Setelah mendapatkan bukti-bukti bahwa laki-laki yang memakai jacket hoodie yang berbicara dengan Maya sebelum kecelakaan di CCTV itu adalah Toto Maris, aku segera menghubungi Ervin untuk memberitahukan hal itu. Ervin dan timnya segera mencari petunjuk lain tentang latar belakang Ervin yang kemungkinan si penabrak merupakan teman Toto Maris. Aku merasa memiliki titik terang dan selanjutnya yang akan aku lakukan adalah mewawancarai orang-orang yang pernah mengenal Maya dan Toto Maris. Aku dan Ario segera pergi untuk mewawancarai teman-teman kerjanya Maya dan Toto ketika mereka masih bekerja di toko buku.
Aris (Rekan kerja Maya dan Toto)
“Aku sudah bekerja di sini hampir sepuluh tahun, dan Toto saat itu baru bekerja selama empat tahun. Selama dia bekerja, dia memang terkesan mengintimidasi rekan-rekan kerjanya baik yang sudah lama maupun yang masih baru. Dia itu kalau sedang capek bisa jadi orang yang sedang kesetanan. Pernah waktu itu aku dan dia bertengkar saat sedang datang barang dan kebetulan saat itu mobil lain yang juga sedang mengirim barang ke toko buku kami mengalami kecelakaan, dan aku mengambil inisiatif untuk pergi membantu ke lokasi kecelakaan dan meninggalkan pekerjaanku di toko buku yang juga sedang kedatangan barang yang cukup banyak sedangkan laki-laki di toko buku kami hanya tiga orang. Jadi yang mengerjakan pekerjaan itu hanya tinggal dua orang, Toto dan Agus. Dan begitu aku kembali ke toko, Toto memukulku di depan para konsumen, mengatakan kata-kata binatang padaku seniornya sendiri. Kalau Maya, bagaimana ya mengatakannya, Maya adalah tipe orang yang menurutku sangat lemah, karakternya yang pendiam, dikata-katai apapun oleh teman-teman kerjanya, disuruh-suruh apapun dia tidak pernah membantah. Untuk itu teman-teman kerjanya suka sekali membullynya. Maya adalah target bullying paling empuk, hampir semua teman-teman kerjanya di sini pernah membullynya termasuk aku ya. Saat itu aku sangat capek sekali karena habis datang barang, dan ada konsumen yang sedang mencari papan tulis besar, barang-barang berat harusnya diambil oleh kami, para laki-laki tapi aku malah menyuruh Maya yang ketika itu sedang menggulung kertas sampul. Sampai akhirnya kaki Maya tertimpa papan tulis yang besar itu dan menyebabkan kuku di kakinya terkelupas. Aku merasa bersalah saat itu sekaligus merasa kasihan dengan Maya, dia juga dikucilkan oleh teman-teman kerjanya yang lain, tidak ada yang mau makan siang bersamanya, dia selalu makan sendirian di atap. Mungkin untuk menebus kesalahanku, aku akan pergi menengok Maya di rumah sakit besok bersama teman-teman kerja yang lain.”
Teti (Rekan kerja Maya dan Toto)
“Aku kerja di toko ini sudah tujuh tahun. Pendapatku tentang Maya, dia adalah gadis yang pendiam, aku juga tidak terlalu dekat dengannya, dia seolah memberikan jarak kepadaku untuk berusaha mendekat padanya. Bagiku Maya itu sombong dan susah diatur, waktu aku menyuruhnya mengecek buku tabungan dan nota dia malah mengecek poster yang susah dan banyak, ujung-ujungnya malah gak selesai. Yang kena damprat atasan ya senior-seniornya ini. Jadi intinya ya, Maya itu orangnya ngeyel kalau dikasih tahu, wajar aja dia dijauhin sama temen-temen kerja yang lain. Sedangkan Toto menurutku dia orangnya humoris, emang agak kasar sih kalau ngomong sama orang, tapi kalau sama aku, dia gak pernah kasar. Malah kita tuh berteman akrab.”
Agni (Rekan kerja Maya dan Toto)
“Saya bekerja di sini sudah hampir lima tahun, pendapat saya tentang Maya, dia itu orangnya kalem, baik, terlalu baik malah jadinya sering dimanfaatkan, pernah teman kerja di bagian kalkulator yang bernama Fani tukeran hari libur sama Maya, padahal saya tahu di hari itu Maya ada acara, tapi sengaja dia cancel karena takut Fani marah. Saya tahu kok gimana Fani orangnya, dia itu judes dan mau menang sendiri. Saya sebenarnya kasihan sama Maya, dia dibully oleh hampir semua temen-temen kerja, saya pernah melihat dia sedang menangis di atap. Saya pengen nolong, tapi saya gak bisa apa-apa, di sini sistem kerjanya itu yang kuat yang bertahan, dan saya mengaku kalau kapasitas saya di sini lemah, kalau saya belum berkeluarga mungkin sudah dari dulu saya berhenti kerja di sini, tapi saya punya anak-anak yang membutuhkan banyak kebutuhan, sedangkan penghasilan suami saya hanya cukup untuk makan. Jadi ya, lebih baik saya bungkam seolah tidak tahu apa-apa dengan apa yang telah menimpa Maya. Sedangkan pendapat saya tentang Toto, dia orangnya sangat menyebalkan, dia pernah menggendong saya dan menaruh saya di tempat sampah, dia pikir itu bercandaan, jadi saya hanya pura-pura tertawa, padahal dari lubuk hati saya yang paling dalam, hati saya sakit diperlakukan seperti itu. Kalau suami saya tahu mungkin dia akan marah melihat istrinya dilecehkan seperti itu, tapi karena saya masih membutuhkan pekerjaan jadi terpaksa saya diam saja.”
Fani (Rekan kerja Maya dan Toto)
“Saya kerja di sini sudah enam tahun, perndapat saya tentang Maya, dia itu gimana ya, jelasinnya, dia itu tulalit, bodoh, gak ada menarik-menariknya, pemalas, susah diatur. Wajar aja temen-temen kerja yang lain gak suka sama dia, kenapa bu Rose malah memperkerjakan orang gak kompeten seperti dia sih? Padahal ya kalau mau sepupu saya masih jauh lebih baik dibanding si Maya itu. Kalau Toto, dia emang orangnya kayak gitu, sifat orangkan beda-beda, ngomong kasar, ngomong kata-kata binatang menurut saya wajar kalau buat laki-laki, gak ada masalah. Dan menurut saya kami gak pernah merasa membully Maya kok, emang dianya aja yang baperan, merasa terdzolimi, padahal kerjanya aja gak becus.”
Bu Rose (Atasan Maya dan Toto)
“Saya menerima Maya itu karena saya lihat nilai-nilai di ijazah SMAnya tinggi, dan saya pikir Maya itu orangnya cerdas. Saya tidak pernah tahu kalau karyawan saya yang lain mengintimidasi Maya, saya melihat mereka bekerja dengan baik kok, bercanda, tertawa-tawa, tidak ada bentuk intimidasi di sini. Dan Toto pun begitu, dia bekerja dengan baik. Saya benar-benar merasa sedih mengetahui Maya koma dan Toto meninggal dengan tragis. Ehm, karena kejadiannya setelah mereka resign dari sini, jadi saya tidak memiliki tanggung jawab untuk memberikan asuransi ataupun uang duka dalam hal inikan? Bukan karena saya pelit ya, tapi karena ini memang aturan dari perusahaan. Tapi semua ini tidak akan masuk mediakan? Saya hanya takut dengan adanya kejadian yang menimpa mantan karyawan saya, toko ini jadi sepi dan omzetnya turun. Jadi tolong samarkan nama toko dan nama-nama karyawan di sini ya.”
Setelah berhasil mewawancarai beberapa karyawan di tempat kerja Maya dan Toto dahulu, aku dan Ario segera pergi dari sana. Jujur, saya marah pada sikap Fani dan Bu Rose tentang Maya yang seolah menutup mata dengan perundungan yang terjadi di lingkungan kerja mereka. Saya bertambah kasihan dengan Maya, dia yatim piatu dan harus menerima bentuk perundungan yang terjadi di tempat kerjanya. Wajar kalau Maya sampai resign dari tempat itu, melihat lingkungan pekerjaannya begitu sangat menakutkan, tidak ada perlindungan apapun di sana yang ada hanya ketakutan dan ketidaknyamanan.
Di sisi lain, Arnold dan timnya mewawancarai teman-teman kerja Toto di mini market, dan tim yang lain mewawancarai teman-teman sekolah Toto. Sekilas mengenai Toto, menurut saya dia itu tipe orang yang pada dasarnya kasar dan mudah marah, entah apa yang terjadi di masa lalunya, saya tidak tahu, tapi menurut saya Toto itu pasti memiliki banyak musuh di kehidupannya, banyak sekali orang-orang yang membencinya seperti yang dikatakan oleh ibu kandungnya sendiri, dan hal itulah mungkin yang menjadi motif pembunuhan Toto. Jadi pelakunya akan sangat mudah ditemukan karena melihat circle pertemanan Toto.
Aku membuka jendela mobil dan melihat langit yang cerah. Kehidupan ini begitu sangat keras terhadap orang-orang yang lemah seperti Maya maupun Danya dan orang-orang yang sedang berjuang untuk bertahan hdiup. Semoga keadilan dapat segera terbentang seluas-luasnya. Mobil melaju dengan cepat mengiringi perasaanku yang entah kenapa terasa sangat sedih.
***