Rahasia Danya

1744 Words
Pagi harinya aku menunggu Ario di halaman parkir dalam kondisi mengantuk karena kurang tidur. Memikirkan perkataan Bagas tadi malam yang sempat membuatku kepikiran sehingga yang tadinya aku hendak membaca buku catatan Danya malah tidak jadi. Aku pun jadi agak risih ketika mengobrol dengan Ario. Namun aku mencoba untuk bersikap biasa saja sesuai perintah Bagas agar Ario tidak curiga. “Kamu gak jemput Bagas?” tanyaku pura-pura. “Enggak, tadi Pak Bagas telpon untuk gak usah jemput karena dia lagi ada kasus lain.” Jawab Ario. Aku hanya mengangguk pelan lalu naik ke mobil. Dalam perjalanan menuju kantor, aku membuka buku catatan milik Danya dan mulai membacanya, karena tadi malam aku malah overthinking dengan kasus baru yang dibawa oleh Bagas. Dalam buku catatan Danya Apriani Februari 2021 Ketika aku menulis ini, berarti aku sedang dalam keadaan waras, setelah pergulatan batin yang panjang, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Tidak ada gunanya jika aku terus-terusan mempertahankan hidup yang sudah hancur ini. Konseling yang diberikan tidak membuatku merasa lebih baik, segala terapi, hypnosis semuanya tidak membuatku baik-baik saja. Setelah Anjas datang menengokku di penjara, awalnya aku senang, ternyata diantara banyak orang yang mengenalku hanya Anjas yang masih peduli padaku. Namun disamping itu aku merasa malu dengan kondisiku yang kini berada dalam penjara. Sehingga aku merasa tidak percaya diri ketika bertemu dengan mantan pacarku itu. Aku dan Anjas bernostalgia dengan menceritakan masa-masa indah kami ketika berpacaran dulu, kami juga saling bertukar kisah hidup, dia yang pada dasarnya juga memiliki kehidupan yang berat, dia diceraikan oleh istrinya, punya banyak utang, dan hidup di sebuah kontrakan kumuh dengan pekerjaan serabutan. Yang lebih menggelikan lagi, katanya hidupku lebih baik dibanding dengan hidupnya yang seperti benang kusut, baginya hidup di penjara lebih enak karena diberi tempat tidur dan makan gratis, sedangkan di luaran sana untuk makan saja dia harus pontang-panting menjadi pekerja kasar hanya untuk sesuap nasi. Ironis memang, aku di sini mendambakan kebebasan sedangkan dia malah ingin terpenjara. Selama hampir lima bulan di penjara pun aku serasa ingin mati, aku kesepian. Pasca Anjas datang menengokku, hatiku semakin terasa hampa, perasaan yang sama ketika aku masih bekerja di bar sebagai wanita penghibur. Entah kenapa aku yang pernah mengecap bangku kuliah meskipun tidak selesai malah terjerumus ke dalam pekerjaan itu. Pada awalnya begitu lulus SMA, aku memutuskan untuk kuliah di luar kota, dan ternyata kehidupan gemerlap kota membuatku terpesona dan malah tergelincir. Aku yang merasa memiliki segalanya yang dimiliki oleh para wanita, kecantikan, tubuh yang ideal, usia muda, kecerdasan dan status pendidikan, semua itu menjadi boomerang untukku. Meskipun aku sudah mengenal pergaulan bebas ketika di SMA, tak membuatku bertobat dan malah semakin menjadi-jadi. Dengan kecantikan bak dewi yang kumiliki, aku dengan mudahnya bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kumau, menjadikannya pacar maupun selingkuhan. Tanpa menyadari bahwa kecantikan itu bisa luntur seketika. Aku yang kala itu dibutakan dunia tak pernah sedikitpun memikirkan dampak yang terjadi akibat perbuatanku itu yang membuatku hamil entah anak siapa. Aku yang kala itu baru berusia 21 tahun bingung harus bagaimana, pada awalnya aku sudah mencoba untuk menggugurkan kandunganku ini namun tetap saja gagal, rupanya janin yang kukandung itu tidak mau mati sehingga aku pun terpaksa mempertahankan kandunganku, aku pun dikeluarkan dari kampus karena telah bertindak amoral. Tak ada pilihan bagiku selain pulang, setidaknya aku bisa melahirkan dulu di sana kemudian kembali lagi ke kota untuk melanjutkan hidup. Anakku nantinya bisa kutitipkan ke panti asuhan, karena sejujurnya aku belum siap memiliki anak. Setibanya di rumah, aku dipukul oleh ayah tiriku, ibuku hanya diam melihatku babak belur dihajar ayah. Sedangkan Maya kulihat dia hanya mengintip dari celah kamarnya. Mungkin dia merasa senang karena hidup saudara tirinya hancur dan hanya bikin aib keluarga. Meskipun begitu aku tetap bertahan di rumah itu, walau para tetanggaku kerap kali menggungjingku setiap waktu. Kondisi ibu yang sakit-sakitan dan usaha ayah tiriku yang hampir gulung tikar, membuat hidupku semakin rumit, sedangkan aku harus mempersiapkan proses persalinan. Untungnya paman Ali datang membantu keluarga kami sehingga kondisi ekonomi kami terbantu. Setelah melahirkan, aku masih tinggal di rumah, kondisi sakit ibu yang semakin parah membuatnya harus dirawat di rumah sakit, aku dengan usia yang masih labil diharuskan untuk mengurus bayi yang tidak kuinginkan itu. Bayiku perempuan, namanya Dara Putri Alfiani, nama itu bukan aku yang memberikannya melainkan diberikan oleh Maya. Dan Maya pulalah yang mengurus bayiku, aku sibuk bekerja di sebuah café di daerah tempat tinggalku untuk memberi Dara s**u. Aku bekerja dari pagi sampai malam, dengan gaji yang rendah dan tenaga yang diperah. Terkadang aku memikirkan masa depanku yang seolah suram dan membandingkannya dengan teman-temanku yang seolah bahagia dengan kehidupan yang mewah. Aku mencoba untuk merantau lagi ke kota besar untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Sedangkan Dara kubiarkan diurus oleh Maya, karena Maya terlihat sangat dekat dan senang mengurus bayiku. Namun petaka kembali datang seolah tak mau berhenti menerpa anak malang sepertiku, ibu meninggal. Meskipun ibu tidak seperti tidak menyayangi dan melindungiku, namun di akhir hayatnya justru ibu meminta maaf padaku atas apa yang telah dilakukannya dan ayah tiriku padaku. Mendengar itu aku hanya diam tak berkomentar apapun, toh semuanya juga telah terjadi, masa kecil dan masa remajaku yang terluka tidak bisa ibu kembalikan lagi, jadi aku lebih memilih untuk melupakan kejadian itu dan fokus meraih masa depanku. Baru seminggu kematian ibu, aku pun hendak memberitahukan keinginanku untuk kembali merantau ke kota besar, lama kelamaan di kota kecil hanya membuatku semakin depresi, ditambah Dara yang selalu menangis. Aku pun memberitahukan keinginanku itu pada ayah tiriku, ayah seperti kehilangan kekuatannya untuk mencegahku pergi, tapi Maya yang mendengarnya malah marah besar padaku, dia merasa kasihan pada Dara yang nanti akan kehilangan sosok ibunya. Tapi omelan Maya malah terasa menggelitik telingaku, aku tak peduli dengan Dara, toh jika Maya tidak mau mengurusnya, aku akan mengirimnya ke panti asuhan. Hal itu tidak sulit bagiku. Mendengar penuturanku Maya menamparku, keras sampai pipiku merah. Aku balik menamparnya, terjadilah puku-pukulan antara kedua saudara tiri itu. Dan aku pun mengancam akan melempar Dara dari box bayi jika Maya masih bersikeras mencegahku pergi. Diancam begitu Maya hanya bisa bungkam dan berhenti memukulku. Apalagi sudah dua hari ini tangis Dara tak berhenti, entah kenapa bayi itu menangis terus-terusan. Karena tangis Dara tak berhenti-berhenti, Maya pun berinisiatif membawa bayiku ke puskesmas, dan ternyata Dara demam ditambah lagi dia kurang gizi sehingga diharuskan Dara dirujuk ke rumah sakit. Maya mengancamku dan menyabotase barang-barangku jika aku diam-diam pergi meninggalkan Dara dalam kondisi sakit. Maka aku pun tidak punya pilihan lain selain menunggu Dara keluar dari rumah sakit. Namun demam Dara tak turun-turun, kondisi bayi itu malah semakin parah, dan dua hari kemudian Dara meninggal. Maya menangis meraung-raung sambil memeluk Dara, sedangkan aku entah kenapa tidak merasa sedih sama sekali. Aku malah merasa bahwa bebanku berkurang dengan meninggalnya Dara, mungkin aku dicap sebagai ibu yang sangat jahat, tapi di usiaku yang tergolong muda dan tak paham makna tanggung jawab, aku merasa tak bersalah sedikitpun. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah diam-diam menuju kota besar. Sesampainya di kota besar, aku segera menghubungi salah satu teman yang merekomendasikan tempat kerja untukku, dan tempat kerja yang dimaksud adalah menjadi pelayan toko ice cream, pada awalnya aku merasa baik-baik saja, disamping kerjanya tidak terlalu berat, gajinya juga tidak terlalu rendah, cukup untuk makan dan bayar uang kost, namun untuk ukuranku yang gaya hidupnya agak mewah gaji segitu tidak lah cukup, dan pekerjaan itu sama sekali tidak cocok untuk gadis yang suka tantangan sepertiku. Disamping itu untuk mencapai sukses perlu waktu yang lama jika bertahan di pekerjaan itu, maka aku pun memutuskan untuk keluar dari situ. Selama masa mencari kerja, aku kehabisan uang, dan terpaksa aku menggadaikan sertifikat rumah yang kubawa dari lemari ayah tiriku diam-diam. Dengan uang hasil menggadai rumah, aku bisa kebutuhan hidup untuk sementara. Hingga akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di sebuah bar, yang di mana aku merasa itulah habitatku, tempat yang merasa hidupku lebih b*******h dan bekerja di sana pun penghasilanku bertambah banyak. Namun resikonya berat, persaingan begitu kentara di sana, dan aku memiliki sahabat bernama Rania, pada awalnya aku merasa kasihan padanya, Rania mengingatkanku pada adik tiriku Maya yang polos. Tidak sepertiku yang memutuskan bekerja di sana itu atas dasar keinginanku, namun berbeda dengan Rania, dia terpaksa bekerja di sana karena dia harus menghidupi ketiga adiknya yang masih kecil dan juga ibunya yang janda di kampung. Mungkin cerita Rania seperti di sinetron-sinetron namun memang kenyataannya seperti itu. Padahal Rania ketika di sekolahnya adalah juara kelas, dia sangat cerdas, hanya saja nasibnya tak sebagus orang-orang yang memiliki privilege sejak lahir. Aku sering membantu Rania untuk bisa beradaptasi di lingkungan yang tak biasa seperti itu dan lama-lama dia pun akhirnya terbiasa. Kami sering bercerita tentang kisah hidup masing-masing yang penuh luka, tentu agar kami menceritakannya sambil tertawa-tawa agar tidak ada air mata ketika menceritakannya. Dari tempat itulah aku bertemu dengan laki-laki yang menjadi suamiku Adi Putra, bagiku dia adalah laki-laki yang sempurna, dia menarik, rapi dan wangi, dan yang terpenting bagiku adalah dia sangat kaya. Pada awalnya dia adalah pelanggan tetapku, dia kerap kali curhat tentang keluarganya yang tak pernah peduli padanya dan hanya mempedulikan uangnya, juga tentang gangguan kecemasannya yang semakin hari semakin membuatnya membelenggu dirinya. Selama tiga bulan kami bersama, tanpa diduga tiba-tiba dia melamarku, betapa senangnya aku meskipun aku hanya dijadikan istri simpanan, namun bagiku tidak masalah, asalkan semua kebutuhanku terpenuhi. Setelah menikah dengan Adi Putra, hidupku berubah seperti dongeng Cinderella, aku pun diboyong ke sebuah rumah besar. Di tahun pertama hidupku merasa bahagia, pergi ke luar negeri, berlibur di yacht, berbelanja barang-barang mewah, namun di tahun-tahun selanjutnya terlihat perangai asli suamiku yang ternyata ringan tangan itu. Hampir setiap hari aku mendapatkan tamparan bahkan pukulan di sekujur tubuhku hanya gara-gara kesalahan-kesalahan kecil yang kulakukan. Bahkan aku pernah keguguran gara-gara pukulan yang diterima. Hingga di tahun kelima rumah tanggaku, dia hampir membunuh anak kami Dion karena wajahnya tidak mirip dengan suamiku. Padahal mata dan bibirnya sangat mirip dengan suamiku, dia menuduhku telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Karena sudah tak tahan lagi dengan pukulan yang kuterima setiap hari, akhirnya aku membubuhkan racun sianida ke dalam makanannya, setelah dia tidak bergerak aku menyeretnya ke dalam mobil agar seolah-olah dia tewas kecelakaan. Lalu aku membawa Dion yang baru satu tahun ke rumah saudaraku, kutitipkan dia di sana, sedangkan aku kembali ke rumah, nanti setelah semuanya mereda aku akan membawa Dion dan hidup baru berdua di luar kota. Namun kenyataan tak sesuai dengan rencana, aku ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan suamiku sendiri karena ada sehelai rambutku di mobil itu. Rencana indahku dengan Dion akhirnya punah sudah, ibunya terdampar di penjara menunggu putusan hakim untuk masa hukumanku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD