Bab 3. Penyalahgunaan Kekuasaan

1011 Words
Sengaja, selepas wawancara berakhir. Amanda tak segera angkat kaki dari perusahaan Sanata, duduk santai di sofa lobi sembari memainkan ponsel. Kalau pun dugaan Amanda meleset, paling hanya perlu memesan taksi untuk kembali ke rumah. "Amanda." Kepala Amanda menengadah. Mata menemukan Zayyan berada di hadapannya dengan sekretaris yang menunggu jauh di sekitar. Perlahan tubuhnya bangun. "Ya, Pak. Apakah Bapak ingin lanjut mewawancarai?" "Bukan." Tarikan napas Zayyan cukup panjang, sorot mata kelihatan gentar. Entah apa yang ingin lelaki ini bicarakan, tapi Amanda bisa lihat jelas kegugupan di wajah mantan kekasihnya ini. "Apakah kamu hidup dengan baik?" Selain status, pertanyaan inilah yang paling dipedulikan oleh Zayyan. Jemari Amanda meremas ponsel sejenak. Apakah lelaki ini masih sama? Peduli dengan hal sepele dalam hidupnya. Lantas, bibir Amanda mengulas senyum. "Saya menjalani hidup dengan sangat baik." "Benarkah?" Mata Zayyan membingkai sosok Amanda. Dari mulai ekspresi wajah yang ceria, sampai penampilan Amanda yang sangatlah baik membuat perasaan Zayyan sedikit lega. Setidaknya setelah berpisah, Amanda hidup lebih baik. "Aku senang kamu hidup dengan baik." Padahal hingga kini, hati Zayyan tidaklah baik setelah ditinggal pergi Amanda begitu saja. Pada akhirnya Zayyan membeku, padahal banyak sekali list pertanyaan yang membutuhkan jawaban. "Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak." Amanda memberikan senyuman terakhirnya pada Zayyan, lantas tubuh melangkah pergi. Melihat atasan yang hanya diam saja, Warman terburu mendekat dengan wajah panik. "Kenapa Bapak tidak tanya kenapa menghilang?" Bibir Zayyan tersenyum sangat lebar. "Bukankah dia akan bekerja untukku? Kami punya banyak waktu mengobrol." Warman segera memandang. "Memang sudah dipastikan Amanda yang bakal menggantikan posisi saya?" Sontak Zayyan tersadar dengan masalah yang harus segera diatasi. "Cepat ke bagian personalia, langsung suruh mereka menghubungi Amanda sore ini juga." "Aku mau, besok dia sudah harus bekerja." Warman menunjukan wajah memelas. Padahal hari terakhir kerja minggu depan, tapi sudah dipecat dadakan karena Amanda. "Ngapain bengong di sini! Buruan pergi atau kamu aku pecat!" seru Zayyan kesal. Warman menarik napas selagi menuruti permintaan Zayyan. Melangkah ke arah ruangan personalia dengan hati kesal. "Apa bedanya dipecat sekarang dengan menunggu kedatangan Amanda sebagai sekretaris baru?" gumam Warman cukup pelan. Sementara Amanda sendiri memperlambat laju kakinya. Begitu mendapati mobil terparkir di hadapan gedung Sanata. "Sedang apa Pak Mario di sini?" Tentunya bekerja bertahun-tahun, lalu kerap disopiri secara pribadi. Amanda mengenali Mario yang mulai menurunkan kaca mobil. "Masuk!" pinta Mario cukup tegas. "Saya bisa naik--" "Apa kamu tidak dengar, Amanda?" potong Mario dengan nada kesal. Mau tak mau, Amanda harus menaiki kendaraan milik lelaki ini demi tidak terciptanya suasana sengit. Helaan napas Mario begitu kasar. Kesal lantaran kehilangan dan membiarkan Amanda bekerja jauh dari mata Mario. "Aku sengaja menjemput kamu," ujar Mario dengan lebih lembut, tepatnya setelah menyadari diamnya Amanda. "Ah, saya kira Bapak mengunjungi kerabat di Sanata." "Aku belum makan siang, temani aku makan!" pinta Mario mengabaikan omongannya. Mata Amanda memandang keseriusan di wajah Mario. Seringnya, Mario tersenyum ramah dan bicara dengan nada pelan. "Bukankah hari ini ada pertemuan dua keluarga?" Pembicaraan mengenai rencana pernikahan Mario dan Natasya di masa depan. Dua keluarga saling bertemu dan berbincang ria, melupakan Amanda yang harus banting tulang untuk menghidupi diri sendiri. "Acaranya dibatalkan," ujar Mario singkat. Amanda tahu, Mario hanya tidak ingin datang. Padahal pagi buta, ia mendengar keantusiasan Natasya mempercantik diri di pertemuan. "Baiklah." Amanda memilih menyetujui. Mario melirik dengan ekspresi lega. Selain kondisi perut keroncongan, Amanda juga ingin merusak hubungan Mario dengan Natasya secara perlahan. Ponsel Amanda berdering, menyadari Amanda yang hanya memandangi ponsel tanpa berniat menjawab membuat Mario bertanya. "Kenapa tidak dijawab?" "Dari polisi," sahut Amanda dengan ekspresi bingung. *** Sepanjang menemani Amanda, bahkan sampai di kantor polisi sekali pun. Tak pernah terucap siapa yang Amanda singgung, sampai dilaporkan sebagai pencemaran nama baik. Sebab, Mario yakin betul. Amanda lumayan baik dalam menjaga perkataan serta perasaan orang lain. "Saya Amanda, saya ditelepon secara mendadak untuk memberi kejelasan." Begitu memberi identitas, Amanda langsung dituntun memasuki kantor oleh polisi. Mario pun turut mengikuti ke mana pun Amanda pergi. Mulanya, Amanda merasa sedang diisengi saja. Mengatas namakan kepolisian untuk menipu. Tapi, Mario menyuruhnya datang saja dulu dan mencari tahu kebenarannya. "Saudari Amanda sudah datang." Polisi memberi tahu rekannya yang berkumpul di satu kubik. Sampai mereka perlahan menjauh, barulah mata Amanda bertemu dengan seorang lelaki. "Apakah kamu Amanda Leanti?" Lelaki bernama Alan Alvaro masih belum pindah dari posisi, punggung menyandar santai dengan kaki tumpang tindih serta jemari menjauhkan puntung rokok. Apakah kepolisian sebebas ini? Sempat Amanda berpikir demikian. "Apakah ... kita saling kenal?" tanya Amanda, bahkan dalam otaknya tak pernah menampakan wajah lelaki ini. Alan berdiri dari duduk sembari menyerahkan rokok yang langsung ditanggapi oleh anggota polisi. Amanda memandang dengan cukup serius pergerakan barusan. Menandakan lelaki ini cukup berkuasa. "Akhirnya aku menemukanmu, Amanda," tutur Alan dengan raut serius. Dugaan Amanda buruk, hingga memundurkan langkah kaki ketika Alan makin mendekat. Namun, tangan yang terulur dengan bibir mengulas senyum, Amanda sedikit mengendurkan kewaspadaan. "Perkenalkan namaku Alan." Belum sempat Amanda menanggapi, Mario lebih dahulu berjalan dan berada tepat di hadapannya dengan menjabat tangan Alan. "Pak Alan, atas alasan apa Anda melaporkan Amanda?" tanya Mario. Segera Alan melepas jabatan tangan karena gagal beraksi. Mata Alan tak bisa lepas dari Amanda yang berusaha disembunyikan oleh tubuh Mario. Tak menyerah sampai di situ. Alan menyingkirkan Mario dengan tangan dan kembali tersenyum karena berhasil memandang Amanda. "Ternyata, kepolisian sangat berguna untuk mencari orang." Amanda masih nampak bingung. "Maaf, apakah saya telah berbuat salah pada Anda?" Mario yang hendak ikut campur langsung dipegangi oleh polisi, hanya dengan gerakan tangan Alan saja. "Kamu jelas-jelas telah berbuat kesalahan." Langkah kaki Amanda mundur, Alan berharap ada dinding di belakang hingga menyudutkan mereka berdua. Nyatanya, sungguh luas sekali kantor ini hingga pembatas pun tiada. "Hatiku sudah kamu curi, Amanda." Langkah kaki Amanda langsung terhenti dengan mata memandang terkejut. "Ya?" "Aku sudah jatuh hati sejak pertama kali melihat," tutur Alan dengan lugas. "Apa yang sedang Anda lakukan Pak Alan!" seru Mario. Sekali pun kesal, tubuh Mario yang ditahan oleh polisi membuat lelaki tersebut tak bisa mengajak Amanda kabur. Kaki Amanda mundur tanpa sadar, ketika matanya menangkap Alan yang secara mendadak mengeluarkan kotak berisi cincin dan berlutut di hadapannya, persis seperti lelaki melamar kekasih tercinta. "Amanda Leanti, maukah kamu menikah denganku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD