BAB 8

1605 Words

“Koas bukan dekorasi koridor.” Kalimat ketus itu menjadi pembuka briefing pagi dr. Althair Dewantara. Delapan koas di depannya langsung menegakkan punggung serempak. Mata mereka masih menyimpan bekas kantuk akibat kurang tidur. Hari kedua stase di departemen saraf selalu terasa lebih berat. Jika kemarin masa orientasi masih terasa seperti sekolah, maka bangsal adalah dunia nyata yang kejam. Tidak ada ujian remedial, tidak ada kesempatan kedua untuk mengulang kesalahan pada pasien yang sama. Althair berdiri di depan papan laporan pasien memegang clipboard. Ekspresi wajahnya datar dan dingin. “Pagi ini kalian mengikuti visite besar bersama saya,” lanjut Althair rendah namun penuh penekanan. “Kalian wajib membaca seluruh rekam medis pasien secara mendetail. Berpikir matang-matang sebelum b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD