25. Ruang Otopsi

1431 Words
Ruangan otopsi terlihat, Benua dan Galen yang tengah menemani beberapa orang yang tengah melakukan Otopsi. Ruangan yang cukup dingin, untuk melakukan otopsi, di sebelah meja otopsi terlihat peralatan otopsi yang cukup lengkap. Terlihat dua orang yang sedang memegang kamera tidak lupa dengan mengambil gambar setiap otopsi yang tengah dilakukan, ada seseorang yang tengah mencatat apa saja yang telah di temukan oleh dokter yang tengah menangani mayat tersebut. Galen terus memperhatikan dengan seksama apa yang sedang terjadi. “Apa kalian sudah menemukan kapan waktu kematiannya?” tanya Benua sambil melihat ke arah dokter yang saat ini tengah berada di dalam ruangan itu. “Sekitar pukul 10-11 malam,” jawab dokter sambil memberikan hasil otopsi yang telah mereka lakukan. Benua membaca data-data hasil otopsi yang diberikan padanya, walaupun telah dijelaskan tetapi ia ingin kembali membacanya, berharap jika menemukan sesuatu. “Sepertinya, tidak ada penyiksaan yang terjadi,” kata Galen sambil memperhatikan mayat yang sedang di otopsi itu. Matanya cukup jeli dalam melihat sesuatu dan cepat memahami situasi yang tengah dihadapinya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Galen, Benua pun ikut memperhatikan mayat yang saat ini tengah berada di meja otopsi. Benua tangah menatap potongan-potongan tubuh. “Potongannya begitu rapi, bukan pisau atau kapak yang digunakan olehnya untuk memutilasi,” ucap dokter menjelaskan apa yang ingin diketahui oleh dua orang itu. Benua yang sejak tadi memperhatikan otopsi. “Mungkin dia menggunakan gergaji mesin?” Galen melihat ke arah dokter itu, berharap jika perkataan benar. “Tidak. Dia tidak menggunakan gergaji mesin,” jawab dokter itu pada sambil mengambil salah satu potongan tubuh gadis itu dan memperlihatkan pada Benua maupun Galen. Benua yang membaca hasil otopsi itu pun kembali melihat mayat yang dipotong itu. “Lihat ini, potongannya begitu rapi, tidak seperti dipotong menggunakan mesin. Sangat berbeda potongan yang menggunakan mesin,” jelas Dokter sambil menunjuk ke salah satu bagian tubuh yang dipotong. “Karena itu kami tidak menemukan bubuk besi ataupun gergaji besi.” Perkataan Dokter itu membuat Galen dan Benua mengerutkan kening, mereka berpikir apa yang dilakukan oleh pelaku untuk memotong tubuh korbannya. “Hmmm …” Galen bergumam sambil melihat dengan teliti apa yang dipegang oleh Dokter saat itu. “Mungkin dia tahu tentang medis?” tanya Galen melihat ke arah sang dokter. “Tidak. Dia menggunakan alat yang bisa dipakai untuk memotong hanya dengan sekali tebas.” “Katana? Atau pisau pemotong daging?” “Kemungkinan dua itu dipakai,” jawab Dokter. “Jika dia memakai dua benda itu, bisa menjelaskan potongannya yang rapi, dan juga tidak ada serbuk gergaji,” tambah dokter. “Atau dia memakai kapak saat melakukannya,” tambah Benua membuat Galen membulatkan mata. “Ya. Kapak. Itu masuk akal dan akan sangat menjelaskan bagaimana potongannya begitu rapi, jika menggunakan katana atau pisau, akan susah apalagi yang dimutilasi adalah seorang manusia,” ucap Galen sambil melihat mayat yang tengah berada di hadapannya. Satu persatu potongannya telah dijahit dan disatukan. “Kasihan sekali dia, harus mengalami hal yang begitu mengerikan seperti ini,” gumam Galen menatap mayat Mira. Dia sudah banyak menyaksikan mayat yang akan diotopsi, tetapi tidak pernah melihat kasus mutilasi yang begitu parah sebelumnya, begitu banyak potongan tubuh yang bahkan saat dokter mencoba untuk menyatukan potongan demi potongan begitu sulit dikerjakan oleh mereka. Mengenaskan, menyedihkan, mungkin menggambarkan keadaan saat ini. Entah kasus apa yang sebenarnya mereka temukan, tetapi kasus tersebut begitu rumit bahka membuat mereka sebagai tim undercover cukup kesulitan. Menyerah? Tidak. Mereka jelas tidak akan menyerah. Walaupun mereka tidak bisa menyelamatkan tim yang lain tetapi mereka bisa menyelamatkan nyawa orang-orang dan tidak akan pernah menjadi korban selanjutnya. Setidaknya mereka dapat menangkap pelakunya, walaupun itu sulit. “Ya. Ajal tidak ada yang tahu,” timpal Benua. “Mau dia masih muda, atau masih bayi jika usianya hanya segitu pasti akan mati. Hanya saja, caranya meninggal begitu mengerikan,” tambah Benua. Semua tim yang berada di sana, menganggukan kepala, hanya cara yang didapatkan anak remaja itu sangat mengerikan. Apalagi mereka belum menemukan di mana bagian terakhir tubuhnya, yaitu kepala. “Apa pemeriksaan zat dan DNA sudah keluar?” tanya Benua. Pemeriksaan zat serta DNA selalu dilakukan, berharap mereka mendapatkan sesuatu yang baru, dapat membantu dalam TKP. “Sedikit lagi, mungkin akan di antar kemari. Kami sudah berusaha sebisa mungkin memeriksa seluruhnya, berharap