Cerita Cinta

1584 Words
Sehari setelah mendengar pengakuan Danya, entah kenapa emosiku tidak stabil, aku jadi sering marah tanpa sebab, dan Ario selalu menjadi sasaran rasa marahku. “Aku tidak akan berargumen atau pun menyanggah pendapatmu tapi kumohon jangan marah sambil mencakarku, bekas cakaranmu dari kemarin masih berbekas dan sangat perih.” Protesnya sambil meringis memegang tangannya yang kemarin tanpa sengaja kucakar. “Maaf,” kataku sambil melihat bekas cakaran di tangan Ario yang masih memerah. “Tadi ketika aku memberikan berkas laporan, Pak Bagas bertanya padaku apakah kamu baik-baik saja setelah mendengar pengakuan Danya, kujawab apa adanya bahwa kamu mencakarku.” Ujar Ario penasaran. “Oh ya? Kenapa dia peduli padaku?” “Apa kamu punya hubungan khusus dengan Pak Bagas?” aku kaget dengan pertanyaan Ario yang terdengar kurang sopan itu, tapi kulihat dia menyetir mobil dengan sangat santai tanpa rasa bersalah. “Bukan urusanmu!” jawabku ketus, Ario hanya tersenyum seolah meledekku sambil sesekali memandang ke arahku. Aku jadi bete karena pertanyaan itu dan malah marah-marah tidak jelas pada Ario. Sebenarnya dulu aku dan Bagas pernah menjadi partner kerja di lapangan, seperti halnya aku dan Ario. Saat itu Bagas adalah seniorku, aku benar-benar menghormati Bagas ketika itu, apalagi Bagas orang yang sangat peduli bahkan kepeduliannya itu malah disalah pahami olehku. Dulu aku tidak setemperamental seperti sekarang, setelah kejadian itu. Kejadian yang membuatku trauma dan sangat benci pada laki-laki. Saat itu aku aku masih menjadi junior di kepolisian, aku dan Bagas menangani kasus human trafficking yang korban-korbannya mentarget anak-anak perempuan di bawah umur. Atasan kami yang saat itu masih Pak Broto terus-terusan menekan kami agar segera menangkap pelaku. Bagas memberikan ide untuk memancing pelaku agar masuk perangkapnya. Bagas menyuruhku untuk menyamar sebagai anak SMA yang polos. Pada awalnya semua berjalan dengan lancar, aku di bawa oleh sekelompok orang ke dalam mobil, dan Bagas serta yang lainnya mengikutiku dari belakang, aku pun dilengkapi alat pelacak dan penyadap di dalam pakaianku. Namun hal tak terduga terjadi, salah seorang pelaku hendak melecehkanku ketika aku sedang dalam kondisi tidak sadar karena para pelaku menyuntikkan sesuatu ke leherku hingga membuatku tidak sadarkan diri. Untungnya tidak terjadi hal apapun padaku, Bagas dan yang lainnya keburu datang menyelamatkanku. Yang akhirnya para pelaku semuanya tertangkap. Semenjak kejadian itu aku mengalami trauma yang cukup berat, aku takut berhadapan dengan laki-laki termasuk Bagas. Aku mulai membencinya karena ide gilanya itu hampir membuatku ternoda. Butuh waktu satu tahun agar aku bisa kembali pulih. Keberhasilan itu membuat Bagas naik jabatan, meski harus dibayar dengan rasa trauma yang masih membekas dalam diriku bahkan sampai sekarang. Sejak saat itu aku membentengi diriku dari Bagas, aku bersikap temperamen kepada para lelaki hanya untuk melindungi diriku sendiri. Aku tak tahu lagi bahkan sudah lupa bagaimana caranya bersikap lembut pada setiap orang. Bagas tahu apa yang terjadi di balik sikap egois, keras kepala dan temperamentalku maka setiap partner kerjaku tidak pernah merasa cocok denganku tapi Bagas tetap saja mempertahankanku di sana. Aku tahu Bagas ingin menebus kesalahannya namun aku masih belum bisa berdamai dengan itu. Entahlah, sampai kapan aku harus terbelenggu dengan kejadian itu, setiap malam aku masih bermimpi buruk maka dari itu aku sering bangun terlambat. Aku memandang ke luar jendela, menikmati angin segar yang menerpa wajahku. Aku dan Ario datang untuk mengambil hasil laporan dari psikiater tentang pengakuan Danya. Aku yakin bahwa Danya sama sekali tidak berbohong, aku tahu bahwa Danya memiliki dendam yang sangat besar kepada keluarganya sehingga membuatnya menjadi seperti ini. Disamping itu kemarin siding kedua sudah dilakukan, oleh jaksa penuntut umum Danya dituntut hukuman seumur hidup atas kasus pembunuhan yang dilakukannya kepada suaminya. Jujur, sebagai sesama perempuan, aku merasakan kesedihan dan kehancuran yang dialami Danya. Bagaimanapun Danya harusnya memiliki perlindungan dari keluarganya namun dia malah mendapatkan intimidasi dan ketidakadilan di sana. Aku yakin pasti banyak Danya Danya yang lain di luaran sana yang berusaha untuk memperjuangkan dirinya sendiri, maka dari itu aku ingin menyelematkan mereka sebelum terlambat, sebelum mereka melakukan hal yang akan melukai diri mereka di masa depan karena dendam yang membara di hati mereka atas ketidakadilan yang terjadi pada mereka. Hasil laporan pun membuktikan bahwa Danya tidak berbohong, semoga dengan hasil laporan ini, bisa mengurangi masa hukuman Danya. Aku berkata pada Ario untuk kembali ke kantor dan menyerahkan hasil laporan dari pengakuan Danya. Ario hanya mengangguk dan menuruti apa yang kuperintahkan, sebelum berangkat aku pergi ke apotek terlebih dahulu membeli obat untuk luka di tangan Ario akibat cakaranku. Aku merasa bersalah karena sudah melampiaskan kemarahanku padanya yang sama sekali tidak tahu apa-apa maka dari itu aku ingin menebus kesalahanku padanya dengan mengobati tangannya yang terluka itu. Pada awalnya Ario merasa ragu menyerahkan tangannya padaku karena dia takut aku malah akan membuat tangannya semakin terluka lebih parah, tapi dengan kesinisanku dan sedikit ancaman karena aku adalah seniornya, dia akhirnya bersedia untuk diobati. Apakah orang lain mengira bahwa aku terlihat jahat? Hanya karena sikapku yang cuek dan sedikit temperamen? Ah, mungkin aku harus memperbaiki sikap negatifku agar orang-orang di sekitarku mulai mengerti bahwa aku tidak sejahat yang mereka pikirkan. **            “Bagaimana perkembangan kasusmu?” tanya Bagas padaku ketika kami sedang makan malam di restoran favoritnya. Entah kenapa Bagas memintaku untuk makan malam dengannya setelah aku menyerahkan berkas laporan pengakuan Danya padanya.            “Lumayan, seperti yang kamu lihat aku bisa melaporkan hasilnya secara tepat waktu.” Jawabku ketus, sudah lama setelah kejadian itu aku dan Bagas tidak pernah berbicara berdua seperti ini.            “Iya, di kasus ini kamu dan Ario benar-benar kompak dan hasil pekerjaan kalian sangat bagus, aku sangat puas.”            “Terimakasih, ini juga karena bimbingan darimu, dan btw kenapa kamu mengajakku kemari? Kalau hanya untuk memuji kinerja kami bisa dilaukan di kantor kan?”            “Iya, aku mengajakmu ke sini ingin mengetahui apakah kamu baik-baik saja dengan apa yang telah terjadi?”            “Maksudnya?”            “Aku khawatir dengan kondisimu setelah mengetahui dari pengakuan Danya kemarin. Aku benar-benar tidak ingin kamu terluka makanya aku mengajakmu kemari.”            “Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku dan kamu fokuslah pada hidupmu sendiri. Aku tidak apa-apa,”            “Orang yang mengatakan dirinya baik-baik saja, berarti dia tidak sedang baik-baik saja. Alya, aku tahu kamu, aku hanya tidak mau kamu terluka itu saja.”            “Aku sama sekali tidak paham sama apa yang kamu maksud, kamu lihatkan aku baik-baik saja baik secara fisik maupun mental. Lagipula aku sudah melupakan kejadian itu, kamu tidak perlu mencemaskan hal itu lagi.”            “Alya, aku ingin kamu berhenti dari kasus ini, biar Ario dan Ronald yang akan melanjutkannya.”            “Apa? Aku tidak salah dengar? Kamu mempermainkanku? Candaanmu sama sekali tidak lucu! Aku pergi!” aku berdiri dan bermaksud untuk meninggalkan Bagas sendirian, namun Bagas memegang tanganku dan menyuruhku untuk duduk kembali.            “Alya, aku serius! Aku tidak sedang main-main, sejak kejadian itu aku merasa sangat bersalah karena ide gilaku sudah membuatmu hampir terluka. Rasa bersalah itu begitu membayangiku, aku juga sengaja tidak memberikanmu kasus yang berhubungan dengan pelecehan maupun kekerasan seksual karena aku takut hal itu bisa mengganggumu. Aku sama sekali tidak tahu kalau kasus ini malah megarah ke sana. Aku sangat mengkhawatirkanmu Alya, jadi kupikir kamu harus menyerahkan kasus ini pada Ario dan Ronald. Ini terlalu berbahaya untukmu.”            “Bagas, kamu terlalu lebay, aku bisa menghandle kasus ini sampai selesai, aku sama sekali tidak menyangka, kamu berfikir sempit seperti ini padaku, kamu pikir aku tidak sanggup menyelesaikan kasus ini hanya gara-gara kejadian di masa lalu? Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan pernah lari lagi dari masa laluku, aku akan menghadapinya. Jadi kamu gak usah khawatir.”            “Al, aku tidak ingin kamu terluka lagi.”            “Bagas, please, izinkan aku menyelesaikan kasus ini sampai akhir, aku tidak akan protes ataupun marah-marah lagi, aku akan memperbaiki sikapku yang temperamental, aku sudah merasa terhubung dengan kasus ini. Dan kuyakin aku bisa menyelesaikan kasus ini, percaya padaku.”            “Baik, aku percaya padamu, tapi dengan satu syarat, aku akan selalu memantaumu, menjagamu dari jauh.”            “Oke.” Setelah perbincangan itu, Bagas mengantarku pulang ke apartemen, melihatku tinggal sendirian, Bagas memintaku untuk memasang CCTV dan alarm yang terhubung ke kantor polisi karena dia takut orang jahat masuk ke apartemenku. Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat atasanku yang terlalu mencemaskan bawahannya ini. Dia lupa bahwa aku adalah seorang polisi dan aku sangat terlatih bela diri, jadi aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku mengusir Bagas untuk segera pulang karena aku ingin istirahat, tapi dia keukeuh ingin mengecek kondisi apartemenku, apakah ada kaca yang bolong, jendela dan pintu yang rusak. Tapi setelah melihat bahwa kondisi apartemenku baik-baik saja, dia merasa lega. Sebelum pulang, dia mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan kedua orangtuaku, karena ada hal serius yang ingin dia sampaikan pada mereka. Aku tidak bertanya lebih dalam karena kurasa itu tidak penting, namun aku sedikit bertanya-tanya apa maksud Bagas ingin bertemu dengna orangtuaku? Selain itu, Bagas juga mengajakku untuk pergi ke luar ketika libur kerja nanti. Aku merasa bergidik karena Bagas yang dingin dan kaku tiba-tiba mengajakku keluar seperti sedang mengajak kencan seorang wanita. Dia tidak mau pergi sebelum aku menjawab iya, karena aku malu dengan tetanggaku yang melihat kami seperti pasangan yang sedang bertengkar, maka kujawab iya. Dan akhirnya Bagas pun pergi sambil tersenyum. Aku merasa sedikit bergidik ngeri karena sikap atasanku yang sangat aneh itu. Namun di dalam hati ada perasaan senang karena sejak dulu aku sangat mengagumi Bagas. Tapi anehnya, ketika aku bertemu Ario, hatiku juga merasa berdebar-debar. Aku tidak tahu ada apa denganku. Aku menutup pintu apartemen dan menguncinya, takut Bagas kembali lagi dan mengatakan hal aneh yang membuatku semakin bingung dengan perasaanku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD