kamu dimarahi oleh Pak Bagas? Soalnya kamu tadi lama di ruangannya.” Kata Ario yang sudah berada di meja kerjaku.            “Enggak, kenapa Bagas harus memarahiku? Laporannya sudah diterima,” jawabku ketus.            “Lalu kita akan pergi ke mana hari ini?” tanya Ario lagi.            “Kita akan pergi mencari Mira, Devan dan Indra,” tukasku.            “Kamu sudah mendapatkan alamatnya?”            “Belum, tapi kita akan mencarinya ke rumah Danya, aku yakin di sana kita akan mendapatkan petunjuk. Seger acari alamat rumah Danya, kita pasti mendapatkan sesuatu di sana, aku yakin.”            “Oke!” Ario segera kembali ke meja kerjanya dan menelepon penjaga di lapas tempat Danya di bui.            Setelah sekitar tiga puluh menit aku dan Ario akhirnya sampai di sebuah rumah besar yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan. Sangat kontras dengan kondisi Danya yang sedang di penjara. Aku dan Ario segera menanyakan kepada petugas keamanan, tentang Danya dan suaminya serta latar belakang keluarga itu. Pak Udin (Satpam rumah Danya)            “Bu Danya itu orangnya baik, dia suka memberi makanan dan sembako ke orang-orang gak dikenal bahkan Ibu juga yang membiayai sekolah anak-anak saya, kalau Pak Adi, gimana ya, duh saya gak enak ngomongnya karena orangnya udah meninggal, tapi kenyataannya Bapak itu ya memang orangnya galak. Pernah saya nyaksiin Bu Danya dipukul kepalanya sama Bapak hanya gara-gara Bu Danya telat nyiapin sarapan. Saya sebenernya pengen nolong, tapi yaa takut Bapak Marah, apalagi Bapak sering nyangka saya sama Bu Danya ada hubungan yang gak biasa karena Bu Danya suka ngasih makanan yang banyak buat saya dan keluarga di rumah. Jadi saya gak bisa buat apa-apa karena saya takut dipecat sama Bapak. Kalo inget kejadian itu, saya merasa menyesal karena gak nolongin Ibu, saya hanya melihat Ibu disiksa di hadapan saya dan saya hanya diam saja, saya terlalu takut dipecat, kalau saya dipecat, istri sama anak-anak saya nanti makan apa? Sedangkan zaman sekarang nyari kerja susah apalagi saya cuma lulusan SMP. Saya sangat sedih mendengar Ibu meninggal bunuh diri, kasihan, saya pernah lihat Ibu menangis diam-diam sendirian di taman, dia gak punya keluarga, yang dimiliki hanya putranya saja Dion. Waktu Ibu ditangkap, saya udah gak kaget, soalnya Ibu sering bilang ‘akan kubunuh orang itu!’ saya kasihannya sama Dion yang masih kecil harus menyaksikan ibu kandungnya diboorgol polisi. Sama Ibu saya disruruh untuk menghubungi salah satu saudaranya yang bernama Bu Mira, dan Ibu bilang, Dion dititipkan saja sama Bu Mira. Saya baru tahu kalau ternyata Ibu punya saudara, selama ini yang saya tahu Ibu itu gak punya saudara. Pas Bu Mira datang, wajahnya sangat berbeda sama Ibu, kalaau ciri-cirinya itu orangnya agak gemuk, matanya belo, penampilannya sederhana, gak seperti penampilan Ibu yang glamour dan penuh dengan barang-barang mewah. Bu Mira langsung membawa Dion, dia hanya memberikan kertas ini kalau ada orang yang bertanya, mungkin yang dimaksud oleh Bu Mira adalah mbak sama mas ini.” Aku menerima secarik kertas berisi nama dan nomor telepon. Aku langsung memberikan nomor itu pada Ario agar bisa melacak alamat rumah tersebut. Bi Sur (Asisten Rumah Tangga Danya)            “Bu Danya sebenarnya hanya membela diri Bu Polisi, dia gak salah yang salah itu Pak Adi, dia suka mukul Ibu tiap hari sampai Ibu babak belur.  Dion sering saya urus, pas waktu ada saudaranya Ibu, Dion diserahkan ke Bu Mira. Kata Ibu, nanti kalau Ibu keluar dari penjara, dia akan segera mengambil Dion lagi dan berkumpul bersama lagi. Tapi sekarang Ibu udah gak ada, saya marah sama Ibu, kenapa Ibu bertindak bodoh seperti itu, apa dia gak kasihan sama Dion? Istri tuanya Pak Adi datang sambil marah-marah mengetahui kalau suaminya punya istri lagi, dia minta rumah ini dan semua hartanya Pak Adi yang ada di rumah ini. Namun rumah ini sudah atas nama Dion, sehingga istri pertamanya Pak Adi gak bisa menggugat, sebenarnya saya sama Pak Udin bisa saja pergi dari rumah ini dan mencari pekerjaan lain, tapi saya kasihan sama Ibu, kami berharap suatu hari nanti Ibu bisa keluar dari penjara, tapi sayangnya Ibu udah gak ada. Kami hanya membalas hutang budi saja ke Ibu karena Ibu sudah membantu membayarkan biaya operasi suami saya dan juga baiya kuliah anak saya sehingga sekarang anak saya udah lulus dan kini sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Pak Udin juga sama, ketiga anak-anak Pak Udin di sekolahkan sampai kuliah, sekarang mereka sudah bekerja dan jadi orang besar. Kami di sini ya ingin membalas kebaikan Ibu yang sudah begitu baik sehingga kami dan keluarga bisa merubah taraf hidup kami menjadi lebih baik atas bantuan dan kebaikan Ibu.” Setelah merasa cukup mewawancarai dua orang yang menjaga rumah Danya, kami segera mencari alamat rumah yang berhasil kami lacak melalui nomor telepon yang diberikan. **            Setelah sampai di alamat tujuan, aku dan Ario bertemu dengan seorang wanita dengan kisaran usia sekitar 30 tahunan, namun nama wanita itu bukanlah Mira melainkan Anita, dan dia sama sekali tidak mengenal Danya maupun Dion. Kami pun mencocokkan nomor telepon yang diberikan oleh Pak Udin, memang benar nomor telepon itu adalah milik wanita itu tapi yang kami maksud bukanlah wanita bernama Anita.            “Apa Pak Udin sengaja memberikan nomor telepon palsu agar kita gak bisa menemukan Dion?” tanya Ario padaku ketika kami sudah berada dalam mobil.            “Entahlah, aku juga bingung dengan semua ini, bagaimana mungkin Pak Udin memberikan nomor telepon yang salah?” jawabku sambil berfikir.            “Sepertinya Pak Udin mempermainkan kita, apa kita harus pergi lagi ke rumah Danya?”            “Entahlah, lagipula ini sudah hampir malam, tapi kita belum mendapatkan petunjuk apa-apa. Lebih baik kita pulang saja, besok kita kembali lagi ke rumah Danya, aku sudah meminta Arnold untuk mencari tahu identitas Pak Udin dan Bi Sur, alamat rumah dan nomor telepon mereka sudah kudapatkan, berikut dengan identitas anak-anaknya, jadi jika mereka terbukti mempermainkan polisi, mereka akan segera mendapatkan resikonya. Kita sudahi saja dulu pencarian ini.” Ujarku. Mobil yang membawa kami berdua membelah jalan yang dipenuhi oleh area persawahan dan kebun, seperti layaknya situasi pedesaan yang seolah tak asing bagiku. Namun aku tidak tahu kapan aku pernah ke tempat ini. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD