“Althair.” Satu kata itu jatuh di koridor lobi yang sepi. Detik itu juga, seluruh tubuh Althair menegang kaku. Di sampingnya, Zayna berkedip pelan. Pandangan mata gadis itu perlahan berpindah dari sosok pria paruh baya berjas mahal yang baru saja keluar dari lift, tertuju lurus ke wajah Althair, sebelum akhirnya kembali menatap pria tua itu. Althair tahu betul arti dari tatapan itu. Itu adalah ekspresi seseorang yang baru menemukan kepingan puzzle krusial yang selama ini hilang. Kenyataan itu sukses membuat isi perut Althair mendadak tidak nyaman. “Selamat malam, Pak,” sapa Althair akhirnya. Suaranya terdengar jauh lebih formal dan kaku dari biasanya. Baskara Dewantara menghentikan langkah tepat di depan mereka. Tatapan matanya yang tajam langsung menyapu jas dokter putih yang dikenaka

