44. Kasus Baru

1057 Words
Semua orang mengikuti apa yang dikatakan oleh Benua, dia begitu cekatan dengan semua hal yang saat ini dilakukan. Sebagai pemimpin tim, dia harus mengambil resiko yang cukup panjang dengan apa yang sedang dilakukannya. “Jangan ada yang tertinggal. Periksa dengan seksama jika perlu lakukan dengan berulang-ulang,” seru Benua membuat semua orang menganggukan kepala pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya. Rai masih terdiam sambil melihat ke arah Benua yang tengah begitu serius, dia menyadari satu hal jika pria itu cukup bertanggung jawab. “Ehem. Apa sudah selesai melihatnya?” Galen menggoda Rai membuat wanita itu memanyunkan bibirnya karena begitu kesal. Bisa-bisanya, Galen mengatakan hal itu. “Sebaiknya selesaikan pekerjaan yang sedang kau kerjakan,” ucap Rai berusaha agar tidak diejek oleh Galen. Galen tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rai, dia tahu jika dua orang itu sudah saling menyukai satu sama lain tetapi tidak berani untuk mengatakannya. Benua melirik sebentar pada Rai dan Galen yang sedang mengobrol, dia mengerutkan kening ingin tahu apa yang tengah dibicarakan oleh dua orang itu. “Apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak akan pergi dari sana? Atau kau ingin ku tarik dari sana?” Suara Benua membuat Galen mengerutkan bibirnya. Sang kakak benar-benar sangat menyebalkan. “Iya. Apa kau tidak bisa melihatku senang sebentar saja.” Galen menggerutu. Setelah beberapa jam, akhirnya Rai pulang sambil membawa begitu banyak pikiran mengenai kasus yang mereka sedang tangani. Dia memilih untuk naik taksi daripada di antar oleh Benua atau ikut dengan sang ayah. Suara-suara alam berbaur dengan suara-suara drama kehidupan. Tatapan mata begitu kosong, memikirkan sebuah kisah. Kisah Tuhan yang aku tak mengerti dimana ujung akhirannya. Namun, membuatnya terus mengikuti arus yang diberikan Suasana Malam Jakarta di musim dingin masih cukup ramai, dengan pakai musim dingin mereka masih keluar dan melakukan aktivitas mereka. Mobil melaju dijalan raya, suasana Jakarta semakin dingin. Rai tengah nikmati suasana malam sambil memejamkan mataku. Suara sirine terdengar. Beberapa mobil polisi melaju, diikuti beberapa mobil di belakangnya dan juga sebuah ambulance. “Tidak pernah berhenti suara sirine,” gumamnya lirih sambil menghela nafasnya. “Kenapa mba?” tanya sopir taksi, memanggil Rai dengan sebutan mba. “tidak,” kata Rai mengucapkan tidak sambil menggelengkan kepalanya. “Mba tidak keberatan jika aku memutar audio?” tanyanya. “Silahkan,” jawab Rai. Sebuah alunan lagu begitu enak di dengar, musiknya tidak membuat kepala pening, ataupun perasaan tidak enak. “Nona, apa benar Apartemen Sughin?” “Iya,” jawab Rai. “Di depan banyak mobil polisi,” katanya. “Aku turun di sini saja,” kata Rai sambil menyerahkan beberapa lembar uang. Memang terlihat begitu banyak mobil, dan juga warga yang ada di sana, padahal musim dingin namun tingkat keingintahuan yang tinggi membuat mereka penasaran dan datang melihat. Begitu banyak warga berkerumunan di depan, ingin tahu apa yang terjadi. Terdengar bisik-bisik dari beberapa warga. “Kata mereka, seorang gadis,” kata seorang wanita paruh baya. “Benarkah?” “Aku jadi takut.” “Bu, mengapa banyak polisi?” tanya Rai pada beberapa wanita paruh baya yang tengah berada di sana dengan panggilan Bu. “Itu, seorang gadis dibunuh.” “Gadis?” “Iya, gadis itu hidup sendiri di sini. Orangnya ramah jika bertemu.” “Aku belum pernah melihatmu,” katanya. “Aku baru pindah di sini,” “Oh begitu ya,” katanya sambil tersenyum pada Rai. Rai melangkahkan kakinya mendekat, terlihat beberapa petugas kepolisian tengah berjaga. Begitu banyak yang ingin melihat apa yang terjadi di dalam kamar tersebut. Kebanyakan adalah wanita paruh baya. “Nona, tempat ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang,” kata seorang petugas. Rai menunjukan kartu pengenalnya, hingga membuat petugas tersebut memberikan izin untukku masuk. Rasanya begitu mudah ketika memiliki id pengenal dengan lisensi seorang Professor menurutnya. Rai menaiki lift, setelah bertanya kamar ditemukannya mayat, dia tersenyum ketika mengetahui jika mayat ditemukan itu ternyata tetangga Apartemennya.Begitu banyak orang yang berkerumun di lantai kamar TKP itu. Membuat Rai pun kesulitan untuk masuk dan melihat TKP. Kamar Rai nomor 212, sedangkan kamar gadis yang meninggal 211. Dia begitu penasaran dengan TKP mayat, walaupun dia harus beristirahat malam ini, dengan rasa penasaran, dia memilih untuk masuk ke dalam. Ketika gadis berjilbab itu memasuki ruangan bau lilin aromaterapi tercium, dalam ruangan terlihat sebuah huruf terukir di dinding ruangan tersebut. RACHE Huruf-huruf tersebut diukir menggunakan tinta merah darah. Dibalik rak buku terlihat mayat seorang wanita pucat pasih tengah berbaring sambil mengukir senyum, seakan tidak terjadi apapun, di tangannya dia tengah memegang buket bunga. Rai tengah mengamati mayat tersebut, sambil mengendus bau pada wanita yang tengah kaku. Kemudian matanya kembali melihat sekeliling kamar tersebut. Pandangannya kembali pada tubuh mayat gadis yang meninggal, begitu banyak sayatan di tubuh gadis malang itu. Jika dihitung lebih dari 20 sayatan. Terdengar sebuah suara dari luar menuju kamar, Rai kembali memakai kacamata hitamnya. Terdengar mereka tengah berbincang-bincang dengan petugas yang tengah berjaga kemudian memasuki TKP. “Kapten, ini kasus pembunuhan ruangan terkunci—lagi,” kata seorang pria. Langkah kaki mereka terhenti ketika melihat Rai. “Rai?” Benua terkejut dengan kehadiran wanita itu. Padahal, mereka belum lama bertemu di kantor. Sejenak Rai menatap pria itu. Dia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat pria yang menanyakan tentang identitasnya. Tinggi badannya sekitar 187 cm, rambutnya tergerai ke depan menutupi jidat seperti kebanyakan pria di korea selatan, hidungnya mancung, bola matanya bersinar, dengan tatapan yang begitu dingin. Rai memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Benua, namun tetap melihat-lihat TKP. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau sudah pulang? Kau tidak perlu datang,” kata Benua sambil meraih pergelangan tangan Rai, tetapi gadis itu menepisnya. “Aku dengar ini pembunuhan, jadi aku datang melihat langsung,” kata Rai dengan dingin, membuat semua orang di sana terkejut. “Apa?” tanya Benua. “Jika ini pembunuhan, aku ingin melihat genangan darah. Tapi di sini tidak ada genangan darah.” “Apa? Genangan darah?” tanya Benua dengan nada tinggi pada Rai. Semua orang yandg berada di sana terkejut, tidak biasanya Benua bersuara tinggi pada Rai. Sisi dingin Rai saat berhadapan dengan TKP membuat siapa saja, yang bekerja dengannya sangat kesal. “Aku akan meminta mereka mengantarkanmu kembali. Sebaiknya besok saja kau datang untuk mengeceknya, aku akan membantumu.” Karena kesal melihat keberadaan Rai dia malah menarik tangan Rai, namun di tepis kembali oleh gadis itu, hingga membuat kacamata Rai terlepas dan memperlihatkan wajahnya. “Ka... kau...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD