Kasus yang Semakin Rumit

1371 Words
Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, aku hanya melamun sambil melihat ke arah jendela, memikirkan apa yang kukatakan pada Danya, seolah aku adalah motivator handal yang bisa merubah hidup seseorang padahal sebenarnya aku pun membutuhkan bantuan karena lukaku juga belum sembuh.            “Kau hebat bisa membuat seseorang yang keras kepala seperti Danya berubah pikiran.” Kata Ario ketika di mobil.            “Aku juga tidak tahu kenapa aku berkata seperti itu, seolah kata demi kata itu meluncur begitu saja tanpa disadari.” Jawabku jujur.            “Tapi kamu tadi hebat, oh ya kenapa kamu tidak bilang mengenai masalahmu?”            “Masalah yang mana? Kamu tadi menguping ya?”            “Tidak, aku tidak bermaksud menguping, pas tadi aku mau keluar, aku tak sengaja mendengar kata-katamu,”            “Lalu, kenapa kamu tidak pergi saja dan malah melanjutkan mendengarkan, itu namanya tidak sopan!”            “Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud begitu,”            “Sudahlah, toh kamu terlanjur tahu juga semuanya,”            “Terimakasih,”            “Terimakasih untuk apa?”            “Terimakasih kamu sudah bertahan sampai sekarang, aku tahu itu berat, tapi kamu sangat keren bisa menyelesaikannya dengan baik.”            “Oh iya, kemarin kamu jadi pergi ke pameran lukisan?”            “Datang, aku datang sendirian ke sana, karena pada saat aku akan menjemputmu, kamu sedang makan malam dengan Pak Bagas, jadi aku kembali lagi.”            “Kamu datang ke apartemenku? Kenapa tidak meneleponku? Aku pikir kamu tidak jadi mengajakku ke pameran karena kamu akan pergi dengan wanita yang pergi bersamamu ketika di bioskop kemarin.”            “Oh Andien, dia itu adikku, dia baru pulang dari New York, kebetulan dia kuliah di NYU, jadi aku sengaja aku mengajaknya untuk jalan-jalan di masa liburan kuliahnya itu.”            “Adik? Adik tiri?”            “Adik kandunglah,”            “Kamu punya adik? Kenapa gak ngasih tahu?”            “Aku tiga bersaudara, aku anak kedua, kakakku namanya Arian, dia dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit swasta di kota J, sedangkan yang ketiga namanya Andien dia kuliah di NYU New York dan sekarang sedang ada di Indonesia. Di CV aku tulis latar belakangku, kamu gak baca CV ku memangnya?”            “Oh begitu ya, aku baca, hanya saja gak fokus pada satu point saja, jadi aku melupakan hal sepenting itu.” Aku langsung membuang mukaku kea rah jendela, aku takut Ario menyadari kalau wajahku merah karena malu. Malu karena aku tidak tahu apa-apa soal keluarganya. Malu karena sudah berasumsi bahwa wanita yang kemarin dia kenalkan itu adalah adik kandungnya sendiri bukan kekasihnya. Aku menjadi sadar bahwa segala sesuatunya harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak.            “Lalu? Kapan giliranku berkencan denganmu?” Aku yang sedang minum air mineral tersedak ketika Ario mengatakan hal di luar dugaan seperti itu.            “Kencan? Aku tidak pernah berkencan dengan siapapun,”            “Kemarin dengan Pak Bagas, sabtu ini bisakah pergi denganku? Sebagai ganti kita tidak jadi pergi ke pameran,”            “Iya, boleh, tapi aku tidak mau pergi ke bioskop, aku kurang suka keramaian.”            “Oke, aku akan mengajakmu ke gunung kalau begitu, melihat karaktermu yang agak susah diatur dan sedikit kasar, aku yakin gunung adalah tempat kencan terbaik.” Aku tersenyum mendengar Ario berkata seperti itu, dan aku mengangguk setuju dengan idenya untuk pergi ke gunung.            “Tapi aku menegaskan ini bukan kencan ya, dan kemarin pun aku dan Bagas bukan berkencan, kami hanya sekedar refreshing dari pekerjaan.”            “Oke tak masalah, aku sangat bersyukur kamu bersedia pergi denganku, terimakasih.”            Karena aku merasa agak malu dengan apa yang dikatakan oleh Ario, aku lalu membuka tasku dan mengambil buku catatan yang diberikan oleh Danya ketika di rumah sakit. Sebelum dia melakukan aksi bunuh dirinya, Danya menuliskan semua yang dialami dan dirasakannya di buku, hal itu disuruh oleh psikolognya agar dirinya bisa menyalurkan emosinya, dan buku catatan itu akhirnya diberikan kepadaku. Aku berharap setelah semua yang terjadi, Danya bisa melanjutkan hidupnya dan menjadi manusia yang baru. **            Sekitar jam delapan malam, aku baru sampai di apartemenku, sehabis dari kafe, Ario mengajakku ke kafe milik teman SMA nya. Pada awalnya aku menolak karena malas dan tidak terlalu suka suasana berisik, namun Ario setengah memaksaku untuk sekedar melepas penat. Jadi daripada hanya gabut di apartemen sendiri, lebih baik aku ikut ajakan Ario. Semenjak putus dari Ervin, aku tidak pernah lagi pacaran, itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Dan selama pacaran pun aku dan Ervin tidak pernah ke mana-mana karena kami sama-sama sibuk dan jadwal libur pun selalu berbeda. Di samping itu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, hanya aku merasa membutuhkan teman untuk berbagi cerita.            Aku membuka buku catatan milik Danya di dalam tasku, kubuka halaman per halamannya dengan hati-hati, aku yakin Danya pasti membutuhkan keberanian yang cukup untuk menuliskan semua perasaannya sejak dulu ke dalam buku. Namun ketika aku hendak membaca buku catatan Danya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu apartemenku. Ketika aku buka ternyata Bagas. Awalnya aku tidak ingin mempersilakan dia masuk namun karena melihat dia seperti ada sesuatu yang penting, maka aku persilakan dia untuk masuk.            “Ada apa malam-malam begini kamu kemari?” tanyaku to the point, Bagas hanya duduk santai di sofa.            “Duduklah, aku akan menceritakan semuanya.” Jawabnya dengan tatapan yang serius. Aku semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Bagas.            “Jangan bikin orang takut, cepat katakana, setelah itu kamu bisa cepat pergi.” Tukasku ketus.            “Baiklah, Al, kamu masih ingat dengan kasus Toto Maris yang tewas di jembatan?”            “Iya, ada apa?”            “Sebenarnya dia bukan bunuh diri, tapi dibunuh.”            “Hah? Mana mungkin?”            “Iya, dan ini benar-benar membuat kami semakin pusing karena berkas kasusnya sudah dinyatakan selesai dengan alasan kematian bunuh diri. Sekarang divisi kita sedang dalam dalam pengawasan.”            “Bagaimana mungkin bisa salah sih?”            “Ternyata hasil forensik yang dilakukan kurang valid, sehingga ada yang terlewat.”            “Bagian mana yang terlewat? Bukannya saksi juga mellihat dengan jelas bahwa Toto itu bunuh diri?”            “Benar, tapi Toto tewas bukan bunuh diri, itu hanya efek dari sesuatu yang dikonsumsi oleh Toto sebelum kejadian.”            “Maksudnya? Aku kurang paham dengan semua ini,”            “Di dalam tubuhnya teridentifikasi n*****a dengan dosis yang sangat banyak sehingga mengakibatkan Toto berhalusinasi dan akhirnya tewas.”            “n*****a? Lalu apa Toto punya riwayat pecandu?”            “Dia bukan pecandu, itu sudah dibuktikan, ada seseorang yang memberikannya n*****a dengan dosis yang banyak.”            “Siapa? Ada yang kamu curigai?”            “Maya,”            “Apa? Itu tidak mungkin,”            “Aku sudah mengecek CCTV dan ponsel Toto, di sana ada riwayat panggilan dengan nomor yang sama selama dua hari sebelum kejadian dan diidentifikasi dari alamat IP nya yang adalah Maya.”            “Ini gak masuk akal, kenapa bisa tiba-tiba seperti ini? Kalau sampai ini bocor ke media bisa gawat, kita bisa dinilai tidak becus menangani kasus.”            “Iya, makanya kasus ini hanya segelintir orang yang tahu.”            “Lalu apa tindakan selanjutnya?”            “Kamu tahu, siapa yang membawa mayat Toto ke tim forensic?”            “Ario, dan dia juga yang memberikan hasil forensiknya padamu kan?”            “Laporan hasil dari tim forensik tidak sesuai dengan yang diberikan Ario padaku, hasilnya berbeda,”            “Maksudnya Ario memanipulasi hasil forensik?”            “Itu baru dugaan sementara,”            “Ini gila, bagaimana mungkin?”            “Al, jangan sampai Ario tahu soal hal ini, aku dan tim detektif yang lain akan menyelidiki ulang kasus Toto dengan sembunyi-sembunyi. Kamu dan Ario tuntaskan menyelesaikan kasus Maya, aku yakin kasus Toto ada hubungannya dengan Maya dan Ario.”            “Kamu gila menuduhh orang sembarangan,”            “Al, dalam hal ini kawan bisa jadi lawan, dan lawan bisa jadi kawan. Semuanya bisa saja terjadi.”            “Aku masih tidak percaya, lalu siapa saja yang tahu hal ini?”            “Aku, Arnold, kamu, Ronald, dan Gani,”            “Aku masih belum bisa memahami semuanya,”            “Oke, Al, tenangkan dirimu, aku pergi sekarang.” Setelah Bagas pergi, aku masih duduk di sofa sambil mencoba menyelami apa yang dikatakan oleh Bagas. Aku tidak percaya kalau Maya terlibat dalam pembunuhan Toto, dan Ario memanipulasi data hasil forensik mayat Toto. Semuanya ini benar-benar tidak masuk akal. Aku masih dalam keadaan kalut dengan kenyataan ini, Bagas tidak mungkin berbohong, aku sangat tahu dan yakin kalau Bagas benar-benar serius. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD