Bab 5. Ingin Orangku

1066 Words
Dibalik rasa kagetnya seorang Alan, Zayyan justru mengulas senyum. Sudah tak heran lagi dengan sikap Amanda yang kasar begitu. "Maaf, Pak. Saya tidak menyukai mawar." Meski kesal, Alan berusaha mengorek informasi. "Jadi, bunga apa yang kamu sukai?" "Tidak ada," sahut Amanda singkat. Amanda memandang sejenak pada Zayyan sebagai tanda pamit, segera ia membuka pintu dan keluar dari sana. Suara tawa Zayyan yang terdengar renyah itu direspon lirikan tajam oleh Alan. "Perlu kamu tahu, Alan. Mau dikasih apa pun, Amanda akan menolak. Bukan masalah seleranya pilih-pilih, tapi tidak suka dengan orangnya." Tangan Zayyan yang semula menepuk pundak Alan, perlahan diturunkan dan menjauh karena si pemilik tubuh nampak kesal luar biasa. "Aku rasa kamu perlu tahu rasanya patah tulang," ancam Alan. Zayyan terkekeh. "Ayolah, kita masih keluarga. Tidak baik saling adu tinju." Alan mengambil segelas wiski, langsung meneguk habis dengan sorot mata emosi. "Jadi, masalah apa yang butuh bantuanku?" Zayyan memilih kembali pada topik alasan Alan memanggil. Jemari Alan mengambil rokok dan mulai menyulutnya, membiarkan asapnya berkeliaran sejenak tanpa berniat mencicipi. "Aku dengar kamu mempekerjakan sekretaris baru?" Kepala Zayyan mengangguk. "Benar, wanita tadi adalah sekretaris baruku." "Pecat dia hari ini juga." Mendengar permintaan tak masuk akal dari Alan, jelas Zayyan tersenyum kesal. "Kamu ini ya, masalah bunga saja diperbesar. Alasan dia bekerja tentu saja butuh uang, mana mungkin aku pecat." Bukan karena status mantan di antara mereka, Zayyan juga bisa bersikap manusiawi. Memecat karyawan hanya karena masalah sepele, tentu bukanlah hal baik. Alan menyesap puntung rokok dengan raut wajah serius. "Aku juga ingin mengganti sekretaris." "Kalau begitu rekrut saja," ujar Zayyan cepat. Sorot mata Alan melirik. "Pindahkan Amanda ke perusahaanku kalau begitu." Zayyan menoleh dengan sedikit heran. "Tunggu sebentar, di antara ratusan ribu jiwa yang bisa jadi kandidat. Kenapa malah merebut orangku?" "Simpel, aku tertarik padanya," sahut Alan cepat. *** Zayyan baru saja kembali ke kantor, raut wajah sangat tidak baik. Sampai-sampai Warman yang membawakan dokumen ke ruangan terlihat heran. "Kali ini Bapak diancam bagaimana? Sampai kelihatan kesal begini." Mata Zayyan melirik pada pintu yang tertutup. Tempat Amanda bekerja tak jauh dari keberadaan lelaki tersebut. "Sial sekali, Alan menginginkan orangku," sungut Zayyan kesal. Melihat arah yang Zayyan tuju, tanpa Warman ikuti dan cari sekali pun, lelaki tersebut sudah tahu jawabannya. "Apakah Amanda dan pak Alan saling kenal?" Tarikan napas Zayyan begitu berat. "Sepertinya begitu." Melihat Zayyan yang gusar membuat Warman mempertanyakan. "Apakah tiga klien yang membatalkan kerjasama kemarin ada hubungannya dengan keputusan Bapak?" Warman meyakini satu hal, Alan menginginkan Amanda dan ditolak oleh Zayyan. Alhasil lelaki berkuasa itu berulah pada perusahaan Zayyan. Zayyan memijit pelipis. "Melawan Alan diluar kemampuanku, tapi melepas Amanda itu tidak ada dalam rencanaku." "Kenapa Bapak tidak libatkan Amanda? Pendapatnya lebih penting." Saran dari Warman adalah ide yang bagus, sampai Zayyan menoleh dengan raut senang. "Benar juga. Amanda pasti menolak karena tidak senang dengan Alan." Menjelang sore hari, sebelum pulang kantor. Dahi Amanda mengerut karena melihat jadwal kerja Zayyan yang kosong besok di pagi hari. "Ke mana lelaki ini bakal pergi? Apakah menemui Natasya besok?" Pintu ruangan Zayyan terbuka membuat Amanda langsung berdiri dari duduknya. "Apakah Bapak sudah mau pulang?" Melihat Amanda yang masih belum bersiap, Zayyan memerintah. "Kamu juga bersiaplah pulang." "Iya, Pak." Amanda pun mulai membereskan kubik kerjanya. Namun, melihat Zayyan masih di posisi berdiri membuat kepala Amanda terangkat. "Apa ada yang ingin Bapak bicarakan dengan saya?" tebak Amanda. Zayyan berdehem. "Karena kita satu arah, aku bisa mengantarmu pulang." "Tidak perlu, Pak, terima kasih," tolaknya. Zayyan yang tidak ingin ditolak langsung mengambil tas dari tangannya. "Sudahlah, ayo aku antar pulang." Amanda pun terpaksa mengikuti atasannya ini. Jika langsung membawa Zayyan ke rumah, mungkin ada untungnya. Tentunya Natasya bakal marah, tapi kabar buruknya Zayyan menjaga jarak darinya nanti. "Kamu tinggal di sini?" Begitu tiba di depan rumah, Zayyan mempertanyakan dengan mata menelisik. Amanda tidak membawa mantan pacarnya ini ke rumah, melainkan kediaman Dini. "Saya menumpang di rumah teman, Pak," ujarnya jujur. Namun, pengakuan darinya mendapatkan tatapan prihatin dari Zayyan. Padahal Amanda tidak ada niatan untuk mencari belas kasih. "Kalau begitu terima kasih sudah mengantar saya, Pak." Zayyan masih terdiam saat melihat Amanda memasuki gerbang yang diklaim menumpang di rumah teman. Hingga Zayyan menelepon Warman sembari memasuki mobil. "Carikan aku apartemen yang dekat dengan kantor." *** Zayyan menarik napas cukup panjang, padahal tubuh baru saja mendarat di atas kursi. Sampai Natasya yang menunggu sedari tadi mengerutkan dahi. Seperti dugaan Amanda. Lelaki tersebut bertemu dengan Natasya di jadwal kosong. "Baru juga datang, kenapa sudah kelihatan tidak senang, Sayang?" Nada suara manja dari Natasya dilirik oleh Zayyan. Natasya yang mendekat dan mendaratkan tubuh di atas pangkuan langsung Zayyan rangkul. "Coba cerita padaku, Sayang." Pipi Zayyan baru saja dikecup oleh Natasya. Namun, tiadanya respon balik dari Zayyan yang lebih brutal seperti biasanya tentu membuat Natasya heran. Apalagi ketika jemari Natasya yang ingin menyentuh wajah, Zayyan terburu menghindar. "Kamu beneran lagi ada masalah?" tanya Natasya memilih turun dari pangkuan selingkuhan. Mata Zayyan memandang pada Natasya. "Mendadak aku merasa kesal." "Kesal dengan siapa, Sayang?" Mulut lelaki tersebut membisu dengan mata masih memandang. Tiba-tiba Zayyan kesal dengan sikap manja dan lengket dari Natasya, padahal tipe dia seperti Amanda. Wanita yang lebih tegas dan tidak lemah seperti Natasya. Ponsel Zayyan yang berdering membuat lelaki tersebut bangun dari duduk. Bahkan sedikit menjauh untuk mengangkatnya. Pandangan Natasya menjadi curiga, melihat wajah panik Zayyan yang begitu kentara. "Siapa--" Jemari Zayyan meminta Natasya untuk tidak bicara. Wanita tersebut menunjukkan raut wajah kesal karena merasa diabaikan. Tiba-tiba saja Zayyan melangkah pergi membuat Natasya ikut berdiri. "Sayang! Kamu mau ke mana?" "Terjadi sesuatu dengan sekretaris baruku. Kamu makan duluan saja," putus Zayyan sembari berlari keluar ruangan. Natasya menghentakan kaki dengan kesal. "Sial! Kali pertama Zayyan meninggalkan aku demi sekretaris barunya!" Natasya jadi penasaran, seperti apa rupa sekretaris baru dari sang kekasih. Sementara itu, Amanda menutup telepon dengan bibir mengulas senyum sinis. Pertemuan antara Zayyan dan Natasya pagi ini berhasil digagalkan olehnya. "Tidak jadi naik, Neng?" Amanda memandang pada sopir taksi yang menunggu keputusan darinya. "Tidak, Pak." Tubuhnya langsung keluar dari taksi dan berdiri di sisi jalan. Menunggu kedatangan Zayyan yang menyuruhnya tetap di tempat, padahal Amanda hanya meringis karena dahi kejedot pintu taksi. Sembari mengelus dahinya yang lumayan sakit, Amanda menajamkan pandangan. Begitu melihat mobil milik Mario baru saja berhenti di hadapannya. "Amanda," sebut Mario. Namun, mobil lain juga ikut berhenti di sekitar Amanda. "Manda! Kamu baik-baik saja?" Zayyan keluar dari mobil bersamaan dengan Mario. Mata kedua lelaki ini melirik satu sama lain masih dengan wajah panik mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD