Masa Sulit Maya

1473 Words
Sepeninggal Bagas, aku masih belum tidur, memikirkan apa yang dikatakan oleh atasanku itu. Selama ini Bagas tidak pernah mengajakku untuk sekedar makan malam hanya untuk membicarakan masalah pekerjaan. Aku pun bergidik ketika Bagas mengajakku untuk pergi keluar bersamanya ketika libur kerja nanti. Aku benar-benar dibuat gelisah oleh laki-laki yang dulu sempat singgah di hatiku itu. Karena tidak bisa tidur, aku lantas membawa buku catatan milik Maya, aku pikir dengan membacanya aku bisa melupakan ketidaknyamanan akibat sikap Bagas padaku yang tiba-tiba berubah manis itu. Aku membuka halaman buku yang diberi pita sebagai tanda bahwa aku baru membacanya separuh dan mulai menyelami cerita yang ditulis oleh Maya. Dalam catatan Maya Septiani Part 3 Oktober 2019            Setelah kepergian Danya, aku tinggal sendiri, aku tidak melanjutkan kuliah karena pada saat itu ibu keburu meninggal dan ayah hanya fokus mencari Danya hingga di saat kematiannya pun ayah hanya memintaku untuk mencari Danya. Aku mencoba menata hidupku kembali dengan mencari pekerjaan karena bagaimanapun aku membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Lagipula ayah hanya mewariskan toko kelontong yang sudah bangkrut. Dengan berbekal ijazah SMA aku mencoba melamar pekerjaan sebagai pelayan toko buku yang kebetulan memajang info lowongan kerja. Beberapa hari kemudian aku dipanggil untuk interview, ada beberapa orang yang sama-sama mengikuti wawancara kerja, dan aku merasa yakin bahwa akan diterima karena di antara para pelamar kerja hanya aku yang masuk kualifikasi. Namun justru hal itulah yang akan kusesali sampai sekarang. Sesuai dugaanku, dari beberapa pelamar kerja yang diwawancara bersamaku, hanya akulah yang diterima bekerja di sana. Saat itu aku senang karena telah mendapatkan pekerjaan, dan di sanalah awal mula kesengsaraanku.            Aku sama sekali tidak tahu dunia kerja itu seperti apa, karena semenjak lulus SMA aku tidak punya pengalaman bekerja di manapun, yang kupikirkan ketika lulus SMA adalah kuliah di fakultas keguruan dan setelah lulus langsung bekerja sebagai guru, karena menjadi guru matematika adalah mimpiku. Namun mimpi tak selamanya bisa menjadi kenyataan, aku mendapatkan dua kabar buruk yang tak kusangka-sangka di usia mudaku yaitu kematian kedua orangtuaku dan ketidakberdayaanku diriku menghadapi dunia yang keras. Hari pertama kerja awalnya semua rekan kerjaku terlihat baik dan ramah, bersedia mengajariku dari mulai cara menata buku-buku, mengecek barang sampai membereskan barang-barang di gudang. Namun setelah beberapa hari bekerja, rekan-rekan kerjaku malah bersikap semena-mena padaku, mereka mulai menyuruhku melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh mereka, dan aku harus bekerja double, melakukan pekerjaanku dan juga pekerjaan mereka, disamping itu aku selalu disuruh untuk mengepel lantai tiap pagi, padahal seharusnya pekerjaan mengepel lantai itu giliran. Dan yang paling bikin kesal adalah seorang rekan kerjaku yang paling kubenci yaitu Toto Maris, meskipun dia laki-laki tapi dia sangat kasar padaku padahal aku ini perempuan. Dia tidak pernah segan-segan memukulku jika aku melakukan kesalahan, kata-kata binatang dan kata-k********r seolah menjadi makanan sehari-hariku. Pada awalnya aku ingin mengundurkan diri saja karena lingkungan pekerjaannya yang sangat tidak sehat dan membuatku stress yang membuatku selalu menangis tiap malam. Namun setelah kupikir-pikir lagi aku tidak memiliki siapapun dan pengalaman kerja di bidang apapun, jika aku mengundurkan diri dari pekerjaan itu kemungkinan aku harus bersusah payah lagi mendapatkan pekerjaan. Maka kuputuskan aku akan tetap bertahan walaupun mentalku yang menjadi taruhannya.            Seiring berjalannya waktu aku mulai beradaptasi setelah berhasil mengambil hati rekan-rekan kerjaku dengan membuatkan mereka akun f*******: yang pada saat itu sedang booming-boomingnya. Namun musuhku tetap Toto Maris, meskipun aku sudah membuatkannya akun f*******: bahkan mentraktirnya, sikapnya padaku tetap kasar bahkan dia semakin berani meminta uang kepadaku ketika gajian. Aku tahu sifatku berbeda dari orang lain, sebelum aku belajar tentang karakter manusia, aku sama sekali tidak pernah tahu kenapa denganku, aku yang sulit sekali beradaptasi dengan orang-orang baru, merasa sepi di keramaian bahkan aku merasa menjadi orang aneh ketika sedang berkumpul dengan rekan-rekan kerjaku yang lain, seperti ada ketidaknyamanan yang terjadi dalam diriku. Tapi jika aku sedang sendiri, aku malah merasa damai dan menjadi diriku sendiri. Baru kuketahui bahwa aku memiliki karakter introvert yang di mana energinya adalah ketika sedang sendiri. Aku merasa nyaman ketika sedang sendiri, tidak ada yang berkata-k********r padaku, tidak ada perundungan, tidak ada yang membicarakanku di belakang namun seperti sengaja ingin terdengar olehku. Ketika hari libur tiba aku berbelanja sendiri, nonton film di bioskop sendiri, makan di restoran sendiri, bersantai di rumah sendiri. Saat itu aku tidak punya pacar, padahal jauh di lubuk hatiku, aku juga butuh teman berbagi cerita. Namun entah kenapa seperti ada perasaan tidak pantas dalam diriku ketika aku mencoba untuk dekat dengan laki-laki. Baru kutahu sekarang, bahwa aku memiliki self esteem yang sangat rendah, sehingga aku merasa bahwa diriku tidak berharga. Hal itu disebabkan karena sedari kecil aku kerap mendapatkan perundungan, baik dari teman-teman sekolahku maupun dari lingkungan sekitarku. Ditambah lagi perundungan yang dilakukan oleh hampir semua rekan-rekan kerjaku dan kata-k********r dari Toto Maris yang setiap hari kudengar, semua itu membuatku menjadi manusia yang tidak berharga. Bertahun-tahun aku mencoba untuk bangkit, namun berulang kali pula aku kembali gagal dan malah terpenjara dalam kerendah dirianku. Aku tidak memiliki siapapun di rumah, aku tinggal sendiri, tidak ada yang membelaku atau sekedar mendengarkan ceritaku. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri, menangis sendiri saat itu, ketika Toto Maris berusaha melecehkanku.            Hari itu, masih terekam dalam ingatanku, saat itu aku hendak sholat di lantai atas, untuk sampai ke lantai atas aku harus melewati Toto Maris dan satu rekan kerjaku yang lain yang sedang membereskan kertas HVS. Ketika aku dengan sopan mengatakan permisi pada mereka, mereka malah melempar-lempar badanku seperti layaknya bola hingga aku terjatuh ke lantai karena membentur pintu gerbang. Aku berusaha untuk tidak menangis dan malah tertawa-tawa seolah tindakan mereka adalah suatu lelucon yang pantas ditertawakan. Padahal sesungguhnya kejadian itu membuatku sangat terluka. Aku merasa diriku sangat kotor dan tidak berharga. Bahkan entah kenapa dulu aku sempat berfikiran untuk membunuh diriku sendiri. Mungkin ini terkesan agak lebay tapi aku tidak tahu kenapa aku malah berfikir seperti itu, padahal bagi sebagian orang mungkin kejadian yang kualami adalah hal yang sepele dibandingkan dengan kejadian yang dialami oleh orang-orang yang mengalami perundungan di tempat kerja yang kondisinya jauh lebih parah. Tapi sesuatu yang mungkin mudah buat seseorang bisa sulit buat orang lain, dan hal itu terjadi padaku, di saat orang lain mengatakan itu sangat mudah, tapi bagiku itu sangat sulit diterima.            Bertahun-tahun aku bekerja layaknya bukan manusia, diperlakukan seperti pelayan oleh para rekan kerjaku bahkan atasanku, hanya karena aku jarang sekali berbicara bahkan protes. Apalagi oleh Toto Maris, dia semakin sering mengata-ngataiku dengan kata-k********r dan kata-kata binatang. Mungkin dia lupa namaku karena dia sering memanggilku dengan sebutan monyet, anjing, babi setiap hari di depan para konsumen yang datang ke toko. Mungkin saat itu aku sudah mati rasa sehingga pada akhirnya aku pun tak sanggup lagi menahan beban mental dan emosi yang sering kupendam yang pada akhirnya menjadi bom waktu yang berdampak pada kondisi fisikku. Aku pun akhirnya jatuh sakit, karena ketidak berhargaan yang kuterima aku berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Pada saat aku pingsan di rumahku, aku sudah pasrah jika nanti orang-orang menemukanku sudah dalam keadaan tak bernyawa, karena aku tidak memiliki siapapun lagi yang akan menangisi kematianku nanti. Tapi tiba-tiba begitu aku sadar dari pingsan, aku sudah berada di rumah sakit dengan selang infus di tanganku. Kulihat tetanggaku yang bernama ibu Risa duduk di sebelah tempat tidurku. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku pun akhirnya menangis mengeluarkan semua emosi terpendamku selama ini. Ibu Risa memelukku hangat layaknya seorang ibu, dia juga turut menangis melihatku hidup sebatang kara.            Setelah aku kembali sehat, aku pun memutuskan untuk resign dari pekerjaanku, aku seolah mendapatkan keberanian, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku di tempat itu. Aku yakin Tuhan memberikanku kesempatan yang kedua untuk memperbaiki hidupku lagi, bahwa aku ini adalah manusia yang berharga, manusia yang pantas diperlakukan sebagai manusia. Aku pergi dengan tersenyum meninggalkan lingkungan kerjaku yang toksik termasuk Toto Maris yang kerap kali memanggilku dengan sebutan yang tidak pantas. Semenjak hari itu aku tidak sudi mencari pekerjaan lagi, aku mulai belajar membuat website dan mengasah skill menulisku. Berharap aku bisa menghasilkan uang dari menulis. Setelah aku resign, aku tidak pernah bertemu lagi dengan para rekan kerjaku termasuk Toto Maris, bukan tidak pernah bertemu, tapi lebih tepatnya aku menghindari mereka. Hidupku pada awalnya baik-baik saja semenjak resign, aku merasa menemukan diriku sendiri yang telah lama terkubur. Tapi kejadian yang tak terduga datang kembali, Danya dia dengan tega menjual rumahku, rumah peninggalan ayahku. Diam-diam ketika dia pergi dari rumah, dia mengambil sertifikat rumah dan menggadaikannya, namun karena tidak berhasil tertebus, rumah itu akhirnya disita. Aku marah pada Danya atas kelakuannya yang sangat kejam padaku dan ayahku, tapi dia malah balik memarahiku dengan mengatakan bahwa dia sangat berhak atas rumah itu karena harga dari rumah itu tidak jauh lebih berharga dari dirinya dan masa depannya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Karena rumahnya disita, aku pun terpaksa harus pindah, dan mulai menyewa tempat tinggal. Aku merasa kebencianku pada Danya semakin menggila, entah sampai kapan dendamku pada wanita itu bisa mereda. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD