Pakaian Emma yang dipinjam oleh Miu kembali dengan bentuk yang berbeda. Ada sedikit bagian yang sobek cukup panjang dari bagian bawah dekat lutut hampir setinggi paha. Miu mengaku bahwa itu diakibatkan karena dirinya tidak sengaja berdiri terlalu cepat sampai merobeknya. Emma merasa gemas tapi memutuskan untuk membiarkannya saja karena pikirnya pakaian yang sobek masih bisa diperbaiki.
Namun ternyata masalahnya bukan sampai di situ saja. Beberapa kali setelahnya terjadi hal-hal yang janggal saat berdekatan dengan Miu. Termasuk yang terjadi pada malam ini. Emma sedang menunjukkan kepada Yoshi rancangan perubahan dekorasi di restorannya yang dicetak ke dalam beberapa kertas, saat tiba-tiba saja kopi yang dibawa Miu tumpah ke atas meja makan dan membasahi salah satu kertas tersebut.
Emma mengepalkan kedua tangannya sambil menghirup nafas dalam-dalam untuk memendam emosinya. Miu memang meminta maaf tetapi ekspresinya menunjukkan yang sebaliknya. Yoshi yang tak tahu menahu tentang kejanggalan ini hanya meminta Emma untuk tenang karena ia sudah memahami ide putrinya itu tentang tampilan baru restorannya dan mengirimkan bentuk soft file melalui email saja.
Kesabaran Emma hampir habis seperti baterai ponsel yang tinggal satu garis. Tetapi karena ia menganggap bahwa Miu adalah saudara kandungnya, lebih baik ia yang mengalah. Pikirnya suatu kali akan ada waktu dimana Miu berhenti membuatnya kesal. Lagipula, dirinya sudah cukup dewasa untuk menanggapi perbuatan kekanak-kanakan semacam ini.
Biasanya ketika mengalami situasi tidak mengenakan seperti ini, Emma akan segera mencurahkan segala keluh kesahnya pada Timothy. Anehnya, beberapa hari terakhir ini sahabatnya itu semakin sibuk dengan proyek baru yang ia terima seminggu lalu. Lelaki itu hanya mengirimi pesan singkat yang mengatakan bahwa ia harus berfokus pada kliennya ini.
Awalnya Emma merasa bahwa itu wajar. Ia tetap mendukung Timothy seperti biasanya. Namun sampai dua minggu berlangsung, tidak ada perubahan signifikan di antara keduanya. Kini mereka bahkan sudah tidak pernah saling menelepon lagi. Ia menjadi curiga akan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.
"Tim," Emma mendatangi meja Timothy, dimana ia sedang berkutat dengan aplikasi desain di laptop. "Lo nggak lagi menghindari gue kan?" Pertanyaan itu keluar begitu saja atas dasar rasa penasarannya.
Timothy menghentikan aktivitasnya lalu memutar kursi menghadap Emma. "Apaan sih? Ya enggak lah. Ngapain juga gitu?" ia merespons heran.
Sebuah kursi kosong di dekatnya ditarik mendekat pada Timothy, dan Emma duduk di sana menatap lelaki itu dengan serius. "Nggak bohong?" ia bertanya menyelisik. "Kita udah sahabatan lama banget. Lo nggak bisa bohong sama gue."
"Iya, bawel." Timothy mencubit pipi Emma tapi kemudian dikibaskan.
Emma menoleh ke kanan dan kiri, berawas-awas jika saja ada yang melihat. "Jangan kaya gitu dong di muka umum. Nggak malu apa? Nanti kalo dikira kita kenapa-kenapa, atau nggak profesional gimana?"
Timothy menaikan sebelah alisnya dan menyeringai. "Idih. Biarin lah. Mereka pasti udah tahu kalo kita deket," ucapnya tak peduli. "Lo nggak suka gue gitu ke elo?"
Emma memasang wajah datar dan terdiam beberapa saat. "Kalo lo diginiin suka?" ucapnya sembari ia menyerang Timothy dengan cubitan balasan dengan tiba-tiba.
"Aduh, duh," erang lelaki itu sambil mengelus-elus pipinya yang memerah. "Cewek kok ganas."
"Nah kan? Nggak suka. Sama," sahut Emma puas membalas sahabatnya yang memang terkadang usil. "Ya udah, nanti malem gue mau makan malam di restoran yang baru buka itu loh. Punya salah satu temen SMA kita."
Timothy mengerutkan dahinya. "Siapa?"
"Ish, mantan gebetan lo. Si Alicia," sahut Emma, mengingatkan Timothy pada sebuah momen memalukan di masa SMA yang berkaitan dengan pemilik nama tersebut.
"Wah, parah lo. Bawa-bawa masa lalu," Timothy menuding-nuding Emma dengan telunjuknya. "Itu kan juga nggak sengaja. Dan Alicia juga bukan gebetan gue ya. Enak aja."
Dulu saat pelajaran olahraga di SMA, Timothy menemukan sebuah dompet yang terjatuh di depan pintu kelasnya. Ia membukanya karena berniat untuk mencari tahu apakah ada kartu identitas agar ia bisa mengembalikannya. Namun ternyata dompet itu hanyalah berisi beberapa pembalut wanita. Pada saat yang sama, sang pemilik dompet datang dan berteriak-teriak ke seluruh penjuru sekolah mengatakan bahwa Timothy harus bertanggung jawab karena sudah melihat 'barangnya'. Seluruh sekolah menjadi heboh dibuatnya dan menjadi kenangan tak terlupakan.
Emma tertawa terbahak-bahak mengingat momen itu. "Untung waktu itu gue bantuin lo jelasin ke pak Robi ya," ia merujuk pada guru BK paling killer waktu itu. "Kalo enggak, udah didepak lo dari sekolah."
"Lagian cewek itu aneh banget. Pembalut doang dibilang 'dia udah lihat barangku'. Jadi kesannya gue cowok m***m kan?" keluh Timothy sembari membayangkan kejadian itu. "Tapi ogah ah. Kalo gue ke restoran dia, pasti nanti jadi bulan-bulanan lagi."
"Duh, parno amat. Jaman SMA sama sekarang mah beda kali. Inget, itu sepuluh tahun lalu. Kita udah pasti dewasa. Lihat. Kaya gue begini. Dewasa banget gitu," Emma menyibakkan rambutnya ke belakang seolah diterpa angin, sembari mencondongkan tubuhnya ke belakang hingga menempel pada sandaran kursi.
Timothy menggeleng. "Tetep enggak. Lagian malam ini gue masih harus ketemu klien, Em." Ini adalah jawaban yang Emma tidak harapkan untuk didengar.
"Udah setengah bulan, Tim. Lo sibuk melulu. Emang klien lo ini ribet atau gimana sih sampai kita nggak ada waktu ngobrol atau nongkrong sama-sama lagi? Ini kalo gue nggak samperin, pasti lo juga sibuk kan?" Emma memperdengarkan rasa kesalnya yang selama ini ia pendam.
Lelaki itu menghela nafas dalam-dalam. "Gue emang lagi serius ngerjain ini, Em. Buat gue ini penting banget," ungkapnya.
Tak ada komentar diperdengarkan oleh Emma. Ia hanya mengetuk-ngetukan jemarinya satu sama lain.
"Lagian kan kita juga emang selalu barengan. Jadi kalo beberapa waktu aja agak jauhan harusnya nggak masalah dong?" lanjut Timothy. Ia menatap wajah sahabatnya yang sudah bermuram durja itu.
"Serah lo deh, Tim," Emma beranjak dari kursi tanpa mengembalikannya ke tempat semula. Ia terlalu kesal untuk melanjutkan obrolan yang jarang-jarang bisa didapatkannya akhir-akhir ini.
Menahan rasa kecewa bercampur marah pada sahabat bukanlah hal yang Emma bisa lakukan dalam jangka waktu yang lama. Selama sisa waktu bekerja hari itu membuatnya menyadari bahwa ucapan Timothy ada benarnya. Ia bukan hanya terlalu sensitif dalam menanggapi tetapi juga terlalu posesif terhadap sahabatnya. Perasaan bersalah pun menghampiri sehingga ia merasa harus segera mendatangi lelaki itu lagi untuk meminta maaf.
Sayangnya, Timothy sudah tidak ada di kursinya lagi saat jam kerja berakhir. Kata teman yang duduk di sebelahnya, ia langsung menghilang setelah waktu bekerja selesai yang mana masih sepuluh menit yang lalu. Tanpa berpikir panjang Emma segera turun ke lantai basement di mana mobilnya diparkirkan.
Saat ia masuk ke mobil dan sedang bersiap-siap, terlihat mobil Timothy melintas di depannya. Dengan cepat ia menyalakan mesin dan terburu-buru mengejar dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Selain berniat meminta maaf, muncul juga rasa ingin tahu kemana sahabatnya itu pergi.
Sejujurnya Emma merasa berdebar-debar seperti sedang mengejar seorang kriminal. Selama ini ia tidak pernah mencurigai sahabatnya sendiri. Baginya, Timothy adalah orang yang paling dapat ia percayai di seluruh dunia. Pasalnya hal yang tidak dapat ia ceritakan pada kedua orang tuanya justru diceritakan kepada Timothy.
Jalanan ibukota yang masih cukup padat di jam pulang kerja ini membuatnya beberapa kali hampir kehilangan jejak Timothy. Beberapa kali ia bahkan menggunakan insting kemana sahabatnya itu berbelok. Ia beruntung tidak sampai benar-benar kehilangannya, seolah-olah ada tali tak terlihat yang mengarahkannya pada pemuda itu. Ditambah lagi kemampuan menyetirnya yang sudah terasah bertahun-tahun itu membantunya membelah jalanan dengan gesit.
"Gue harap nggak ada apa-apa sama lo, Tim," Emma bergumam pada dirinya sendiri, menyampaikan harapan terdalamnya.