66. Penyanderaan

1096 Words
Drrzzz... Suara ponsel terdengar, membuatnya meletakkan buku bacaan yang telah dibacanya itu. “Datanglah ke ruanganku,” bunyi pesan itu. Menutup buku bacaannya, dan beranjak dari tempat duduknya. Beberapa kali salam hormat diberikan padanya, banyak yang tahu tentang dirinya. Muda, cerdas, IQ tinggi, tentu telah menyandang predikat sebagai seorang Profesor termuda. Dia bisa jadi apapun dengan IQ yang dia miliki, namun memilih menjadi seorang Psikolog Kriminal, aneh bukan. Bahkan rumus pun bisa dipecahkan olehnya, atau dia akan lulus dan masuk di NASA. Langkah kakinya begitu cetakan, menaiki tangga halaman depan kampus, naik ke lantai atas dengan menekan sebuah tombol lift menuju atas. Clek! “Kau memanggilku?” tanya Rai sambil duduk di sofa. “Tentu, aku mengirim pesan padamu, tentu aku menyuruhmu datang.” “Ada apa? Tolong jaga anak-anak untukku.” Rai terdiam, kemudian mengangguk pelan. “Antarkan saja besok, aku sedang free juga.” “Kau tidak akan mengajarkan mereka tentang kriminal kan?” Rai menyipitkan matanya. “Apa aku terlihat begitu Psikopat?” “Tsk! Aku hanya bercanda.” “Aku akan pergi ke tempat pria itu, sebelum aku mengajakmu ke sana.” “Baiklah. Hanya itu kan?” “Aku satu Minggu akan pergi.” “Kenapa tidak kau titipkan ke pamannya saja.” “Mereka sibuk, lagi pula kau tahu sedikit tentang paman-pamannya.” “Baiklah. Bawakan aku makanan dari sana. Aku pergi dulu.” Cleo beranjak dari tempat duduknya, kemudian keluar dari sana. Taman Ancol. Benua masih tertidur, di kasur empuk miliknya. Pria itu tampak lelah, setelah menangkap penjahat, dia begitu jarang tidur saat di rumah. “Kakakmu belum bangun?” tanya Umi Benua pada Galen yang tengah sibuk bermain konsol game. “Belum bangun,” kata Galen menjawab. “Bangunkan kakak sana. Dia belum makan dari semalam,” seru Umi Benua memberikan perintah pada putranya itu. Ibunya tengah menyiapkan makan siang untuk mereka, begitu banyak makanan. “Hei, cepat bangun dan pergi makan. Umi menyuruhmu turun.” Galen tengah berdiri sambil memegang ponsel miliknya, di layar ponsel itu terlihat sebuah game yang tengah populer di negara itu. “Ben ...” panggilnya lagi. “Benua ...” Anak itu seketika membangunkan kakaknya menggunakan kakinya, karena tangan dan matanya fokus di layar pipih miliknya. Tubuh Benua yang di bangunkan seperti seketika langsung menarik kaki adiknya itu. “Kau ingin di hukum dengan melawanku di arena karate mau?” kata Benua sambil menarik kaki adiknya, membuatnya terjatuh, dan game yang dimainkan kalah. “Sial. Kalah,” gerutu anak itu dengan kesal. “Bodo amat...” kata Benua membuang bantal yang di pakainya tadi ke hadapan adiknya. “Umi” teriak Galen tengah mengadu. “Umi ...” “Layak kok, dia membangunkanku dengan...” Buk! Sebuah bantal langsung saja melayang ke arah Benua, dan yang melemparkannya adalah Galen. “Umi, saat gajian nanti. Ingin apa?” tanya Benua pada adiknya itu. “Konsol game baru,” Galen menjawab seketika, padahal pertanyaan itu bukan untuknya. “Bukan kau yang ku tanya, bocah.” “Bagaimana jika kita sekeluarga pergi berlibur?” tanya Galen. “Maaf, tapi...” Galen menatap kakaknya itu dengan tatapan tidak suka. “Baiklah... baiklah...” Ting tong... Clek! Suara pintu terbuka. “Assalamualaikum ...” Sebuah salam diberikan oleh pria paruh baya, mungkin berumur sekitar pertengahan usia awal 50 tahun, atau akhir pertengahan tahun 60an tahun. “Makan dulu, sudah ibu siapkan makan siang.” Benua memilih duduk dan menatap keluarganya yang tengah makan siang itu, dia jarang sekali makan siang di rumah, dan berkumpul dengan keluarganya. “Bagaimana jika aku menikah,” kata Benua seketika membuat ayahnya terkejut, dan batuk-batuk. Galen yang tengah minum, menyemburkan minumannya. Galen dan ibunya yang akan memasukan makanan dari sendok ke dalam mulutnya, seketika terjatuh. “Apa membuat kalian begitu terkejut?” tanya Benua. “Ten... tentu...” kata Ayahnya. “Jadi kakak ingin menikah dengan gadis itu?” Benua melirik ke arah adiknya, “Ya. Kenapa tidak.” “Ahahahha... jadi kalah taruhan dengans seorang gadis? Pfffttt...” Aziel tertawa terbahak-bahak. “Len...” Suara yang keluar dari mulut ayah mereka itu seketika membuat anak bungsunya itu terdiam. “Kalah taruhan?” tanya ibu Benua menyelidiki putra sulungnya itu. “Ya,” jawab Benua dengan singkat. “Aku bertaruh, jika aku kalah, aku menikah dengannya, jika dia menang dia akan menjadi pengurus rumah selama beberapa tahun,” kata Benua. “Dan kau kalah,” kata ayahnya. “Yah, dia salah satu gadis yang memiliki IQ tinggi, dari Indonesia. Bergelar Profesor di usianya 29 tahun,” kata Benua menjelaskan tentang Rai, hanya sebagian besar lagi. “Makanya, jangan menilai orang lain dari sampul saja, meremehkan orang lain itu tidak bagus,” kata ayahnya membuka suara. Benua hanya terdiam, benar apa yang dikatakan oleh ayahnya. “Mungkin harus membuat kontrak perjanjian dengannya nanti,” kata Benua membatin. “Wah, aku jadi ingin bertemu dengan kakak iparku,” kata Galen penasaran. “Dia jadi penyewa rumah,” kata Benua membuat Galen terbatuk-batuk. “Hah? Tetangga baru kita?” tanya Galen penasaran. “Dia gadis itu?” tanya ibunya. “Hu’uh,” kata Benua sambil mengunyah makanannya. “Ibu setuju,” kata ibunya membuat Benua cegukan seketika. “Ma...” “Jika dengan dia ibu setuju,” kata ibunya seketika. “Aku hanya bertanya, bukan berarti aku beneran mau menikah dengannya,” “Tidak, seorang pria harus menepati janji,” kata ibunya lagi. “Ma... apa sebaiknya kita jujur saja?” tanya Galen, yang tahu tentang masalah yang disembunyikan oleh orang tuanya. Aziel hanya asik makan, bahkan makanan milik Benua di ambilnya juga. Mungkin hanya dia yang tidak tahu alasan mengapa orang tuanya tidak mengizinkan kakaknya menikah dengan mantan iparnya itu. Ethan Lee memarkirkan mobilnya, dan keluarlah dua anak kecil, laki-laki dan perempuan. “Bibi...” panggil kedua anak itu sambil memeluk Rai. “Dadd... Pergilah...” kata kedua anak itu sambil melambaikan tangannya pada Ethan Lee. “Lihatlah, kedua anak ini, mengusirku,” kata Ethan Lee, seketika membuat senyum di wajah Rai terukir. Tidak ada yang lebih bahagia, selain suara riuh anak kecil, baginya yang tidak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri. Kepergian Ethan Lee, membuat rumah tampak begitu ribut, berkelahi dengan Min-na, atau mengganggu Rai yang tengah masak. “Huh!” Rai menghela nafasnya. “Oke. Oke. Kita akan pergi ke taman bermain,” kata Rai. “Tapi, tidak ada yang namanya es krim. Janji?” tanya Rai. “Yeee... Kami janji,” “Baiklah, bibi akan siap-siap lebih dulu,” kata Rai. Melepaskan celemek yang di pakaiannya itu. Ting... Tong... Suara ponsel milik Benua terdengar. “Terjadi penyanderaan di Taman Ancol”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD