Pengakuan Danya

1238 Words
           Aku menyerahkan laporan perkembanganku dalam mencari keluarga Maya sebelum hari operasi donor organ Maya dilakukan kepada Bagas. Meskipun paman dan bibi Maya belum ditemukan, dan Danya sedang dalam kondisi yang tidak baik, namun sahabat dan tetangga Maya yang bernama Mayang dan ibu Risa bersedia untuk menengok Maya di rumah sakit. Pencarian kami untuk mencari keluarga Maya masih akan terus dilakukan. Entah kenapa kasus ini malah membuatku semakin sadar tentang berharganya sebuah keluarga. Dan aku tidak akan menyerah untuk menuntaskan kasus ini sampai selesai. Bagas memuji kinerjaku dan Ario dalam menangani kasus Maya. Aku tidak terlalu terbuai dengan pujian yang diberikan Bagas, justru aku merasa Bagas sedang mengolok-olokku yang hanya mampu menangani kasus sepele seperti itu. Kulihat Ario begitu bersemangat dengan pujian yang diberikan Bagas padanya. Aku tahu ini adalah kasus pertama Ario sebagai detektif, dan aku tidak mau mengganggu kebahagiaannya dengan pura-pura tersenyum.            “Sampai kapan kamu akan terus tersenyum?” tanyaku padanya ketika kami sedang makan siang di kantin. Ario terperanjat ketika aku mengatakan hal itu dengan sinis. Senyumnya tiba-tiba memudar, seolah dia baru menyadari bahwa dia tersenyum sendiri seperti orang gila.            “Maaf, aku benar-benar senang hari ini, karena untuk pertama kalinya aku mendapat pujian dari atasanku atas kinerjaku. Kamu tahu? Menjadi detektif adalah impianku sejak kecil, aku banyak menghabiskan waktu remajaku dengan membaca buku karangan Sherlock Holmes, Agatha Christie, bahkan komik Detektif Conan. Dan ketika aku mendapatkan pujian atas kasus pertamaku, aku benar-benar sangat senang.” Jawabnya antusias. Aku hampir tertawa dengan penuturannya yang terkesan polos itu, tapi tawa itu kutahan karena menghargainya yang sedang terlihat bahagia. Tapi kuakui Ario adalah partner kerjaku yang paling sabar dan cerdas, biasanya partner kerjaku selalu mengeluhkan kinerjaku yang terlalu keras kepala dan eksentrik dalam menangani kasus, namun Ario tidak seperti itu, dia malah terasa enjoy bekerja denganku yang kerap kali mengata-ngatai dia dengan kata-kata yang tidak pantas.            “Ya, aku turut bahagia, setelah ini kita akan ke lapas tempat Danya ditahan. Tadi aku dapat telepon dari petugas lapas di sana, kalau Danya ingin kita wawancara. Jadi setalah ini kita akan langsung ke sana.” Ujarku pada Ario, dia langsung menghabiskan makakannya yang masih banyak, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Di sela-sela Ario yang tengah menghabiskan makanannya, aku sedang memikirkan akankah aku menghubungi ayahku ataukah tidak? Hal itu benar-benar membuatku bingung.            Ketika aku dan Ario sudah sampai di lapas, kami masuk ke dalam dan duduk di ruang kunjungan. Tiba-tiba seorang wanita berbaju orange datang digandeng oleh dua orang penjaga lapas wanita.            “Apa kabar Danya?” tanyaku pada Danya. Danya hanya diam tak menjawab, wajahnya sedikit pucat.            “Apa kamu pergi mewawancarai orang-orang yang mengenalku? Termasuk mantan pacarku?” ujarnya tiba-tiba.            “Iya, kami ke sana dan menanyakan beberapa hal tentangmu dan juga Maya.”            “Kemarin Anjas datang, dia adalah orang pertama yang datang menjengukku. Ternyata dia belum bisa melupakanku, seharusnya dulu aku nikahi saja dia, daripada hidupku hancur seperti ini.”            “Lalu, apa yang dia katakan?”            “Dia menangis, melihatku dalam keadaan seperti ini, seorang Anjas yang nakal menangisiku hahahaha, sangat lucu. Tapi semuanya sudah berlalu, sekarang dunia kami berbeda. Ah, ya, kalian ke sini ingin mendengar ceritaku kan? Baiklah, aku akan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.” Aku menahan nafas, entah kenapa perasaanku jadi tidak enak, Ario menyiapkan handycam untuk merekam semua pembicaraan kami. ** Danya Apriani (Kakak tiri Maya) “Aku lahir di keluarga yang tidak harmonis, ketika usiaku lima tahun ibu menikah lagi dan membawaku pada keluarga baru. Di sana kulihat seorang anak perempuan yang lucu, yang harus kupanggil adik. Seiring berjalannya waktu kulihat ibuku tak seperhatian dulu lagi, ibu lebih memperhatikan si adik manis itu. Terkadang aku iri, namun perhatian ibu yang berkurang tergantikan oleh kasih sayang seorang ayah yang berlimpah kepadaku yang tidak pernah kudapatkan seumur hidupku. Ayah tiriku adalah sosok laki-laki yang sangat baik dan penyayang. Dia melimpahiku dengan berbagai macam hadiah, aku sangat bahagia. Waktupun berlalu aku dan adik tiriku, Maya tumbuh dengan cepat seperti halnya anak-anak lainnya. Ketika usia Maya enam tahun sebuah tragedi menimpa Maya, dia hilang di pantai, namun untungnya ada beberapa orang pemuda yang membantunya hingga Maya bisa dipertemukan dengan kami lagi. Mengetahui hal itu ibu marah besar karena menurutnya aku dinilai tidak bisa menjaga Maya, bahkan ibu hampir menamparku, untungnya ayah menengahi sehingga ibu tidak jadi menampar pipi kecilku. Aku sangat ketakutan saat itu, ibu yang seumur hidupku tidak pernah terlihat marah padaku, kini dia hampir menamparku, anak kandungnya sendiri hanya untuk membela anak tirinya. Aku merasa kasih sayang ibu sudah beralih pada Maya, melihat itu, aku sedikit iri dan benci pada Maya karena telah merebut ibu dariku. Aku tumbuh menajdi seorang remaja tanggung yang cantik dan memesona, banyak orang yang memuji kecantikanku. Kulitku yang putih bersih, postur tubuhku yang tinggi langsing dan sifatku yang ceria membuatku disukai banyak orang. Namun ada hal aneh yang membuatku merasa kalau Maya sering menhindariku, bahkan dia mulai berlaku jahil padaku dengan merobek gaunku yang hendak kupakai untuk pentas teater di festival sekolah. Padahal gaun itu sudah dari dari sejak jauh-jauh hari aku siapkan. Aku benar-benar marah pada Maya dan karena emosi aku pun memukulnya, ibu yang melihat itu langsung memarahiku. Jika ibu bersedia mendengarkanku mungkin dia tidak akan memarahiku dan membela Maya. Sejak kejadian itu aku dan Maya tidak pernah bertegur sapa lagi. Kami melakukan kegiatan masing-masing tanpa berbicara seolah kami adalah dua orang asing. Meskipun begitu aku tetap diam-diam memperhatikan Maya, melihatnya di sekolah, apakah teman-temannya mengganggunya? Karena kutahu Maya adalah seorang anak yang agak unik, dia sangat pendiam dan terlalu polos. Aku khawatir jika dia dimanfaatkan oleh teman-temannya. Hal tak terduga datang padaku, ayah tiriku yang kukira tulus menyayangiku ternyata memiliki maksud lain. Ketika umurku 15 tahun, dia merudapaksa diriku. Semenjak itu aku jijik melihat ayah tiriku yang selalu memberikanku pakaian dan alat kosmetik lainnya. Aku mencoba untuk memberi tahu ibu, tapi ibu tidak mempercayai ucapanku, dia malah mencapku sebagai pembual. Aku tahu kehidupanku dan ibu terjamin ketika ibu menikah dengan pak Faisal tapi kenyamanan itu harus dibayar dengan kehormatanku. Sejak kejadian itu aku mulai bertingkah, aku mulai memiliki pacar karena aku pikir dengan memiliki pacar aku bisa terlindungi. Tapi ternyata aku salah, pacar pertamaku bernama Ridho, dia benar-benar b******k. Ketika aku sedang berada di rumahnya, dia memasukan obat tidur ke minumanku, dan dia malah meniduriku. Aku benar-benar kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia mengancam akan memberitahukan hal ini pada orangtuaku, disamping itu keluarga Ridho merupakan seorang petinggi di suatu pemerintahan, aku pun terpaksa bungkam dan mencoba untuk melupakan kejadian itu, meski hatiku sangat sakit. Sejak saat itu, aku berpacaran lagi dengan banyak lelaki, hidupku sudah hancur kenapa tidak aku hancurkan saja sekalian?” setelah melakukan pengakuan, Danya dimasukan kembali ke dalam sel, sebelum dia pergi, dia tersenyum kepadaku. Aku tidak mengerti apa arti senyuman itu. Mendengar penuturan Danya, aku merasa kasihan padanya, dia adalah wanita yang sangat malang, kehilangan kasih sayang seorang ibu, dirudapaksa oleh ayah tirinya sendiri lalu diperlakukan seperti sampah oleh banyak lelaki yang diharapkannya bisa melindunginya. “Laki-laki itu semuanya b******k!” ucapku ketika berada di dalam mobil. Ario yang sedang mengencangkan sabuk pengaman menoleh takut padaku. “Aaaku bukan tipe laki-laki seperti itu, aku lelaki baik-baik. Lagipula jangan terlalu menelan mentah-mentah pengakuan wanita itu, kita harus memperlihatkan hasil rekaman ini ke psikolog atau pakar ekspresi.” Katanya membela diri. Aku menatap sinis ke arahnya dan membuang muka. Melihat moodku yang sedang turun, Ario tidak mau berdebat denganku, dia cepat-cepat menancap gas dan mobil pun melaju menuju pulang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD