Kebencian

1229 Words
Pukul delapan pagi, aku baru bangun tidur, setelah sholat shubuh aku langsung tidur lagi, karena rasa kantuk yang luar biasa. Setelah membaca kembali rasa sakitku di buku harian, aku merasa sedikit lebih baik. Mungkin rasa dendam yang memenuhi relung jiwaku selama ini sangat menggangguku dan membuatku terbelenggu. Aku masih belum mau beranjak dari tempat tidur dan hanya ingin rebahan saja sambil membuka ponselku yang dari tadi malam mati karena kehabisan baterai. Setelah ponselku dicash, dan kuhidupkan lagi ponselku, kulihat ada lima kali panggilan tak terjawab dan beberapa pesan chat dari Ario. Di sana tertulis bahwa dirinya meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janjinya untuk mengajakku ke pameran luksian. Aku kembali berasumsi bahwa Ario pasti membawa perempuan yang dibawanya ke pameran lukisan. Aku tidak membalas pesan chat dari Ario, aku sudah tidak peduli lagi dan hanya memikirkan diriku sendiri. Bagaimana aku bisa tetap survive di tengah-tengah traumaku. Aku menatap langit-langit kamarku, yang terlihat di sana hanyalah kehampaan, entah kenapa aku malah menjadi sentimental seperti ini, tak terasa air mataku menetes. Aku lalu mengambil buku catatan Maya yang tergeletak di lantai kamar dekat tempat tidurku. Baik aku, Maya maupun Danya, sebenarnya memiliki kesamaan, kami sama-sama mengalami pelecehan seksual, bahkan Danya lebih parah, dia jatuh terlalu dalam karena merasa hidupnya sudah hancur. Seandainya kami bertiga dipertemukan, mungkin kami bisa saling memotivasi. Aku pun mulai mengingat lagi apa yang terjadi denganku pasca kejadian pelecehan itu hingga akhirnya aku memutuskan menjadi polisi.            Setelah kejadian menakutkan itu, aku berubah menjadi orang yang pemurung, namun jika ada yang mengusikku aku akan sangat marah, teman-temanku yang mengetahui perubahanku satu persatu mulai menjauhiku bahkan sahabatku sendiri, Lara. Ke mana-mana aku selalu sendirian, aku mulai mengikuti latihan karate yang baru dua minggu ini kuikuti. Dan aku ingin menjaga diriku sendiri agar aku tidak mengalami pelecehan seksual lagi. Aku berusaha memfokuskan diriku sendiri dengan latihan setiap hari. Disamping itu pelatihku Pak Reno menyarankanku untuk mendaftar ke akademi polisi setelah lulus SMA nanti, karena secara fisik aku memenuhi syarat. Menjadi polisi sama sekali tidak ada dalam daftar keinginanku, bahkan cita-citaku bukan untuk menjadi polisi tapi menjadi seorang model, melihat tubuhku yang tinggi, dan aku terlihat fotogenic ketika difoto. Namun setelah kupikir-pikir lagi dunia modeling pasti tidak seramah yang dibayangkan, melihat dunia model itu sangatlah glamour, bagaimana kalau aku disuruh memakai pakaian yang sangat terbuka? Apakah aku sanggup? Bagaimana jika justru di sana aku malah dilecehkan lagi oleh orang-orang yang amoral, apakah aku sanggup untuk survive? Apalagi pelecehan seksual masih tabu jika diperbincangkan saat itu. Selama berhari-hari aku memikirkan masa depanku, dan akhirnya kuputuskan untuk memilih menjadi seorang polisi. Aku yakin jika aku menjadi polisi, aku bisa menyelematkan para perempuan dari para laki-laki amoral. Aku mengatakan keinginanku pada orangtua dan syukurnya mereka setuju meskipun di mata mereka ada kekhawatiran. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan mantan pacarku yang pernah melecehkanku itu, katanya, dia pindah sekolah, dan setelah kejadian itu aku sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi. Di sela-sela waktu senggangku, aku pun mencoba untuk membaca kembali buku catatan Maya, aku yakin di sana pasti ada petunjuk keberadaan paman dan bibinya. Dalam buku catatan Maya Septiani part 4            Hidup ternyata tak seindah yang kubayangkan, aku tidak mendapatkan kebahagiaan baik ketika masih kecil maupun ketika dewasa. Selain ayahku yang pilih kasih, orang-orang di sekitarku yang kerap kali menghina fisikku, nenekku juga melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang menghinaku itu. Baik rumahku, rumah nenekku, maupun rumah paman dan bibiku sebenarnya dekat, ayahku sengaja membeli rumah di dekat rumah nenek agar ayahku dekat dengan nenek. Menurutku ayahku itu tipe orang yang manja, segala sesuatunya selalu saja meminta pada nenek dan mengadu pada nenek, seperti anak kecil. Saat aku kecil, entah kenapa aku sering mendapatkan ketidakadilan dari nenekku. Waktu aku kelas tiga SD, aku disuruh memasak, padahal ibu tiriku juga suka memasak. Hanya aku yang disuruh memasak, sedangkan Danya tidak pernah, bahkan dia tidak diizinkan untuk masuk dapur. Waktu aku masak kangkong, sendok penggorengannya terjatuh ke lantai, karena minyaknya menciprat ke tangan kecilku, saat itu nenekku mengatakan kata-k********r yang membuat hatiku sakit. Dari situlah kenapa aku tidak pernah tahan dengan kata-k********r. Tidak hanya itu, saat nenekku membuka lemari bajunya dan memilah-milah barang-barangnya hendak diberikan pada cucu-cucunya, di situ kebetulan ada aku, Danya dan Mira, sepupuku, anaknya paman dan bibiku. Nenekku banyak sekali memberikan barang-barangnya pada Danya dan Mira, sedangkan aku hanya dikasih satu baju saja itu pun sudah lusuh. Padahal aku sering disuruh nenek memasak dan membantunya membersihkan rumah, sedangkan Danya dan Mira tidak pernah sekalipun disuruh membersihkan rumah. Saat itu aku sangat iri, namun aku tidak bisa mengekspresikan perasaan itu.            Nenekku juga sering menyuruhku untuk mengerjakan PR sepupuku yang lain yang sangat manja dan pemalas bernama Indra. Indra adalah adiknya Mira. Padahal Indra memiliki dua kakak yaitu Mira dan Devan. Tapi kenapa nenek malah menyuruhku mengerjakan PR si manja itu? waktu aku kelas empat SD, Indra menangis karena tidak bisa mengerjakan soal matematika di papan tulis, saat itu Indra kelas satu SD. Dan anehnya gurunya malah memanggilku bukan kakaknya, Mira yang kala itu kelas enam SD. Aku kesal, kenapa seperti itu? Nenek selalu membela Indra, bagiku Indra adalah cucu kesayangan nenek yang tak boleh terluka sedikitpun. Aku muak, padahal Indra itu sangat nakal namun anehnya jika dia melakukan kesalahan dan saat itu ada aku di situ, nenek malah memarahiku bukan Indra. Selain Indra, nenek selalu mengistimewakan Danya, padahal Danya itu bukan cucu kandungnya, tapi nenek malah lebih menyayangi Danya dibanding denganku. Nenek kerap memuji kecantikan Danya dan membanding-bandingkannya denganku. Nenek selalu berkata begini kalau memuji Danya, “Danya, cucuku yang cantik, sini, sini duduk sama nenek.” Aku yang mendengarnya terkadang sangat muak dengan pujian yang terlalu berlebihan itu.            Di masa kecil, aku sangat ingin menghapus ingatan itu, kejadian itu terus menerus menjadi mimpi buruk bagiku, mungkin ini adalah pemicu rasa rendah diriku yang parah. Dia adalah Devan, sepupuku, kakaknya Mira dan Indra. Waktu umurku tujuh tahun, Devan pernah melecehkanku dengan memilin-milin payudaraku, saat itu aku tidak tahu kalau itu adalah bentuk pelecehan seksual. Aku hanya diam saja karena tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Devan padaku. kejadian itu membuatku sangat takut kepada laki-laki. Padahal saat Devan melecehkanku, di sana ada nenekku yang sedang merajut, aku yakin nenekku juga melihat kejadian itu karena jarak antara aku dan nenekku tidak terlalu jauh. Tapi nenekku tidak melakukan apapun untuk menghentikan Devan. Apakah nenekku berusaha melindungi cucunya? Meskipun jelas-jelas hal itu salah? Apakah aku memang bukan cucunya, melainkan Danyalah cucunya? Bagaimana nenekku akan menjawab ini? Aku tahu tidak pantas aku mengungkit kejadian ini pada nenekku yang sudah meninggal, namun tetap saja rasa sakit itu masih ada di hatiku dan aku pun tidak tahu bagaimana aku mengobati rasa sakit itu.            Dan kini hidupku tidak berguna lagi, aku adalah pengangguran, tidak cantik dan tidak memiliki siapapun. Aku sebatang kara dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Setelah aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku, aku tidak berani lagi untuk sekedar melamar pekerjaan ke tempat lain, aku takut diperlakukan lagi seperti sampah seperti halnya Toto Maris memperlakukanku. Maka aku memilih untuk bekerja di rumah, untungnya aku sempat membuat website, dan aku sering membuat tulisan-tulisan dan berbagai artikel yang tentunya bisa menghasilkan uang dari adsenes, disamping itu aku juga bekerja di sebuah penerbit buku sebagai layouter. Aku merasa beruntung karena pekerjaan itu bisa dikerjakan di rumah, tepatnya di kostanku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan hidup seperti ini, aku berharap seseorang datang menolongku dan mengeluarkanku dari jurang keputusasaan ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD