Penemuan Mayat

1372 Words
           Aku masih dalam keadaan belum tidur setelah membaca buku catatan Maya, perbedaan yang sangat menonjol antara sifat Maya dan Danya, Maya yang sedari kecilnya mendapatkan perundungan dari teman-teman dan orang-orang di sekelilingnya sehingga dirinya tumbuh menjadi orang yang rendah diri dan merasa tidak berharga sedangkan Danya sedari kecilnya mendapatkan pujian yang berlebihan karena kecantikannya sehingga dirinya menjadi korban pelecehan bahkan kekerasan seksual dari orang-orang terdekatnya. Baik Maya maupun Danya sebenarnya memiliki kesamaan yaitu mereka sama-sama mendapatkan ketidakadilan dari orang-orang terdekatnya, jika mereka bersatu tentunya mereka akan mendapatkan kekuatan untuk bisa melawan ketidakadilan itu dan sama-sama berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Aku hanya menghela nafas panjang memikirkan kondisi mereka yang menyedihkan. Jam menunjukan pukul dua belas malam, dan aku masih overthingking memikirkan masa depan orang lain. Aku mencoba untuk memejamkan mata namun tetap tak bisa, insomniaku kembali kambuh dan hanya menatap ponselku sambil scroll media sosial. Tiba-tiba, dering ponselku berbunyi, kubuka pesan chat dari Ario. Dia menanyakan aku sedang apa karena dia melihat akun whatsappku sedang online. Aku merasa hubungan Ario dan aku seperti bukan antar senior dan junior, yang biasanya setiap juniornya itu selalu segan kepada seniornya. Apakah aku yang terkesan tidak memberikan batasan kepada juniorku sendiri ataukah Ario yang memang pada dasarnya memiliki sifat yang supel dan pintar mengambil hati setiap orang? Aku memutuskan untuk tidak membalas pesan chat dari Ario, hal itu agar Ario bisa memahami batasannya sebagai rekan kerja, tidak lebih dari itu. Aku pun mencoba untuk memejamkan mataku.            Keesokkan harinya, aku sudah menunggu kedatangan Ario di halaman apartemen, biasanya Ario yang selalu mengetuk pintu apartemenku dan menungguku bersiap-siap untuk sama-sama pergi ke kantor, bahkan Ario pun ikut-ikutan kena damprat atasan karena turut terlambat. Namun kali ini dan mungkin untuk seterusnya aku ingin merubah pola hidupku dengan datang tepat waktu, aku ingin menjadi contoh yang baik untuk juniorku. Tapi sudah hampir satu jam Ario belum juga datang, aku berfikir kalau Ario sakit lagi seperti yang kemaring-kemarin, maka aku mencoba untuk meneleponnya.            “Halo? Ario, kamu masih di mana?” kataku to the point, kudengar dari ujung telepon Ario seperti sedang bangun tidur.            “Ya? Aku? Aku masih di rumah, ada apa Al? kamu ada perlu?” jawab Ario, suaranya terasa berat.            “Kamu baru bangun tidur? Aku sudah hampir satu jam menunggu di halaman apartemenku, dan kamu baru bangun? Kamu lebih parah dariku, sejak kapan kamu terlambat?” cerocosku memarahi Ario.            “Hah? Maksudnya? Aku gak ngerti maksud kamu Al? Kenapa kamu menungguku? Apa kemarin aku berjanji padamu?” tanya Ario bingung. Aku semakin murka dengan sikap pura-pura polos Ario.            “Ario, kamu jangan bercanda, hari inikan hari kerja, kenapa kamu terlambat? Hah?”            “Hari kerja? Ini kan hari minggu, kenapa kita harus kerja?” Aku seketika terdiam untuk beberapa detik, dan langsung mematikan telepon lalu segera mengecek hari dan tanggal di ponselku, dan ternyata ini adalah hari minggu, aku menutup mukaku karena malu sudah memarahi Ario di telepon, aku merutuki keteledoranku ini dan segera kembali ke apartemen. Berulang kali ponselku berbunyi, tertera nama Ario namun sengaja tidak kuangkat. **            Di mobil, Ario terus-terusan tersenyum sambil sesekali melirik ke arahku. Aku pura-pura memainkan ponselku dan tidak mengindahkan lirikan darinya.            “Kemarin aku benar-benar kaget saat kamu meneleponku, kupikir kamu akan mengajakku kencan tapi ternyata mengajakku bekerja di hari minggu.” Ujarnya sambil menahan tawa.            “Kamu pikir itu lucu? Itu kesalahan, setiap orang pasti punya salah,” belaku sambil membuang muka. Ario tidak membalas ucapanku, dia malah menahan senyumnya, aku memijat kepalaku karena gagal menjaga wibawaku di hadapan juniorku. Di tengah-tangah kekikukkanku, tiba-tiba walki talkie milikku berbunyi, suara Arnold, dia mengatakan kalau di dekat jembatan di daerah X ditemukan mayat laki-laki berumur sekitar 30 tahun, Arnold memintaku dan Ario untuk segera ke TKP. Aku mengambil lampu sirene dan memasangkannya di atap mobil, Ario menambah kecepatan mobil.            Kulihat banyak orang berkerumun di sekitar TKP, Arnold dan beberapa polisi lainnya sedang memasang garis polisi. Aku dan Ario segera menghampiri Arnold dan menanyakan segala sesuatunya. Aku melihat mayat laki-laki yang sudah hampir membusuk itu, dilihat dari kondisinya diperkirakan waktu kematiannya sekitar dua hari yang lalu. Arnold memberikan plastik yang berisi barang-barang korban pada Ario untuk disimpan. “Namanya Toto Maris, usianya 30 tahun, dia bekerja sebagai pramuniaga di salah satu mini market di daerah ini, belum dipastikan penyebab kematiannya.” Kata Arnold menjelaskan, mendengar nama Toto Maris, aku langsung kaget, baru kemarin aku membaca buku catatan Maya tentang Toto Maris, laki-laki yang telah membullynya ketika bekerja dan sekarang nama itu menjadi mayat, apakah Toto Maris ini sama dengan Toto Maris si pembully Maya? Aku menyelidiki sesuatu di sekitar mayat, namun tidak kutemukan apapun, lalu aku pun menanyakan pada saksi yang pertama kali menemukan mayat tersebut, sampai akhirnya mayat tersebut dibawa oleh ambulance untuk diotopsi. Aku dan Ario segera masuk ke mobil untuk menyelidiki barang-barang milik korban yang terdiri dari dompet dan sebungkus rokok ke kantor. Setibanya di kantor polisi, Bagas menyuruh aku, Ario dan beberapa detektif lainnya untuk mengikuti rapat mengenai penemuan mayat laki-laki tersebut. Menurut ahli forensik, mayat itu adalah korban pembunuhan. Dan Bagas membagi tim kepada kami para detektif untuk segera mencari pelakunya. “Kamu kenapa dari tadi diam aja? Ada masalah?” tanya Ario sambil duduk di hadapanku. Aku menggeleng. “Sabtu kemarin aku membaca buku catatan Maya, dan di sana tertulis nama Toto Maris, dia adalah rekan kerja Maya ketika masih bekerja di toko buku. Apa kamu pikir ini ada hubungannya dengan penyebab komanya Maya?” tanyaku sambil berspekulasi. “Aku akan segera menyelidiki identitas Toto Maris pada Airin di bagian data, aku segera kembali!” seru Ario sambil berlari. Aku membuka tasku untuk membaca kembali buku catatan milik Maya namun sialnya aku tidak menemukannya, kupikir buku catatan itu tertinggal di kamarku. Aku memijat keningku, tak lama kemudian, Ario datang dan memberikanku secarik kertas berisi alamat rumah Toto Maris. “Kita akan segera tahu siapa sebenarnya Toto Maris itu,” ujar Ario padaku, aku mengangguk dan kami pun segera pergi menuju alamat rumah Toto Maris. **            Aku dan Ario sampai di rumah Toto Maris, Ario mengetuk pintu rumah itu dan seorang wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh membukakan pintu. Wanita itu menyuruh kami masuk, aku memandang pada Ario hendak mengatakan bahwa Toto Maris ditemukan meniggal pada wanita yang kuterka adalah ibunya itu. Namun aku tidak tega untuk mengatakan itu, maka aku mengonfirmasi pada wanita itu tentang kebenaran identitas Toto Maris. Wanita itu mengonfirmasi bahwa Toto Maris adalah putranya, dan dia dinyatakan belum pulang ke rumah selama empat hari lamanya. Dengan berhati-hati aku mengatakan bahwa Toto Maris sudah meninggal. Wanita itu menunduk lama, dia meneteskan air matanya, kupikir wanita itu akan menangis histeris setelah mendengar bahwa putranya telah meninggal namun dugaanku ternyata keliru. Wanita itu memanggil suaminya dan mengatakan bahwa Toto Maris telah meninggal, sama seperti istrinya, suaminya pun hanya menunduk sedih bahkan tidak meneteskan sedikit pun air mata. Aku agak sedikit kaget dengan fenomena tak biasa itu. Aku pun mulai menanyakan bagaimana keseharian Toto Maris itu. Ibu Tuti (ibu kandung Toto Maris) “Toto itu sejak kecil anaknya keras kepala dan sangat nakal, entah mengalah kepada siapa anak itu. Setelah dewasa pun kenakalannya semakin menjadi-jadi, dia pernah kedapatan mencuri, memukul anak orang sampai babak belur, bahkan dia sering bertengkar dengan kami orangtuanya sendiri. Aku tahu musuhnya banyak, dan sudah menduga bahwa hal ini pasti akan terjadi. Kami sudah ikhlas dengan kepergiannya, tapi bagaimana pun juga sebagai ibu yang melahirkannya terasa sakit sekali hati ini mendengar si Toto meninggal.”            Aku mengatakan kalau jenazahnya sudah selesai diotopsi dan akan datang hari ini. Aku pun meminta izin kepada ibu Tuti untuk melihat-lihat kondisi kamarnya Toto Maris. Di sana aku melihat banyak sekali poster-poster vocalist band yang beraliran musik punk. Ario pun mencari barang-barang yang mungkin bisa menjadi petunjuk tentang Maya, aku pun menemukan sebuah gantungan kunci bergambar planet yang kutemukan seperti gambar yang ada di kamar kost Maya. Aku pun segera mengambil gantungan kunci tersebut setelah meminta pada orangtuanya Toto Maris. Aku pun melihat pada Ario, dia mengambil sebuah jacket hoodie di lemari pakaian Toto Maris, Ario mengatakan kalau jacket hoodie itu sangat mirip dengan laki-laki yang pernah dilihatnya di CCTV sesaat sebelum Maya ditabrak. Aku pun seperti mendapatkan benang merah tentang teka-teki yang merujuk kepada kasus Maya. Aku bertanya-tanya ada hubungan apa antara Maya dan Toto Maris? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD