Saat mendapatkan telpon itu semua orang membulatkan matanya. Benua yang mendapatkan telfon itu langsung saja, berlari menuju lift. Apalagi ketika melihat sebuah foto yang di kirimkan padanya.
Begitu banyak pengunjung saat itu, tidak ada yang aneh seperti biasanya, banyak yang tengah berkumpul bersama dengan keluarganya.
Semua orang begitu asik dengan kesibukan mereka dengan keluarga masing-masing.
Seseorang tengah duduk sambil menjajakan dagangannya di tempat itu, beberapa barang dari kerajinan tangan miliknya, di sisinya terdapat anak kecil yang tampak begitu lusuh, Kumal, membuat pengunjung enggan untuk melirik mereka.
Anin, dengan sifatnya yang begitu ceplas-ceplos, entah ikut gen milik siapa, membuat pria itu tersinggung karena anaknya dihina oleh Anin.
Pakaian Anin memang bermerek, Pamannya ada pemilik gedung dengan bertingkat-tingkat, kakeknya sangat kenal di Amerika, tentu pakaian yang di pakai gadis kecil itu sangat mahal, untuk ukuran pria yang tengah menjajakan dagangannya itu.
Rai yang mendengar hal itu langsung memarahi Anin.
“Minta Maaf,” kata Rai membentak Anin.
“Kenapa harus minta maaf? Anin berkata benar,” kata Anin.
Anan yang melihat itu seketika mencubit Anin, dan menyuruh minta maaf, apalagi anak kecil itu memegang tangan Anin, membuat gadis dengan manik mata biru itu seketika mendorong anak kecil itu, hingga terpental.
“Anin... Kau...”
“Bibi berteriak padaku?” tanya Anin dengan nada keras.
Semua orang yang berada di sana pun melirik ke arah mereka, dan ikut membenarkan apa yang dikatakan oleh Anin tentang anak itu, membuat keadaan makin kacau.
Belum selesai kedua orang itu berdebat, sebuah tusuk konde segera menyandera salah seorang anak. Suasana makin kacau, Rai tidak tau harus berkata apa lagi, untuk memenangkan pria yang telah marah dan tersinggung itu.
“Keponakan saya tidak bermaksud seperti itu,” Kata Rai mencoba untuk menenangkan keadaan pria yang telah tersulut api amarah itu.
“Tolong... Jangan melukai anak kecil itu,” kata Rai memohon.
“Kalian tahu apa tentang hidup tidak berkecukupan?”
Pertanyaan dan sekaligus curhatan itu, menyentuh hati Rai. Dia tidak pernah merasakan memang hidup susah, karena dia hidup penuh dengan uang dari orang tuanya, namun dia tahu bagaimana rasanya hidup di jalanan. Walaupun tidak pernah merasakannya.
Anak yang tengah di sandera itu, begitu ketakutan karena ujung tusuk konde itu tengah terarah padanya. Menangis sudah pasti, apalagi orang tuanya tengah melihat anaknya.
Rai menatap Anin dengan tatapan marah, membuat gadis kecil itu hanya bisa menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah.
Rai tidak akan marah apapun, kecuali tentang tindakan yang tidak baik, sekalipun menghancurkan segala barang di dalam rumah gadis itu, tidak pernah akan marah, Rai hanya akan menasehati mereka.
Kali ini berbeda, mata Rai pun terlihat amarah, tidak suka di dalamnya.
“Pak, tolong... bapak akan ditangkap petugas keamanan jika seperti itu, tolong lepaskan dia, bapak juga punya anak, bapak pasti mengerti,” kata Rai.
Rai pelan-pelan mendekati pria itu, mencoba menenangkan pria itu, sedangkan anak kecilnya tengah menangis di sampingnya karena ketakutan.
Dengan negosiasi, dan juga perkataan Rai pria itu mulai perlahan-lahan mengendorkan pertahanannya, dengan cepat Rai menarik tangan anak itu untuk menjauh dari pria berbahaya itu, namun pria itu malah balik menyandera Rai.
Anin dan Anan, serta Daniel membelalakkan matanya melihat hal itu. Seketika pecah tangis anak kembar itu.
“Anin minta maaf, jangan sakiti bibi anin,” kata anak itu sambil terisak-isak.
“Paman, Anin saja. Jangan bibi anin.”
“Daniel, bawah mereka pergi dari sini,” kata Rai.
“Tidak, kami tidak mau. Tolong... bibi kami...”
“Bibi tidak apa-apa, jangan menangis lagi.”
Mobil Benua baru saja datang, jauh incheon ke seoul itu cukup jauh, entah seberapa cepat pria itu memperlaju mobilnya.
Rai tengah bersikap baik-baik saja, dan mencoba bernego dengan pria yang tengah menyanderanya itu.
Beberapa jam sebelumnya.
“Bibi... Ayo...” panggil anak kecil berambut panjang, yang tengah di kuncir dua itu.
“Iya... Iya... kalian masuk ke mobil dulu, jangan lupa pakai sabuk pengaman,” teriak Rai. “Daniel, tolong awasi mereka ya,” kata Rai kepada anak yang telah tinggal di rumahnya itu.
Gadis itu tidak akan pernah merubah sikap hangatnya ketika berhadapan dengan anak kecil ataupun anak remaja. Berbanding terbalik dengan mereka yang berusia di atasnya atau berusia setara dengannya.
Kedua anak kembar itu memang dekat dengan Rai sejak dulu, bahkan mengenal Robin mantan kekasih Rai. Anak dari sahabatnya dan Lucas, sayangnya ibunya saat ini tidak sadarkan diri, walaupun telah lima belas tahun belum sadarkan diri. Hanya itu yang Rai tahu tentang orang tua dari anak kembar yang bernama Anandara nama Anak laki-laki, sedangkan yang anak gadis bernama Anindira.
Rai mengenakan pakaian dress berwarna hijau muda pastel, dengan celana panjang di dalamnya, sepatu sneakers berwarna hitam, jilbab berwarna hitam, tidak lupa dengan mantel miliknya.
Gadis itu, mengambil mantel kedua anak itu, termasuk mantel Daniel.
Masuk ke dalam mobil, menghidupkan mobil miliknya, “pakai mantel kalian lebih dulu,” kata Rai. “Ingat perjanjian tadi?” Tanya Rai lagi.
“Ya, bibi. Tidak boleh membeli Es Krim.”
“Pintar, selain itu kalian boleh bermain apapun.”
“Termasuk masuk ke rumah hantu?”
Rai terdiam sejenak. “Tentu!”
“Yes. Bibi memang yang terbaik,” kata Anan, Rai hanya tersenyum tipis.
“Go... go... go... bibi,” kata Anin. “Cepat jalankan mobilnya,” kata anin lagi.
“Iya, iya, sabar. Bibi harus baca doa dulu, biar kita di lindungi saat di perjalanan.”
Sebagai perempuan yang telah memeluk agama islam, dia harus menunaikan sunnah yang di anjurkan.
Terkadang, gadis itu merasa lebih betah dengan mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengannya daripada mereka yang begitu kental aliran darah yang mengalir.
Taman Ancol adalah salah satu destinasi taman hiburan bertaraf internasional, begitu luas dan disukai banyak warga lokal maupun turis. Tak hanya ana-anak, orang dewasa pun senang ketika datang ketaman reaksi yang berada di Taman Ancol. Tidak hanya sekedar merefresh otak, namun juga bisa berbelanja, ataupun memesan hotel, serta di fasilitasi dengan restoran.
Mobil milik Rai tengah melaju di jalanan seoul, gadis itu fokus dengan menyetir mobilnya. Sedangkan anak-anak yang bersamanya, duduk dengan setia.
Tidak menemukan titik bagus untuk bernegosiasi, malah memperumit masalah. Benua baru saja turun itu, langsung menembakkan peluru ke atas, malah membuat keadaan makin memburuk.
Pria itu menusuk tusuk konde, membuat luka tusukan di leher Rai, mungkin hanya kecil. Tidak ada yang bisa mengetahui itu, karena lukanya tertutupi dengan jilbab yang dipakai olehnya.
“Jika dalam bahaya gunakan ini,” perkataan Ethan Lee terngiang di kepalanya.
Dia sangat bersyukur, jika tangannya masih diberikan leluasa untuk bergerak, membuatnya merogoh ke dalam tas miliknya, dan mengambil stungun, alat kejut listrik.
Rai menggelengkan kepalanya pertanda jangan mengarahkan senjata ke arahnya, membuat Benua menurunkan senjatanya, beberapa saat kemudian kembali diarahkannya.
“Jangan... Kak Rai terluka karena tusuk konde itu,” kata Daniel memberi tahu.
Kali ini berbeda, tusuk konde bukan di arahkan ke leher Rai, melainkan ke perut sebelah kanan Rai, menekan, membuat tusuk konde itu terasa sakit di kulit.
Dddrrrr.... Dddrrr...
Karena merasa luka di bagian perutnya, membuat Rai langsung menyetrum pria itu.
Tidak sadarkan diri? Ya. Rai hanya bisa meraba luka di lehernya, tidak besar hanya membuat darah cukup keluar setetes saja.
Anak kembar itu segera memeluk Rai dengan khawatir, masih dengan isak tangis, tepukan pelan di bagian belakang, dia berikan kepada anak kembar itu pertanda jika dia baik-baik saja.