“Jangan bergerak …” perintah Benua membuat siapa yang baru saja datang itu terkejut, dan mengangkat tangannya.
“In … ini aku,”
Mendengar suara itu, membuat Benua menurunkan senjatanya.
Seorang gadis dengan pakaian lengkap, baju anti peluru dia gunakan, sambil memegang kamera.
“Rai? A-apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak boleh ada di sini, sebaiknya kau kembali,”
“Pertama, pertanyaanmu salah. Jelas-jelas, aku datang untuk ikut dalam penyelidikan, kedua, kau tidak bisa menyuruhku kembali karena aku bagian dari tim,”
“Tapi, ini sangat berbahaya. Kita tidak tahu, penjahat seperti apa yang tengah kita hadapi,”
“Aku tidak tahu, Ben. Aku akan tetap ikut denganmu, dan mengungkap kasus ini, bagaimanapun caranya,”
Benua mendengkus, dia tidak bisa melarang gadis keras kepala itu. Dia sangat mengenal ayah gadis itu, dan keras kepala yang dimiliki oleh Rai menurun dari ayahnya.
“Bagaimana keadaan Galen di atas?” tanya Benua, suaranya khawatir.
“Lukanya tidak sampai memutuskan urat lehernya, tidak cukup dalam, sudah di tangani dengan baik, sebaiknya kita focus menemukan pria itu, agar tidak banyak korban,”
“Benar apa yang kau katakan. Tapi, aku tidak tahu, berapa panjang lorong ini, dan akan membawa kita ke mana,”
“Kau akan tahu, jika terus berjalan, benar bukan?” tanya Rai sambil melangkah lebih dulu.
“Tunggu …” cegat Benua.
“Sebaiknya kau di belakang, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu,”
Gadis itu mau tidak mau mengikuti apa yang disarankan oleh Benua padanya. Apa yang mereka telurusi tidak tahu apa yang ada di depan.
“Kalian perhatikan langkah kalian,” kata Benua sambil mengenggam tangan Rai.
Rai terkejut dan membulatkan matanya, ketika Benua mengenggam tangannya.
“Biarkan aku memegangmu,” kata Benua kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Gadis yang tengah digenggam tangannya itu, terfokus pada tangan yang tengah menggenggamnya itu, detak jantung menjadi tidak beraturan.
Lorong panjang, dan juga gelap itu hanya diberi penerang dengan lampu senter yang di bawa oleh mereka.
“Aku yakin, lorong ini telah lama di buat, apalagi kita telah berjalan cukup jauh,”
“Aku penasaran bagaimana mereka membuat lorong bawah tanah ini,”
“Psikopat memiliki banyak cara untuk membuat sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang. Bagi manusia normal itu mustahil, tapi tidak bagi mereka. Mereka memiliki IQ di atas rata-rata manusia normal, cara berfikir mereka tidak banyak yang paham, namun ketika mereka menjelaskan maka kita akan mengerti,” jelas Benua sambil terus mengenggap tangan Rai.
“Aku akui itu,”
“Pola pikir mereka beragam, dan mereka pun memiliki kelemahan. Ada yang pandai dalam perhitungan, analisis, tetapi yang paling menakutkan adalah mereka yang pandai dalam segalanya, seperti Galen, berpikir, menganalisis kasus, bahkan memecahkan teka-teki yang sulit untuk dilakukan,”
“Menurutmu, kenapa pria itu tidak membunuh Galen, melainkan membuatnya terluka?” tanya Rai membuat Benua menghentikan langkah kakinya.
Dia baru terpikirkan hal itu, kenapa pria itu tidak membunuh Galen, padahal begitu banyak kesempatan untuk membunuh anak itu.
“Benar juga, aku baru memikirnya. Kenapa dia tidak membunuh Galen, anak itu adalah saksi,”
Disaat-saat mereka tengah berfikir beberapa orang berteriak memanggil mereka. Membuat lamunan mereka berdua buyar seketika.
“Ada apa?” tanya Benua.
“Di sana ada pintu,” jelas seseorang yang mendekat ke arah keduanya.
“Pintu?” tanya Benua.
“Ya,”
Seketika mereka berdua mempercepat langkah kaki melihat apa yang di temukan oleh anggotanya.
“Cepat buka,” titahnya.
“Tidak bisa, ini terkunci dari luar,” jelas salah satu anggotanya.
“Jika seperti itu, temukan cara untuk membukanya,”
“Mungkin kita harus mengunakan gergaji besi membuka ini,”
“Apa kau bercanda? Di sini mana ada listrik,” suara Benua sedikit tinggi.
Beberapa orang tengah mencari cara membuka pintu tersebut.
“Jika tidak ada, kita sendiri yang harus membawa listriknya ke sini,” jelas Rai.
“Benar, aku tidak terpikirkan hal itu, jika tidak ada, kita harus membuatnya ada di sini,” kata Benua sambil menganggukan kepalanya.
“Seseorang pergi dan ambil gergaji besi, dan juga kabel listrik,”
Sambil menunggu apa yang sedang diperintahkan pada salah satu anggotanya, dia memilih duduk. Menatap beberapa orang yang berada di depan pintu untuk mencari jalan keluar.
“Aku masih memikirkan pertanyaanmu tadi,”
“Tentang Galen?” tanya Rai, di jawab anggukan oleh Benua.
“Ya, aku juga penasaran kenapa dia tidak langsung membunuh Galen apalagi anak itu telah melihat dan juga mendengar suaranya,”
Rai berpikir sejenak. “Apa dia ingin merekrut Galen?”
Benua melihat ke arah Rai dia tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh gadis itu, tapi apa yang dikatakan olehnya memang benar. Ada kemungkinan jika para pembunuh itu inngin merekrut Galen karena mereka tahu, jika Galen memiliki kecerdasaan.
Dari kejauhan terlihat cahaya senter mulai mendekat ke arah mereka. sebuah kabel dan juga gergaji besi di tangan.
“Aku membawanya,”
“Segera buka pintunya,” titah Benua.
Beberapa orang mundur, hanya satu orang yang mencoba membuka pintu itu. Agak lama mengirisnya, karena pintu besi itu cukup besar, dan tebal.
Setengah jam melakukan pengirisan, akhirnya pintupun terbuka.
Usaha tidak mengkhianti hasil.
Beberapa orang lebih dulu keluar, mengecek keadaan di luar.
“Tidak ada apa-apa di sini,” teriak salah satu anggotanya.
Ken melihat hal itu, menendang apapun di sana, lebih tepatnya dia menendang pohon yang ada di depannya.
Rasa frustasi, rasa kesal, marah, bercampur satu. Dia tidak percaya pembunuhnya kembali lolos.
“Sisir seluruh area ini sejauh 1 kilometer, temukan apapun yang kalian curigai, dan juga jangan lupa membawa anjing pelacak,”
“Baik,” jawab mereka serentak.
Rai masih terus merekam. Melangkahkan kakinya, menyusuri antara pohon.
Langkah kakinya terhenti, ketika melihat sesuatu.
“Aku menemukan jejak kaki,” ucap Rai berjongkok sambil kembali merekam apa yang ditemukan olehnya.
Benua yang mendengar itu, berlari ke arahnya.
“Lihat ini, ini jejak sepatu seseorang,” ucap Rai.
Benua memperhatikan dengan jelas.
“Aku menemukan langkah kaki lagi,” seru Rai.
Saat tengah memperhatikan apa yang dilihat oleh Rai, beberapa orang berteriak, jika mereka langkah kaki.
“Apa ini petunjuk?” tanya Rai melihat ke arah Benua.
Pria itu meraih ponsel di saku bajunya. “Beberapa orang datanglah di sini, susuri lorong bawa tanah yang kami lewati, kau akan menemukan kami. Aku ingin kau memeriksa sesuatu di sini,”
“A … ada mayat … ada mayat …” teriak seseorang.
.
Bersambung …