Benua menatap Rai yang tidak mau keluar dari TKP, padahal dirinya hanya ingin jika wanita itu pergi beristirahat karena pekerjaan mereka saat ini sudah diluar dari jam kerja Rai.
“Kenapa kau begitu keras kepala, sih?” Benua yang melihat Rai merasa heran karena Rai yang tidak mau pergi.
“Aku hanya ingin membantu agar segera selesai kasusnya. Lagi pula, tidak ada waktu untuk melarang boleh atau tidak.” Perkataan Rai membuat Benua terdiam, semua orang pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rai.
Semakin mereka menunda-nunda, kasusnya akan lama selesai.
“Baiklah. Jika kau ingin ada di sini. Setelah ini kau harus pulang, biarkan kami mengurusi sisanya. Setuju?”
Rai menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Benua.
Walaupun Benua sedikit tidak setuju tetapi dia pun tidak memiliki hak untuk melarang wanita itu pergi.
“TKP nya bersih,” kata Rai. “Ruangan ini baru saja dibersihkan. Apa pelakunya sudah tertangkap?” tanya Rai sambil melirik ke arah para dokter forensik yang berada di ruangan itu.
“Sudah,” jawab Galen yang baru saja masuk ke dalam apartement.
“Sudah? Kalian yakin sudah menangkap pelakunya?”
“Iya. Semua bukti tertuju padanya.”
Rai mengerutkan keningnya, dia berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Secepat itukah menangkap pelakunya?
“Dia pelakunya.” Rai melirik ke arah anak remaja yang baru saja datang bersama dengan Galen.
“Kalian menangkap orang yang salah.”
“Apa? Orang yang salah?”
“Aku tak tahu jika seorang detektif bekerja seperti ini. Kalian pikir anak seusianya mampu melakukan pembunuhan sadis seperti ini?” Rai melirik seorang anak remaja yang telah di borgol oleh mereka, wajah pucat, dan terlihat kedinginan, beberapa memar dan juga luka di sudut bibirnya terlihat. “Bukan anak itu pelakunya,” kata Rai.
“Anak itu pelakunya, darah ditemukan di pakaiannya. Semua bukti tertuju padanya. Jangan mengacaukan Tkp dengan argumen yang belum tentu benar,” kata Benua dengan nada tinggi.
“Bagaimana jika aku menjamin jika anak itu bukanlah pelaku dari pembunuhan ini?” Rai tengah menantang Benua yang tengah menangani kasus itu.
Semua orang yang berada di Tkp melihat ke arah Rai—gadis yang mengunakan kerudung tengah berdebat dengan Benua Ardanult, pria yang selama ini selalu membawa pelaku kejahatan untuk dimasukkan ke dalam penjara. Terlihat dari raut wajah mereka jika sebelumnya tak pernah ada yang berdebat atau beradu argumen dengan pria itu.
“Apa yang membuatmu yakin? Aku berani bertaruh jika anak ini adalah pelakunya.”
“Sudah memeriksa Cctv?”
“Sudah.”
“Aku boleh melihatnya?” tanya Rai lagi.
“Ini,” kata Galen memberikan rekamanan Cctv pada Rai.
“Dan anak ini terekam Cctv, sebelum Cctv rusak,” kata Benua sambil menunjuk ke arah anak remaja yang ditangkap oleh mereka.
“Buktinya tidak kuat, hanya karena baju yang dipakainya dipenuhi darah dan juga dia terekam Cctv,” kata Rai sambil memberikan Ipad kepada rekan kerja Benua.
Wajah pucat ketakutan jelas membuktikan jika anak itu bukanlah pelakunya. Seseorang yang telah melakukan pembunuh dia pasti tidak akan segugup itu jika tertangkap dan untuk apa berada di dekat TKP.
“Aku bertaruh jika dia bukan pelakunya.”
“Baiklah aku terima.” “Hadiah dalam perlombaan. Yang kalah harus menuruti perintah yang menang selama tiga bulan, bagaimana?”
“Terlalu mudah, bagaimana jika seperti ini, jika aku kalah, aku akan menikahimu, sedangkan jika kau kalah kau akan menjadi pelayan di rumahku selama beberapa Tahun,” kata Benua membuat semua orang yang mendengar apa yang dia katakan terkejut.
Rai hanya diam, tidak memberikan ekspresi terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Namun berbeda dengan semua orang yang berada di ruangan itu, jelas mereka sangat bahagia. Benua memiliki cara yang unik.
“Kakak sedang tidak bercanda ‘kan, ya? Janji itu harus ditepati, loh.”
“Tidak. Aku tidak gila, dan aku tidak akan kalah darinya...” kata Benua begitu bersemangat.
“Semoga saja, kau kalah dan bisa menikah dengannya.”
“Baiklah,” kata Rai setuju. “Bagaimana kalian menangkapnya?” tanya Rai ingin tahu, bagaimana mereka bisa menangkap anak remaja itu.
“Mudah saja, pakaiannya berlumuran darah, dia terekam Cctv, dan juga sidik jarinya terdapat dalam pakaian korban.”
“Bagaimana dengan pernyataannya?”
“Dia menyangkal jika melakukan telah pembunuhan padahal dia selalu terekam di tempat kejadian.”
“Sebelum itu, tolong lepaskan dia. Untuk menangkap pelakunya, aku membutuhkannya.”
“Melepaskannya? Itu tidak mungkin.”
“Aku menjamin dia tidak akan kabur,” kata Rai. “Ini, Aku adalah walinya,” kata Rai lagi sambil memberikan sebuah berkas dan sebuah rekaman blackbox mobil.
Dalam black box mobil seorang anak tengah mengambil sebuah pakaian dari tempat sampah kemudian memakainya.
“Apa kita boleh mulai?”
“Memulai apa?” tanya Arsen.
“Reka adegan pembunuhan,” kata Rai sambil tersenyum.
Dia menyukai hal yang seperti saat ini, ketika dia menempatkan dirinya sebagai seorang kriminal, untuk memecahkan kasus yang tengah ditangani.
“Baiklah, pertama mari kita mulai dari Tkp,” kata Rai sambil mulai menjelaskan.
“Pembunuhan yang terjadi tidak lepas dari sebuah pembalasan dendam. Ruangan ini, seseorang pasti telah membersihkannya lebih dulu.”
“Pertama kalian lihat buku-buku ini tertata dengan sangat rapi, seakan korban tidak pernah membaca buku ini, namun ketika kita mengamati lebih teliti jika buku ini telah dibersihkan. Bahkan tidak ada debu di dalam rak ini.”
“Kedua, lihat bagian bawah rak ini. Rak buku ini bergeser atau seperti seseorang pernah menabraknya atau lebih tepatnya telah tergeser. Goresan di lantai ini baru saja terjadi. Jika telah beberapa hari, goresan ini pasti telah hilang,” kata Rai sambil menunjuk ke arah lantai.
“Ketiga, bak mandi di sana, dipenuhi dengan begitu banyak darah yang telah bercampur dengan air. Kemudian ditaburi dengan kelopak bunga mawar, lilin-lilin aroma terapi di nyalakan untuk menghilangkan bau dari darah yang terurai dengan air. Keempat begitu banyak bukti yang tertinggal di tubuh korban,” tambah Rai.
“Bagaimana dengan tulisan di dinding. Korban pasti menulis di dinding agar kita mengetahui pelakunya,” kata Galen yang usianya sekitar 25 tahun.
“Sebenarnya itu masuk akal, tetapi tidak masuk akal jika semua tulisan di dinding Tkp begitu sama, mana mungkin semua korban bisa menulis huruf tersebut di dinding. Aku sudah katakan tadi jika pembunuhan ini tidak lepas dari pembalasan dendam. Rache dalam bahasa Jerman artinya pembalasan dendam. Jika kalian pernah membaca atau penggemar novel detektif Sherlock Holmes pasti tahu. dalam novelnya terdapat kata yang sama yang ditulis dengan darah. Jika di novel Sherlock Holmes menggunakan darah pelaku, tetapi kali ini pelaku menggunakan darah para korban. Jika pelaku menggunakan darahnya sendiri, otomatis dia akan segera tertangkap.”
Penjelasan yang diberikan oleh Rai masuk akal, membuat mereka hanya bisa ter mangun-mangun.
“Kita akan membahas mayat korban. Lihat, luka-luka sayatan ini bukan penyebab kematiannya. Namun luka sayatan ini adalah luka yang dibuat pelaku saat menikmati pembunuhannya,” kata Rai sambil melihat luka sayatan di tubuh korban.
“Penyebab kematiannya adalah kehabisan darah, namun yang membuatnya kehabisan darah, pelaku mengiris leher korban. Kemudian membiarkannya begitu saja. Pelakunya pasti beranggapan jika para korban layak mendapatkannya. Ketika korban tidak memiliki darah lagi di tubuhnya atau seluruh darah korban telah tergenang di lantai pelaku membersihkan semua darah kemudian menaruhnya di bathtub agar terlihat seperti kolam darah,” kata Rai menjelaskan, seakan dia tahu apa yang terjadi di tempat itu.
“Kejadiannya pasti ketika semua orang tengah sibuk. Berarti sekitar jam 11 atau 12 siang. Untuk membuat semua darah habis dari tubuh korban membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam bahkan lebih,” kata Rai. “Kita tunggu hasil forensic,” kata Rai sambil duduk di dekat mayat wanita itu.
Sebuah telpon masuk di ponsel seorang pria paruh baya;dia adalah ketua tim.
“Penyebab kematiannya adalah kehabisan darah karena sayatan di leher, waktu kematiannya adalah pukul 11-12 siang,” kata Galen sambil menatap sang kakak ipar dengan penuh tanda tanya.
Benua pun terlihat terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh Rai.
Wanita yang ada di hadapannya benar-benar membuatnya terpukau.
“Sekarang, anak itu bisa dibebaskan bukan?” tanya Rai. “Bisa kalian melepaskannya sekarang?” tanya Rai sambil memakai kacamata hitamnya lagi.