Bab 2. Ambisi Memiliki

1015 Words
Sorot lampu kendaraan saling berseliweran sepanjang Mario mengemudi. Tarikan napas Mario yang panjang hampir terkalahkan oleh riuhnya jalanan. "Kalau dirasa kurang, bisa saja aku menaikkan gajimu tanpa melakukan hal konyol begini demi uang," keluh Mario. Penjelasan Amanda yang dipaksa justru membuat Mario tidak senang sendiri. "Selain uang, saya juga membantu demi pak Arifin berhenti dipaksa kencan." "Perlu kamu ikut campur masalah pribadinya segala?" nada suara Mario cukup kesal. Lirikan Amanda ingin mengesahkan pendapatnya. Rupanya, lelaki di sebelahnya ini sepenuhnya terkalahkan soal perasaan. "Saya penasaran, Bapak marah begini antara malu memiliki sekretaris seperti saya atau ...." Amanda sengaja menggantungkan kalimatnya. "Sikap kamu yang cinta uang itu sungguh sebuah masalah, aku hanya berusaha mengingatkan," jawab Mario dengan cepat. Lantas, Amanda mengulas senyum manis. "Bapak kelihatan seperti cemburu pada pasangannya, ternyata saya salah paham." Mario memilih melihat keluar mobil sejenak. Tak dipungkiri, hati terisi oleh sosok Amanda. Namun, cincin di jemari Mario telah mengikat adik dari Amanda sendiri. Hubungan yang tercipta kelak hanya ketidak pantasan. Perlahan kendaraan terhenti tepat di hadapan rumah dua lantai yang megah. Sorot mata Mario memperhatikan perubahan ekspresi Amanda. "Aku ikut mampir, jadi tenanglah," bujuk Mario. Hanya lelaki ini seorang yang tahu identitas asli Amanda. Seorang putri sulung yang diperlakukan berbeda di keluarga sendiri. Baru juga melangkah masuk ke dalam rumah. Karina, ibu tiri Amanda itu tak sudi memandang padanya. "Nak Mario, apakah kamu ke sini untuk Natasya?" Mario tersenyum. "Tidak, Tante. Aku ke sini untuk bertemu pak Haris." "Oh, begitu. Mas Haris sedang di ruangan kerjanya, kamu bisa langsung ke sana seperti biasa." Mata Mario langsung tertuju padanya. "Seharian sudah bekerja denganku, lebih baik kamu segera istirahat." "Baik, Pak." Lekas Amanda mengikuti langkah kaki Mario yang menaiki anak tangga. Tatapan Karina begitu mengintimidasi, terlebih pakaian Amanda yang dinilai bukan pekerja. Tapi, begitu mendapati Natasya yang turut melihat kedatangan Amanda bersama Mario, memiliki tujuan memberi pelajaran langsung disambut gelengan kepala oleh Karina. Adik dari Amanda sekaligus tunangan dari Mario itu, hanya bisa memandang tajam saat berpapasan dengan mereka berdua. "Kamu berkencan dengan Mario? Tunangan adik kamu sendiri, Amanda!" Karina langsung ke kamar Amanda untuk memenuhi rasa penasaran. Mata menatap anak tiri yang sedang berganti baju, luka jahitan pada perut memang tak nampak karena tertutup tanktop. Tapi, Karina menuduh Amanda karena masalah itu. "Kamu sengaja mendekati Mario, lantas memberi tahu dia. Kalau 7 tahun lalu kamu yang mendonorkan hati untuk ibunya, begitu?" tuduh Karina dengan suara pelan, namun ekspresi marah cukup kentara. Terciptanya hubungan pertunangan antara Mario sebab Natasya mengakui hati yang bukan miliknya sendiri. Amanda tersenyum. "Aku bukan wanita dengan pikiran buntu, menjadikan kelemahan untuk memikat hati." "Maksud kamu, pikiran kami yang buntu begitu!" tuduh Karina lagi. "Aku tidak ada niat merebut Mario dari Natasya." "Pembohong!" Jemari Karina begitu sengit menunjuk pakaian di atas kasur. "Penampilan kamu yang terbuka begitu, pasti sengaja ingin menggoda!" "Aku resign dari kantor Mario. Apakah itu bisa mengurangi kecurigaan Ibu Karina?" tanya Amanda. "Resign bukan alasan kamu berhenti menggodanya!" Amanda menarik napas, sedikit kesal dengan tuduhan ibu tirinya yang beruntun. "Kalau begitu, tunangkan saja diriku. Jika itu memang membuat hati Ibu tenang," ujarnya asal. Suara tawa mengejek dari Karina terdengar. Mana mungkin wanita tersebut memberikan pertunangan pada Amanda, nama Haris bakal terseret dan membuat orang lain tahu siapa Amanda sebenarnya. "Jadi, kamu bakal kerja di mana?" tanya Karina memilih mengubah topik. "Sanata grup." *** Cakrawala pagi mengintip Amanda yang baru saja menuruni taksi. Heel mengurung kakinya untuk melintasi seluruh aspal menuju gedung bertingkat. Sempat mata Amanda menengadah, Sanata Grup telah terperangkap di penglihatannya. "Seorang Zayyan Mahendra menghindar? Dunia perlu mencatatnya." Deretan gigi putih itu terlihat. Jelas bukan untuk tersenyum, melainkan menertawai omongan yang lolos tanpa melewati saringan dahulu. Bersamaan dengan masuknya Amanda ke gedung perusahaan, dua sosok lainnya memilih mengumpat. "Tak kusangka. Rupanya Amanda tidak ditelan bumi," sindir Zayyan. Mantan kekasih yang mencampakkan 7 tahun lalu, mana mungkin Zayyan bisa lupa. Kepulan asap rokok mulai berterbangan terbawa angin. Zayyan menjauhkan batang candu itu dari bibir. "Apakah Amanda datang untuk wawancara?" Retina Zayyan mendelik. Jika benar kedatangan Amanda hanya untuk wawancara, maka penyebabnya adalah lelaki ini yang mengundurkan diri dari posisi. "Kalau begitu ini salahmu, Warman," tuding Zayyan pada sekretaris sendiri. "Sepertinya aku perlu undur diri juga," tutur Zayyan. Mengingat hanya satu posisi yang kosong, yakni pengganti sekretaris untuk dia. Otomatis kalau terpilih, maka Amanda bakal bekerja di bawah pimpinan dia. "Pak, perusahaan ini bukanlah cangkang siput yang bisa Anda abaikan." Zayyan membenarkan jas dan menyerahkan rokok pada Warman. Dia telah kehilangan wibawa hanya karena seorang wanita macam Amanda. "Jadi, bagaimana Pak? Anda mau tetap mengumpat di antara pepohonan atau kembali bekerja?" "Aku ingin melihat para pelamar yang datang," ujar Zayyan sembari melangkah mendahului. Tarikan napas Warman cukup santai, lelaki tersebut sudah menduga kalau Zayyan masih menyisakan rasa untuk Amanda. Pintu ruangan terbuka dan menghentikan kegiatan wawancara sejenak, sebab mereka kedatangan direktur. "Lanjutkan." Sekali perintah keluar, mereka melanjutkan. Tentunya dengan sosok Zayyan yang menghuni kursi tambahan di depan sana. Mata Zayyan langsung tertuju pada sosok Amanda yang duduk patuh. "Amanda Lieanti, tolong beri tahu kelebihan apa yang Anda miliki untuk bahan pertimbangan kami." Bibir Amanda yang ranum telah siap menjelaskan. Namun, sosok pengganggu mulai berulah. "Kamu sudah menikah?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Zayyan dengan lugas. Dia duduk menyandar sembari mengetuk permukaan kursi dengan jemari. Mata bagian personalia saling melirik, merasa pertanyaan itu menyimpang dari topik wawancara. Namun, tentu di antara mereka tak sanggup menyinggung Zayyan yang berkuasa. Bibir Amanda menampilkan senyuman ramah. "Apakah perusahaan ini mendiskriminasi status pernikahan?" Sejenak Zayyan membisu, dia bukannya kehilangan kata-kata. Hanya terpesona sekaligus takjub dengan perubahaan Amanda. Ingat betul, ketika sepatu dan tas yang ahli menempeleng wajah. Kali ini, kedua benda itu aman di tubuh Amanda. Zayyan tertawa. "Hanya penasaran." "Saya masih lajang," pada akhirnya Amanda memilih menjawab. Kepala Zayyan yang mengangguk nampak puas. Pandangan Amanda dan Zayyan saling bertemu, mulai saat itu juga, dia kembali berambisi untuk memiliki. Perlahan Amanda menurunkan pandangan. Mengundurkan diri dan ikut wawancara di perusahaan Sanata, bukan semata-mata Amanda ingin posisi bagus. Melainkan, Zayyan adalah lelaki yang rela menjalin hubungan dengan Natasya, padahal kabar pertunangan mencapai telinga semua kalangan. Semua lelaki yang dekat dengan Natasya, Amanda berjanji akan merebutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD