Setelah kejadian kabur dari kencan pertamaku dengan Bagas, aku benar-benar merasa bersalah padanya. Bahkan aku malah pergi ke taman sendirian setelah kejadian itu, memikirkan kenapa aku berbuat seperti itu. berulangkali Bagas meneleponku namun tidak kujawab karena malu. Aku merutuki kebodohanku sendiri karena bersikap kekanak-kanakkan. Mungkin Bagas akan marah atau tersinggung dengan sikapku ini. Aku juga sebenarnya bingung kenapa aku bersikap seperti itu setelah melihat Ario bersama perempuan lain, apakah aku cemburu melihatnya? Lantas kalau aku cemburu, apakah aku menyukai Ario? Juniorku sendiri? Kalau dipikir-pikir, kisah percintaanku memang kurang begitu mulus, menyukai diam-diam tapi ujung-ujugnnya malah ditinggal menikah atau malah dighosting. Aku juga sebenarnya bertanya-tanya kenapa percintaanku kurang mulus. Padahal usiaku sekarang sudah 31, aku merasa telah gagal menjadi seorang perempuan. Aku selalu bertanya-tanya apakah ada laki-laki yang mau menerima peremuan dengan profesi detektif sepertiku? Yang mana aku selalu dihadapkan dengan berbagai macam bahaya yang mengancamku setiap saat. Bahkan mantan pacarku yang bernama Ervin itu yang juga berprofesi sama denganku pernah menyuruhku untuk berhenti dari pekerjaanku karena khawatir.
Di samping itu selain alasan aku tidak nyaman tinggal dengan keluargaku karena ayahku yang menikah lagi setelah kematian ibu, ayah juga kerap kali menjodoh-jodohkanku dengan laki-laki pilihannya sehingga membuatku tidak nyaman, aku juga yakin ayah berlaku seperti itu karena dorongan istri barunya yang memang tidak senang melihatku. Dan pada akhirnya aku yang pergi, pernah ayah datang ke kantorku sambil membawa makanan kesukaanku dan meyuruhku untuk kembali pulang, namun aku tidak mau, jika istri barunya itu berhenti ikut campur urusanku tentang pasangan hidupku. Namun, aku tidak pernah melihat kesungguhan dari ibu tiriku itu, dia kerap kali menyindirku tentang kelajanganku itu, dan hal itu membuatku muak. Aku bukannya tidak mau menikah, tapi aku hanya ingin mendapatkan pasangan yang benar-benar tepat, yang aku memiliki kecenderungan padanya dan dia juga memiliki kecenderungan padaku. Di samping itu aku ingin seseorang yang bisa menerima profesiku juga, karena setelah menikah pun aku akan tetap bekerja sebagai detektif. Mungkin aku harus menikah dengan sesama detektif juga, tapi melihat apa yang kulakukan sekarang, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sampai akhirnya aku pulang ke apartemen dalam keadaan bersalah. Tapi di apartemen, aku melihat Bagas, dia berdiri di depan pintu apartemenku, seperti sedang menungguku. Saat dia melihat kedatanganku, aku tidak bisa kabur lagi seperti tadi, lagipula mau kabur ke mana?
“Aku menunggumu dari tadi siang, kamu ke mana aja?” tanya Bagas tanpa rasa marah ataupun tersinggung dengan kejadian tadi. Lidahku kelu, tapi aku mencoba untuk menjawab pertanyaannya.
“Tadi aku duduk di taman,” jawabku sambil menunduk, antara malu dan segan, bagaimana pun Bagas adalah atasanku juga.
“Aku ingin bicara, bisakah kita bicara?”
“Iya, tapi kita bicara di luar saja,” aku dan Bagas pun pergi sama-sama menuju restoran. Di sana kami berbicara tentang kepergianku yang tiba-tiba di tengah kencan kami. Aku mengatakan kalau aku merasa tidak nyaman menonton berdua dengan atasan apalagi hal itu diketahui oleh juniorku. Meskipun sebenarnya hal itu merupakan kebohongan, karena Ario sudah tahu kalau aku akan pergi nonton dengan Bagas. Dan Bagas mempercayai hal itu, dia juga merasa kalau dia punya andil salah karena tidak memahamiku. Aku merasa bersalah karena telah berbohong pada Bagas, namun hal itu juga dilakukan untuk menutupi kecemburuanku pada Ario. Sampai sekarang Ario tidak menghubungiku padahal dia punya janji denganku untuk pergi ke pameran lukisan malam ini. Mungkin saat ini Ario sedang sibuk bersama perempuan yang tadi dibawanya dan melupakan janji denganku. Di saat aku sedang berbicara dengan Bagas pun aku malah memikirkan juniorku itu, sebenarnya ada apa denganku?
“Lalu, bisakah kita merencanakan lagi jadwal kencan yang gagal total itu?” tanya Bagas. Aku kaget dengan pertanyaannya, ternyata dia masih belum menyerah untuk berkencan lagi denganku. Karena aku merasa bersalah dengan apa yang telah kuperbuat sehingga mengacaukan apa yang direncanakan Bagas, maka aku pun bersedia untuk menjadwal ulang kencan kami yang gagal itu. Malam itu aku dan Bagas menghabiskan malam minggu dengan mengobrol tentang kasus Maya dan sedikit nostalgia saat kami masih bertugas dalam satu tim sambil berjalan-jalan menikmati udara malam. Hingga akhirnya Bagas mengantarku pulang ke apartemen. Sebenarnya aku merasa nyaman ketika mengobrol dengan Bagas, tapi hanya sebatas mengobrolkan pekerjaan saja, aku tidak nyaman jika mengobrolkan tentang masalah pribadi dengan Bagas. Mungkin aku dan Bagas hanya cocok sebagai rekan kerja tidak sebagai pasangan. Tapi aku pun tidak tahu, apakah benar seperti itu kenyataanya. Lagipula aku pun harus realistis usianku sudah 31, jadi aku harus memikirkan masa depanku. Bisa saja Bagas yang dingin dan agak cuek itu menyukai dengan tulus. Aku akan belajar untuk bisa membuka hati untuk Bagas. Toh, di usiaku sekarang, sudah bukan saatnya lagi aku memikirkan perasaan suka diam-diam pada laki-laki yang belum tentu memiliki perasaan yang sama denganku. Maka sudah kuputuskan untuk mengenyahkan pikiranku tentang Ario dan lebih fokus memikirkan Bagas. Aku tahu kalau diriku bermasalah, memiliki trauma yang sangat dalam, hingga membuatku menjadi takut membina relationship. Namun hal itu tentunya harus kuobati, aku tidak ingin terus-terusan terbelenggu dalam luka masa lalu, semuanya harus segera kuselesaikan agar aku bisa melangkah menuju masa depan.
Di kamar, aku membuka-buka buku harianku ketika aku masih berusia belasan tahun yang kusimpan dalam laci lemariku. Kasus Maya membuatku mencoba memberanikan diri untuk membuka luka yang sejak lama kusimpan rapat-rapat. Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum membuka buku harian milikku itu.
Buku Harian Alya Damayanti
Januari 2006
Malam minggu, ketika aku sedang membaca novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, laki-laki yang kusukai itu datang ke rumahku, dia hendak meminjam buku dariku, aku tahu tindakannya itu hanya modus belaka, dia tipe laki-laki yang tidak suka membaca buku, tapi dia malah meminjam buku kepadaku. Aku tahu dia hanya ingin bertemu denganku dan mengobrol. Meskipun aku menyukainya juga tapi aku masih bisa mengendalikan perasaanku. Sedangkan dia tidak, dia terang-terangan merindukanku bahkan dia menyatakan perasaannya padaku. Aku bingung namun aku juga tidak bisa membohongi perasaanku itu, maka aku pun menerima perasaannya, dan kami resmi pacaran. Teras rumahku menjadi saksi bahwa kami pacaran. Dunia remaja memang sangat indah, setiap pulang sekolah, pacarku sering mengantarku pulang, sesekali kami sengaja mengobrol lama di suatu tempat sampai sore, hingga ibu marah-marah kepadaku. Di samping itu pacarku sangat memperhatikanku, aku flu sedikit, dia langsung membelikan obat untukku, bahkan membawakan buah-buahan agar aku kembali pulih. Seiring berjalannya waktu, hubungan kami semakin dekat seakan tidak memiliki sekat. Saat itu hujan turun, aku dan dia habis rapat osis, kebetulan kami adalah dua orang yang aktif juga di organsisasi sekolah. Kami terjebak di sekolah sampai sore, sedangkan teman-temanku yang lain sudah lebih dulu pulang sebelum hujan membesar. Dia mengajakku ke ruang osis sambil menunggu hujan reda. Dalam kondisi dingin, berdua, dan tidak ada siapa-siapa, dia mencoba melecehkanku, saat itu aku sama sekali tidak tahu kalau hal itu adalah bentuk pelecehan, karena statusku yang pacaran dengannya, sebenarnya aku tidak suka denga napa yang dia lakukan padaku, mereba-raba tubuhku bahkan menciuminya. Aku berontak namun dia mengancamku akan memutuskanku jika aku tidak mau melakukan apa yang dia suruh. Aku bimbang, namun di sisi lain aku sama sekali tidak suka dia memperlakukanku seperti itu, tapi di sisi lain aku juga tidak rela harus putus dengannya. Jadi aku pun bersedia untuk tidak protes denga napa yang dia lakukan padaku, namun untungnya sebelum dia melakukan hal yang lebih jauh lagi, terdengar penjaga sekolah sedang membersihkan ruangan kelas, karena kaget dan takut ketahuan, aku langsung berlari menerjang hujan besar, tak kupedulikan pacarku yang masih ada di ruangan osis. Aku pulang dalam keadaan basah kuyup dan perasaan yang tidak menentu, di satu sisi aku lega karena sudah terbebas dari pacarku yang hendak melakukan hal tidak senonoh padaku, namun di sisi yang lain seperti ingin menangis meraung-raung memeluk ibu, namun itu tidak kulakukan karena aku takut ibu akan curiga. Dan keesokannya, pacarku itu terlihat sedang bersama perempuan lain, mereka sedang makan di kantin sambil bercanda, kata temanku, perempuan itu adalah pacarnya. Aku jelas kaget karena aku juga pacarnya. Aku minta penjelasan padanya, namun dia seolah menghindariku, dan akhirnya aku pun berkesimpulan untuk tidak lagi menghubungi dan menemuinya lagi. Sejak saat itu aku merasa jijik dengan diriku sendiri, aku merasa kotor dan tidak pantas. Perasaan tidak pantas itu membuatku menjadi pribadi yang rendah diri. Bahkan aku tidak mau lagi dekat-dekat dengan laki-laki, ada perasaan takut yang teramat sangat jika punya pacar. Aku menganggap kalau pacaran harus mengorbankan diri untuk seseorang yang disukai meskipun sebenarnya kita tidak menyukainya. Semenjak itu aku tidak pernah pacaran lagi, meskipun ada beberapa laki-laki yang menyukaiku dan menginginkanku jadi pacarnya, aku tolak, karena aku takut dan tidak sudi diperlakukan seperti yang pernah dilakukan oleh mantan pacarku itu!
Setelah membaca buku harian itu, aku menangis sejadi-jadinya, karena kejadian itu sangat menyakitkanku, karena rasa sakit hati yang luar biasa yang selama ini kupendam, membuatku muntah-muntah. Dan malam itu aku tertidur dengan perasaan lega yang luar biasa, meskipun masih ada secuil rasa dendam di hatiku pada laki-laki yang telah melecehkanku itu.
***