43. Pelaku yang mati

1083 Words
“Apa ini petunjuk?” tanya Rai melihat ke arah Benua. Pria itu meraih ponsel di saku bajunya. “Beberapa orang datanglah di sini, susuri lorong bawa tanah yang kami lewati, kau akan menemukan kami. Aku ingin kau memeriksa sesuatu di sini.” “A … ada mayat … ada mayat …” teriak seseorang. Mendengar suara teriakan itu membuat Benua segera mematikan ponselnya dan bergegas menuju asal suara di dengarnya. Tim yang saat ini tengah berada di dalam hutan menjadi terkejut. Benua berlari bersama dengan Rai. Langkah kaki mereka terhenti saat melihat tim yang mulai mencari mayat, ada pula yang tengah sibuk dengan menggali mayat yang telah mereka temukan. “Sepertinya bukan hanya dia yang harus datang,” ucap Benua kemudian mengambil kembali ponselnya. “Sepertinya kau harus membawa tim forensik untuk datang ke sini,” ucap Benua membuat pria di seberang telpon mengangguk pelan. “Iya. Aku akan segera ke sana,” jawab pria di ujung telpon itu. Ia menunjuk beberapa orang untuk ikut dengannya. “Kalian berlima ikut denganku,” ucapnya kemudian mengambil peralatan miliknya. Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah itu, diikuti oleh beberapa orang yang telah dipilihnya. Dokter itu menatap sekelilingnya, beberapa tim yang lain mulai mengangkat satu persatu mayat yang mereka temukan. “Aku tidak percaya, melihat begitu banyak mayat-mayat di tempat seperti ini,” ucapnya sambil turun ke ruangan rahasia. Bau yang tidak sedap telah tercium, beberapa orang yang di bawa olehnya ke lantai bawah. “Dokter ini … Oeeekkk …” Salah satu timnya muntah saat itu, karena tidak tahan bau serta semua yang dilihat. Begitu banyak potongan tubuh manusia di sana, yang belum di angkat dan juga di masukan ke dalam kantong mayat. Semua tim forensik yang berada di sana, berusaha untuk mengangkut semuanya tetapi semua kantung yang dibawa oleh mereka tidak cukup. Ada tim yang pergi mengambil kembali peralatan dan juga kantong mayat. Untung saja, tidak ada reporter yang membuat mereka kesulitan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mereka tidak bisa berpikir jernih jika tiba-tiba ada reporter yang memotret dan merekam keadaan yang mereka kerjakan saat ini. Itu akan membuat para warga semakin berdatangan ke TKP. “Ini kasus yang sangat-sangat parah,” komentar seseorang yang melihat sekelilingnya. “Luar biasa. Aku tidak percaya ada tempat yang seperti sebuah pembuangan. Aku tidak tahu bagaimana pelaku bisa tahan dengan keadaan ruangan seperti ini.” “Atau mungkin ini adalah sebuah tempat pembuangan mereka,” timpal salah satu dari mereka. “Hei, kau jika tidak bisa ikut, kau boleh kembali dan meminta yang lain untuk ikut,” sarannya. Dokter menatap anak yang baru saja muntah itu. “Kau harus bisa tahan dengan semua ini, rasa jijik atau semua hal karena ini adalah bagian dari pekerjaan,” ucap dokter itu. “Jika benar-benar tidak bisa ikut, kau boleh kembali. Aku tidak bisa mengurus satu orang yang tidak tahan dengan keadaan di TKP.” “Tidak. Aku bisa, hanya saja … aku terkejut melihat TKP yang seperti ini,” ucap anak itu, lebih tepatnya dia adalah anak Magang. “Baguslah jika kau paham dengan situasi ini. Jika kau terbiasa, kau tidak akan muntah,” ucap Dokter. “Ayo, mereka menunggu kita. Lebih tepatnya mereka telah menemukan begitu banyak kuburan, yang akan menjadi pekerjaan kita. Kita akan sibuk menangani kasus ini, sebaiknya kalian menghubungi keluarga jika belum bisa kembali selama seminggu ini,” tambahnya sambil melangkah masuk ke dalam lorong. Lorong itu terlihat cukup luas, beberapa orang yang ikut dengannya melirik ke belakang beberapa kali karena takut jika sesuatu tiba-tiba ada di belakang mereka. “Tidak apa-apa, ini hanya jalan. Mereka sudah mengeceknya.” Saat mereka tiba di bibir lorong. Kini suara-suara riuh serta anjing pelacak terdengar saling bersahut-sahutan dengan begitu banyak tim. “Astaga … apa kita berada di ladang mayat?” Sebuah suara terdengar saat mereka melihat begitu banyak mayat yang telah ditemukan. Benua sejak tadi membantu untuk menemukan mayat-mayat itu mulai kelelahan, karena tidak sedikit mayat yang ditemukan. “Kau sudah datang? Selamat datang di kuburan massal,” ucap Benua sambil mendekat ke arah tim yang dipanggilnya. “Aku tidak percaya jika separah ini,” ucap dokter itu. “Hmmm … mungkin ini akan menjelaskan mengenai DNA yang ditemukan di mayat anak itu. Sepertinya kita memiliki banyak korban, lebih tepatnya mungkin ratusan bukan puluhan,” ucap Benua sambil menunjuk seluruh mayat yang telah mereka temukan. “Dari sana dan sana, bahkan sampai sana, kami menemukan begitu banyak mayat.” Benua menunjuk seluruh lokasi yang mereka temukan. “Bagaimana dengan pelakunya?” tanya dokter. Benua menghela napasnya dengan kasar, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mereka. Lebih tepatnya menjelaskan situasi yang dialaminya. “Di sana,” ucap Benua sambil menunjuk sebuah mayat yang saat ini tergantung di pohon. “Dugaanku dia menggantung dirinya sendiri dan juga menembak kepalanya,” ucap Benua. “Ini hanya dugaanku saja. Tetapi ini cukup membuatku khawatir, aku bingung kenapa dia bunuh diri,” ucap Benua sambil melangkah ke arah pelaku yang tengah tergantung itu. Dokter itu melihat ke arah pria yang telah menjadi mayat itu. “Ya. Benar, apa yang kau katakan. Kenapa dia melakukan hal seperti itu, kenapa dia melarikan diri jika akhirnya dia harus bunuh diri juga.” “MUngkin baginya bunuh diri lebih baik, daripada masuk kantor polisi dan di bunuh oleh komplotan yang lain,” seru salah satu dari anggota yang dibawa oleh dokter itu. Benua membalikan tubuhnya mencari siapa yang berbicara. “Kau … katakan apa yang kau pikirkan?” Benua seketika menunjuknya. “Cepat katakan, apa pendapatmu tentang kasus ini.” “Sebenarnya, aku masih bingung dengan kasus ini. Lebih tepatnya, banyak kemungkinan jika dia tidak bunuh diri tetapi di bunuh oleh temannya sendiri,” jelasnya membuat Benua kembali melihat ke arah mayat yang tergantung itu. “Melihat kasus pembunuhan yang dilakukan di kantor polisi, memungkinkan mereka bekerja tidak hanya satu orang,” tambahnya. “Mungkin dia yang telah membunuh anak itu, tetapi kemungkinan ada seseorang yang membunuhnya, dan membuatnya menjadi seperti bunuh diri.” Apa yang dikatakan oleh anak magang itu memang benar. Kemungkinan pelakunya tidak bunuh diri tetapi di bunuh oleh seseorang yang tidak ingin kejahatan mereka terungkap. “Kamu benar. Kita tidak boleh melewatkan kemungkinan yang mungkin terjadi.” “Baiklah, kami harus segera bekerja, sepertinya butuh banyak waktu untuk menginvestigasi ini,” ucap DOkter itu sambil melangkah. Ia melihat begitu banyak mayat di sana, hanya bisa menghela napas dengan kasar. “Baiklah. Kita bagi timnya saja. Dua orang ke bagian sana, dan dua orang sebelah sana, sedangkan yang lain denganku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD