"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Zayyan berdecak kesal, melihat Mario yang berdiri di hadapan Amanda juga.
"Justru aku yang seharusnya tanya," balas Mario sedikit ketus.
Mendengar itu, Zayyan langsung menertawakan. "Sepertinya kamu melupakan sesuatu, Mario."
Mata Zayyan memandang padanya yang sedang bingung. Memilih pergi bersama di antara dua lelaki yang sengaja dipikat oleh dirinya.
"Perlu kamu sadari, Mario. Amanda ini bukan lagi karyawan kamu."
Sembari mengatakan, Zayyan langsung menarik tangannya. Otomatis jarak di antaranya dengan Mario pun menipis. Mata bisa saling pandang dan Mario yang emosi kelihatan begitu kentara.
"Amanda, apa kamu akan pergi dengannya?" Mario bertanya dengan tangan menunjuk Zayyan sengit.
Amanda membisu sejenak dengan mata memandang mereka berdua secara gantian. Zayyan menyukai wanita dengan karakter badas, sementara Mario kebalikannya.
Lelaki pertama yang harus Amanda pikat adalah Mario, hanya sampai lelaki ini meninggalkan Natasya. Tapi, Amanda tidak ada pilihan.
"Maaf, Pak Mario. Saya akan terlambat bekerja."
Zayyan tersenyum menang ke arah Mario, lekas lelaki tersebut membawa Amanda. Bahkan setelah memasukkan dirinya ke mobil, Zayyan masih sempatnya menunjukkan jempol ke bawah menandakan Mario telah kalah.
"Sial," gerutu Mario kesal.
Mata Mario menyaksikan kepergian Amanda dengan tangan mengepal emosi. Bukan hanya satu karyawan yang resign dari kantor, tapi wanita yang menghuni hati, tentu saja Mario merasa putus asa karena tak punya kuasa atas Amanda sekarang.
Amanda sendiri berhenti memperhatikan Mario dari spion. Ketika bersama Zayyan, maka ia harus fokus pada satu lelaki.
"Yakin cuma kejedot saja? Perlu ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut?"
Kepalanya menoleh, mata memperhatikan Zayyan yang sedang kelihatan cemas ini. Rupanya bukan kemampuan menggoda yang membuat lelaki memandang, memang karena paras Amanda yang menarik mereka.
"Apa Bapak takut hari ini saya tidak mengenali semua orang?"
Melihat Amanda yang masih bisa bercanda membuat Zayyan menarik napas.
"Bisa mengoceh berarti kamu memang baik saja," ujar Zayyan.
Amanda memandang jalanan yang baru saja dilewati oleh Zayyan. Harusnya mereka belok kanan dan cukup mengikuti jalan untuk tiba di depan gedung perusahaan Sanata.
"Bukankah kita ke kantor, Pak?"
Zayyan melirik. "Kamu mau bekerja sembari menahan sakit? Aku lihat dahi kamu mulai bengkak."
Otomatis Amanda mencari cermin di dalam tasnya. Begitu melihat dan dahinya baik-baik saja, cuma memar sedikit Zayyan langsung tertawa.
"Cepat juga respon kamu ya, Amanda." Rupanya Zayyan sengaja menggoda.
Amanda cemberut. "Penampilan bagi wanita itu nomor satu, Pak."
Sorot mata Zayyan mengunci wajahnya, kepala mengangguk menyetujui perkataannya. Tangan Zayyan baru saja terulur untuk mengusap rambut Amanda, namun Amanda membuat gerakan kecil untuk menghindar.
"Bapak sedang mengemudi," ujar Amanda mengingatkan.
Meski sempat merasa canggung, Zayyan mengembalikan tangan pada setir mobil sembari tersenyum kecut. Lantas mata melirik pada Amanda dengan perasaan makin tertarik.
"Alan, lelaki yang kita temui di Bar Osmosis, ingat?"
Kepala Amanda hanya mengangguk saja.
"Dia ingin kamu bekerja untuknya."
"Dia?"
Zayyan melirik padanya. "Jika kamu setuju, besok bisa urus pengunduran diri dan langsung bekerja di sana."
Dari yang Amanda ketahui, Alan adalah pewaris utama perusahaan Harison. Mengelola berbagai bisnis seorang diri, keuntungan bisa dekat uang bakal mengalir. Minusnya lelaki itu semena-mena, lagipula Alan bukanlah tujuan Amanda.
"Apakah keberadaan saya membuat Bapak tertekan? Sampai ingin menyerahkan saya pada pak Alan?"
Terburu Zayyan menggeleng. "Mana mungkin. Sekretaris kompeten sepertimu sangatlah sedikit."
Sekretaris yang bahkan tidak tahu kopi kesukaan atasan sendiri, masih bisa disebut kompeten rupanya.
"Jika saya katakan, saya hanya ingin bekerja dengan Bapak. Apakah Bapak akan mempertahankan?"
Zayyan tersenyum gembira. "Tentu saja."
Menentang Alan memang diluar kemampuan, tapi jika Amanda sendiri menolak maka Zayyan bisa melakukannya.
"Oh ya aku lupa memberikan kamu ini."
Tangan Amanda baru saja menerima akses kunci, dilihat dari bentukannya jelas bukan jenis kendaraan.
"Lantai 6 unit nomor 601."
"Maksudnya apa ya, Pak?" Amanda nampak tidak mengerti.
Zayyan tersenyum. "Membelikan satu unit apartemen untuk sekretaris, tidak ada salahnya, kan?"
Mendengarnya Amanda terlihat tak percaya. Lantas mengembalikan pada Zayyan yang memandang dengan heran.
"Loh, kenapa dibalikkan lagi?"
"Saya hanya sekretaris, tidak ingin orang berpikir hal lain karena masalah ini," ujar Amanda memberi alasan.
Zayyan memandang lampu yang mulai hijau, selagi mencari alasan lelaki tersebut lanjut mengemudi. Sesekali mata mencari apotek terdekat.
"Warman juga menerima apartemen, kok."
Dahi Amanda sempat mengerut, setahunya mantan sekretaris Zayyan yang sekarang masih bertahan di Sanata dan menjabat asisten pribadi. Warman tidak pernah mendapatkan fasilitas yang disebutkan.
***
Kunci apartemen yang diberikan oleh Zayyan, kini berada di atas meja dan sedang ditatapi olehnya bersama Dini.
"Mantan kekasihmu itu sungguh tidak waras," sindir Dini dengan kepala menggeleng.
"Gedung Luxury, loh!" Dini begitu heboh.
Amanda hanya tersenyum tipis. Siapa yang tidak tahu seberapa mahalnya apartemen di sana.
"Sungguh disayangkan jika kamu tidak keluar dari rumah itu."
Jemari Amanda mengetuk permukaan meja. "Hal yang dinantikan oleh Natasya, tapi tidak dengan ibunya."
Dini mengerti maksud pembicaraan Amanda. Karina takut dirinya yang pisah rumah semakin leluasa bertemu Mario dan berujung menggagalkan pertunangan Natasya.
Amanda pun memutuskan untuk pulang ke rumah setelah Magrib, pada waktu itu Haris telah kembali pulang dan hanya keberadaan ayahnya-lah, ibu tirinya tidak akan begitu ganas jika membuat perhitungan.
Lekas Amanda mencari ayahnya di ruang kerja. Tapi, di sana Amanda melihat Mario tengah duduk bersama Natasya sembari menikmati secangkir teh.
"Oh kamu baru kembali?" Haris mempertanyakan.
"Iya, Yah."
Ayah yang hampir tak pernah ingin tahu kelakuan ibu dan adik tiri padanya, bercerita pun tak pernah Amanda dipercaya. Jadi, hubungannya dengan Haris hanya sebatas sama-sama penghuni rumah.
"Bulan depan mereka berdua akan menikah, kamu masih saja menolak ikut kencan buta."
Amanda dan Mario sempat saling pandang. Rupanya kedatangan lelaki ini untuk membahas pernikahan, terburu Amanda menatap ayahnya.
Bibirnya mengulas senyum. "Kalau begitu, tolong kenalkan lelaki yang baik menurut Ayah."
Haris yang mendengarnya langsung tertawa senang. "Harusnya sejak lama kamu menurut."
Keputusan Amanda ini mendapat tatapan terkejut dari Mario. Hal yang tak pernah diduga oleh lelaki tersebut.
"Ayah, ada yang ingin aku katakan."
"Oh, katakan saja."
Mata Amanda melirik pada Natasya yang sedang menyeruput teh dengan angkuh, merasa bakal memiliki Mario seutuhnya.
"Apakah aku boleh tinggal terpisah?"
Haris kelihatan heran. "Kamu mau tinggal di mana? Jelas-jelas ini rumahmu sendiri."
Amanda mengulas senyum. "Atasanku di kantor menyediakan apartemen, lalu memintaku untuk segera pindah."
Mario jelas memandang dengan semakin tak percaya. Zayyan sampai menyediakan apartemen, hal yang buat lelaki tersebut kesal, Amanda malah menerima dengan senang hati.