ada sesuatu yang dapat membantu dalam penyelidikan ini,” ucap Dokter. Benua hanya terdiam, sesaat kemudian dia tersenyum. “Ya. Ini kasus yang sangat besar setelah kepulanganku ke Indonesia. Entah apa yang terjadi di negeri ini tetapi setidaknya kami bisa menyelamatkan nyawa orang lain, walaupun tidak bisa menyelamatkan nyawa semua korban,” ucap Benua. “Memang benar. Tidak semua bisa kita selamatkan, tetapi setidaknya kita bisa mencegah pembunuhan dan korban yang lain berjatuhan,” ucap Dokter. “Aku membaca sebuah buku yang seperti ini. Kita bukan Tuhan, tetapi Tuhan saja tidak menyelamatkan seluruh nyawa para hamba-hambanya, karena itu telah DIA tuliskan sebelumnya di dalam buku kehidupan,” ucap Galen. “Oh iya. Bisa kirimkan padaku, hasil forensic kemarin, jangan ada yang terkecuali, aku ingin mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, siapa tahu aku melewatkan sesuatu. Aku ingin memeriksa kembali,” kata Benua. “Aku akan mengirimkannya padamu,” ucap dokter itu. “Kalian masih di sini, kan, ya? Aku ingin pergi ke lab terlebih dahulu untuk melihat apa yang mereka dapatkan,” ucap Dokter berpamitan pada dua orang pria itu. Benua mengusap wajahnya, dan bersandar di dinding. “Huh!” Rasa lelah, jelas terlihat di wajah mereka. Apalagi harus menyelesaikan kasus pembunuhan, dan menangkap pelaku pembunuhan tersebut. “Minum dulu,” tawar Galen sambil ikut bersandar di dinding. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Galen lagi. “Apa hubungannya dengan kasus ini dengan pembunuhan sebelumnya? Anak dari sekolah yang sama, dan juga pembunuhan lain yang berkaitan dengan virus serta sebuah game. Ah! Rasanya aku ingin segera menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin,” ucap Benua. Pada saat yang sama, sebuah telepon berdering dari saku celana Benua. Davin memanggil … “Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Benua saat panggilan terhubung. Benua seakan tidak memberikan jeda pada pria di seberang telpon untuk menyapanya. “Dasar pria dingin. Apa kau tidak menyapa terlebih dahulu, gitu?” “Dav …” “Huh! Ya, aku menemukan sesuatu yang menarik dan akan menjawab pertanyaan yang kalian ingin tahu,” seru Davin di ujung telpon. “Sebaiknya kalian langsung datang ke sini. Sulit menjelaskan,” ucap Davin membuat Galen dan Benua saling berhadapan. “Baiklah. Kami akan datang,” ucap Benua kemudian mematikan telponnya. Benua melihat ke arah Galen yang sedang berada di sampingnya saat itu. “Kita harus menyelesaikan urusan secepatnya,” kata Benua. “Hasil otopsi tidak begitu banyak yang kita temukan. Tidak ada sidik jari, bahkan rekaman CCtv di Indonesia tidak begitu banyak,” kata Benua. “Selama pelatihan di korea, begitu bagus penyelidikannya, karena di sana penuh dengan CCtv. Membuat menangkap pelakunya begitu cepat, begitu pula di Inggris, dan Amerika,” jelas Benua. Benua sangat menyayangkan di Indonesia masih belum memiliki begitu banyak CCtv, yang memantau ataupun akan membantu penyelidikan. Mungkin karena kurangnya kepedulian atau ekonomi yang masih rendah membuat Indonesia belum semua orang memasang CCtv. Galen hanya diam, tidak menjawab. “Mungkin kau bisa meminta agar pemerintah menyediakan CCtv gratis di seluruh Indonesia. Setidaknya di jalan-jalan atau di tiap rumah satu CCtv, itu lebih baik dan akan membantu penyelidikan,” usul Galen membuat Benua menatap ke arahnya. “Ya. Menggunakan uang pribadimu, bagaimana?” “Sial. Pemerintah jelas tidak akan menyediakan jutaan CCtv untuk warganya, itu membuat begitu banyak anggaran jika diadakannya,” ucap Galen lagi. “Kau tahu, jadi tidak perlu mempertanyakan lagi mengapa Indonesia masih kurang CCtv,” ucap Benua. “Harapan kita saat ini hanya Davin. Aku harap dia menemukan sesuatu yang dapat membantu kita di TKP,” kata Benua sambil menyeruput minuman kaleng miliknya. Ada beban yang cukup banyak di pundaknya, apalagi saat ini dia adalah seorang ketua tim yang harus segera menangkap pelaku dan juga mengambil keputusan untuk timnya. “Jadi yang akan kita lakukan saat ini?” tanya Galen. “Mungkin, kita perlu menyelidiki dari awal, apa yang kita lewatkan sampai kita tidak menemukan bukti. Kita harus kembali ke TKP, dan memeriksa kembali, mungkin ada sesuatu yang benar-benar terlewatkan oleh kita,” kata Benua sambil menyentil jidat Galen. “Aw… kau—” Benua menyentil jidat Galen, seakan pria itu sangat hoby melakukan hal seperti itu pada Galen. “Jadi, kita harus kembali ke TKP atau kita kembali ke kantor?” tanya Galen. “Hhmm… Sebaiknya kita ke rumah Davin. Pria itu menyebalkan, menyuruhku datang ke rumahnya,” gerutu Benua. Galen hanya bisa memutar matanya. Kakaknya itu sangat tidak waras menurutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD