BAB 1
“Kalau lemnya kena celana lagi, saya nggak mau tahu.”
Althair langsung mengangkat kepala. Di seberang meja, dr. Thala sedang menyeruput kopi sambil menatap ke bawah meja kantin. Tatapannya tepat ke arah tangan Althair.
Sial. Ia segera menarik tangan kanan yang sedang memegang lem besi.
“Terlambat,” kata Thala.
Althair menunduk. Ujung celana bahan hitamnya benar-benar menempel pada sol sepatu pantofel yang sedang ia perbaiki. Ia menariknya perlahan. Krek. Sepotong benang ikut tercabut, membuat kelopak mata Althair berkedut. Hari bahkan belum berakhir, namun masalah sudah datang lebih dulu.
Kantin belakang RS Dewantara Medika tidak pernah masuk brosur promosi rumah sakit. Cat temboknya mengelupas, kipas anginnya berisik, dan meja-meja plastiknya berbeda warna. Bau mi instan, gorengan, dan kopi sachet bercampur menjadi satu. Anehnya, tempat itu justru menjadi markas tetap lima dokter spesialis yang sudah berteman sejak SMP.
“Astaga.” Suara Jevan terdengar dari belakang.
Dokter bedah umum itu baru datang sambil membawa semangkuk mi instan jumbo. Matanya langsung membulat. “Lu beneran lagi ngelem sepatu?”
“Tidak,” jawab Althair.
“Lalu itu apa?”
“Prosedur pemeliharaan alas kaki.”
Jevan langsung tertawa keras hingga kuah mi hampir muncrat dari mulutnya. “Dia nyebut ngelem sepatu sebagai prosedur.”
“Kedengarannya lebih profesional,” kata Althair tenang.
“Lu dokter atau tukang sol?”
Althair memilih mengabaikan ejekan itu dan melanjutkan pekerjaannya. Pantofel hitam itu sudah bertahan hampir empat tahun. Sol bagian kanan memang mulai terbuka, tapi menurutnya masih bisa diperbaiki dan tidak perlu diganti. Berbeda dengan pendapat empat sahabatnya yang menganggap sepatu itu sudah masuk kategori barang bersejarah.
Kavi datang membawa dua gelas teh hangat, lalu meletakkan satu gelas di depan Althair. “Lumayan buat mengurangi stres.”
“Terima kasih.”
“Kamu kelihatan capek.”
“Saya baik-baik saja.”
“Kamu bilang begitu sambil memperbaiki sepatu di kantin.”
Althair berhenti bergerak. Kavi memang selalu seperti ini, nada bicaranya tenang dan tulus. Masalahnya, ketulusan itu sering membuat Althair merasa bersalah, karena Kavi benar-benar percaya dirinya sedang kesulitan uang. Padahal, isi rekening pribadinya cukup untuk membeli seluruh kantin ini beserta bangunannya.
Harsa datang terakhir. Dokter spesialis anak itu membawa map tebal dan ekspresi curiga yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia belum duduk, tapi tatapannya langsung jatuh ke sepatu Althair, lalu beralih ke lem besi, dan berakhir pada celana yang sedikit sobek.
“Menarik,” kata Harsa. Althair langsung waspada. Kata “menarik” dari Harsa biasanya berarti bencana.
“Apa?” tanya Althair.
“Saya lagi menghitung.”
“Menghitung apa?”
“Sudah berapa tahun kamu melakukan hal-hal yang nggak masuk akal.”
Jevan langsung menyambar. “Delapan tahun.”
“Sembilan,” kata Thala.
“Sepuluh,” kata Kavi.
Althair menghela napas. “Saya ada di sini.”
“Kami tahu,” jawab Jevan. “Itu sebabnya kami ngomong langsung di depan muka.”
Tawa langsung pecah di meja itu. Althair hanya mengaduk teh hangatnya karena tahu akan percuma melawan empat orang sekaligus, mereka terlalu menikmati penderitaannya.
Jevan menyendok mi ke mulutnya. “Lagian sepatu baru berapa sih?”
“Tergantung kualitas,” jawab Althair.
“Nah.”
“Kualitas bagus lebih awet. Kalau barang lama masih berfungsi, menggantinya adalah pemborosan sumber daya.”
Jevan berhenti mengunyah, Harsa menggelengkan kepala, Thala menutup mata, sementara Kavi hanya tertawa kecil.
“Dia bikin teori ekonomi lagi,” kata Jevan.
“Itu logika dasar,” bantah Althair.
“Itu coping mechanism,” sahut Thala.
Tepat sasaran. Althair akhirnya memilih diam.
Harsa menyandarkan tubuh ke kursi, namun tatapannya masih belum berpindah. “Kamu tahu nggak yang bikin saya penasaran?”
“Apa?”
“Kamu.”
“Saya tidak menarik.”
“Sangat menarik,” jawab Harsa. “Itu masalahnya.”
Althair mulai merasa tidak nyaman. Ekspresi Harsa terlalu serius, dan biasanya itu pertanda sang sahabat sedang menyusun teori konspirasi baru.
“Kamu hemat,” lanjut Harsa.
“Iya.”
“Kamu makan mi instan tiga kali seminggu. Kamu pakai mobil tua. Kamu memperbaiki sepatu sendiri.”
“Iya.”
Harsa mengetuk meja sekali. “Tapi.”
Althair langsung tahu kata itu berbahaya. “Tapi apa?”
“Minggu lalu kamu tahu seri jam tangan yang dipakai direktur baru.”
Jevan menoleh, Kavi ikut menoleh, dan Thala mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Althair mengutuk dalam hati. Ia ingat kejadian itu. Direktur baru mereka memakai jam tangan edisi terbatas, dan secara refleks ia menyebutkan model serta tahun produksinya. Sebuah kesalahan kecil yang sangat fatal karena Harsa mengingat semuanya.
“Itu informasi umum,” kata Althair mencoba membela diri.
“Tidak,” kata Harsa. “Itu informasi orang kaya.”
Jevan langsung menunjuk wajahnya. “Nah.”
Kavi ikut mengangguk. “Nah.”
Thala menyeruput kopinya. “Nah.”
Althair memijat pelipisnya yang mulai pening. “Saya membaca.”
“Kamu membaca katalog jam tangan mewah?” tanya Harsa.
“Bisa jadi.”
“Kenapa?”
“Menambah wawasan.”
Harsa menyipitkan mata, jelas-jelas tidak percaya. Suasana menjadi hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya Kavi membuka dompet dan menyodorkan sesuatu. “Kalau memang lagi sempit, ambil aja dulu.”
Althair menatap amplop yang disodorkan di depannya. “Oke,” katanya pelan. “Sekarang saya tersinggung.”
“Itu bukan penghinaan,” kata Kavi. “Itu bantuan.”
“Saya tidak butuh bantuan.”
“Kamu lagi ngelem sepatu.”
Althair terdiam seketika. Jevan yang sedang mengunyah hampir tersedak mendengar skakmat itu hingga kuah mi menetes ke meja. “Tepat sasaran,” katanya di sela batuk.
Thala memberikan selembar tisu, sementara Kavi masih memegang amplop tersebut dengan wajah yang benar-benar tulus.
“Tiga juta,” kata Kavi. “Ambil aja.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Saya tidak punya utang.”
“Kami nggak bilang kamu punya utang,” kata Jevan. “Kami cuma yakin kamu miskin.”
Tawa kembali pecah di meja itu, dan kali ini bahkan Thala ikut tersenyum. Althair hanya menggeleng pelan. Kalau saja mereka tahu bahwa satu jam tangannya yang asli bernilai lebih mahal daripada mobil milik Jevan, mungkin mereka semua akan pingsan bersama-sama. Untungnya mereka tidak tahu, dan memang tidak boleh tahu.
Ponselnya bergetar menampilkan satu pesan masuk dari nomor pribadi yang hanya diketahui oleh pihak keluarga. Ayah.
Rahang Althair langsung mengeras seketika. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek, Pulang akhir pekan ini. Kita perlu bicara. Tidak ada salam, tidak ada basa-basi, khas seorang Baskara Dewantara. Sebuah perintah yang dibungkus rapi menjadi kalimat ajakan.
Althair langsung mengunci layar ponselnya kembali.
“Kamu kenapa?” tanya Thala.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu baru dapat pesan.”
“Tidak penting.”
Thala tidak melanjutkan pertanyaannya dan hanya mengamati. Seperti biasa, Thala selalu menjadi orang yang paling cepat menangkap perubahan ekspresi sekecil apa pun di antara mereka, dan sialnya, instingnya jarang salah.
Sebelum suasana berubah menjadi terlalu serius, Jevan kembali meluncurkan serangan. “Ngomong-ngomong, kalau sepatu itu rusak total gimana?”
“Saya beli baru.”
Semua orang langsung membeku di tempat. Harsa bahkan sampai menjatuhkan pulpen yang dipegangnya.
“Kamu mau beli baru?”
“Iya.”
“Serius?”
“Iya.”
Jevan dramatis memegang dadanya. “Saya bangga.”
“Kamu lebay,” kata Althair.
“Kita harus rayakan!” sahut Jevan gembira. “Dia akhirnya mau belanja.”
Tepat saat itu, seseorang mendekati meja mereka. Koordinator pendidikan rumah sakit berjalan mendekat dengan membawa map besar dan wajah yang terlihat sangat lelah.
“Dokter,” sapanya.
Semua menoleh. “Ada apa?” tanya Kavi. “Besok kelompok koas baru mulai masuk.”
“Oh,” kata Jevan. “Semoga nggak ada yang pingsan pas lihat saya.”
“Mustahil,” kata Thala.
“Kenapa?”
“Mereka belum tua.”
Jevan langsung melayangkan protes dan tawa kembali terdengar hangat. Koordinator pendidikan itu kemudian membuka mapnya. “Pembagian supervisor sudah selesai.”
Ia mulai membacakan beberapa nama di dalam daftar. Althair sendiri tidak terlalu memperhatikan karena pikirannya masih terganggu oleh pesan dari ayahnya, sampai sebuah nama akhirnya disebut.
“Zayna Valerine.”
Koordinator itu berhenti sebentar lalu menghela napas panjang dengan ekspresi aneh, seperti seseorang yang sedang mengingat kejadian tidak menyenangkan.
“Kamu kenal?” tanya Harsa.
“Belum,” jawab koordinator itu. “Tapi saya sudah pusing duluan.”
“Kenapa?” tanya Jevan penasaran. “Dia telat saat proses administrasi.”
“Alasan?”
Koordinator itu menatap kosong ke depan. “Katanya lagi bantu orang dorong mobil mogok.”
Jevan langsung terpingkal-pingkal. “Menarik.”
“Belum selesai,” kata koordinator lagi. “Setelah itu dia bilang orang yang mobilnya mogok lebih panik daripada saya.”
Meja mereka mendadak hening selama satu detik, sebelum akhirnya pecah oleh tawa riuh. Bahkan Thala sampai harus menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya.
“Berani juga,” kata Kavi.
“Sangat berani,” sahut Harsa.
Althair hanya diam sambil terus mengaduk tehnya yang mulai dingin. Ia tidak terlalu peduli, karena setiap tahun selalu saja ada koas unik yang masuk dan baginya tidak ada yang istimewa. Nama Zayna Valerine hanyalah satu nama biasa di antara puluhan peserta baru lainnya.