Kencan Pertama

1375 Words
           Aku dan Ario berkumpul di kantor Bagas, kami membicarakan kasus Toto sebagai bahan diskusi. Menurut kami Toto adalah seseorang yang memiliki kepribadian korelis, hal itu ditambah dengan lingkungannya yang kurang suportif untuk seorang anak yang berada dalam fase mencari jati diri. Dan hal itulah yang membuatnya menjadi sosok yang pemarah sekaligus pembully, yang pada akhirnya hal itu membuat Toto mengakhiri hidupnya di tengah-tengah rasa bersalahnya yang memuncak. Kasus Toto Maris berakhir di tutup, dan kami akan kembali memusatkan perhatian kepada kasus Maya. Sebelum pulang, Bagas menahanku di ruangannya, pada awalnya aku ragu namun karena merasa tidak enak, aku pun mengiyakan, sedangkan Ario pulang terlebih dahulu, namun kulihat raut wajah Ario menampakkan ketidaksukaannya pada Bagas, hal itu terlihat semenjak kami bertiga berada di dalam satu mobil. Sebenarnya aku juga kurang nyaman karena Bagas ikut campur dengan kasusku, namun aku tidak memiliki kuasa apa-apa untuk menolak atau sekedar beradu argument dengan keputusan atasanku.            “Ada apa?” tanyaku pada Bagas setelah Ario keluar dari ruangan.            “Apa sabtu ini kamu ada acara?” Bagas bertanya balik.            “Tidak, memangnya ada apa?”            “Aku ingin mengajakmu nonton,”            “Apa? Apa aku tidak salah dengar?”            “Memangnya kenapa? Kita berdua sama-sama lajang, apa salah kalau kita berdua pergi kencan?”            “Bukankah kita harus segera menyelesaikan kasus Maya?”            “Tapi bukankah ada jadwal libur? Kita juga manusia, kita berhak untuk menyegarkan otak. Lagian ini di luar pekerjaan, bukan dari dalam pekerjaan.” Mendengar ajakan Bagas, aku merasa agak bingung untuk menjawab. Sepeertinya Bagas ingin memperbaiki hubungan kami yang sempat renggang pasca kejadian yang membuatku trauma itu, namun aku pun agak curiga apakah Bagas menyukaiku? Mengingat dirinya yang selalu dingin dan ketus padaku. Melihat kesungguhan Bagas, aku pun mengiyakan ajakannya, karena sebenarnya aku pun merindukan kebersamaan dengan partner kerjaku yang dulu.            Setelah keluar dari ruangan Bagas, aku berencana untuk pulang ke apartemenku, apalagi hari sudah larut malam, aku memutuskan untuk memakai taksi online agar lebih nyaman. Tapi kulihat Ario masih berada di halaman kantor sedang berbincang bersama beberapa polisi lain yang sedang jadwal lembur. Begitu melihatku, Ario segera menghampiriku.            “Urusanmu dengan Pak Bagas sudah selesaikan? Ayo kita pulang! Aku akan mengantarmu sampai rumah.” Ujar Ario, meskipun aku belum sempat memesan taksi online, tapi aku merasa aneh dengan sikap Ario yang semakin hari malah semakin dekat denganku.            “Kenapa kamu belum pulang? Kamu sengaja menungguku?” tanyaku pada Ario.            “Iya, aku sengaja menunggumu, aku yakin Pak Bagas tidak akan mengantarmu pulang, karena beliau lembur, jadi aku berinisiatif untuk mengantarmu pulang. Lagipula ini sudah sangat larut, aku khawatir.”            “Khawatir? Kamu lupa kalau aku polisi? Aku pernah pulang jam tiga pagi sendirian, gak ada masalah. Lagipula aku bisa menggunakan taksi online.”            “Aku tahu itu, tapi bagaimanapun juga aku adalah partner kerjamu, jadi aku merasa bertanggung jawab dengan keselamatanmu. Sudah, berhenti berdebat, ini sudah larut malam, kita lanjutkan perdebatannya besok pagi saja, ayo!” ucap Ario menuju mobil, aku hanya melongo begitu dia pergi, dia memerintah seniornya sendiri seperti sedang memerintah pacarnya yang sedang ngambek. Namun karena sudah lelah, aku pun mengikutinya menuju mobil.            Selama di perjalanan, aku malah tertidur di mobil, Ario sengaja menyetel musik klasik yang justru membuatku mengantuk. Aku terbangun ketika mendengar dering ponsel milik Ario.            “Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanyaku, kulihat Ario sedang berbicara dengan ibunya di telepon.            “Maaf, aku tidak tega membangunkanmu karena tidurmu terlihat sangat pulas, jadi aku sengaja membiarkanmu tidur.” Jawabnya, ketika dia menutup teleponnya.            “Ya sudah tidak apa-apa, terimakasih sudah mengantarku pulang, oh iya, salam buat ibumu ya, maaf membuatnya khawatir, karena anaknya mengantarku pulang.” Ujarku, Ario tersenyum dan mengangguk. Setibanya di kamar apartemenku, aku langsung menjatuhkan diriku di atas kasur dan tertidur pulas. **            Esoknya aku sudah menunggu di halaman apartemen, dan sepuluh menit kemudian, mobil Ario pun datang, tapi tak kudapati Bagas di mobil.            “Ke mana Bagas?” tanyaku pada Ario.            “Pak Bagas membawa mobilnya sendiri ke kantor, karena ada beberapa hal yang harus dia urus, jadi dia lebih dulu pergi ke kantor.” Jawab Ario. Aku pun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Akhirnya aku bisa merasa nyaman duduk dalam mobil tanpa ada Bagas, Ario pun begitu, dia sama nyamannya denganku, bahkan dia menyetel lagu kesukaannya lagi, The Beatles.            “Apa kamu selesai membaca buku catatan Maya?” tanya Ario, sembari matanya tetap lurus melihat jalan.            “Belum, kemarin-kemarin aku disibukkan dengan penemuan mayat Toto, jadi aku belum sempat membaca buku catatannya lagi.” Jawabku malas, aku berpikir, sebenarnya yang senior di sini akua tau Ario sih? Ario terlihat begitu mempedulikan perkembangan kasus ini dibandingkan aku sendiri.            “Oke, santai saja, masih ada waktu kok. Oh ya, sabtu nanti kamu ada acara gak? Aku ingin mengajakmu ke acara pameran lukisan Basuki Abdullah.” Ajak Ario. Aku agak tergiur dengan ajakan Ario, karena aku sangat menyukai seni lukis, dan Ario sangat tahu itu, apalagi yang dipamerkan adalah lukisan sanga maestro lukis yang dimiliki negeri ini.            “Jam berapa?” tanyaku, kemungkinan aku bisa pergi setelah selesai menonton dengan Bagas.            “Jam sembilan malam,”            “Nanti hubungi lagi ya, soalnya Bagas juga mengajakku pergi sabtu ini.” Kulihat raut wajah Ario berubah kecewa. Tapi aku seolah tidak peduli.            “Kalian mau pergi ke mana?”            “Bagas mengajakku nonton film, lagipula ini pertama kalinya Bagas mengajakku keluar setelah betahun-tahun kami tidak menjadi tim lagi.”            “Jam berapa kalian pergi?”            “Pagi sampai sore mungkin. Jadi malamnya mungkin aku bisa pergi denganmu ke pameran.”            “Kamu seperti memiliki dua pacar,”            “Pacar? Aku sama sekali tidak menganggap kalian berdua seperti itu kok, kita adalah partner kerja, tidak lebih.”            “Yah, kita adalah partner kerja,” Ario menegaskan kembali kata-kataku, namun terdengar nada kekecewaan di sana. Setelah sampai di kantor, aku langsung menuju meja kerjaku, tidak kupedulikan panggilan Ario yang menyuruhku menunggunya. Entah kenapa ada perasaan aneh ketika Ario mengajakku pergi sabtu malam nanti, apakah aku menyukai partner kerjaku sendiri? **              Hari ini adalah hari sabtu, sesuai janji, dari kemarin Bagas sudah mewanti-wanti agar aku jangan melupakan janji bertemu hari ini. Sejak subuh, aku sudah mematut-matut penampilanku di depan cermin, aku bingung harus menggunakan pakaian apa? Sedangkan aku tidak punya dress atau pakaian feminin lainnya. Terakhir kali aku menonton dengan Bagas, saat kami sedang membuntuti seorang penipu kelas kakap yang lari ke bioskop, dan saat itu aku hanya memakai jeans belel dan kemeja lama, entah kenapa aku tidak pernah mempedulikan penampilanku. Dan kini aku bingung, aku harus memakai pakaian jenis apa. Namun aku memilih untuk memakai atasan berlengan pendek polos dan rok selutut bermotif bunga dengan sepatu kets warna putih dan tas selempang berbentuk kecil. Kudengar bel berbunyi, setelah kubuka ternyata Bagas dengan pakaiannya yang santai namun memukau.            “Sudah siap?” tanyanya padaku. Aku mengangguk, lalu kami pun pergi.            “Mau nonton apa hari ini?” tanyaku pada Bagas ketika kami sudah berada di dalam mobil.            “Kamus suka drama romantis?” tanya Bagas.            “Tidak, aku suka film thriller, film-film pembunuhan, horor dan film-film gore. Aku kurang suka film-film bertema cinta-cintaan.” Jawabku lugas. Bagas hanya mengangguk.            “Oke, kita nonton film Spiderman saja gimana? Karena jadwal filmnya itu tinggal Spiderman sama film tema cinta-cintaan.”            “Ya udah gak apa-apa.”            “Kamu terlihat feminine hari ini, sangat cerah dan cantik.”            “Makasih pujiannya.” Bagas hanya tersenyum mendengar jawabanku yang terkesan cuek.            Di bioskop tak sengaja aku bertemu dengan Ario, dia bersama seorang perempuan. Ario memandang ke arahku dengan tatapan kagum. Sedangkan aku fokus pada perempuan yang dibawa Ario. Aku menonton film namun pikiranku ke mana-ke mana. Aku memandang Ario dan perempuan yang entah siapa di kursi depan, dari tadi aku bertanya-tanya siapa perempuan yang dibawa Ario? Pacarnyakah? Kenapa Ario tidak pernah bercerita kalau dia sudah punya pacar? Biasanya kalau orang yang sedang jatuh cinta akan sering membicarakan pacarnya, tapi Ario tidak sekalipun. Sepanjang film aku tidak menikmati jalan ceritanya, pikiranku terus dipenuhi Ario. Apakah aku cemburu padanya? Apakah aku memiliki perasaan pada Ario? Aku tidak bisa berpikir dengan jernih, dan memutuskan untuk pulang, Bagas mengejarku, namun aku berhasil melarikan diri darinya. Kencanku dengan Bagas akhirnya buyar gara-gara Ario. Entah apa yang harus kukatakan pada Bagas besok, kalau aku malah lari saat menonton film bersamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD