Sisi Lain Toto Maris

1904 Words
           Setelah beberapa hari akhirnya polisi menemukan terduga pelaku pembunuhan Toto Maris, tak lain adalah teman nongkrongnya sendiri bernama Anto. Dalam pengakuannya Anto mengaku tidak berniat membunuh Toto, hal itu karena kecelakaan, meski dia mengaku bahwa sempat terlintas untuk mencelakakan Toto namun tidak berniat membunuh. Dia hanya ingin membuat perhitungan saja dengan Toto atas apa yang telah dilakukan Toto padanya. Anto merasa sakit hati, karena pacarnya direbut oleh Toto. Disamping itu Toto sering mengintimidasi Anto dengan menghinanya terus-terusan, dan hal itu membuat Anto akhirnya memelihara dendam. Dari penuturan Anto, selama dua hari dia membuntuti Toto ke manapun Toto pergi, dan pada saat kejadian kecelakaan Maya, dirinya melihat Toto bertemu dengan Maya di sebuah minimarket. Anto melihat betapa Toto memaksa Maya untuk memberikan tasnya padanya, sempat terjadi percekcokan diantara keduanya yang membuat Maya berlari dengan kencang tanpa melihat jalan yang pada akhirnya membuatnya tertabrak truk. Sedangkan Toto hanya diam mematung setelah itu dia lari. Anto berusaha untuk mengejar Toto dan menemukannya di sebuah jembatan. Di sanalah Anto menghajar Toto yang sedang mengalami mental yang lemah akibat melihat kejadian tak terduga atas perbuatannya. Di detik-detik terakhir, Anto melihat Toto babak belur, dia pun hendak meninggalkan Toto namun entah kenapa Toto malah menuju ke sungai, dan malah menceburkan dirinya di sungai yang cukup deras itu. Anto yang kaget dengan apa yang dilakukan Toto berusaha untuk melarikan diri karena takut disangka sebagai pembunuh.            “Jadi, Toto melakukan bunuh diri?” tanyaku pada Arnold yang ikut serta mewawancarai Anto di ruangan investigasi. Arnold hanya mengangguk.            “Kasus ini semakin rumit,” ujar Ario. Aku pun hanya menghela nafas berat, mencoba berfikir. Tiba-tiba Bagas datang dan menugaskan aku dan Ario untuk menangani kasus Toto. Pada awalnya aku protes pada Bagas karena paman dan bibi Maya saja belum ditemukan sedangkan Danya tidak bersedia untuk datang dan bertemu dengan Maya untuk yang terakhir kalinya sebelum operasi donor organ dilakukan. Namun Bagas menegaskan bahwa kasus Toto dan kasus Maya sangat berhubungan, meskipun saksi terakhir sudah berhasil ditemukan dan sekarang sedang diproses oleh tim detektif yang lain, hal itu belum sepenuhnya selesai. Karena Toto diduga melakukan bunuh diri, karena hal itulah aku dan Ario diharuskan untuk menelusuri latar belakang Toto Maris secara utuh. Dan Bagas malah berkeyakinan bahwa jawaban dari kasus Maya ada pada Toto, dialah pemegang kunci terakhir dalam kasus Maya. Aku hanya terdiam, dengan argument Bagas. Di akhir statmentnya, dia ingin segera aku menyelesaikan dua kasus yang berhubungan erat ini dengan membuatnya terlibat, karena menurut Bagas, kasus ini harus segera selesai dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Aku tidak protes karena ini menyangkut Maya, dia harus segera bertemu dengan paman dan bibinya, juga Danya.            “Kalau kamu dan aku mengurus kasus ini, bagaimana dengan Ario? Apa dia akan dipindahkan ke tim lain? Dia sudah tahu banyak hal tentang kasus ini, dan dia juga sudah banyak membantuku di kasus ini, bagaimana mungkin dia dipindahkan?” protesku pada Bagas di ruangannya.            “Ario tidak akan dipindahkan ke tim lain, dia akan tetap di tim kamu, dan kita bertiga yang akan menyelesaikan dua kasus ini sekaligus.” Jawab Bagas yang membuatku sangat kaget.            “Kita bertiga? Apa kamu tidak salah?” tanyaku padanya. Bagas menggeleng.            “Al, kita akan satu tim lagi.” Katanya lagi sambil menatap mataku lekat. Kali ini aku tidak membuang muka, aku kembali menatap matanya yang kecoklatan itu. mata yang membuatku jatuh cinta padanya.            Sepulangnya dari kantor, aku masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Bagas tadi siang. Hal yang benar-benar di luar dugaanku, dia akan bergabung di timku dan hal itu membuatku menjadi agak risih.            Keesokan harinya, aku menunggu di halaman apartemenku seperti biasa, terlihat mobil yang biasa dipakai oleh Ario namun ada yang berbeda di sana, di jok depan ada seseorang yang sangat kukenal, Bagas. Karena Bagas sudah duduk di depan, maka aku mengalah untuk duduk di belakang. Selama perajalanan, Ario yang tadinya selalu banyak bicara mendadak terdiam, di mobil, kami bagaikan tiga patung yang kaku dan saling tidak peduli sampai akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami yaitu rumah Toto Maris.            Orangtua Toto menyambut kedatangan kami dengan baik, meskipun putra mereka telah meninggal, namun di keluarga tersebut tidak ada tanda-tanda kesedihan ataupun kehilangan. Atau mungkin hanya aku yang merasa demikian. Karena aku sudah mewawancarai orangtua Toto Maris, jadi kami akan mewawancarai saudara-saudaranya, tetangga, dan teman-teman sekolahnya. Karena kami yakin seseorang bisa memiliki karakter yang keras, tentu pasti ada sebabnya, dan sebabnya bisa saja karena terjadinya inner child yang terluka atau memiliki trauma sehingga Toto menjadi sosok yang kasar. Galih (Adik Toto Maris)            “Sebenarnya saya tidak terlalu dekat dengan A Toto karena dia membuat saya takut, tatapannya saja seperti preman yang ingin berkelahi. Kata abah sih waktu kecil saya sama A Toto dekat, tapi setelah A Toto SMP, entah kenapa dia malah berubah setelah bergaul sama A Anang, tetangga di sebelah rumah. A Anang itu orangnya kelihatannya baik tapi dari cara bicaranya seperti mengompori A Toto, kayak nyuruh-nyuruh A Toto harus pake baju ini kalo mau dianggap keren, harus begini harus begitu biar gak ada yang berani sama A Toto. Jadi A Anang tuh kayak nyetir hidupnya A Toto. Pernah juga waktu A Toto kelas 2 SMP, dan say akelas 5, dia ketahuan nyuri uang ibu di lemari. Saya lihat tapi karena gak berani bilang ke ibu jadi diam aja. Meski akhirnya ketahuan juga sama ibu kalau A Toto yang nyuri uang ibu. Ibu marah-marah karena itu kan uang buat berobat abah yang saat itu abah dirawat di rumah sakit. Meski saat itu A Toto gak pernah nyuri uang ibu lagi, tapi dia nyuri di luar, kayak nyuri barang-barang di minimarket, ikut tawuran sama anak-anak SMA, padahal saat itu A Toto masih SMP. Dan hal itu membuat abah sama ibu dipanggil ke sekolah. Waktu SMA, lebih parah lagi, A Toto pernah mukul murid baru yang katanya godain ceweknya, sampai hidungnya bengkok, mabuk-mabukan bagi A Toto udah biasa, tawuran udah hampir tiap hari sampai ditangkap polisi bahkan yang lebih parah lagi A Toto pernah mukulin guru olahraganya sampai akhirnya dikeluarin dari sekolah. Ya udah setelah itu A Toto jadi berubah kayak preman, udah jarang pulang ke rumah, abah sama ibu juga udah kayak capek ngurusinnya, kayak udah dilepas aja maunya A Toto apa.” Anang (Teman Toto Maris)            “Saya kenal sama Toto itu udah dari Toto SD, saya saat itu kelas 2 SMP. Awalnya Toto sering nongkrong sambil main gitar sama anak-anak di daerah sini, yang pada akhirnya kami berdua jadi akrab. Mengenai perubahan yang terjadi dengan Toto selama berteman dengan saya, saya merasa itu semua bukan salah saya, saya tidak pernah mengajak Toto untuk melakukan hal-hal buruk atau bahkan menyuruhnya melakukan kriminal. Dia melakukan itu atas kemauannya sendiri. Dia juga sering curhat ke saya mengenai perlakuan orangtuanya yang kerap kali bertengkar, dia jadi merasa tidak betah di rumah dan bergaul dengan anak-anak kompleks ini, main gitar, main gaple, mungkin dia menemukan frekuensinya di sini. Orang-orang sering mengatakan kalau saya membawa dampak buruk bagi Toto kerena mungkin saya lebih tua dibanding Toto, tapi sebenarnya Totolah yang membawa dampak buruk buat saya dan anak-anak kompleks sini, bayangkan di usia dia yang baru kelas 6 saja dia sudah mulai merokok,orangtuanya gak tahu. Kelas 1 SMP dia mulai minum-minum, saya juga ikut minum tapi gak sampai seperti Toto, saya juga sebenarnya cuma 2 tahun temenan sama Toto karena saya udah SMA, jadi lingkup pertemanan saya anak-anak SMA gak levelah sama anak-anak SMP mah. Lama gak pernah kontakkan sama Toto, kata anak-anak kompleks dia semakin parah pergaulannya, nidurin anak orang, mabuk-mabukan, mukulin orang sampai dia pernah di penjara. Anak-anak kompleks sini gak ada yang mau main sama dia lagi soalnya dia mudah kesinggung dan kalau kesinggung suka main pukul. Jadi mungkin dia gaul sama anak-anak lain. Jujur, saya gak pernah ngajak-ngajak dia ke hal-hal negatif kayak sekarang seperti yang dikatakan oleh keluarganya itu. Dia kelakuannya emang udah nakal dari dulu, ditambah orangtuanya sering berantem hingga dia jarang ada di rumah dan larinya malah ke tempat tongkrongan, sampai akhirnya dia menemukan karakter aslinya seperti itu.” Pak Bandi (Guru SMP Toto)            “Saya benar-benar sedih murid saya meninggal dengan cara seperti itu, saya merasa gagal menjadi guru karena tidak berhasil mendidik murid saya menjadi anak yang baik. Sejak Toto masih kelas satu SMP, saya sudah mengira anak ini pasti agak bandel, dan ternyata benar, dia memang kesannya itu troublemaker, setiap kali dia sekolah, ada saja murid-murid lain yang lapor tentang ulah Toto, yang diganggu, dibully, dipukul. Dia juga sering bolos pelajaran, tapi sebenarnya dia itu pintar di pelajaran seni rupa, Pak Juna selaku guru seni rupanya pernah cerita ke saya kalau gambar-gambar Toto itu bagus-bagus dan beliau juga pernah memperlihatkan hasil gambar Toto. Sayangnya ya, Toto tidak fokus sama kelebihannya itu padahal Pak Juna sering mengikutsertakan Toto dalam perlombaan menggambar tingkat SMP dan dia selalu menang. Saya tidak pernah tahu kenapa Toto jadi seperti itu, sangat amat disayangkan hidupnya berakhir tragis seperti itu, mudah-mudahan tidak ada lagi Toto Toto yang lain.” Erna (mantan pacar Toto)            “Saya sama Toto pacaran udah satu tahun, dan menurut saya Toto itu orangnya ya lumayan baik, dia suka traktir, belanjain saya baju, tas, sepatu bahkan dia pernah ngasih saya uang buat benerin rumah saya yang saat itu sering bocor, saya juga gak tahu uangnya dari mana karena saya gak pernah nanya, dia suka marah kalau saya suka nanya, kata dia, yang penting uangnya ada. Saya putus sama dia karena Toto selingkuh sama Seli, jadi ya saya putusin ditambah lagi orangtua saya gak setuju saya pacaran sama Toto, soalnya dia kerjanya bukan pegawai kantoran, katanya gajinya sedikit. Jadi ya udah, kita putus dan saya gak pernah ketemu dia lagi setelah putus, soalnya saya langsung dinikahkan sama orangtua, takut saya balik lagi mungkin sama Toto. Mendengar Toto meninggal, jujur saya sedih banget, kenangan saya sama Toto lumayan banyak dan kadang saya susah buat lupainnya. Bagi saya Toto itu orang baik, mungkin dia jahat ke orang lain tapi kalau sama saya dia gak pernah kasar.” Seli (Mantan pacar Toto)            “Gimana ya kalau ngomongin Toto, dia itu orangnya asyik, dia diajak ke manapun hayu aja. Aku pacaran sama dia cuma enam bulan, karena bagiku Toto bukan tipe idealku, aku sama dia hanya buat seneng-seneng aja, dia juga kayak gitu kok. Dia pernah kasar sama aku, pernah mukul karena aku ketahuan ciuman sama cowok lain. Tapi dia tetap balik lagi ke aku hahahaha. Aku sama dia sama aja, mungkin kalau Toto itu versi cowoknya sedangkan aku versi ceweknya. Orang-orang kayak aku sama Toto itu sering dipandang sebelah mata, kita tuh sering dianggap produk gagal sama orang-orang terdekat kita hanya gara-gara cara pandang dan cara bersikap beda sama orang lain. Gak tahulah, orang-orang tuh pada bikin pusing dengan segala petuah-petuahnya, kita hanya berusaha untuk gak munafik sebenarnya, berusaha untuk nunjukin ke orang-orang kalau kita itu ya gini karakternya. Cuma ya orang-orang sering negative terus sama kita. Mendengar Toto meninggal, aku sedih, cuma dia yang bisa ngerti perasaanku, aku kehilangan sosok Toto yang peduli sama aku.”            Setelah kami bertiga mewawancarai keluarga, teman-teman, mantan pacar, dan guru Toto, kami bertiga segera kembali ke kantor. Di perjalanan kami hanya terdiam, berusaha untuk memahami apa yang dirasakan Toto dari saat dia kecil sampai dewasa. Namun kami belum menemukan titik terang dari itu semua. Dan untungnya Bagas menemukan sebuah buku sketsa dari mantan pacarnya Toto yang bernama Erna. Mudah-mudahan kami bisa mencoba untuk mendalami perasaan Toto dan menemukan rahasia yang dialami oleh Toto. Hujan gerimis membasahi jalan, aku memandang keluar dengan perasaan sendu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD