Dua hari kemudian, Ario sembuh dengan cepat, dia kembali memberiku pesan dan panggilan telepon bertubi-tubi lagi seperti biasanya. Dia juga kembali menjemputku dengan wajah yang lebih cerah. Aku kembali memberinya banyak tugas lagi, tapi seperti biasa dia tidak pernah mengeluhkannya.
“Bagaimana keadaan Maya sekarang?” tanya Ario ketika kami hendak melakukan perjalanan menuju tempat tinggalnya dulu dengan keluarganya.
“Seperti biasa, dia masih tetap koma,” kataku padanya, kami berdua hanya terdiam. Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami berencana untuk mewawancarai teman-teman SMA Maya dan Danya juga tetangganya, siapa tahu kami menemukan paman dan bibi yang diceritakan Maya di buku catatannya. Setelah menemukan alamat rumah keluarga Maya dan Danya yang ternyata sudah dijual dan ditinggali oleh orang lain, kami mencari seseorang yang sudah lama tinggal di daerah tersebut dan sangat mengenal keluarga Maya dan juga Danya, setelah berkeliling akhirnya kami pun menemukannya.
Ibu Risa (tetangga keluarga Maya)
“Keluarga Pak Faisal adalah keluarga yang baik, mereka sangat ramah, namun entah sejak kapan semuanya berubah, anak-anak perempuan mereka menjadi tidak akur. Baik Danya maupun Maya mereka adalah anak-anak yang pada dasarnya baik, Danya yang ceria, cantik dan disukai banyak orang, sedangkan Maya adalah anak yang pintar dan sedikit pendiam. Anak perempuan saya yang seusia dengan Maya dulu berteman meski tidak akrab bahkan Maya sering mengajari anak perempuanku belajar. Tapi semenjak Danya kuliah di luar kota, semuanya berubah. Amat disayangkan Danya, yang cantik dan ceria nasibnya malah mengenaskan, dan Maya sekarang malah koma, mereka adalah anak-anak yang malang.”
Ibu Anita (tetangga keluarga Maya)
“Ibu Faisal itu, dia jarang ikut kegiatan kampung, dia selalu sok sibuk sendiri dan jarang bergaul, pantas saja anak-anaknya seperti itu, biasanya orang pendiam itu selalu bikin ulah di belakang, terbuktikan sekarang? Anak perempuannya, si Danya itu kelakuannya kayak begitu, saya sudah bisa prediksi dari saat Danya masih kecil, anak itu sudah punya bakat genit jadi wajar saja gedenya kayak begitu. Untung saja anak-anakku tidak kuizinkan bermain sama Danya dulu, iih ngeri sekali kalau mereka berteman.”
“Bagaimana? Apa sudah cukup wawancaranya? Kita tetap tidak menemukan paman dan bibinya.” Ujar Ario sambil makan ice cream yang dia beli di warung pinggir jalan. Aku duduk di bangku panjang yang disediakan warung itu sambil menengadahkan kepalaku ke langit. Kepalaku pusing karena memikirkan kasus ini yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Aku menoleh ke arah Ario yang sedang asyik makan ice cream, aku sedikit kesal karena dia malah bersantai makan ice cream, tapi aku tidak tega memarahinya, jadi kubiarkan saja dia bertindak sesuka hatinya.
“Kita belum menemukan Mayang dan teman-teman SMA Maya dan Danya, jadi terlalu dini untuk menyerah.” Jawabku.
“Baiklah, ayo kita ke SMAnya Maya dan Danya, siapa tahu di sana kita bisa menemukan alamat rumah sahabat dan teman-teman Maya juga Danya.” kata Ario tiba-tiba membuatku terjungkal karena aku duduk di ujung bangku. Ario memukul lengannya karena membuatku terjatuh, Ario meminta maaf sambil menahan tawa. Melihat dia menahan tawa membuat wajahnya jadi aneh. Aku tak tahu kenapa aku menjadi sentimental begini, tapi segera kusingkirkan pikiran anehku itu.
Ibu Agni (Guru Maya)
“Maya itu termasuk anak yang pintar, semenjak dia pindah sekolah kemari, dia selalu mendapatkan ranking pertama, dia juga aktif dalam ekstrakurikuler jurnalistik. Meskipun pendiam tapi dia sangat ramah, dia juga sering membantu teman-temannya belajar. Menurutku dia termasuk murid teladan di sekolah ini.”
Pak Agus (Guru Danya)
“Danya itu adalah murid yang ceria, dia lincah dan aktif di bidangnya sendiri, meskipun dalam mata pelajaran eksak, Danya tidak menonjol, namun di bidang kesenian khususnya seni tari dia adalah ahlinya. Sangat disayangkan jika nasibnya kini malah berakhri di penjara, saya pikir Danya akan menjadi seorang aktris terkenal atau setidaknya menjadi influencer atau selebgram seperti yang sedang tren akhir-akhir ini, mengingat Danya juga memiliki penampilan dan fisik yang menarik di bidang itu. Tapi nasibnya benar-benar memilukan, sebagai gurunya, saya sangat kecewa padanya.”
Setelah mewawancarai masing-masing mantan wali kelas Maya dan Danya, kami juga berhasil meminta alamat rumah sahabat dan teman-teman dekat Maya dan Danya, meskipun ada sebagian dari mereka tinggal di luar kota bahkan di luar negeri.
Mayang (Sahabat Maya)
“Saya dan Maya memang sahabat dari kelas satu SMA, namun menjelang kelas tiga kami tidak bersahabat lagi karena beberapa hal. Mendengar Maya sekarang dalam kondisi koma, jujur saya sangat bersedih, bagaimanapun juga kami pernah bersahabat baik, mungkin besok lusa saya akan menjenguknya di rumah sakit bersama suami saya. Menurut saya, Maya adalah orang yang pendiam dan dia sangat pintar dalam mata pelajaran apapun. Dia ramah dan selalu membantu teman-teman di kelas kami belajar bahkan dia rela menggantikan Aneu waktu piket di kelas, bukan sekali dua kali namun dia sering melakukan itu bukan hanya pada Aneu saja. Saya pernah bilang jangan terlalu baik pada orang lain, namun dia bersikeras melakukan itu karena dia menyukai kegiatan bersih-bersih. Saya tahu itu bohong, saya pernah melihat Maya menangis di kamar mandi, tapi besoknya dia melakukan hal itu lagi. Bukan hanya piket, tapi tugas-tugas sekolah punya teman-teman, Maya kerjakan sendiri. Dan hal itu dia lakukan sampai kelas tiga. Saya benar-benar tidak tahu kenapa Maya mau melakukan pekerjaan yang bukan urusannya. Saya mulai bermusuhan dengan Maya ketika dia ulang tahun, saya dan teman-teman yang lain mencoba untuk mengadakan pesta ulang tahun dan berencana untuk mengejutkannya. Tapi justru kami yang terkejut. Selama ini Maya dan kak Danya adalah saudara meskipun mereka saudara tiri, selama ini Maya menutupi kenyataan itu dari kami dari saya. Selama ini saya selalu jujur dengan kondisi keluarga tapi dia tidak, malah menutupi hal itu, padahal dulu saya sangat mengagumi kak Danya karena dia adalah dewi di sekolah kami, dia juga merupakan ketua klub dancer, klub yang sangat ingin saya masuki. Saya sangat marah pada Maya saat itu, dan memutuskan hubungan persahabatan kami. Sejak itu saya dan Maya hilang kontak, saya juga baru tahu kalau kak Danya menjual rumah milik Maya dan ayahnya. Hal itu membuat saya merasa sakit hati dan saya baru mengetahui kalau hubungan Maya dan kak Danya tidak baik, mungkin itu alasan Maya tidak mau mengungkapkan kak Danya sebagai saudaranya. Saya menyesal telah marah padanya, Maya adalah orang baik, dia sangat baik dan nasibnya begitu malang.”
Reza (Mantan pacar Maya)
Saya memang mengakui pernah memiliki hubungan dengan Maya, namun hanya sebentar dan sebenarnya saya tidak terlalu tertarik padanya, saya memacarinya karena dia terlalu royal dan pintar. Dia selalu menghadiahi saya barang-barang yang membuat saya merasa tidak enak namun saya membutuhkannya. Tapi semenjak saya bertemu dengan kakaknya yang bernama Danya, saya merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kakaknya itu. Mungkin saya terkesan jahat pada Maya, dengan berkata jujur padanya bahwa saya jatuh cinta pada Danya, tapi bukankah lebih baik jujur daripada harus berbohong terus menerus? Meskipun Danya menolak saya hanya karena dia adalah kakak Maya, sangat tidak adil sebenarnya hanya gara-gara itu Danya menolak saya. Tapi ya sudahlah, semuanya sudah berlalu, sekarang saya sudah punya pacar yang cantik meskipun Danya jauh lebih cantik.”
Aneu (Teman Maya)
“Maya, dia orang yang sangat baik, dia sering menggantikanku piket, saat itu bukan tanpa alasan aku memintanya menggantikanku piket, ehm saat itu aku punya janji dengan pacarku yang sekarang sudah menjadi suamiku, kami berjanji setiap pulang sekolah kami akan pulang bersama-sama. Jadi yaa aku tak bisa menolaknya. Disamping itu Maya sama sekali tidak keberatan, katanya dia membutuhkan kesibukan agar dia segera melupakan mantan pacarnya yang bernama Reza. Mengenai tugas sekolah, bukan hanya aku yang memintanya, tapi teman-teman yang lain juga, mereka mengatakan kalau Maya sama sekali tidak keberatan dan sangat suka belajar, jadi yaa aku pikir aku pun tidak apa-apa jika memintanya mengerjakan tugasku juga, ah maaf anakku menangis, mungkin seperti itu, intinya aku dan Maya tidak terlalu dekat.”
Ari (Mantan pacar Danya ketika SMA)
Danya, ehm sebenarnya kami pacaran hanya tiga bulan, dulu saya sangat tergila-gila padanya karena dia sangat cantik dan populer, tapi saya sangat marah pada Danya karena dia berselingkuh dengan Anjas, anak IPS yang terkenal suka bolos sekolah dan dicap sebagai murid berandalan. Saya benar-benar kecewa padahal saya sudah berkorban untuknya bahkan kami sudah pernah melakukan hubungan yang ehmm.. ah sudahlah kalian pasti paham.”
Anjas (Mantan pacar Danya)
“Danya ya? Sudah lama saya tidak bertemu dengannya, dia perempuan yang sangat cantik dan b*******h. Kami pacaran hampir setahun, sudah dipastikan apa yang sudah kami lakukan selama pacaran dengan kecantikan dan sifatnya yang terbuka. Bahkan saya sempat memutuskan untuk menikahinya setelah lulus SMA nanti. Meskipun saya tahu hal itu tidak akan mudah, tapi saya benar-benar tidak bisa hidup tanpa Danya. Tapi Danya menolak niat baik saya, dan lebih memilih untuk pergi ke luar kota. Saya tahu Danya adalah wanita yang bebas dan tidak suka terikat, tapi sampai sekarang saya tidak bisa melupakan wanita itu, dia begitu melekat di memori meskipun banyak luka yang dia berikan. Btw di penjara mana dia ditahan? Saya berencana untuk menjenguknya besok.”
Linda (teman SMA Danya)
“Danya? Seharusnya bukan aku yang kalian tanya, karena aku bukanlah temannya, dia sangat licik, dia merebut pacarku dan pacar teman-temanku, mentang-mentang dia cantik dan populer dia bsia seenaknya begitu? Sangat memuakkan, sampai sekarang aku masih benci padanya. Meskipun memang pacarku juga punya andil salah karena tergoda oleh pesona Danya tapi bagaimanapun seharusnya Danya tidak meladeni pacarku. Sampai sekarang aku sangat trauma diselingkuhi, tak heran kalau hidup Danya berakhir di penjara.”
“Bagaimana menurutmu? Setelah kita melakukan sesi wawancara kepada sahabat dan teman-teman Maya dan Danya? Apa kesimpulanmu?” tanyaku pada Ario ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil hendak menuju kantor polisi.
“Menurutku Maya merupakan korban bullying, dia dibully tapi tidak sadar, tapi dia dalam kondisi tidak bisa menolak apa yang dilakukan teman-temannya padanya. Sedangkan Danya, kebanyakan teman-teman perempuannya tidak menyukainya karena dia dianggap perusak hubungan asmara teman-temannya dengan para pacarnya. Kemungkinan Danya itu kesepian sehingga dia melampiaskannya dengan pacar-pacarnya. Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang salah sekarang.” Ujar Ario menganalisis sambil melihat catatan wawancara kami. Aku pun hanya menghela nafas panjang sambil melihat keluar jendela.
“Apakah kecantikan bisa membuat seseorang menjadi monster?” tanyaku lagi pada Ario. Ario hanya menatapku tak mengerti.
“Mungkin,” jawabnya singkat.
“Apakah menurutmu aku cantik? Dan apa definisimu tentang kecantikan?”
“Kamu sangat cantik, setiap perempuan memiliki kecantikannya sendiri-sendiri, bagiku kecantikan itu adalah rasa percaya diri yang tinggi, tidak mempedulikan penilaian orang lain, dan dia merasa nyaman dengan dirinya sendiri.”
“Itu jawaban yang klise, apa menurutmu Gal Gadot itu cantik? Kalau dibandingkan dengan Rihana, mana yang lebih cantik?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu? menurutku keduanya cantik dengan ciri khasnya masing-masing. Mungkin lebih ke selera ya, merasa nyaman dan percaya diri itu adalah kunci kecantikan itu sendiri. Dan bagiku kamu sudah memiliki itu.” Kata-kata Ario membuat pipiku sedikit memerah.
“Berhenti menggombal dan mari kita pulang!” ketusku padanya, Ario malah tersenyum melihatku marah. Sepanjang perjalanan aku tak berhenti berfikir, apakah cantik itu benar-benar bisa menjadi luka seperti yang tertuang dalam novel yang berjudul Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan? Aku masih bertanya-tanya apa definisi cantik yang sesungguhnya.
***