Kecurigaan

1474 Words
Setelah selesai membaca buku catatan Danya, aku kaget karena ternyata Danya memiliki seorang putra dari suaminya itu. Namun di catatannya tidak ditemukan putranya itu dititipkan kepada siapa. Aku lantas mengambil buku catatan milik Maya, dan membaca catatannya yang menyinggung nenek dan sepupu-sepupunya. Aku berkeyakinan kalau Dion, anak kandung Danya itu dititipkan kepada Mira atau Devan. Berarti selama ini Danya mengetahui keberadaan keluarganya itu. Aku meminta Ario untuk kembali menuju rumah sakit narapidana tempat Danya dirawat.            Kejadian tak terduga datang sesampainya kami di sana, sudah berjejer tiga mobil polisi, aku juga melihat Bagas di sana. Aku heran, ada kejadian apa?”            “Bagas, ada apa ini? Kenapa kalian ada di sini?” tanyaku to the point pada atasanku itu.            “Kamu dari kantor dulu tadi?” Bagas malah balik bertanya, dia melirik ke arah Ario, lalu melihatku, aku tahu itu kodenya, dan aku menggelengkan kepalaku, tanda bahwa Ario sama sekali belum tahu tentang kasus yang dibicarakan olehku dan Bagas tadi malam.            “Tidak, kami langsung ke sini untuk menanyakan sesuatu kepada Danya. Ada apa ini Bagas?” Bagas diam tak menjawab, dan aku melihat dua orang tenaga kesehatan sedang menggotong sebuah kantung mayat.            “Siapa yang meninggal?” tanyaku lagi pada Bagas.            “Tadi pagi sekitar pukul tiga, perawat menemukan Danya dalam keadaan meninggal gantung diri di bangsal tempatnya dirawat menggunakan selendang miliknya.” Jawab Bagas dengan nada sedih.            “Apa? Danya meninggal?” aku kaget setengah mati, karena baru kemarin dia berjanji padaku bahwa dia akan terus hidup apapun yang terjadi. Dan dia juga akan menengok Maya di rumah sakit sebelum operasi donor organ. Tanpa sadar aku berlari ke dalam ambulance untuk memastikan apakah mayat tersebut adalah Danya atau bukan. Tubuhku langsung lemas, ketika melihat kenyataan yang terjadi bahwa yang terbujur kaku itu memang benar Danya. Ario dengan sigap langsung memapahku untuk duduk di sebuah bangku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, bagaimana mungkin kasus yang terlihat mudah ini malah menjadi sedemikian peliknya, apa yang sebenarnya terjadi?            “Sebaiknya kalian pergi ke kantor saja, biar penyelidikan ini biar kami yang urus.” Suruh Bagas padaku dan Ario. Aku masih belum beranjak dari bangku dan masih memikirkan semua yang terjadi saat ini. Ario memapahku ke dalam mobil, entah kenapa aku merasa sangat lemas setelah melihat mayat Danya, padahal sebelumnya aku terbiasa melihat banyak mayat baik itu korban kecelakaan maupun korban pembunuhan. Namun aku tidak pernah selemas ini, apa mungkin aku sudah merasa menyatu dengan kasus ini sehingga orang-orang inti yang terlibat dengan kasus ini sudah terasa dekat denganku? Sepanjang perjalanan menuju kantor aku tidak bisa berfikir jernih, karena pikiranku diliputi dengan berbagai kasus kematian yang ada kaitannya dengan kasus Maya yang pada awalnya kuanggap sederhana itu. Bagaimana mungkin Danya yang kulihat kemarin begitu optimis setelah aku dan dia saling membuka luka masing-masing sehingga dia berjanji akan mulai menata hidupnya lagi malah mengingkari janjinya?            “Sebaiknya kamu tidak usah pergi ke kantor, biar aku saja yang mengurus pekerjaan, kamu istrirahat saja di rumahku, biar ibuku menjagamu.” Kata Ario dengan nada khawatir, setelah melihatku seperti masih shock setelah kejadian itu.            “Kenapa harus di rumahmu? Aku bisa pulang ke apartemenku sendiri.” Jawabku, mataku kosong menatap jalan.            “Kalau di apartemen, kamu sendirian, khawatirnya kamu kenapa-napa, kalau di rumahku ada ibu dan adikku jadi kamu gak ngerasa kesepian. Aku sama sekali gak maksud untuk ngehina atau memaksa kamu, hanya saja aku ngerasa khawatir.” Ujar Ario hati-hati, aku pun menatapnya dan menggangguk bersedia untuk tinggal sementara di rumah Ario.            Aku disambut oleh ibunya Ario dengan hangat, aku beristirahat di kamar Ario, sedangkan Ario pergi ke kantor. Di samping itu aku disambut dengan sangat baik di sana, adiknya juga ramah dan mudah bergaul sehingga aku tidak terasa mati gaya. Aku diantar oleh Andien, adiknya Ario ke kamar Ario.            “Silakan kak, semoga kakak nyaman ya istirahat di kamar kak Ario, soalnya dia itu orangnya berantakan sebenarnya kak,” kata Andien sambil membereskan barang-barang Ario yang masih tergeletak tidak pada tempatnya. Aku hanya mengangguk, dia pun berlalu meninggalkanku. Aku merebahkan tubuhku di kasur empuk milik Ario, tubuh dan hatiku sangat lelah setelah kejadian yang menimpa Danya. Mataku seolah terasa berat, aku pun tertidur dengan perasaan yang tak menentu.            Aku terbangun karena suara orang mengetuk pintu sambil sayup-sayup terdengar seperti suara Andien memanggil namaku. Aku pun terbangun dan kulihat di jendela hari sudah gelap. Aku pun segera membuka pintu kamar.            “Maaf kak, Andien ganggu ya? Kata ibu kak Alya makan dulu,” ujar Andien di depan pintu kamar, aku hanya mengangguk mengiyakan, kemudian Andien segera turun lagi ke bawah. Aku segera ke kamar mandi membasuh muka bantalku karena bangun tidur. Setelahnya aku pun langsung turun ke bawah untuk makan. Di sana Ario sudah pulang, dia tersenyum melihatku, aku pun balik tersenyum. Aku baru sadar bahwa Ario sedang dicurigai, apa Bagas sudah menyelidikinya? Tapi Bagas belum menghubungiku juga, ponselku bersih dari notifikasi.            “Apa kamu sudah baikan Al?” tanya Ario setelah aku duduk di meja makan.            “Iya, sekarang sudah baikan kok, kamu sejak kapan pulang? Kok gak bangunin aku?” tanyaku balik sambil menyendok nasi.            “Aku pulang baru lima belas menit yang lalu kok, tadi kata ibu kamu masih tidur, jadi aku biarin aja, kasihan kamu pasti lelah.”            “Sudah, sudah kalian makan dulu jangan ngobrol terus, nanti disambung lagi ngobrolnya kalau udah selesai makan.” Ujar ibunya Ario.            “Iya tante,” jawabku sambil menyuap tumis kangkung yang dibuat oleh ibunya Ario ke dalam mulutku, aku benar-benar lapar karena tadi siang perutku tidak diisi makanan apapun karena langsung tidur.            “Nak Alya, lebih baik kamu menginap sehari lagi di sini, soalnya mendengar apa yang telah dialami nak Alya ini ibu jadi khawatir, apalagi nak Alya tinggal sendiri. Jadi di sini nak Alya bisa tidur di kamarnya Ario, sedangkan Ario tidur di sofa aja.” Kata ibunya Ario ketika aku hendak membawa tasku di kamar Ario karena akan pulang.            “Ehm, makasih sebelumnya tante, aku langsung pulang aja karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Tolakku, tapi ibunya Ario malah menggenggam tanganku agar menginap sehari lagi di rumahnya. Aku agak sungkan untuk menolak untuk yang kedua kalinya apalagi Ario dan Andien mengharapkan keinginan yang sama, apalagi di luar sudah mulai hujan. Sebenarnya hujan bukan alasan sebenarnya untuk menetap sehari saja di rumah Ario namun karena aku merasa nyaman dengan kebaikan keluarga Ario padaku, yang sudah lama aku tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti itu. Aku pun akhirnya mengiyakan untuk menginap sehari di rumah Ario, di samping itu aku juga harus berbicara dengan Ario tentang kasus kematian Danya dan juga apakah Bagas sudah mengatakan pada Ario bahwa dia terlibat dalam memanipulasi hasil otopsi, juga kondisi di kantor polisi hari ini dan lain-lain.            “Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Danya melakukan bunuh diri?” tanyaku memberondong Ario ketika kami berdua berada di teras rumah Ario yang luas.            “Hasil otopsi membuktikan bahwa itu adalah tindakan bunuh diri, tidak ada indikasi pembunuhan di tubuh Danya.” Jawab Ario santai sambil dirinya menghisap vape. Aku baru tahu kalau Ario adalah seorang perokok aktif, selama ini dia tidak pernah menunjukan kepadaku bahwa dia adalah seorang perokok.              “Ini tidak mungkin, kemarin Danya benar-benar seperti tidak menunjukan tanda-tanda depresi, bahkan dari binar matanya saja dia terlihat sangat optimis, seolah ingin hidup seribu tahun lagi.” Ujarku kecewa.            “Tapi kenyataannya dia terbukti bunuh diri,” aku melihat ke arah Ario yang terlihat sangat santai menanggapi kasus kematian Danya, padahal dia juga bersamaku bertemu dengan Danya  dan berinteraksi dengannya.            “Lantas dari mana Danya mendapatkan tali untuk menggantung lehernya sendiri?”            “Dia menggantung lehernya menggunakan selang infus.”            “Apa? Itu tidak mungkin, selang infus itu tipis, pasti tidak akan mampu menanggung beban tubuh Danya.” “Alya, tapi kenyataan yang terjadi, Danya meninggal bunuh diri, kamu harus terima itu.” “Aku heran dengan respon kamu sekarang, kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu, apa kamu tidak merasakan sesuatu, kehilangan seseorang yang kamu tahu walau tidak terlalu mengenalnya?” “Apa maksud kamu Al? sudahlah, aku lelah, tadi juga di kantor, aku diintrogasi oleh Pak Bagas tentang manipulasi hasil otopsi Toto Maris, apa-apaan itu? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa, aku hanya mengambil hasil otopsi dari forensik lalu setelah itu aku serahkan pada Pak Bagas, seharusnya mereka bukan mengintrogasi aku melainkan tim forensik kalau ada kekeliruan dalam menganalisis,” melihat Ario yang begitu frustasi, aku menjadi tidak tega untuk bertanya lebih lanjut. Aku pun menyuruhnya untuk berisitirahat. “Kak Alya, ini baju ganti untuk kakak, aku taruh di kasur ya.” Kata Andien ketika melihatku kembali ke kamar. Aku hanya mengangguk ke arah Andien. Andien seolah tahu kalau aku sedang pusing, jadi dia segera pergi setelah meletakan baju ganti di atas kasur. Aku merasa bahwa Ario menyimpan sesuatu yang tidak kuketahui, aku juga belum mengenal Ario secara utuh, dan aku akan selidiki partner kerjaku itu diam-diam.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD