““Tidak,” kata Mira sambil menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak tahu siapa yang membuatnya seperti ini, dan dia pun penasaran
“Hahaha… Itu karena kamu punya banyak musuh,” respon pria bertudung. “Aku akan mempertemukanmu dengannya, jika dia memberimu ampunan aku akan melepaskanmu,” kata pria itu sambil beranjak dan mengambil laptop yang berada di atas meja.
Tuttt…
Bunyi panggilan video tengah berlangsung.
“Hallo …”
Suara terdengar dari seberang telepon. Suara wanita, seketika membuat Mira terkejut.
Di TKP, Benua mengibas-kibas kerah kaos yang tengah dipakai olehnya. Terik matahari begitu menyengat saat itu. Apalagi saat itu tidak ada pohon untuk berteduh, dan penyelidikan mereka masih saja berlangsung.
Mereka masih berada di TKP, memeriksa para warga untuk dimintai keterangan. Setidaknya mereka bisa menemukan beberapa hal yang baru, dan segera mengungkap kesamaan dari kasus yang terjadi.
“Minum dulu,” kata Galen sambil menyodorkan minuman dingin pada Benua.
Benua hanya melihat minuman yang di bawa oleh adik angkatnya itu. “Minum. Kau ingin mati kehausan di sini?” Galen kembali menyodorkan minuman itu pada Benua. “Ambil nggak? Kalau tidak kuhabisin semuanya,” ancam Galen membuat Benua mengambil minuman yang diberikan padanya.
“Thanks,” kata Benua. “Kau liat Rai nggak?” tanya Benua pada Galen, membuat adiknya itu menyipitkan matanya.
Galen memasang wajah yang setengah mengejek Benua. “Ehem. Ehem. Sepertinya ada yang bakalan jadi menten, nih,” goda Galen membuat Benua menatap sinis ke arah Galen. “Kau pasti suka, ya, dengan kak Rai, ya?” tanya Galen penasaran.
“Apaan sih, siapa juga yang suka dengan dia. Aku hanya—“ Benua ingin membantah perkataan adiknya, tetapi terhenti, entah kenapa perkataan itu begitu membuatnya terdiam, ia tidak berani untuk melanjutkan perkataannya.
“Hayoo… Aku hanya—apa? Nggak bisa jawab ‘kan?” goda Galen. Anak itu seketika tertawa membuat Benua menjadi kesal di buatnya.
“Diam nggak? Atau kusumpal mulutmu pakai botol.” Benua mengancacm Galen, yang telah membuatnya kesal. Apalagi anak itu sangat suka menggodanya. “Jadi apa yang kau temukan di TKP?” tanya Benua mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Galen menegak minuman miliknya sebelum menjelaskan apa yang dia temukan.
“Hm. Dia anak sekolah. Aku mendapatkan informasi dengan anak-anak sebaya dengannya, mereka mengatakan jika dia adalah gadis yang suka meminta uang anak-anak,” jelas Galen menjelaskan apa yang dia temukan.
“Ya. Ada beberapa korban yang sudah aku selidiki. Begitu banyak yang menjadi korbannya.”
“Maksudmu tukang palak?” tanya Benua meyakinkan.
“Ya, seperti itulah. Dari beberapa anak yang gue tanya, satu sekolah dengannya mereka mengatakan jika banyak kejadian yang dilakukan oleh anak itu. Ada sampai membuat anak bunuh diri,” kata Galen mencoba menjelaskan. “Aku yakin, dia salah satu dari permainan balas dendam itu, dan yang memainkan game tersebut adalah salah satu dari korbannya.”
“Kau yakin?” tanya Benua.
“Yakin dong. Galen gitu loh, nggak mungkin salah.”
“Huh! Urusan dengan anak remaja itu paling menyebalkan, anak remaja sekarang itu lebih menakutkan,” kata Benua dengan ekspresi merinding.
“Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit, untuk mendapatkan hasil tes forensik mayat kemarin,”
Benua memijat kepalanya. Apa yang saat ini mereka kerjakan cukup rumit. Kasus pembunuhan sangat begitu berdekat. Bahkan tuntutan untuk menemukan pelakunya terus menerus diterima olehnya.
Walaupun dia adalah ketua tim undercover, tetapi dia harus mengambil keputusan yang benar-benar berguna dan juga tidak membayakan tim miliknya.
“Bentar dulu woy. Aku mau minum es doger dulu. Enak tahu,” cegat Galen. “Mang, es dogernya satu ya,” kata Galen sambil duduk dengan santai.
Benua yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Astagfirullah…” kata Benua sambil beristigfar melihat Galen yang telah memesan Es.
Galen tengah duduk sambil menikmati secangkir es doger yang dipesannya dari penjual keliling yang baru saja melintas.
Setidaknya dia ingin mencoba untuk mengistirahatkan otaknya sejenak dengan minum es, beberapa hari ini dia telah berpikir pola apa yang dipakai oleh pelaku, dan juga apakah ada hubungan pembunuhan ini dengan pembunuhan yang sebelumnya.
“Udah. Santai aja, kita minum es dulu. Sayang banget, tahu nggak nikmatin es kayak gini,” saran Galen. “Istirahatkan otak yang akan kita pakai, lagi pula jika terus menerus berpikir bisa-bisa kita sendiri yang stres, masuk rumah sakit, e, besoknya jadi mayat,” tambahnya membuat Benua menatap kesal ke arah Galen, bisa-bisanya anak itu berpikir hal seperti itu, tapi apa yang dikatakan Galen ada benarnya, mereka butuh istirahat.
Benua duduk di samping Galen. “Ya udah, aku juga mau,” kata Benua.
“Ahahaha…”
Mamang penjual Es doger tersebut duduk, sambil membuatkan Es untuk dua orang pelangannya itu.
“Kalian bukan warga sini, ya?” tanya mamang penjual.
“Ah, iya,” jawab Galen seketika.
“Pantesan, baru liat.”
“Iya mang, kami datang buat memeriksa penemuan mayat itu loh,” seru Galen kembali sambil menikmati es doger miliknya.
Dia sangat suka dengan es yang dijual, membuatnya ingin segera menghabiskannya dan memesan kembali
“Oh mayatnya anaknya pak RT, ya?” tanya mamang, di balas anggukan oleh Galen.
“Oh. Mamang tahu?” tanya Galen lagi.
Benua sedikit penasaran, ia menghentikan menikmati es doger miliknya.
“Ya. Pasti tahulah. Namanya Mira, anaknya Pak RT, sekolah di SMA Swasta tuh, lagian udah tersebar beritanya sampai di pelosok tempat ini,” ucap Mamang penjual membuat Galen menganggukan kepalanya. “Anaknya emang nyebelin banget, banyak anak-anak tetangga yang nge lapor jika si Mira itu suka jahatin temannya di sekolah. Tapi Pak RT tidak percaya dengan omongan orang, lebih percaya pada anaknya,” jelas mamang penjual Es itu. “Anak itu bermasalah, tapi sangat di manja orang tuannya, Pak RT dan Bu RT baik, tapi, ya, anaknya sangat nakal dan bandel banget. Paling banyak yang senyum-senyum dengan kematiannya,” kata mamang penjual. “Bahagia karena dia meninggal.”
Galen dan Benua saling berpandangan satu sama lain, sepertinya mereka memiliki banyak tersangka yang patut untuk dicurigai mengingat anak itu begitu banyak yang membencinya. Siapa yang harus mereka salahkan?
Terjadilah beberapa tanya jawab dengan mamang penjual Es, seakan pria itu tahu segala yang terjadi di daerah itu.
“Aduh den, aku ini sering keliling. Jadi banyak yang aku dengar dari para warga sini.”
“Oh gitu ya pak,” kata Benua sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalian tidak ke TKP?” suara Rai terdengar mendekat ke arah Benua dan Galen yang sedang duduk dan menikmati es doger.
Tanpa diperintah Rai pun duduk berdekatan dengan Benua.
“Oh calon kakak ipar, duduk dulu sambil minum es doger. Jangan mikirin TKP mulu, capek tahu,” kata Galen sambil mencicipi es miliknya. “Ah, tenang saja. Kakak yang bayarin minuman kita,” kata Galen lagi, seketika membuat Benua membulatkan matanya ke arah galen.
Anak itu seenaknya mengatakan jika Benua yang akan membayar minuman mereka.
“Kenapa? Aku, nggak bawah dompet bro, jadi kau yang bayarin. Siapa suruh, buru-buru banget ngajak pergi,” kata Galen sambil melihat ke arah pakaian yang sebenarnya di pakaiannya. Piyama berwarna biru dongker, polos. Untung saja piyama yang dipakai galen tidak bermotif.
Galen sangat tidak ingin memakai pakaian itu, tetapi mau tidak mau dia harus memakainya, karena diajak dengan sangat terburu-buru oleh Benua. Rai baru menyadari hal itu, dan seketika tertawa.
“Hhmm. Untung saja aku ganteng. Mau aku pakai pakaian apapun, tetapi cocok. Dan juga nggak ada yang ketawain pakai piyama kayak gini ke TKP,” kata Galen seketika membuat Rai tertawa.
Benua menatap gadis itu, dengan seksama. Gadis yang tengah memperlihatkan gingsulnya ketika tertawa. Apalagi sebuah lesung pipi di kiri kanannya, membuat gadis itu memang benar-benar cantik.
“Aku serius, nggak bercanda.”
“Galen, jangan bicara informal seperti pada yang lebih tua,” tegur Benua membuat Galen mengatupkan mulutnya.
“Baiklah… Baiklah…” kata Galen sambil kembali mencicipi es doger miliknya.
“Umur kamu berapa sih?” tanya Rai pada Galen.
“17 tahun,” kata Galen menjawab pertanyaan Rai.
“Masih sekolah?” tanya Rai menyelidiki, tentu dia tahu jika umur Galen yang saat ini adalah umur anak-anak kelas tiga, kelas ujian.
“Galen menganggukkan kepalanya.”
“Kenapa kau ada di sini?”
“Hm. Karena aku tidak punya jam sekolah. Lagi pula percuma aku datang, semua yang di berikan semuanya telah ku tahu.”
Rai menelan salivanya, anak remaja yang di depannya tampak begitu percaya diri menurutnya.
“Tapi kamu kelas ujian.” Rai jelas tidak tahu, mengenai Galen.
Galen mengerutkan keningnya. “Aku bukan anak SMA,” kata Galen.
“Ee …”
Rai bingung dengan apa yang dikatakan oleh Galen padanya.
“Ah itu, dia anak Akselerasi,” kata Benua mencoba menjawab kebingungan yang ada pada Rai.
“Maksudmu anak-anak yang lompat kelas?” tanya Rai.
“Iya, Galen anak seperti itu. IQnya tinggi. Saat ini, dia tengah proses penyelesaian skripsinya, tapi masih santai-santai sih, dan membantuku di kepolisian,”
“Wah. Daebak,” kata Rai merespon dengan menggunakan Bahasa korea. “Aku baru pertama kali bertemu dengan anak Akselerasi,”
Benua mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar es mereka.
Galen memilih untuk duduk di kursi belakang, membiarkan Rai yang berada di kursi depan bersama dengan Benua.
Alunan lagu terdengar, membuat Galen yang berada di belakang hanya bisa mengerutkan keningnya. Tidak biasanya kakaknya itu memutar lagu di dalam mobil, apalagi music mellow khas zaman 90an itu membuat kuping Kallen serasa ingin meledak.
Hening, tidak ada percakapan di sana. Hanya ada sebuah alunan lagu, dan juga deru kendaraan yang tengah melintas terdengar.
.
Bersambung…